Bailla adalah gadis muda berusia 20 tahun seorang putri tunggal yang memiliki karakter yang manja dan terbiasa hidup dengan kemewahan ia terpaksa menjadi ibu tiri muda dan menikah dengan duda beranak 3 yang terpaut usia 20 tahun. Pernikahan itu terpaksa terjadi idikarenakan perusahan orang tuanya diambang kebangkrutan akibat tertipu investasi bodong. Bagaimana Bailla menghadapi kehidupan sebagai istri dan ibu muda untuk anak-anak yang usia hampir sama dengannya ?? banyak hal lucu dan sedih yang terjadi degan Bailla si ibu tiri muda ini. ,🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Danica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidur berempat Sesak Tapi Hangat***
Malam pertama tidur dirumah Suami cukup membuat Bailla sulit tidur apalagi tidur sendiri dikamar yang cukup besar dan asing baginya. Bailla jarang tidur ditempat orang lain kecuali dirumah nenek itu pun ditemani nenek. Waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 Wiba. Anak-anak sudah tidur. Pak Arya mungkin sudah terlelap.
Pikiran melayang kerumah orang tuanya. Jam segini Papi mami pasti sudah tidur. Batin Bailla. "Ya ampun kenapa sulit sekali untuk tidur".
Tiba-tiba pintu diketuk dari luar. Terdengar suara Aya menangis dan suara pak Arya memangil nama Bailla.
"Bailla... Bailla apakah kamu sudah tidur"?. Tanya pak Arya sambil mengetuk pintu.
Bailla lekas bagun dari tempat tidur sambil menjawab "Belum om...". Bailla membuka pintu kamar terlihat Aya menangis.
"Mama....mama....mama...." Aya mengigau sambil menangis.
"Aya.. Sini bobok sama Kakak ya.." Bujuk Bailla
"Papa Aya mau bobok sama kakak".
"Bawa masuk aja om biar Bailla yang nidurin Aya.
Arya membaringkan Aya di tepat tidur. "Dia sering kebagun tengah malam kalau seperti ini pasti nyariin mamanya.". Arya menatap dengan ekspresi sedih.
"Biasa om mungkin dia perlu orang yang memeluk ketika tidur".
Aya sudah mulai tenang. Bailla menyanyikan lagu Nina bobok.
"Papa ayo baring dekat Aya. Papa juga y nyanyiin lagu sama kayak kakak." pinta Aya
Sejenak Bailla dan Arya tapi demi Aya bisa tenang gak nangis lagi biarlah mereka menuruti permintaannya.
"Arya menepuk halus pinggang Aya. Sambil sesekali ikut nyanyi. Sementara Bailla mengusap usap kepala. Ada rasa yang sulit untuk dijelaskan dihati Bailla, rasa hangat dan lembut berlahan-lahan masuk ke sanubarinya 'Inilah Rumah Tangga Sebenarnya '
Tiba Ara masuk dengan membawa bantal hello Kittynya. Ia terbangun mendengar Aya menangis. Melihat Aya tidur kamar Bailla ia juga pingin ikutan.
"Papa Ara juga mau tidur sama kak Bailla ya.
"Ayo Ara kita tidur bareng ya.... ". Ajak Aya.
Ara tidur dekat Baila
am 22.30 — Susunan Pemain*
Kasur ukuran 180x160 malam ini resmi jadi asrama. Formasi 2-2-1, ala Timnas.
Sayap Kiri:* Pak Arya. Tugas: jaga tembok biar gak roboh, jaga hati biar gak baper. Jatah: 35 cm, plus nyamuk satu.
Gelandang Bertahan: Ara . Tugas: jadi demarkasi hidup, jaga jarak Bapak sama Kak Bailla. Jatah: 40 cm, Tapi... gulingnya udah gak ada. Digeser ke bawah. Alasan Ara : “Gulingnya pengap.” Alasan asli: biar bisa denger kalau Bapak ngorok.
*Sayap Kanan:* Bailla. Tugas: jadi bantal hidup aya, jadi tempat curhat Ara. Jatah: 40 cm, minus napas karena ditindih.
*Penyerang Tengah:* Aya Tugas: tidur bebas, nendang bebas, ngiler bebas. Jatah: unlimited, karena dia 4 tahun dan gak ngerti PBB
Pak Arya ngitung: “160 cm dibagi 4... berarti seorang 40 cm. Pas.”
Bailla: “Pak, Aya itu gerak. Dia butuh 60 cm sendiri.”
Pak Arya: “Ya udah. Bapak mengalah. Bapak tidur miring kayak ikan asin.”
Jam 23.00 — Kick Off*
Lampu dimatiin.
Menit 5: Aya ngigau, “Kak... Barbie... jalan...” Kakinya nendang. Kena perut Bailla.
Menit 7: Ara bisik-bisik, “Kak Bailla, kalau Bapak nikah sama Kakak, berarti Kakak itu Ibu aku bukan?”
Bailla: “...” Keringet dingin. “Tidur, Sayang. Besok kita bahas sambil nguncir.”
Bailla terlihat Senyum. Dalam gelap.
Aya guling-guling. Dari tengah, sekarang kepalanya di dada Pak Arya, kakinya di muka Bailla.
Pak Arya: “Sssst. Bobok, Nak.” Tangannya nepuk-nepuk punggung Aya. Otomatis. Kayak 3 tahun terakhir.
Bailla ngeliat itu. Dadanya sesak. Bukan cemburu. Tapi... lega. Suaminya ini, Bapak beneran.
Tiba-tiba Ara ngomong, ngelindur: “Ma... Mama... jangan pergi...”
Satu kasur diem.
Pak Arya langsung nengok. Bailla juga. Napasnya ketahan.
Bailla pelan-pelan elus rambut Ara. Dia bisik, bukan ke Ara, tapi ke Pak Arya: “Pak, gak apa-apa ya kalau aku...”
Pak Arya angguk. Cepet. “Iya. Gak apa-apa.”
Bailla terusin bisiknya ke Ara: “Mama di sini, Sayang. Bobok lagi ya. Mama gak pergi.”
Ara tenang. Meluk Bailla makin kenceng. Di seberang, Pak Arya memejamkan matanya. Satu tetes air mata jatuh ke bantal.
*Pukul 05.00 Azan subuh berkumandang
Pak Arya bangun. Mau ngelangkahin aya, tapi gak tega. Akhirnya dia gendong aya pelan-pelan, pindahin ke sebelah Bailla
Bailla kebangun. “Pak?”
“Sssst. Tidur lagi. Bapak mau ke mushola. Kamu sholat di sini aja.”
“Kak,” panggil Aya, pelan banget.
“Iya, Ay?”
“Gulingnya... biar di bawah aja. Kasurnya sempit. Tapi... tapi anget kalau berempat.”
Terus dia pergi. Nutup pintu pelan.
*Pagi Harinya — Klasemen Sementara*
Bailla bangun, pegel sekujur badan. Tapi di nakas ada teh anget. Pak Arya yang bikin.
Di bawah teh ada tulisan di sobekan kardus, tulisan Ara "Kak, Bapak bilang makasih udah gak ngusir kami. Katanya, kasurnya sempit, tapi tidurnya nyenyak. Soalnya... lengkap.”_
Bailla senyum. Ngeliat kasur acak-acakan. Ada bekas ngiler aya, ada jepit rambut Ara, ada ujung sarung Pak Arya nyangkut.
Ranjang 180x160. Tidur ber-4.
Gak romantis. Gak ada space. Gak ada privasi.
Tapi buat pertama kalinya, Bailla ngerti arti “satu ranjang, satu rasa”.
Rasanya: sesak, gerah, pegel...
Tapi Hangat.,..,......
...****************...
...****************...