NovelToon NovelToon
Queen Of Bataviarch

Queen Of Bataviarch

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mafia / Dark Romance
Popularitas:510
Nilai: 5
Nama Author: phiiiew

“Lepas gaunmu sekarang juga! Tunjukkan ke mereka, apa saja yang akan mereka bawa pulang nanti!”

“Aku gak bakal ngelakuin hal itu, paham!” seru Rosella dari atas meja.

“Aku gak minta persetujuan kamu, Rosella.” Nada bicara dan pandangan Ayahnya pun berubah menjadi sangat dingin.

“Baimm,” suara Dio memotong niat buruknya. “Aku rasa kamu gak perlu menyuruh anakmu melakukan hal menjijikkan itu.”


Anak perempuan tertua dari pemimpin Bataviarch akan dilelang malam ini. Rosella Rachmandi telah lama bersiap menghadapi hari itu. Sebenarnya, rencananya sederhana, ia ingin mendapatkan suami yang bodoh dan lemah, sehingga dapat dikendalikannya, lalu merebut seluruh kekuasaan ayahnya yang kejam demi menyelamatkan nasib ketiga adiknya.

Ia yakin segala sesuatunya akan berjalan lancar, hingga Dio Walisang, pria yang tiba-tiba hadir di acara pelelangan itu, mengubah dan meruntuhkan seluruh rencananya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

The Elite

Dio menyetir keliling kota untuk menenangkan pikiran. Sebelum rapat penting, ia berniat menemui ibu kandungnya dan menyampaikan kabar pernikahan yang akan berlangsung seminggu lagi. Ia memutuskan ibunya tidak perlu hadir, semata-mata agar wanita itu tidak terluka oleh situasi yang ada.

Ia masuk ke area parkir khusus yang selalu dibayarnya, lalu memarkirkan mobil sportnya di tempat langganan.

"Pagi, Tuan Walisang. Nyonya sedang duduk di taman sekarang," ujar seorang perawat sambil tersenyum.

Dio mengangguk ramah lalu berjalan menuju arah yang ditunjukkan.

Keluarganya memiliki rumah besar dan mewah, tempat ibunya seharusnya tinggal dengan nyaman. Namun, wanita itu pernah mengaku merasa kesepian di sana dan lebih tenang berada di tempat ini, meskipun Dio sering berusaha mengajaknya pulang setiap kali selesai bepergian.

"Hai, Ma," sapa Dio pelan sambil mendekat. Ia melihat ibunya sedang mengelus lembut daun bunga yang ada di tangannya.

Ibunya mengangkat wajah dan tersenyum lebar. Dada Dio terasa sesak, karena hari ini adalah salah satu momen langka di mana ibunya kembali sadar dan mengingat segalanya dengan jelas.

"Halo, Nak. Mama udah tahu kamu bakal datang hari ini," kata ibunya lembut.

"Mama emang selalu aja bisa nebak," jawab Dio sambil tersenyum kecil, lalu mengecup kening wanita itu.

Ia duduk di bangku taman tepat di samping ibunya dan menggenggam tangan keriput itu. Dio benci disentuh orang lain, tetapi sentuhan ibunya justru membuatnya tenang dan sangat dibutuhkannya.

"Kamu baru sampai Surabaya hari ini?" tanya ibunya.

"Sebenarnya aku udah di sini beberapa hari, cuma lagi sibuk banget sih. Ada rencana mau bikin kelompok baru bernama Elite," jawab Dio terus terang. Ia yakin ibunya bisa menjaga rahasia, walau ingatannya kadang hilang.

"Cuma itu aja yang bikin sibuk?" tanya ibunya sambil menyipitkan mata, seakan tahu ada hal lain yang disembunyikan.

Dio tersenyum tipis. Ibunya memang paling jago membaca isi hatinya.

"Aku bakal nikah Sabtu depan, Ma."

Mata ibunya langsung terbelalak kaget. Tak lama kemudian, wanita itu menyandarkan kepalanya di bahu Dio dengan lembut. Mereka berdua diam cukup lama, hanya memandangi tanaman bunga yang ada di depan mereka.

"Mama rasa ini bukan karena cinta ya? Soalnya kamu belum pernah sekalipun kenalin dia ke Mama," ucap ibunya pelan.

"Mama bener. Ini murni transaksi aja," jawab Dio jujur.

"Dan dia tahu soal perjanjian ini?"

"Tahu semua, Ma."

"Bagus deh kalau gitu. Mama nggak mau anak mama bikin perempuan lain sedih atau sakit hati, sebesar apa pun keuntungan bisnisnya," kata ibunya tegas.

"Aku nggak bakal sejahat itu. Dia udah paham banget posisi kita masing-masing dari awal."

"Terus dia cantik nggak?"

"Cantik banget. Gaya berpakaiannya keren, dan matanya makin nyala kalau dia lagi marah atau lagi nyusun rencana jahat," jawab Dio sambil membayangkan wajah Rosella.

Ia terdiam sejenak, teringat rambut hitam panjang wanita itu yang selalu rapi dan berkilau.

"Syukurlah berarti ini nggak melulu soal bisnis buat kamu," gumam ibunya pelan.

"Ma, jangan berandai-andai deh. Rosella itu cuma alat aku buat capai tujuan," sanggah Dio cepat.

"Kamu emang selalu paling telat sadar soal perasaan sendiri. Tolong titip pesan ke Hans ya, kalau nanti dia sadar kalau kamu sebenernya suka banget sama cewek itu, suruh dia kasih tahu kamu," ucap ibunya sambil tersenyum jahil.

Dio tertawa kecil. Ibunya dan sepupunya, Hans, memang sering satu frekuensi dan sama-sama suka menggodanya.

"Aku mau bilang satu hal lagi. Aku nggak mau Mama datang ke acara itu, tapi bukan karena aku malu sama Mama ya," jelas Dio serius.

"Mama tahu kok bukan karena itu. Mama udah besarin kamu dengan baik. Kalau kamu ngelarang mama datang, pasti ada alasannya sendiri. Mama cuma berharap, pas kamu beneran jatuh cinta nanti, mama bisa ketemu sama cewek yang bikin kamu lupa segalanya," jawab ibunya bijak.

Dio sengaja mengubah topik pembicaraan agar suasana menjadi lebih ringan.

Ia bercerita mengenai kelakuan konyol Hans yang pernah menggambar di wajah Gumm. Ia juga menceritakan keberanian Rosella yang berani melawan ayahnya sendiri, serta cara wanita itu membela nama baik Dio saat dituduh terlibat kematian Bahtiar.

Percakapan berlangsung cukup lama sampai Dio melihat ibunya mulai menguap dan matanya sulit dibuka. Efek obat yang diminum wanita itu memang menyebabkan kantuk yang cepat.

"Ayo aku anter masuk ya. Mama istirahat dulu di dalem," kata Dio lembut.

"Kalau minggu depan mama dibolehin jalan-jalan, boleh nggak mama bantuin milih jas pengantin kamu?" tanya ibunya.

"Boleh banget dong. Malah aku seneng banget kalau mama yang bantuin," jawab Dio.

"Oke siap. Soalnya kalau kamu sama Hans aja, bisa-bisa anak itu nyuruh kamu dateng ke gereja pakai baju bentuk pisang," canda ibunya sambil memeluk leher Dio saat digendong ke dalam.

Dio tertawa renyah. Itu bukan hal yang mustahil. Hans memang sangat suka tampil beda dan unik dalam hal penampilan. Ia membaringkan ibunya di atas kasur empuk dan mengecup dahi wanita itu. Mata ibunya sudah mulai tertutup rapat.

"Nak," panggil ibunya pelan saat Dio baru mau melangkah keluar kamar. "Mungkin kamu nggak perlu nunggu Hans bilang apa-apa."

Setelah mengucapkan itu, ibunya langsung membalikkan badan dan tertidur pulas. Dio berhenti sejenak, berusaha mengerti maksud ucapan tersebut, tetapi ia sama sekali tidak memahaminya.

...***...

Dio tiba di ruang pertemuan tepat waktu sesuai kesepakatan. Utusan dari Cina, Thailand dan kelompok Yakuza sudah ada menunggu di dalam ruangan.

"Kayaknya kalian semua lebih rajin dan tepat waktu deh dibanding aku," ucap Dio sambil masuk dan duduk di kursi utama.

Mao Yen dan Shin Yen dari Cina hanya tersenyum sopan dan mengangguk. Xiau Lee tidak ikut datang, hal ini sudah diduga karena ia jarang mau meninggalkan putrinya sendirian di negaranya.

"Kamu siapa lagi nih?" tanya Dio sambil menatap tajam ke arah perempuan cantik yang duduk di sebelah utusan Thailand.

"Namaku Cai Fat," jawab wanita itu santai.

"Jangan cari masalah sama dia," tegur Ong Bak, pemimpin rombongan Thailand itu.

Dio hanya menggeleng pelan. Ia tahu Ong Bak tidak pernah menyukainya, sama seperti rekannya, Laii, pemimpin wilayah lain.

"Bisa nggak, ada yang jelasin sebenernya kita ngumpul di sini buat apa?" potong Shin Yen dengan nada bosan.

Dio duduk lebih tegak dan menatap semua orang satu per satu.

"Dia ini bisa dipercaya nggak?" tanya Dio balik sambil menunjuk Cai Fat.

"Hei, dia ada di sini dan bisa ngalahin kamu tanpa bikin rambutnya berantakan dikit pun," jawab Cai Fat sendiri dengan nada menantang.

Dari cara bicaranya, Dio yakin perempuan ini berasal dari Bangkok.

"Aku jamin dia bisa dipercaya. Apa pun yang dia katakan, itu udah mewakili aku sepenuhnya," sela Ong Bak tegas.

Cara Ong Bak menatap Cai Fat membuat Dio paham ada hubungan khusus di antara mereka. Jujur saja, ia lebih menyukai karakter perempuan ini dibanding Ong Bak yang emosian dan menyebalkan.

"Aku ngumpulin kalian semua karena ada tawaran menarik," kata Dio mulai membuka pembicaraan inti. "Aku mau bentuk satu kelompok bernama Elite. Nama itu ideku," tambahnya cepat.

Hans, yang tiba-tiba sudah ada di kursi sebelahnya, menyeringai bangga. Dio hanya bersikap acuh dan melanjutkan penjelasannya.

"Konsepnya gampang aja. Kita satuin kekuatan dari berbagai sindikat biar bisa kerja sama, saling bantu, dan jadi kekuatan besar yang susah dikalahkan musuh," jelas Dio singkat.

"Jadi maksudnya orang Thailand, Cina, dan Yakuza mau kerja bareng-bareng gitu?" tanya Mao Yen sambil menaikkan alis.

Dio mengangguk yakin.

"Terus untungnya buat kita apa dong?" tanya Laii dengan curiga.

"Kalian dapet jaminan perlindungan. Kalau salah satu anggota butuh bantuan, yang lain wajib bantu. Nggak ada lagi yang berani ganggu sembarangan. Terus kita juga tukar informasi, jadi kalau ada bahaya datang, kalian bakal tau duluan," jawab Dio mantap.

Semua orang di ruangan itu diam dan berpikir serius mendengarkan penjelasan tersebut.

"Terus siapa lagi yang mau kamu ajak gabung selain kita?" tanya Shin Yen lagi.

"Kalian rombongan pertama. Kalau sepakat, anggota baru selanjutnya harus disetujui bareng-bareng. Makanya sekarang kita bertiga dulu, biar nggak ada hasil imbang pas ambil keputusan nanti," jawab Dio.

"Kita harus diskusi dulu sama Xiau Lee, tapi kedengerannya menarik sih," kata Mao Yen. "Cuma aku mau nanya satu hal penting nih. Kamu berencana ajak Lord gabung juga ke sini?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!