NovelToon NovelToon
Siasat Manis Istri Kedua

Siasat Manis Istri Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Konflik etika / Pelakor
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

Update setiap hari

"Di rumah ini, aku adalah madu yang paling manis, namun di dalam nadiku mengalir racun yang paling mematikan."

Gendis hanyalah seorang wanita dengan tutur kata lembut dan senyum yang menenangkan. Tidak ada yang menyangka, di balik wajah polosnya, ia menyimpan dendam membara terhadap Maya—istri pertama dari pengusaha muda sukses, Baskara. Baginya, kebahagiaan yang Maya miliki saat ini dibangun di atas puing-puing kehancuran keluarga Gendis di masa lalu.

Demi menuntaskan dendamnya, Gendis rela menanggalkan harga diri. Ia masuk ke dalam rumah tangga itu sebagai istri kedua, menjadi bayang-bayang yang perlahan-lahan menggerogoti kebahagiaan Maya dari dalam. Dengan siasat yang begitu halus dan manis, Gendis merebut simpati ibu mertua yang kaku, perhatian para pelayan, hingga seluruh ruang di hati Baskara.

Setiap tetes air mata yang jatuh di rumah itu adalah bagian dari simfoni balasan Gendis. Namun, saat rencana besarnya hampir mencapai puncak dan Maya mul

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20: TANAH YANG MEMBASUH LUKA

Mobil tua Baskara menderu pelan mendaki jalanan berkelok di lereng Gunung Lawu. Di luar jendela, kabut tipis mulai menyelimuti hamparan kebun teh yang menghijau, seperti permadani raksasa yang dihamparkan Tuhan untuk menyambut kedatangan mereka. Udara yang masuk melalui celah jendela tidak lagi beraroma asap knalpot dan kepalsuan; ia beraroma tanah basah, pinus, dan kebebasan.

Larasati menyandarkan kepalanya di sandaran kursi yang sedikit keras. Ia mengenakan kardigan rajut sederhana dan celana katun—pakaian yang mungkin akan membuat dewan komisarisnya pingsan jika melihatnya. Namun di sini, ia merasa lebih hidup daripada saat mengenakan setelan desainer seharga puluhan juta.

"Kita hampir sampai, Laras," suara Baskara memecah keheningan yang damai. "Desa ini namanya Ngargoyoso. Listrik sering mati kalau hujan deras, dan sinyal ponsel adalah barang mewah di sini. Kamu yakin tidak akan menyesal?"

Larasati menoleh, menatap profil samping wajah Baskara yang kini tampak lebih rileks. "Menyesal? Baskara, aku baru saja keluar dari penjara kaca setinggi tiga puluh dua lantai. Di sini, kalaupun gelap, aku tahu kegelapannya jujur. Bukan kegelapan yang disembunyikan di balik lampu kristal."

Baskara tertawa kecil, ia meraih tangan Larasati dan mengecup punggung tangannya. "Selamat datang di duniaku yang baru, Tuan Putri."

Rumah yang mereka tempati adalah sebuah rumah kayu limasan tua milik penduduk setempat yang sedang merantau. Lantainya terbuat dari tegel kunci yang dingin, dan di halaman belakangnya mengalir sebuah parit kecil dengan air yang jernih. Tidak ada pelayan, tidak ada Bi Sumi yang menyiapkan sarapan, dan tidak ada Aditama yang membawakan laporan pagi.

Malam pertama di desa itu, hujan turun dengan lebatnya. Petir menyambar di kejauhan, dan benar saja, listrik seketika padam. Larasati duduk di amben kayu di ruang tengah, menatap nyala lilin yang menari-nari ditiup angin yang menyelinap dari celah dinding kayu.

Baskara datang dari dapur membawa dua gelas teh poci hangat yang aromanya sangat khas—wangi melati dan gula batu. "Maaf, hanya ada ini. Aku belum sempat belanja ke pasar bawah."

Larasati menerima gelas itu, merasakan hangatnya menjalar ke telapak tangannya yang mulai mendingin. "Ini sempurna, Baskara. Kamu tahu? Sepuluh tahun aku merencanakan cara untuk menjatuhkan Tuan Pratama dan Tuan Kusuma. Setiap malam aku tidur dengan pikiran tentang angka, saham, dan dendam. Ini adalah malam pertama di mana kepalaku terasa... kosong. Dan itu sangat melegakan."

Baskara duduk di sampingnya, merangkul bahu Larasati. "Itu karena kamu sudah memberikan hak kepada hatimu untuk istirahat, Laras. Selama ini kamu hanya membiarkan otakmu yang bekerja."

"Baskara... apa menurutmu aku terlalu jahat pada Maya?" tanya Larasati tiba-tiba. Pertemuan terakhir di panti rehabilitasi itu masih menyisakan sedikit debu di hatinya.

Baskara terdiam sejenak, menatap nyala lilin. "Jahat adalah ketika kita menyerang tanpa alasan. Kamu hanya memberikan konsekuensi atas apa yang dia tabur. Maya bukan korbanmu, Laras. Dia adalah korban dari ketamakannya sendiri. Jangan biarkan rasa kasihan itu berubah menjadi rasa bersalah yang tidak perlu. Fokuslah pada penyembuhanmu sendiri."

Larasati menyandarkan kepalanya di dada Baskara, mendengarkan detak jantung pria itu yang teratur. Di tengah kegelapan dan suara hujan yang menghantam atap seng, ia merasa benar-benar aman. Siasat manis yang dulu ia rajut kini telah berubah menjadi benang-benang cinta yang tulus.

Keesokan paginya, Larasati terbangun oleh suara kokok ayam dan aroma nasi goreng kampung yang gurih. Ia keluar ke teras dan melihat Baskara sudah siap dengan sepatu bot dan topi capingnya. Pria itu tampak sedang berbicara dengan beberapa warga desa yang akan membantunya dalam proyek pembangunan jembatan kecil yang akan menghubungkan dua dusun yang terisolasi.

"Bu Laras, sarapannya sudah di meja!" teriak Baskara sambil melambaikan tangan.

Larasati tersenyum lebar. Ia makan dengan lahap, lalu memutuskan untuk mengikuti Baskara ke lokasi proyek. Ia berjalan menyusuri jalan setapak, menyapa para ibu yang sedang memetik pucuk teh. Beberapa dari mereka bertanya dengan bahasa Jawa yang halus apakah ia "istri baru Pak Pemborong". Larasati hanya tersenyum dan mengangguk. Tidak ada rasa malu di sana, hanya ada kebanggaan yang sederhana.

Di lokasi proyek, Larasati melihat Baskara yang berbeda. Ia tidak memerintah dari kejauhan. Baskara turun ke sungai, ikut mengangkat batu kali, dan berdiskusi dengan mandor desa tentang struktur tanah yang labil. Ia tampak begitu dihormati bukan karena uangnya, tapi karena kesediaannya untuk bekerja bersama mereka.

"Pak Baskara itu orangnya andhap asor (rendah hati), Mbak," ucap seorang bapak tua yang sedang mengaduk semen di samping Larasati. "Dia tidak seperti kontraktor kota yang biasanya hanya datang sebentar, lalu pergi. Dia bahkan ikut makan nasi bungkus bareng kami di pinggir sungai."

Larasati merasakan dadanya membuncah oleh rasa bangga. Inilah Baskara yang sebenarnya. Inilah pria yang dulu ia cintai secara sembunyi-sembunyi saat masih menjadi Gendis. Pria yang memiliki hati emas, namun sempat tertutup oleh debu kemewahan yang salah.

Minggu-minggu berlalu di Ngargoyoso. Larasati mulai belajar hal-hal baru. Ia belajar menumbuk padi, belajar memetik teh yang benar, dan yang paling penting, ia belajar untuk memaafkan dirinya sendiri. Kulitnya yang dulu pucat karena terlalu lama di ruangan ber-AC kini tampak lebih segar dan bersemu karena sinar matahari gunung.

Suatu sore, saat mereka sedang duduk di pinggir jembatan yang hampir selesai, sebuah mobil hitam mewah tampak berhenti di ujung jalan aspal yang sempit. Sesuatu yang sangat kontras dengan pemandangan desa itu.

Aditama keluar dari mobil, tampak kikuk dengan sepatu kulitnya yang menginjak tanah merah. Ia membawa sebuah koper kecil dan wajahnya tampak sangat serius.

Larasati berdiri, jantungnya berdegup kencang. "Adit? Ada apa? Apa terjadi sesuatu di kantor?"

Aditama mendekat, ia memberikan sebuah map besar kepada Larasati. "Maaf mengganggu ketenanganmu, Laras. Tapi ini mendesak. Polisi menemukan brankas rahasia Tuan Kusuma di sebuah vila di Bali. Di dalamnya ada dokumen-dokumen yang membuktikan bahwa aset-aset yang selama ini kita kira milik Hardianto Group ternyata telah dialihkan ke sebuah rekening yayasan di Swiss atas nama... kamu."

Larasati mengerutkan dahi. "Atas namaku? Bagaimana mungkin?"

"Ayahmu, Laras," Aditama menjelaskan dengan suara yang bergetar. "Sebelum beliau meninggal, sepertinya beliau sudah tahu Tuan Kusuma akan mengkhianatinya. Beliau membuat sebuah sistem pelapis. Aset itu tidak hilang, ia hanya disembunyikan dalam bentuk dana abadi yang hanya bisa dicairkan dengan tanda tanganmu dan... sidik jari Baskara sebagai saksi utama."

Larasati menatap Baskara yang juga tampak terkejut. Ternyata, ayahnya tidak hanya ingin ia membalas dendam; ayahnya ingin ia membangun kembali masa depan bersama pria yang—entah bagaimana—sudah ayahnya percayai sejak dulu.

"Ayah tahu, Baskara," bisik Larasati. "Ayah tahu kamu adalah orang baik, bahkan saat aku masih meragukanmu."

Aditama melanjutkan, "Nilai aset itu sangat besar, Laras. Cukup untuk membangun sepuluh perusahaan baru. Dewan komisaris yang tersisa memohon agar kamu kembali untuk mengelola dana ini secara resmi. Mereka sadar bahwa tanpa integritasmu, perusahaan itu hanya tinggal cangkang."

Larasati menatap jembatan kayu yang sedang dibangun Baskara, lalu menatap Aditama, dan terakhir ia menatap Baskara. Pilihan ada di tangannya. Kembali ke dunia yang penuh intrik namun dengan kekuatan untuk berbuat lebih banyak kebaikan, atau tetap di sini dalam ketenangan yang damai.

Baskara memegang pundak Larasati. "Pergilah jika hatimu terpanggil, Laras. Kamu tidak perlu memilih antara aku atau perusahaan. Aku akan menyelesaikan jembatan ini, lalu aku akan menyusulmu. Aku bisa membangun kantor kontraktorku di Jakarta, dan kita bisa berjuang bersama di sana."

Larasati tersenyum, kali ini dengan air mata yang berkaca-kaca. Ia menyadari bahwa misi hidupnya belum selesai. Keadilan sudah ditegakkan, tapi sekarang saatnya untuk restorasi. Saatnya mengubah air mata pernikahan yang pahit menjadi sumber mata air kehidupan bagi banyak orang.

"Aku akan kembali, Adit," ucap Larasati tegas. "Tapi bukan sebagai Larasati yang haus dendam. Aku akan kembali sebagai Larasati yang akan memastikan tidak ada lagi 'Gendis-Gendis' lain yang harus menderita karena siasat kotor orang-orang di atas sana."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!