NovelToon NovelToon
Matahari Untuk Erlan

Matahari Untuk Erlan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

Erlan Pratama, seorang direktur muda yang ambisius, berhasil memenangkan sengketa hukum atas sebidang tanah strategis yang ditempati rumah susun tua. Dengan rencana besar di kepalanya, ia memutuskan melakukan penggusuran demi proyek pembangunan yang diyakininya akan membawa keuntungan besar. Namun, hari eksekusi yang seharusnya berjalan lancar justru menjadi titik balik dalam hidupnya.

Di tengah kericuhan warga yang menolak digusur, Erlan dikejutkan oleh kehadiran Linda Sari, mantan kekasihnya yang pernah menghilang tanpa kabar. Linda terlihat berbeda, lebih rapuh, namun tetap tegar. Di pelukannya, seorang bayi perempuan berusia tiga tahun menangis ketakutan melihat situasi di sekitarnya. Tatapan Erlan terpaku pada anak itu, memunculkan pertanyaan yang tak bisa ia abaikan.

Pertemuan tak terduga itu membangkitkan kembali kenangan lama, sekaligus membuka luka yang belum sembuh. Erlan mulai meragukan keputusannya, sementara Linda menyimpan rahasia besar yang bisa mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 7

Sore itu suasana kantor Erlan masih terasa tegang meskipun sebagian besar karyawan sudah mulai bersiap pulang. Di ruang kerjanya yang luas dan rapi, Erlan berdiri di dekat jendela, memandang ke arah kota yang mulai berubah warna oleh senja. Pikirannya tidak benar-benar tertuju pada pemandangan itu. Sejak pagi, satu hal terus berputar di benaknya—hasil tes DNA yang belum juga keluar.

Pintu diketuk pelan.

“Masuk,” ujar Erlan tanpa menoleh.

Adi masuk sambil membawa map tipis di tangannya. Wajahnya terlihat lelah, tetapi juga menyimpan rasa penasaran yang sulit disembunyikan.

“Semua sudah saya urus, Pak,” kata Adi sambil menyerahkan map tersebut. “Sampel rambut dari Anda dan Kirana sudah diserahkan ke laboratorium. Tinggal menunggu hasilnya.”

Erlan akhirnya menoleh. Tatapannya tajam, tetapi ada kepuasan yang samar di sana.

“Bagus,” jawabnya singkat. “Semakin cepat semakin baik.”

Adi mengangguk, tetapi tidak langsung pergi. Ia berdiri beberapa detik lebih lama, seolah ada sesuatu yang ingin ia katakan namun masih ragu.

Erlan menyadari itu. “Ada lagi?”

Adi menarik napas pelan. “Saya hanya… penasaran, Pak.”

“Penasaran tentang apa?”

Adi sedikit menggeser posisinya. “Bagaimana kalau hasilnya… tidak seperti yang Anda harapkan?”

Ruangan itu mendadak terasa lebih sunyi.

Erlan menatap Adi beberapa detik, lalu berjalan mendekat ke meja kerjanya dan bersandar di sana.

“Itu tidak akan terjadi,” katanya tenang.

Adi mengerutkan kening. “Anda sangat yakin?”

“Sangat.”

Adi tersenyum tipis, tetapi jelas masih ragu. “Maaf, Pak. Tapi… saya hanya berpikir… sulit membayangkan anak sekecil dan selucu itu… adalah anak dari seseorang seperti Anda.”

Erlan mengangkat alis. “Seseorang seperti saya?”

Adi sedikit gugup, tetapi tetap melanjutkan, “Maksud saya… Anda dikenal tegas, dingin, dan… ya, cukup memaksa dalam banyak hal.”

Beberapa detik hening.

Lalu, di luar dugaan Adi, Erlan justru tersenyum tipis.

“Itu karena kamu tidak mengenal saya dulu,” ujar Erlan.

Adi tampak terkejut. “Dulu?”

“Saya tidak selalu seperti ini,” lanjut Erlan. “Saat kecil, saya… cukup ceria. Bahkan bisa dibilang terlalu ceria.”

Adi tampak tidak percaya. “Anda?”

Erlan mengangguk pelan. “Lingkungan yang mengubah saya. Didikan keluarga yang terlalu kaku. Semua harus sempurna, semua harus sesuai aturan. Tidak ada ruang untuk kelemahan.”

Ia terdiam sejenak, lalu menambahkan, “Pada akhirnya, saya hanya menjadi apa yang mereka inginkan.”

Adi mengangguk pelan. Ia tidak ingin memperpanjang perdebatan. “Baik, Pak.”

Namun rasa penasarannya belum selesai. “Kalau… hasilnya benar? Kalau Kirana benar anak Anda?”

Kali ini, tanpa ragu, Erlan menjawab, “Saya akan menikahi Linda.”

Adi terdiam.

“Saya akan menjadi ayah untuk Kirana,” lanjut Erlan. “Dan saya akan memperbaiki semua yang dulu saya tinggalkan.”

“Apa maksud Anda?”

Erlan menatap keluar jendela lagi. “Saya pernah punya mimpi sederhana. Keluarga yang hangat. Tidak seperti keluarga saya dulu.”

Nada suaranya berubah lebih dalam.

“Dan kali ini… saya tidak akan gagal lagi.”

Adi hanya bisa mengangguk. Ada sesuatu dalam suara Erlan yang tidak bisa dibantah.

Tiba-tiba pintu kembali diketuk.

“Masuk,” kata Erlan.

Rama masuk sambil membawa beberapa berkas. Wajahnya terlihat lelah, tetapi tetap profesional.

“Ini laporan yang Anda minta, Pak,” ujarnya sambil meletakkan berkas di meja.

Erlan mengambilnya sekilas, lalu mengangguk. “Baik.”

Rama melirik jam di tangannya. “Kalau tidak ada lagi, saya pamit pulang.”

Erlan langsung mengangkat kepala. “Pulang?”

“Iya, Pak. Semua pekerjaan hari ini sudah selesai.”

Erlan tampak tidak puas. “Saya masih ingin mendiskusikan sesuatu.”

Rama menghela napas pelan. “Tentang pekerjaan?”

Erlan terdiam sejenak, lalu berkata, “Tentang rencana saya kembali ke Linda.”

Rama menutup mata sejenak, jelas menahan kesal.

“Pak,” katanya akhirnya, “kami direkrut untuk membantu pekerjaan Anda. Bukan untuk mengurus kehidupan pribadi Anda.”

Adi yang mendengar itu langsung menahan senyum.

Namun Erlan justru terlihat santai. “Kalian harus bisa multitasking.”

Rama menatapnya datar. “Kalau begitu, mungkin Anda juga harus mulai mempertimbangkan batas profesional.”

Erlan tidak menjawab.

Rama akhirnya menghela napas lagi. “Saya benar-benar harus pulang.”

Ia menoleh ke Adi. “Kamu?”

Adi tersenyum pahit. “Saya… masih ada sedikit urusan.”

Rama mengangguk, lalu pergi.

Begitu pintu tertutup, Adi bergumam pelan, “Sepertinya pulang sore itu hanya angan-angan.”

Erlan meliriknya sekilas. “Kalau kamu ingin pulang, silakan.”

Adi langsung menggeleng cepat. “Tidak, Pak. Saya masih kuat.”

Meski dalam hati ia tahu, itu tidak sepenuhnya benar.

 

Di sisi lain kota, suasana restoran tempat Linda bekerja mulai tenang. Jam menunjukkan hampir pukul sembilan malam, dan pelanggan terakhir sudah pergi.

Linda mengusap keringat di dahinya sambil merapikan meja.

“Capek?” tanya salah satu rekan kerjanya.

Linda tersenyum. “Lumayan. Tapi masih sanggup.”

Pemilik restoran, Pak Rahman, keluar dari dapur sambil membawa beberapa kotak makanan.

“Bagus,” katanya. “Saya suka yang tahan banting seperti kamu.”

Linda tertawa kecil.

Pak Rahman melanjutkan, “Biasanya yang baru kerja sehari langsung menyerah.”

Linda menggeleng. “Saya tidak punya pilihan, Pak.”

Pak Rahman menatapnya sejenak, lalu mengangguk pelan. Ia tidak bertanya lebih jauh.

Sebaliknya, ia menyerahkan satu kotak makanan.

“Ini untuk kamu.”

Linda menerimanya dengan mata berbinar. “Terima kasih, Pak.”

“Daripada dibuang, lebih baik kalian bawa pulang,” ujar Pak Rahman. “Masih layak makan.”

Linda membuka sedikit kotaknya. Di dalamnya ada beberapa potong ayam goreng dan sayur pendamping.

Wajahnya langsung cerah.

“Ini banyak sekali, Pak.”

“Ambil saja. Besok juga ada lagi.”

Linda menunduk sedikit. “Terima kasih banyak.”

Dalam hatinya, ia merasa lega. Setidaknya untuk besok pagi, ia tidak perlu bingung memikirkan sarapan.

Setelah semuanya beres, Linda pamit dan berjalan pulang sambil membawa kantong makanan itu.

Langkahnya lelah, tetapi ada rasa syukur yang menghangatkan hatinya.

 

Sesampainya di rumah Anita, suasana sudah sunyi.

Lampu ruang tamu redup, menandakan semua orang sudah beristirahat.

Linda membuka pintu perlahan agar tidak berisik.

Ia baru saja melepas sepatu ketika suara pelan terdengar.

“Kamu sudah pulang?”

Linda menoleh. Anita duduk di sofa, tampak baru saja bangun.

“Iya,” jawab Linda sambil tersenyum. “Maaf kalau membangunkan.”

Anita menggeleng. “Tidak. Aku memang belum tidur nyenyak.”

Linda meletakkan kantong makanannya di meja. “Kirana sudah tidur?”

“Iya. Dari tadi sore sudah lelah.”

Linda tersenyum lembut.

Ia duduk di samping Anita. “Hari ini… sangat sibuk.”

Anita tertarik. “Ceritakan.”

Linda mulai bercerita, “Ternyata restoran itu ramai sekali. Saat makan siang dan sore, tidak ada waktu istirahat sama sekali.”

“Tapi kamu kuat?”

“Capek, tapi… menyenangkan,” jawab Linda jujur. “Apalagi pemiliknya baik.”

Ia menunjuk kantong makanan. “Ini bahkan diberi untuk dibawa pulang.”

Anita tersenyum lebar. “Wah, lumayan sekali.”

“Iya,” kata Linda. “Setidaknya kita tidak perlu pusing soal makanan.”

Anita mengangguk. “Itu sudah sangat membantu.”

Lalu Anita tampak teringat sesuatu.

“Oh iya,” katanya. “Tadi pagi aku dapat tawaran.”

Linda menoleh. “Tawaran apa?”

“Dari brand kesehatan,” jawab Anita. “Cukup terkenal.”

Linda terlihat tertarik. “Serius?”

“Iya. Mereka menawarkan kerja sama. Besok produknya akan datang.”

“Lalu?”

Anita tersenyum kecil. “Kalau terjual, komisinya lumayan tinggi.”

Mata Linda langsung berbinar. “Itu kabar bagus.”

“Iya. Aku juga berharap bisa menjual semuanya.”

Linda menepuk pelan tangan Anita. “Kamu pasti bisa.”

Anita tertawa kecil. “Kamu terlalu percaya diri.”

“Tidak,” jawab Linda. “Aku hanya tahu kamu tidak akan menyerah.”

Keduanya terdiam sejenak, menikmati suasana tenang malam itu.

Di tengah semua kesulitan, setidaknya mereka masih punya harapan.

Dan untuk saat ini, itu sudah lebih dari cukup.

1
Nessa
udalah balikan aja kalean
onimaru rascall: bapaknya ga bolehin karena pengen menantu yang setara keluarganya dari segi kekayaan 🤫🤫🤫
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!