Ini adalah kisah nyata Rudini, seorang ayah di Cirebon yang divonis stroke. Tidak ada uang, tidak ada pekerjaan, hanya ada seorang anak balita bernama Balqis yang menangis kelaparan di malam hari.
Di rumah yang sama, tinggal seorang nenek janda yang sudah tua dan tak berdaya. Dengan stok beras nol dan popok anak yang tinggal dua lembar, "Ayah Balqis" mencatat perjuangan seorang pria yang tubuhnya stroke, namun hatinya menolak menyerah demi senyum buah hatinya.
Bukan fiksi. Ini adalah teriakan harapan dari Desa Cilukrak. Sebuah catatan hariantentang lapar, sakit, doa, dan cinta seorang ayah yang tak terbatas.
Kisah ini ditulis sebagai bentuk ikhtiar dan doa agar Balqis bisa makan, Ayah bisa terapi, dan Ibu bisa tenang. Mohon doa dan dukungannya dari para pembaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayah Balqis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Epilog: Janji Kecil di Akhir Musim Panas
Sore itu, matahari mulai turun perlahan, menyisakan cahaya keemasan yang menyapu teras rumah kami. Angin berhembus pelan, membawa aroma tanah basah setelah hujan singkat tadi siang. Di atas meja kayu kecil di depanku, ada dua mangkuk es krim cokelat dengan topping stroberi — satu untukku, satu untuk Balqis.
Balqis duduk di pangkuanku, kakinya bergoyang-goyang senang, sementara lidahnya menjilati es krim yang mulai mencair di dagunya. Aku tertawa, lalu mengambil tisu dan membersihkan wajahnya dengan lembut.
“Ayah,” tiba-tiba dia bertanya, matanya yang bulat menatapku serius, “kalau Balqis udah gede… masih boleh minta peluk nggak?”
Pertanyaan sederhana itu membuat dadaku sesak sebentar. Aku menatapnya dalam-dalam, lalu mencium puncak kepalanya yang wangi.
“Boleh, Nak. Selama kamu masih mau, selama kamu masih butuh… Ayah akan selalu ada.”
“Meski Balqis udah punya anak sendiri?” tanyanya lagi, polos.
Aku tersenyum. “Justru kalau kamu udah punya anak sendiri, Ayah akan lebih sering memelukmu. Karena saat itu, kamu akan mengerti betapa beratnya menjadi orang tua… dan betapa besarnya cinta yang harus diberikan.”
Balqis berpikir sejenak, lalu tersenyum lebar. “Kalau gitu, Balqis janji bakal sering-sering minta peluk Ayah. Bahkan kalau udah jadi nenek-nenek!”
Aku tertawa terbahak-bahak, lalu memeluknya erat-erat. “Deal! Tapi syaratnya, Balqis harus sehat terus, bahagia terus, dan jangan pernah lupa bahwa kamu dicintai lebih dari apapun di dunia ini.”
Dia mengangguk mantap, lalu kembali menikmati es krimnya. “Ayah juga ya. Harus sehat terus, biar bisa temani Balqis main sepeda, nonton kartun, dan rayu-rayu tiap mau tidur!”
Kami pun tertawa bersama, di bawah langit sore yang mulai berubah warna menjadi ungu kebiruan. Burung-burung pulang ke sarang, anak-anak tetangga berlarian pulang, dan udara terasa begitu damai.
Di momen itu, aku sadar. Ini bukan akhir. Ini hanya jeda. Karena selama Balqis masih tertawa, masih bertanya, masih merayuku, masih butuh pelukanku… maka cerita ini akan terus berlanjut.
Season 1 mungkin akan segera berakhir. Tapi petualangan kami? Oh, itu baru saja dimulai.
Karena cinta antara ayah dan anak tidak pernah benar-benar selesai. Ia hanya berganti bab, berganti tema, berganti tantangan — tapi intinya tetap sama: kehadiran, perlindungan, dan cinta tanpa syarat.
Jadi, untuk para pembaca yang telah menemani kami hingga epilog ini… terima kasih. Terima kasih telah tertawa bersama kami, menangis bersama kami, dan merasakan setiap momen kecil yang kami bagikan. Ini bukan akhir dari perjalanan Ayah Balqis. Ini hanya istirahat sebentar sebelum kami melanjutkan petualangan baru di Season 2.
Karena selama Balqis masih ada, selama dia masih butuh cerita, selama dia masih punya imajinasi liar… maka Ayah akan selalu ada untuk menuliskannya.
— Ayah Balqis
P.S.: Untuk Balqis yang sedang membaca ini di masa depan… Jangan lupa, ya. Ayah selalu bangga sama kamu. Selalu. Dan kalau kamu kangen pelukan Ayah, cukup tutup mata, tarik napas dalam-dalam, dan rasakan… pelukan itu masih ada di sana. Selalu. ❤️👨👧✨
Dan kalau suatu hari nanti kamu membaca surat ini sambil tersenyum… ketahuilah bahwa Ayah juga sedang tersenyum, membayangkanmu bahagia. Karena pada akhirnya, itulah tujuan semua cerita ini: membuatmu merasa dicintai, dihargai, dan tak pernah sendirian.
Selamanya,
Ayah yang selalu percaya padamu.