Dave yakin guru tk para keponakannya adalah perempuan yang menjadikannya sebagai sasaran kekalahannya dalam permainan true or dare dua malam yang lalu.
Bisa bisanya perempuan yang suka clubbing jadi guru tk. Bagaimana nanti masa depan keponakan keponakannya?
Semoga suka♡♡♡
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketemu teman mama
Mang Jali mengantar Rhea sampai di stasiun dengan wajah gelisah, cemas dan tegang.
Sepanjang perjalanan saja tadi Rhea yakin, debar jantungnya sama cepatnya dengan debar jantung Mang Jali saat melewati pengecekan sekuriti kompleks.
Tapi anehnya sekuriti kompleks tanpa bertanya apa pun langsung membuka plang gerbang, membiarkan Mang Jali dan Rhea melewatinya.
Rhea yakin kalo mama atau kakaknya pasti sudah kong kali kong dengan sekuriti kompleks.
"Hati hati, ya, non," ucap Mang Jali ketika sudah berada di dalam stasiun.
Rhea hanya mengangguk dengan kebingungan yang masih memenuhi kepalanya.
"Pak, pak, tolong nona saya, pak. Dia baru pertama kali naek kereta," ucap Mang Jali pada seorang pegawai stasiun yang ada di depan dia dan Rhea.
Rhea melirik kesal pada Mang Jali yang sudah membuka aibnya di tempat umum.
"Oh iya, pak." Pegawai itu melihat tiket yang disodorkan Rhea.
"Kebetulan keretanya baru datang. Mbaknya di eksekutif dua. Mari saya antar. Sebentar lagi juga keretanya akan berangkat." Pegawai stasiun itu dengan ramah mau menolong Rhea. Mungkin percaya dengan kata kata Mang Jali, atau mungkin juga kasian melihat Rhea yang nampak jelas seperti orang linglung.
"Non, baik baik, ya..."
Rhea menganggukkan kepalanya.
"Makasih, mang. Mamang juga hati hati pulangnya." Ngga bisa dia bayangin bagaimana nanti nasib Mang Jali.
Semoga Mang Jali, selalu Engkau lindungi, harapnya dalam hati.
"Iya, non."
Rhea berusaha keras membangunkan pikirannya yang masih setengah loading.
"Ayo, mbak." Pegawai stasiun sudah bersiap akan pergi.
"Sebentar, pak." Rhea menatap Mang Jali yang masih juga berada di sana.
"Mang, kalo ada apa apa, cari mama sama Kak Vidya, ya."
Secercah senyum tercipta di wajah yang masih diliputi ketegangan itu.
"Iya, non. Non yang harus hati hati. Jaga tasnya baik baik."
"Iya, Mang. Aku pergi dulu."
Rhea melangkah pergi dilepas dengan lambaian tangan Mang Jali.
Rhea ngga pernah mengira dia akan meninggalkan kota ini dengan hanya diantar oleh tukang kebunnya saja.
Pegawai stasiun dengan sangat baik mengantarkan Rhea hingga sampai ke tempat duduknya.
Sekitar lima menit kamudian
Rhea masih terpaku saat berada di dalam kereta yang sudah melaju cepat, yang akan membawanya ke Jakarta.
Tas punggung kecilnya dipeluk erat di d@da. Rhea masih bingung sebenarnya tentang apa yang sudah terjadi dengannya. Semuanya terlalu cepat untuk otak kecilnya mencerna. Bukan dia bodoh, tapi karena baru bangun tidur, dia butuh waktu sekitar tiga puluh menit untuk mengaktifkan sel sel di sarafnya.
Nanti di Jakarta dia dijemput siapa?
Teman mamanya yang mana?
Kepala Rhea mulai berdenyut denyut. Dengan uang puluhan jita di dalam tasnya, dia masih bisa bertahan hingga setengah bulan. Tapi tentu saja dengan menurunkan standar hidupnya.
Selembar baju pun dia ngga bawa. Ini hanya baju semalam yang melekat di badannya. Dia sudah sepetti gembel tapi punya uang puluhan juta di dalam tas punggung kecilnya.
*
*
*
Rhea celingukan saat berada di luar stasiun. Berjalan pelan dan tenang. Ini pertama kalinya dia berada di stasiun. Tapi tidak cukup sulit karena dia bisa mengikuti orang orang yang berjalan di depannya.
Masalahnya dia ngga tau siapa yang akan menjemputnya. Tadi dia sudah memeriksa ponsel. Tidak ada satupun pesan dari mama maupun kakaknya.
Kalo masih begini keadaannya, Rhea yakin keadaan di rumah pasti belum aman.
Ketika dia sedang kebingungan, seorang wanita baya yang masih cantik mendekatinya. Senyumnya terukir manis.
"Rhea Minerva?" Wanita itu menunjukkan foto dirinya yang ada pada layar ponselnya.
Rhea mengangguk sambil menatap wajah wanita paruh baya yang mungkin adalah teman teman mamanya.
'Senangnya bertemu kamu, Rhea. Saya teman gibah mama kamu. Kamu bisa panggil saya Tante Puspa." Wanita itu memeluknya hangat.
Jadi ini teman mama? batin Rhea merasa lega.
"Dulu tante pernah ketemu kamu waktu kamu berumur tiga tahun," tawanya berderai sambil melepaskan pelukannya.
"Pasti kamu ngga ingat ya...."
Rhea tersenyum canggung. Dia belum mandi, baju yang dikenakannya juga baju kemarin. Dia sudah memberikan semua bakterinya pada tante cantik ini.
"Maunya tante, kamu tinggal di rumah tante. Tapi mama kamu maunya kamu mandiri. Ya udah, kamu tinggal di apartemen aja," ucap Puspa hangat. Keduanya sudah berjalan beriringan menuju parkiran.
Oooh, batin Rhea. Dia takjub, kapan mamanya menyiapkan semua ini?
Sekarang mereka sudah berada di dalam mobil mewah Tante Puspa
"Katanya kamu suka anak anak, ya. Mau ngajar di kindergarten punya keluarga Tante? Biar ngga bosan di apartemen," tawar Puspa ramah. Dari tadi Puspa.selalu excited ngobrol dengan Rhea.
Rhea cukup tau membalas budi. Ngga ada salahnya diterimanya tawaran Tante Puspa.
"Saya mau, tante "
"Syukurlah. Senin besok kamu sudah bisa masuk kerja. Tapi kalo lelah, lusa juga boleh." Puspa tidak memaksa.
"Saya baik baik aja, kok, tante. Saya akan mulai kerja hari senin besok, tante," sahut Rhea meyakinkan.
"Senang tante mendengarnya. Oke, nanti akan ada yang antar jemput kamu."
Rhea tambah sungkan.
"Tante share aja lokasinya. Saya bisa pergi dengan taksi online."
Puspa menggelengkan kepalanya.
"Ngga boleh pergi sendiri. Keselamatan kamu selama di sini merupakan tanggung jawab tante," tolak Puspa.tegas.
Waduh, Rhea makin merasa sungkan.
"Santai saja. Kalo kamu pikir nggak enak akan merepotkan tante, kamu salah. Tante malah senang direootkan kamu."
Rhea tersenyum lepas mendengarnya.
"Tante dan mama kenal sejak kapan?" Dia jadi ingin tau sedekat apa hubungan mereka hingga Tante Puspa mau menolongnya sampai sejauh ini.
"Sejak masuk TK. Tapi kemudian mama kamu pindah sekolah karena opa kamu dipindahkan ke luar negeri."
Rhea mengangguk mengerti.
"Kami bertemu lagi waktu kuliah. Hingga hari ini." Puspa tertawa berderai lagi. Hatinya benar benar sangat senang.
"Oooh...." Rhea manggut manggut mengerti.
"Kamu tenang saja, Rhea. Anak anak di kindergarten baik baik, kok. Nanti ada dua orang guru yang akan membantu kamu," jelas Puspa hangat.
Rhea tersenyum tipis. Berharap yang dikatakan Tante Puspa benar adanya.
"Oh iya, tante. Emm... Terimakasih banyak, ya, tante , sudah mau direpotkan," ucap Rhea agak kikuk. Menurutnya, teman mamanya terlalu baik.
Puspa tertawa berderai.
"Tante malah senang. kok."
Rhea tersenyum lega. Dia senang karena teman mamanya sehangat ini
"Terimakasih banget, tante."
gimana yah.. rasanya tuh kaya digerogoti rayap hari ke hari yg hidupnya berkoloni utk menumbangkan kayu yg kokoh menunggu kayu itu keropos sampai tumbang..
kalau rayapnya sendirian mah gak ngeri. Yg ngeri itu kalau udah 1 koloni.
sama kayak orang toxic yg ngegennk..
Mereka tuh kuat karena rame.
Satu jd kompor, yg lain kipas-kipas. Targetnya ya "kayu kokoh" = orang yg kerja bener/jujur/gak ikut arus mereka...
Abaikan aja Rhe, anggep aja angin lalu, dia belum tau aja siapa kamu sebenernya..
faktanya kalau mereka tau kamu dr keluarga mana, mungkin mereka seperti kucing basah kena air hujan "Menggigil"
😂🤣
belum tau aja di jidat Rhea itu sudah ada marker nya "Belong to Dave" dan hanya org beriman aja yg bs liat mark itu wkwkkk