Maheer Arasyid terjebak dalam wasiat yang terasa seperti kutukan. Kepergian Muzammil, sang kakak yang tewas demi melindunginya dari maut di parkiran rumah sakit, meninggalkan duka sekaligus beban berat: Assel Salsabila.
Bagi Maheer, Assel bukanlah sekadar janda kakaknya, melainkan musuh bebuyutan sejak masa sekolah yang sangat ia benci. Alasan Maheer melarikan diri ke luar negeri bertahun-tahun hanyalah satu: menghindari fakta bahwa wanita "berbisa" itu telah menjadi bagian dari keluarganya.
Kini, demi menunaikan janji terakhir Muzammil dan menjaga senyum kecil Razka Arasyid, Maheer terpaksa mengikat janji suci dengan wanita yang paling ia hindari. Di balik benci yang membara, tersimpan rahasia masa lalu dan luka yang belum sembuh. Bisakah pernikahan yang dibangun di atas rasa bersalah ini berubah menjadi cinta, ataukah dendam lama justru akan menghancurkan segalanya?
Temukan jawabannya dalam kisah pengabdian dan benci yang berujung cinta ini. Dan jangan lupa berikan dukungannya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENYESALAN DI BALIK BAJA
Matahari sore yang jingga menyiram halaman mansion ketika mobil Maheer berhenti di depan lobi. Langkahnya yang terburu-buru mendadak melambat saat matanya menangkap pemandangan di sudut taman. Assel, wanita yang ia tuduh haus harta itu, sedang berlutut di atas tanah. Ia tidak mengenakan sarung tangan, membiarkan jemarinya kotor oleh tanah hitam saat ia membongkar sebuah pot bunga yang layu.
Di sampingnya, Razka ikut bermain kotor. Bocah itu sibuk memindahkan tanah ke ember kecil dengan wajah cemong, namun Assel tidak melarangnya. Ia justru tersenyum, mengusap dahi putranya dengan punggung tangan agar tanah tidak masuk ke mata si kecil.
"Siapakah sebenarnya wanita ini?" gumam Maheer dalam hati. Dada pria itu terasa sesak. "Apakah selama lima tahun ini aku hanya memelihara iblis yang aku ciptakan sendiri dalam pikiranku?"
Ia tidak menyapa. Maheer langsung bergegas masuk, menaiki tangga dengan jantung yang berdegup kencang menuju ruang kerja kakaknya. Ruangan itu masih menyisakan aroma parfum maskulin milik Muzammil. Maheer mulai menggeledah. Ia menarik laci, memeriksa tumpukan buku, hingga akhirnya matanya tertuju pada sebuah lemari kecil di bawah meja jati. Di sana, terdapat sebuah brankas baja kecil berwarna hitam.
"Pasti ada di sini," desisnya.
Ia mencoba memasukkan kombinasi angka. Tanggal lahir Muzammil; salah. Tanggal lahir Razka; tetap salah. Maheer terdiam sejenak. Tangannya gemetar saat ia menekan angka yang merepresentasikan tanggal lahir Assel.
Klik.
Pintu baja itu terbuka. Maheer tertegun. Begitu besarnya tempat Assel di hati kakaknya hingga tanggal lahir wanita itu dijadikan kunci untuk rahasia terdalamnya. Di dalam brankas, tumpukan dokumen tertata rapi. Maheer membukanya satu per satu. Surat wasiat mencuat di urutan teratas. Mansion ini telah dibalik nama atas nama Assel, sementara saham utama perusahaan diwariskan untuk Razka.
"Luar biasa," gumam Maheer sinis, meski suaranya bergetar. "Kau benar-benar mengamankan segalanya untuk mereka, Kak."
Namun, di sudut paling dalam, terdapat sebuah kotak kayu kecil bertuliskan: Untuk Maheer.
Maheer segera membukanya. Di dalamnya terdapat sepucuk surat usang dan sebuah USB. Ia membaca surat itu yang ternyata ditulis tujuh tahun lalu, tepat di tahun keberangkatannya ke luar negeri.
Maheer, adikku...
Kau pergi dengan kemarahan yang salah. Assel tidak seperti yang kau tuduh. USB ini adalah bukti yang aku temukan di sekolah. Aku ingin mengirimkan ini padamu, tapi aku egois. Aku mencintainya, Maheer. Dan sekarang, dia resmi menjadi istriku. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menghina istriku, termasuk kau. Maafkan kakakmu yang menyimpan kebenaran ini demi memilikinya.
Maheer merasa dunianya terbalik. Ia segera menyalakan laptop di meja kerja dan mencolokkan USB tersebut. Layar menampilkan rekaman CCTV taman belakang sekolah tujuh tahun lalu. Di sana terlihat Bayu, teman akrab Maheer, membawa Assel ke taman. Bayu menunjuk ke arah Rudi yang membelakangi mereka, mengatakan bahwa itu adalah Maheer.
Maheer meremas tangannya hingga buku jarinya memutih saat melihat Rudi tiba-tiba berbalik dan memeluk Assel secara paksa. Namun, rekaman itu jelas menunjukkan Assel mendorong Rudi dengan segenap tenaga dan mendaratkan tamparan keras di pipi pria itu. Sementara di balik pohon, Bayu terlihat menyeringai sambil memotret dari sudut yang menipu.
"Bayu... kau bajingan," umpat Maheer dengan air mata yang mulai menetes.
Video berlanjut pada rekaman koridor. Assel sedang berbicara dengan Tika. Kata-kata "jijik" dan "hina" yang dulu membakar hati Maheer, ternyata memang ditujukan untuk Rudi. Assel bahkan meludah ke tanah sebagai tanda kemuakan pada pria yang melecehkannya itu. Bahkan, ada cuplikan video di mana teman-teman Maheer merayakan keberhasilan mereka memfitnah Assel.
Bagian terakhir video itu memperlihatkan teman-teman Maheer yang mencoba merundung Assel di parkiran, namun Muzammil datang bak pahlawan, menghantam mereka semua hingga babak belur. Maheer teringat saat itu teman-temannya mengaku dipukuli preman. Ternyata, itu adalah luka akibat tangan kakaknya yang berusaha melindungi Assel dari perbuatan keji mereka.
"Aku... aku telah menghancurkan hidupnya," isak Maheer. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Selama tujuh tahun ia membenci orang yang paling terluka. Ia menghina wanita yang sebenarnya adalah korban dari teman-temannya sendiri. Muzammil benar, ia memang pantas memiliki Assel karena dialah yang ada di sana saat Maheer justru menjadi penambah derita bagi wanita itu.
Maheer segera mencabut USB itu dan memasukkannya ke saku jas. Ia merapikan brankas dengan tangan gemetar dan keluar dari ruangan. Saat pintu terbuka, ia berpapasan dengan Assel yang baru saja naik sambil menggendong Razka yang sudah bersih.
Maheer tersentak. Ia dengan cepat menghapus air matanya, namun matanya yang sembab dan wajahnya yang memerah tidak bisa berbohong.
"Kau... kau sedang apa di sini?" tanya Assel dengan nada datar, namun matanya menatap pintu ruang kerja Muzammil dengan curiga.
Maheer tidak menjawab. Ia hanya menatap Assel dengan tatapan yang sulit diartikan, campuran antara duka, penyesalan, dan rasa malu yang luar biasa. Tanpa sepatah kata pun, ia melewati Assel dan berlari menuruni anak tangga, lalu keluar dari mansion begitu saja menggunakan mobilnya.
Assel terpaku di depan pintu ruang kerja. Ia menurunkan Razka perlahan. "Mama, Om Jahat kenapa menangis?" tanya Razka polos.
"Mama tidak tahu, Sayang," bisik Assel.
Ia membuka pintu ruang kerja suaminya. Segalanya tampak rapi, seolah tidak terjadi apa-apa. Assel mendekati meja kerja, menyentuh kursi yang biasa diduduki Muzammil. Hatinya bertanya-tanya. Mengapa pria arogan seperti Maheer bisa terlihat sehancur itu? Apakah dia merindukan kakaknya, ataukah dia baru saja menemukan sesuatu yang akan mengubah perang dingin di antara mereka?
Assel menatap jendela, melihat mobil Maheer yang melaju kencang meninggalkan halaman. Ada firasat aneh yang merayap di hatinya. Sesuatu yang besar baru saja terbuka, dan ia tidak tahu apakah ia siap menghadapi apa yang akan dibawa Maheer saat pria itu kembali nanti. Di sisi lain, Maheer memacu mobilnya di tengah jalanan kota, dengan satu tujuan: memburu orang-orang yang telah memberinya racun fitnah tujuh tahun lalu. Malam ini, badai akan segera menyapu mereka yang tertawa di atas penderitaan Assel.
bagus minta cerai aja males punya suami ada demit masa lalu apa lagi hidup di luar kebanyakan jadi teh celup suka keluar masuk lobang lendir
apa aku yg kurang paham agama atau gimana ini??
karena setauku gitu nunggu massa iddah dulu baru menikah