NovelToon NovelToon
MILIARDER JALUR DEWA BALAS DENDAM SANG PEWARIS NAGA

MILIARDER JALUR DEWA BALAS DENDAM SANG PEWARIS NAGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Selama tiga tahun menjadi menantu yang numpang hidup, Arya Permana dianggap tak lebih dari sampah. Ia dihina oleh ibu mertuanya, dipandang rendah oleh saingan bisnis istrinya, dan menjadi bahan tertawaan seisi kota Metropolitan. Arya diam dan menanggung semua penghinaan itu demi melindungi wanita yang dicintainya.
​Namun, kesabarannya memiliki batas. Ketika keluarganya didorong ke ambang kehancuran, setetes darah Arya tanpa sengaja jatuh ke atas cincin usang warisan mendiang ibunya.
​Ding! [Sistem Naga Leluhur Berhasil Diaktifkan!]
​Dalam semalam, takdirnya berbalik 180 derajat. Tabir masa lalunya terbongkar; Arya ternyata bukan anak yatim piatu miskin, melainkan pewaris tunggal dari keluarga konglomerat paling berkuasa di dunia yang sedang disembunyikan.
​Berbekal kartu hitam dengan saldo triliunan dolar, keterampilan medis tingkat dewa yang bisa menghidupkan orang mati, dan teknik kultivasi kuno pembelah langit, Arya mulai menunjukkan taring aslinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Penguasa Bayangan dan Retakan Spasial Kunlun

​Satu bulan telah berlalu sejak malam berdarah di Istana Dewangga.

​Di mata masyarakat awam, Ibukota tidak mengalami perubahan ekstrem selain berpindahnya kepemilikan beberapa raksasa korporasi ke bawah payung entitas tunggal: Dragon Global Corp. Namun, di dunia bawah tanah dan lingkaran elit, nama "Arya Permana" telah menjadi tabu yang tidak berani diucapkan sembarangan. Ia adalah kaisar tanpa mahkota, penguasa bayangan yang memonopoli delapan puluh persen urat nadi ekonomi nasional.

​Di ruang meditasi khusus yang dibangun di lantai teratas gedung tertinggi Ibukota, Arya duduk bersila di atas ranjang batu giok dingin. Udara di ruangan itu dipenuhi kabut putih yang sangat pekat, hasil dari penguapan ribuan tanaman spiritual berusia ratusan tahun yang dibeli menggunakan likuiditas triliunan dolar milik Dragon Corp.

​Arya menarik napas panjang. Pusaran energi terbentuk di atas kepalanya, menyedot seluruh kabut putih itu langsung ke dalam tubuhnya melalui pori-pori kulit.

​[Ding! Penyerapan Energi Spiritual Selesai.]

[Status Tuan Muda: Ranah Pembentuk Fondasi Qi (Tahap Menengah - Puncak).]

[Kapasitas Dantian telah mencapai batas maksimal di lingkungan dimensi fana.]

​Arya membuka matanya. Tidak ada kilatan cahaya, hanya sebuah kedalaman absolut yang menyerupai jurang tak berdasar. Ia mengangkat tangan kanannya, mengepalkan tinju. Ia bisa merasakan kekuatan yang cukup untuk meratakan sebuah bukit kecil hanya dengan satu pukulan fisik murni.

​"Batas dimensi fana," gumam Arya secara logis. "Bumi modern terlalu miskin energi. Sekalipun aku menghabiskan seluruh uang di dunia ini untuk membeli ginseng dan herbal, kualitas Qi yang dihasilkan tidak akan cukup untuk menembus Ranah Inti Emas (Golden Core)."

​Pintu ruang meditasi berbunyi pelan. Thomas dan Elena melangkah masuk setelah mendapatkan akses. Keduanya menunduk hormat dengan tingkat kepatuhan absolut.

​"Laporan," perintah Arya tanpa basa-basi, turun dari ranjang gioknya.

​Thomas melangkah maju, memegang sebuah tablet militer. "Tuan Muda, seluruh infrastruktur Keluarga Dewangga telah dicerna oleh ekosistem Dragon Corp. Tidak ada satu pun keluarga besar di Ibukota yang berani menunjukkan perlawanan. Selain itu, Nyonya Riana Kusuma di Nusantara City telah berhasil menstabilkan perusahaannya, berkat 'instruksi diam-diam' yang kita berikan kepada bank sentral untuk mempermudah akses kreditnya."

​Mendengar nama Riana, wajah Arya tidak menunjukkan riak emosi sedikit pun. Hubungan fungsional masa lalunya telah ditutup. Memastikan wanita itu hidup nyaman dari kejauhan adalah bentuk resolusi terakhir dari ikatan takdir mereka.

​"Biarkan dia. Jangan ada intervensi lebih lanjut kecuali nyawanya terancam," ucap Arya datar. Ia menoleh ke arah pembunuh bayaran wanita berpakaian serba hitam di sebelahnya. "Elena. Bagaimana dengan koordinat plakat giok itu?"

​Elena menundukkan kepala. Matanya memancarkan kekaguman yang nyaris fanatik pada pria di hadapannya. "Tim penjelajah elit Ordo Teratai yang baru saya bentuk telah menyisir Pegunungan Kunlun di perbatasan dataran tinggi, Tuan. Dua hari yang lalu, satelit kami mendeteksi fluktuasi medan magnet yang tidak masuk akal di sebuah lembah tak bernama yang tertutup badai salju abadi. Kompas elektronik mati, dan beberapa anggota tim mengalami halusinasi pendengaran."

​Arya merogoh saku mantelnya, mengeluarkan plakat giok hitam bertuliskan Kunlun. Benda itu kini bergetar halus dan memancarkan suhu hangat, bereaksi terhadap kedekatan informasi tersebut.

​"Medan magnet anomali dan halusinasi adalah efek samping dari Formasi Penyembunyi Dimensi," Arya menganalisis dengan rasional. "Gerbangnya telah ditemukan. Kuil Kegelapan dan dalang di balik tragedi Penerbangan 777 bersembunyi di balik tabir itu."

​"Tuan Muda," Thomas menyela dengan nada khawatir. "Apakah Anda akan pergi sendiri? Jika dimensi Kunlun adalah tempat asal para monster kultivasi seperti Sang Bayangan, membawa Pasukan Bayangan..."

​"Senjata api modern dan manusia fana hanya akan menjadi beban di sana, Thomas," potong Arya tegas. "Hukum fisika yang kalian kenal mungkin tidak berlaku sepenuhnya di dimensi saku. Aku akan pergi bersama Elena. Kemampuannya memanipulasi bayangan dan pengintaian memiliki nilai taktis yang cukup."

​Elena terkesiap, dadanya berdesir bangga. Dipilih sebagai satu-satunya pendamping Sang Naga adalah kehormatan tertinggi. "Nyawa saya adalah tameng Anda, Tuan!"

​Arya memakai jaket taktis antipelurunya. "Thomas, kau pegang kendali Dragon Corp selama ketidakhadiranku. Jika ada anjing lokal yang mencoba menggigit saat aku tidak ada, kau tahu prosedur eksekusinya."

​"Dimengeti, Tuan Muda. Saya akan menjaga takhta ini hingga Anda kembali dengan membawa kepala musuh."

​Tiga puluh enam jam kemudian. Dataran Tinggi Himalaya - Lembah Kematian Kunlun.

​Angin yang melolong membawa kristal es setajam silet. Suhu berada di angka minus empat puluh derajat Celcius. Di ujung sebuah tebing es yang curam, berdiri sebuah pusaran anomali yang mendistorsi ruang. Pusaran itu tidak berwarna, namun membuat pemandangan tebing salju di belakangnya tampak melengkung seperti kaca pembesar.

​Arya berdiri di depan pusaran itu, angin badai tak sedikit pun mampu menembus jarak satu sentimeter dari kulitnya akibat lapisan tipis Qi Pembentuk Fondasi yang melindunginya. Elena berdiri di belakangnya, menggigil meski telah mengenakan pakaian termal tingkat militer.

​Arya mengeluarkan plakat giok hitam. Saat ia mendekatkannya ke arah pusaran, plakat itu memancarkan cahaya merah darah.

​[Ding! Fluktuasi Ruang Kunlun Terdeteksi.]

[Peringatan Sistem: Kepadatan energi di balik retakan spasial ini 1000% lebih tinggi dari bumi fana. Gravitasi terhitung 3 kali lipat lebih berat. Oksigen mengandung partikel Qi liar.]

[Inisiasi Protokol Adaptasi Fisik...]

​"Pegang bahuku dan jangan lepaskan, atau tubuhmu akan terkoyak oleh turbulensi dimensi spasial," perintah Arya, suaranya mengalahkan deru badai.

​Elena segera mencengkeram bahu Arya dengan kedua tangannya, memejamkan mata rapat-rapat.

​Tanpa ragu sedikit pun, Arya melangkah maju, membelah pusaran dimensi itu. Sensasi pertama yang ia rasakan adalah seperti melompat ke dalam lautan agar-agar yang sangat padat. Ruang dan waktu seolah terlipat di sekeliling mereka. Kilatan cahaya berbagai warna melesat di sudut mata, dan suara dengungan bervolume tinggi hampir memecahkan gendang telinga.

​Namun, indera Fisik Petarung Arya mengunci kesadarannya, mempertahankan kewarasannya secara absolut.

​Hanya butuh tiga detik sebelum sensasi vakum itu menghilang, digantikan oleh pijakan tanah yang keras.

​Bruk!

​Elena jatuh berlutut, memuntahkan sedikit cairan lambung karena mabuk dimensi. Napasnya tersengal-sengal. "B-Berat sekali... gravitasi di sini..."

​Arya berdiri tegak, membiarkan Sistem menyelesaikan adaptasi fisiknya dalam hitungan detik. Ia membuka matanya dan menatap dunia baru di hadapannya.

​Tidak ada lagi badai salju. Mereka kini berdiri di atas sebuah tebing batu vulkanik berwarna kehitaman. Langit di atas mereka tidak berwarna biru, melainkan perpaduan ungu dan merah tua, dengan dua buah bulan kembar yang menggantung di cakrawala. Udara di tempat ini begitu tebal; setiap tarikan napas terasa seperti meminum sirup energi yang membakar sekaligus menyegarkan paru-paru.

​"Energi Qi yang luar biasa murni," Arya bergumam logis. "Tempat ini adalah surga bagi kultivator, namun neraka bagi manusia biasa."

​Sebelum Arya sempat mengeksplorasi lebih jauh, indera keenamnya menangkap bahaya yang datang dengan kecepatan peluru dari arah hutan pohon-pohon raksasa berdaun perak di bawah tebing.

​"Menunduk!" Arya menyentak kerah Elena, memaksanya tiarap.

​Wussss! BAAAM!

​Sebuah tombak logam sepanjang tiga meter yang diselimuti api biru melesat tepat di atas kepala mereka, menghancurkan batu vulkanik di belakang mereka menjadi kawah magma kecil.

​Dari balik pepohonan perak, sesosok makhluk humanoid bertubuh setinggi hampir tiga meter melangkah keluar. Ia mengenakan zirah dari tulang belulang binatang buas dan wajahnya tertutup topeng besi yang menyeringai. Di tangannya, Qi api biru berkobar-kobar, siap membentuk tombak kedua.

​"Manusia fana dari dunia bawah?" suara makhluk itu menggelegar parau dalam bahasa kuno yang anehnya langsung diterjemahkan oleh Sistem di kepala Arya. "Berani sekali kalian mengotori batas luar wilayah Sekte Api Suci! Serahkan darah kalian sebagai pupuk herbal kami!"

​Elena mencoba bangkit, namun gravitasi yang tiga kali lipat membuat gerakannya sangat lambat. "T-Tuan... Qi makhluk itu... setara dengan Ranah Pembentuk Fondasi Tahap Akhir!"

​Arya tidak menunduk. Ia justru melangkah maju, menepis sisa debu dari jaket taktisnya. Dunia ini liar, primitif, dan kejam. Tidak ada hukum bisnis atau kekuatan uang di sini. Di Ranah Kunlun, logika yang berlaku hanya satu: kekuatan absolut.

​Sebuah senyum murni yang mengerikan terukir di wajah Arya Permana.

​"Selamat datang di tahap selanjutnya, Sistem," bisik Arya, meretakkan buku-buku jarinya. "Mari kita lihat, apakah penduduk lokal ini bisa digunakan sebagai batu loncatan kultivasiku."

1
T28J
hadiir 👍
Aisyah Suyuti
menarik
Glastor Roy
update ya torku yg baik hati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!