Seorang pemuda bernama Wang Fei yang dianggap lemah dan tertindas berusaha mendobrak batasan dan ingin menentukan nasibnya sendiri dengan menjadi lebih kuat.
"Jika langit tidak adil dan ingin membatasi takdirku, maka aku bersumpah akan meruntuhkan langit itu.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jin kazama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16. Akhir Pertarungan.
Bab 16. Akhir Pertarungan.
"SLASH! SLASH! SLASH!"
Dia menyerang dari berbagai sudut. Yang terlihat hanyalah sosok hitam dengan Api Petir Tiga Warna yang terus bergerak tanpa henti.
Retakan mulai terlihat semakin jelas di seluruh zirah Beruang Api Ganas. Itu membuat monster tersebut semakin murka.
Elemen apinya semakin berkobar dan suhu panas luar biasa langsung menyembur ke arah Wang Fei.
Seolah sudah mengantisipasi, Wang Fei segera mundur dengan Langkah Petir. Jarak lebih dari lima belas meter langsung terpangkas bahkan sebelum mata beruang itu berkedip.
Tidak seperti sebelumnya, kali ini Wang Fei menggunakan Teknik Pedang Kilat yang dikombinasikan dengan Teknik Pedang Terbang. Xue Jian meluncur keluar dari tangannya dan Api Petir Tiga Warna kembali meletus.
Suhu panas yang tidak kalah brutal langsung menyapu ke depan.
Di saat yang sama, dia juga mulai menggunakan energi gelap untuk menciptakan sembilan belati energi yang memadat dan mengepung dari segala arah.
Lalu... dengan satu pikiran dari Wang Fei, belati-belati tersebut langsung terbang bagaikan badai yang menggulung dengan brutal.
Kekuatan pelahap yang dipadukan dengan nyala api kali ini menjadi mimpi buruk bagi sang beruang.
Seperti pisau yang menembus mentega, belati-belati tersebut berputar seperti bor yang langsung memecahkan cangkang zirah energi api yang menyelimutinya. Setelah itu, belati-belati tersebut dengan mudah menancap dan melukai tubuh beruang dengan parah.
"TSUK! TSUK! TSUK!"
Senjata-senjata itu bergerak lincah bagaikan tangan malaikat pencabut nyawa. Saat melesat secara bersamaan, udara langsung bergetar dan terdistorsi dengan hebat.
Itu adalah suara dari sembilan tusukan belati yang menyerang bersama-sama.
Akibatnya, kedua bahu bagian kiri dan kanan langsung menyemburkan darah. Pada kedua kaki, empat belati melesat dan menusuk daging hingga tembus, tepat di bagian paha dan betis.
Seketika empat lubang berwarna merah terlihat menganga. Darah kembali menyembur dan itu membuat Beruang Api Ganas meraung dalam kesakitan dan kemarahan yang semakin menggelegak.
Lalu di mana sisa belati yang lain?
Jawabannya sederhana. Sisanya menyerang titik-titik vital seperti perut, jantung, tenggorokan, dan tepat di antara kedua alisnya.
Ya... dan saat itu, yang berusaha menembus serta melubangi kepalanya adalah Xue Jian, sang pedang patah. Seluruh aura pada bilah pedang berubah. Pedang itu mengeluarkan aura haus darah yang selama ini dipendamnya.
Merasakan ancaman yang begitu nyata, untuk pertama kalinya Beruang Api Ganas menunjukkan rasa takut dan panik.
Maka tanpa ragu, di bawah dorongan antara hidup dan mati, energi iblis dari inti monsternya mulai dikerahkan hingga batas maksimal. Tidak tanggung-tanggung, dia bahkan mulai membakar esensi darahnya guna meningkatkan kekuatannya.
"BOOM!"
Panas mengerikan segera menyembur dengan dahsyat. Suhu menjadi semakin tinggi sementara gua itu sendiri mulai bergetar dan bergemuruh hebat. Tidak lama kemudian, ledakan mengerikan pun terjadi hingga membuat gua besar itu hancur berantakan.
Kekuatan besar yang melonjak tersebut mendadak membuat Xue Jian yang hampir berhasil membidik kepala Beruang Api Ganas terpental ke belakang. Di saat yang sama, sembilan belati hitam yang hendak kembali menusuk langsung terpecah menjadi butiran energi gelap yang segera menyusup kembali ke dalam tubuh Wang Fei.
Di seberang, wajah Wang Fei langsung menjadi sangat serius. Berkat pembakaran esensi darah dan inti energi iblis yang dilepaskan secara gila-gilaan, ranah Beruang Api Ganas kini bukan lagi berada di Ranah Pengumpulan Qi, melainkan telah berhasil menembus tingkat tiga yang setara dengan Ranah Pembentukan Inti level dua tahap menengah.
"Sialan... dia menjadi semakin kuat!" ucapnya sedikit kesal.
Benar saja, sekali memutuskan untuk bertarung melawan monster, yang ada hanyalah pertempuran brutal yang menentukan hidup dan mati.
"Apakah aku harus mengeluarkan Teknik Tinju Sembilan Matahari yang telah diperbarui itu untuk menghadapinya?"
Sebuah pemikiran langsung muncul di benaknya. Dan bayangan mengerikan mengenai bola Matahari Api Petir yang bukan hanya membakar, tetapi juga melahap seluruh esensi kehidupan, kembali muncul di pikirannya.
Akhirnya setelah memikirkannya matang-matang, Wang Fei pun mengambil sebuah keputusan tegas.
"Persetan dengan semuanya. Untuk apa ragu-ragu? Jika aku tidak mengerahkan semuanya, maka akulah yang akan mati," ujarnya dengan sorot mata yang mulai menajam.
Detik berikutnya, dia segera melesat dengan kecepatan sangat tinggi. Di saat yang sama, otot-otot di dalam tubuhnya mulai menegang, terutama pada bahu kanan. Dia mengerahkan hampir separuh energi spiritualnya agar terkonsentrasi di sana.
Ketika dia merasa kompresi energi itu telah mencapai batasnya, Api Petir Tiga Warna langsung menyala dengan ganas.
Dengan suara menggelegar yang dipenuhi niat membunuh, Wang Fei pun meraung.
"Tinju Sembilan Matahari!"
"Hancurkan untukku!"
"WUSH!"
Ketika tinju itu dilepaskan, udara di sekitar mereka langsung bergetar hebat. Seketika, bayangan bola matahari mulai mengembun dan memadat. Ketika berubah menjadi wujud nyata, Api Petir Tiga Warna langsung menyambar liar ke arah Beruang Api Ganas.
"BOOM! BOOM! BOOM!"
Di sisi lain, Beruang Api Ganas yang merasakan kekuatan dahsyat dari tiga bola matahari itu juga tidak tinggal diam menunggu kematian. Karena sudah memasuki mode mengamuk dan siap mempertaruhkan seluruh hidupnya, kali ini tidak ada rasa takut sedikit pun di dalam dirinya.
Di matanya hanya ada amarah dan niat membunuh yang mengerikan.
Dia ingin mencabik-cabik mangsanya menjadi serpihan lalu membakarnya menjadi abu untuk melampiaskan amarah yang menumpuk di dalam dadanya.
Jika tidak bisa menang, setidaknya dia harus menyeret lawan yang membuatnya jatuh ke kondisi seperti ini menuju alam kematian bersamanya.
Seketika api merah yang begitu dahsyat langsung menyembur dengan liar. Tubuhnya mulai membengkak, sementara energi panas di dalam tubuhnya mulai terkompresi secara gila-gilaan.
Lalu tubuh raksasanya langsung menerjang ke depan dengan brutal. Cakar raksasanya yang menyala dengan api merah membara melesat bagaikan bilah tajam yang seolah mampu menghancurkan dan membakar segala sesuatu di hadapannya.
Akhirnya, tanpa bisa dicegah, tiga bola matahari api itu bertabrakan dengan cakar api sang beruang.
"BOOM! DUAR!"
Ledakan dahsyat menggema ke segala arah. Udara bergetar hebat, sementara segala sesuatu di sekitarnya, entah itu pepohonan maupun bebatuan besar, langsung terbakar, hangus, dan hancur berkeping-keping menjadi bubuk.
Bahkan sungai-sungai kecil di sekitar area itu airnya langsung menguap dengan cepat. Tanah retak, lalu pecah dan amblas hingga menciptakan kawah besar dengan kedalaman hampir lima meter.
Tak terelakkan, dua energi panas yang begitu ekstrem ketika berbenturan menciptakan efek visual bagaikan meteor jatuh yang siap menghancurkan dunia.
Lalu...
Hal mengerikan seperti yang dibayangkan Wang Fei mulai terjadi.
Tepat setelah api dan petir meledak tanpa sisa, saat itulah kekuatan pelahap mulai bekerja. Seluruh vitalitas kehidupan dalam radius lima ratus meter berubah menjadi zona mati.
Beruang Api Ganas yang sebelumnya meraung penuh amarah tiba-tiba langsung tersadar. Ketika menyadari bahwa vitalitas kehidupan, sisa esensi darah, bahkan jiwanya sendiri perlahan mulai lenyap dengan kecepatan luar biasa, semuanya sudah terlambat.
Saat itu sebuah perasaan yang tidak dapat dipahami mulai menjalar di dalam hatinya.
Itu adalah rasa takut.
Dan itu bukan rasa takut biasa, melainkan rasa takut ekstrem yang membuatnya serasa berdiri di hadapan Dewa Kematian.
Dia ingin mencoba melawan, namun kekuatan pelahap bukanlah sesuatu yang dapat dipahami oleh logika binatang iblis seperti dirinya.
Jadi hanya dalam beberapa tarikan napas saja, sosoknya langsung ditelan energi gelap dan dimurnikan hanya untuk dijadikan tonik demi memperkuat Wang Fei.
Saat aliran arus hangat memasuki tubuhnya, senyum Wang Fei menjadi semakin cerah. Wajahnya yang sebelumnya pucat setelah pertarungan kini mulai menunjukkan rona kemerahan samar setelah duduk berkultivasi dan menstabilkan diri.
"Hahaha! Meningkat! Akhirnya benar-benar meningkat!" ucapnya girang.
Meskipun peningkatan itu tidak terlalu besar dan jika dihitung hanya sekitar dua puluh persen, namun peningkatan tersebut mencakup seluruh aspek, termasuk kekuatan jiwa dan elemen Api Petir yang kini menjadi jauh lebih kuat dibanding sebelumnya.
"Baiklah kalau begitu, karena penjaganya telah mati, mari kita ambil Bunga Teratai Api Sembilan Kelopak dan segera kembali ke sekte untuk melaporkan tugas."
Sungguh sangat beruntung karena lokasi Bunga Teratai Api Sembilan Kelopak itu tidak berada dalam jangkauan serangannya. Jika iya, maka dirinya pasti akan rugi besar.
Singkat cerita, Wang Fei pun berhasil menyimpan tanaman herbal tersebut dengan aman.
Adapun untuk menjelajahi zona lain yang lebih dalam, Wang Fei memilih untuk melakukannya di lain hari.
"Lain kali aku akan masuk lebih dalam. Untuk hari ini, mari kita cukupkan sampai di sini saja," gumamnya.
Tepat setelah dirinya berbalik, ketika Langkah Petir dikerahkan, sosoknya langsung lenyap dari tempat itu, menyisakan getaran fluktuasi energi yang mengandung kekuatan api dan petir menyala selama sepersekian detik sebelum akhirnya padam dan lenyap di udara.
izin iklan ya guys aku baru up butuh bantuan teman2 buat baca novel ku
utk itu saya uplaus satu vote