Setelah kepergian Ayahnya, hidup Keysa begitu menyedihkan. Di mana perlakuan Ibu dan Adiknya yang semakin menjadi-jadi, bahkan mereka sampai menjual Keysa ke salah satu klub untuk dilelang.
Saat pelelangan, seorang pria menawar Keysa dengan harga dua miliar dan membuat Keysa menjadi milik pria itu. Keysa pikir hidupnya akan hancur setelah dibeli pria asing itu, namun justru sebaliknya. Keysa diperlakukan dengan penuh kasih sayang dan pria itu tidak membiarkan siapapun menyakiti Keysa, pria itu memanjakan Keysa hingga membuat banyak orang merasa iri dengan hidup Keysa.
Bagaimana kelanjutannya? Siapa pria yang membeli Keysa? Apa alasan pria itu membeli Keysa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lihat Aku, Keysa!
Cahaya fajar menyusup di balik gorden, menerangi kamar utama dengan rona keabuan yang tenang. Di atas tempat tidur yang luas, Keysa terbangun lebih dulu dan ia dapat merasakan berat yang familiar di pinggangnya, lengan kokoh Lucas yang melingkar posesif bahkan dalam tidurnya.
Keysa menatap wajah suaminya yang tampak lebih tenang saat terlelap. Dengan gerakan sangat pelan, Keysa mencoba bangkit. Setiap gerakannya diiringi detak jantung yang berpacu karena gugup, ia merasa seperti seorang penyusup di mansion mewah ini, seolah identitas aslinya adalah noda yang bisa merusak segala kemewahan di sekelilingnya.
Saat sarapan, suasana terasa begitu mencekam bagi Keysa, denting sendok yang beradu dengan piring porselen terdengar seperti lonceng peringatan di telinganya. Lucas duduk di hadapannya, tampil sempurna dengan setelan jas abu-abu gelap dan kemeja putih yang kontras dengan kulitnya yang kecokelatan.
"Kamu tidak makan omeletmu, Keysa," ucap Lucas datar dan matanya tetap tertuju pada tablet di tangannya namun telinganya menangkap setiap keraguan dari sang istri.
"Ah, iya... ini mau makan," jawab Keysa terbata.
Keysa segera menyuap potongan kecil telur itu, namun rasanya hambar seperti pasir di lidahnya, tangannya yang memegang garpu sedikit gemetar dan membuat alat makan itu sesekali beradu dengan piring.
Lucas melirik sekilas ke arah tangan yang gemetar itu, ia tahu Keysa sedang ada masalah. Namun, ia memilih menahan diri dan tidak ingin memaksa istrinya bicara sebelum ia mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
"Aku berangkat sekarang, Naomi akan menemanimu jika kamu ingin keluar rumah," ucap Lucas sembari berdiri.
"Nggak! Maksudku... aku di rumah aja hari ini," jawab Keysa cepat, terlalu cepat hingga suaranya melengking kecil.
Lucas mendekat dan mengecup dahi Keysa cukup lama, seolah ingin memberikan kekuatan melalui sentuhan itu. "Jangan terlalu banyak berpikir, aku akan pulang lebih awal," bisik Lucas sebelum melangkah pergi.
Pukul sepuluh pagi, di kantor pusat A2 Group yang megah, suasana terasa membeku. Di mana Lucas tidak menyentuh tumpukan dokumen di mejanya, pikirannya tertuju pada Keysa.
Ketukan pintu memecah lamunannya, Bastian masuk dengan wajah yang sangat serius dan membawa sebuah map kulit berwarna cokelat tua.
"Ini yang Tuan minta," ucap Bastian.
Lucas segera menyambar map itu dan menyalakan rekaman suara dari tablet, hingga suara melengking Ibu Siska terdengar dan memuntahkan racun demi racun yang ditujukan pada Keysa.
Ruangan kerja itu mendadak terasa seperti kekurangan oksigen, Lucas mendengarkan setiap kata dengan rahang yang mengeras hingga otot-otot lehernya menegang, tangannya yang menggenggam pulpen tanpa sadar menekannya hingga benda mahal itu patah menjadi dua.
"Tuan... mengenai latar belakang Nyonya...," Bastian mencoba bersuara namun terhenti saat melihat kilat kemarahan di mata Lucas.
"Jadi ini alasannya, apa dia takut aku akan melihatnya seperti aku melihat ibuku sendiri," desis Lucas, suaranya rendah dan bergetar oleh amarah yang tertahan.
Lucas menyandarkan punggungnya dan menatap langit-langit, pikirannya berkelana pada pengakuannya semalam tentang ibunya yang berkhianat dan ia menyadari betapa ironisnya situasi ini. Keysa pasti berpikir bahwa karena Lucas membenci pengkhianatan dan latar belakang ibunya yang kelam, maka Lucas juga akan membenci Keysa karena identitas aslinya yang baru terungkap.
Seharian itu, Lucas tidak bisa fokus bahkan saat rapat direksi yang biasanya ia pimpin dengan tangan besi. Namun, kali ini ia lalui dengan diam, karena pikirannya terus terbayang wajah Keysa yang menangis sendirian di supermarket.
Sore harinya, matahari belum sepenuhnya tenggelam saat mobil Lucas memasuki gerbang mansion, ia melangkah masuk dengan langkah lebar dan tidak sabar ingin segera menemui istrinya.
Di ruang tengah, Keysa sudah berdiri di dekat meja makan, seolah sedang menunggunya. Namun, pemandangan itu membuat hati Lucas berdenyut sakit. Keysa berdiri dengan bahu yang merosot, kedua tangannya saling meremas di depan tubuhnya dan kepalanya menunduk dalam, sangat dalam hingga rambut hitamnya menutupi seluruh ekspresi wajahnya.
"Aku pulang," ucap Lucas pelan.
Keysa tersentak, bahunya bergidik kecil dan ia tetap tidak mendongak. "Se-selamat datang, Lucas. Kamu... kamu mau mandi dulu atau...," suaranya bergetar hebat dan nyaris hilang di ujung kalimat.
Lucas mendekat dan setiap langkahnya membuat Keysa semakin menundukkan kepala, saat jarak mereka hanya tersisa beberapa senti, Keysa secara naluriah mundur selangkah seolah takut sentuhan Lucas akan menyakitinya atau lebih buruk lagi bahwa ia tidak lagi layak disentuh.
"Keysa, tatap aku," perintah Lucas, suaranya lembut namun mengandung otoritas yang tak terbantahkan.
Keysa pun akhirnya menatap Lucas, "I-iya," jawab Keysa.
Lucas tidak membalas sepatah kata pun, keheningan itu justru terasa lebih mengintimidasi daripada bentakan. Dengan satu gerakan, ia menyusupkan tangannya ke bawah lutut dan punggung Keysa lalu mengangkat tubuh mungil itu ke dalam gendongannya.
Keysa memekik pelan, tangannya refleks berpegangan pada bahu jas Lucas yang terasa dingin dan keras. "Lucas, turunkan aku... aku bisa jalan sendiri," bisik Keysa dengan suara yang nyaris pecah dan takut keintiman ini adalah yang terakhir sebelum Lucas melontarkan kata-kata pengusiran.
Namun, Lucas tetap bergeming dan langkah kakinya yang mantap menggema di sepanjang koridor menuju lift. Di dalam ruang sempit lift, Keysa bisa merasakan detak jantung Lucas yang stabil di balik dadanya, sangat kontras dengan jantung Keysa yang berdegup liar seperti burung yang terperangkap.
Begitu pintu kamar utama terbuka, Lucas tidak membawanya ke tempat tidur. Ia mendudukkan Keysa di atas sofa kulit di depan jendela besar yang menampilkan siluet kota yang mulai berpijar, kemudian Lucas kemudian berlutut di hadapan Keysa.
"Kenapa kamu gemetar seperti ini?" tanya Lucas.
Tangan Lucas meraih kedua tangan Keysa yang dingin dan basah oleh keringat dingin, menggenggamnya dengan sangat erat seolah takut wanita itu akan menguap jika ia melepaskannya.
"A-aku nggak kenapa-napa kok," jawab Keysa bohong.
"Aku tahu semuanya, Keysa. Jadi, aku mohon kamu jujur sama aku," ucap Lucas.
Keysa tidak tahan lagi, pertahanannya runtuh dan air mata yang sejak pagi ditahannya kini mengalir deras membasahi pipinya. "Ja-jadi... Kamu... kamu sudah tahu. Ibuku... aku hanya anak dari wanita malam, Lucas. Aku bukan siapa-siapa, aku bukan dari keluarga terhormat seperti yang kamu kira saat kamu membeliku dua miliar itu," ucap Keysa.
Keysa mencoba menarik tangannya dari genggaman Lucas, namun pria itu justru mempererat kuncian jemarinya.
"Lihat aku, Keysa!" tegas Lucas.
Lucas menggunakan satu tangannya untuk menangkup wajah Keysa dan memaksa wanita itu menatap matanya yang gelap namun penuh dengan intensitas yang sulit dijelaskan.
"Apa kamu pikir aku peduli siapa ibumu? Apa kamu pikir aku peduli dari rahim mana kamu berasal?" tanya Lucas.
"Tapi kamu membenci ibumu sendiri karena latar belakangnya! Kamu bilang kamu jijik dengan darah yang mengalir di tubuhmu! Aku... aku juga sama, Lucas! Darahku kotor di mata Ibu tiriku, di mata dunia...,"
.
.
.
Bersambung.....
jadi pengen 🤣🤣🤣🤣
Masak ya nunggu sampe Berjam jam gak konfirmasi ke asisten Lucas...