Pernikahan memang idealnya lahir dari persiapan, cinta, dan harapan yang matang. Tapi hidup kadang berjalan di luar rencana bahkan lewat jalan yang tak pernah kita bayangkan sama sekali.
Ketika pernikahan terjadi secara mendadak karena sebuah insiden, rasa bahagia dan sakral itu bercampur dengan kaget, takut, bahkan kebingungan.
Apakah pernikahan dadakan bisa membawa kebahagiaan??
Apakah pernikahan tanpa cinta dan saling mengenal lakan berjalan mudah?
yuk ikuti ceritanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R²_Chair, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AA 4
Di tempat lain yang jaraknya ratusan kilo meter,seorang laki-laki dewasa sedang sibuk meeting bersama para rekan bisnisnya.
Beberapa orang terlihat puas dengan apa yang Alfath jelaskan.Jiwa bisnis Alfath menurun dari kedua orangtua nya. Siapa yang tidak mengenal nama Abraham,Gus Ilham dan Navares nama-nama yang berada di deretan teratas para pengusaha besar di Negeri ini.
Sepak terjangnya tak bisa di ragukan lagi,bahkan kini Alfath mulai merambah keluar Negeri.Salah satu nya Korea,negara asal sang mertua.
Bahkan kini Alfath mulai di perhitungkan namanya di Negara tersebut. Navares dan Arkana menjadi salah satu yang membawa Alfath untuk melebarkan sayapnya ke kancah luar Negeri.
Baru saja Alfath duduk, Tiba-tiba saja hp nya begetar. Nama sang abi muncul di layar hp nya. Alfath terdiam sejenak, tidak biasanya sang Abi menghubungi dirinya di waktu jam kerja.
Tiba-tina perasaan Alfath berubah tak nyaman, ia buru-buru beristighfar saat pikiran-pikiran buruk menghampiri.
Astaghfirullahalazim
Alfath memperhatikan sekitarnya,beberapa orang di depannya ikut melihat ke arah hp nya yang terus menyala.
"Angkat saja Pak Al, takutnya penting. "
Alfath mengangguk kecil. "Saya izin mengangkat telpon dulu ya, Pak. "
Orang-orang di dalam ruangan mengangguk setuju. Al langsung mengambil hpnya, jari nya mengusap tanda hijau di hp nya dan tak lama suara seseorang terdengar di ujung telpon sana.
"Assalamu'alaikum Abi. "
"Wa'alaikumsalam bang. "
"Abi tumben telpon abang di jam kerja. Apa ada sesuatu? " Tanya Alfath dengan sopan.
"Bisa datang ke pondok sekarang juga bang? Ada hal penting yang harus segera di selesaikan. "
Al membeku, apa yang sebenarnya terjadi.Apakah terjadi sesuatu dengan Umma nya atau pondok? Atau dengan Oma dan Opa nya?
"Ada apa Bi? Umma baik-baik saja kan Bi? Opa dan Oma juga? " Tanya Al dengan jantung yang mulai tak karuan.
"InsyaAllah semuanya baik-baik saja. Abi tunggu abang secepatnya, jangan lupa bawa Alisya juga. "
Tanpa sadar Al mengangguk seolah sang abi ada di depannya.Pikirannya semakin tak karuan saat mendengar sang Abi memintanya datang bersama sang istri.
Tanpa menunggu lama, Al langsung memasukan hp nya kedalam saku celananya. Ia langsung berdiri dari duduknya.
"Mohon maaf sepertinya meeting kali ini harus saya tunda, baru saja saya mendapat kabar jika terjadi sesuatu di kediaman orangtua saya, jadi saat ini juga saya harus pulang. "
Suasana meeting berubah riuh, bisik-bisik sebagian orang mulai tedengar.Namun Al tidak memperdulikan nya, di pikirannya saat ini hanya keadaan orang tua dan juga Opa Oma nya.
Al melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, ia akan menjemput dahulu sang istri.Beberapa menit lalu ia sudah menghubungi sang istri untuk bersiap.
Alisya yang terkejut hanya bisa diam tanpa berani banyak bertanya, apalagi mendengar suara Al yang terdengar sedikit panik membuatnya memilih untuk diam saja.
Dan kini Al dan Alisya sudah di jalan menuju pondok pesantren milik sang Abi.
Butuh beberapa jam untuk tiba di kampung halamannya. Beruntung sepanjang jalan Al tidak mendapat halangan yang berarti. Jalanan terlihat ramai lancar.
Menjelang siang, mobil Al tiba di area pondok.Gerbang besar mulai terbuka bersamaan dengan dadanya yang semakin berdebar cepat. Perasaanya benar-benar tak enak, entah apa yang sedang terjadi.
Alfath dan Alisya tiba di pondok pesantren sang Abi. Ia disambut hangat oleh Abi, paman, dan juga adik iparnya yang sejak tadi sudah menunggu di depan rumah sang Abu dengan wajah yang berbeda.
Entah benar atau hanya perasaanya saja. Suasana pesantren saat itu terasa berbeda. Angin berembus pelan yang biasanya membawa aroma tanah yang lembap setelah hujan, kini justru terasa seperti bau air mata.
Para santri yang sedang berjalan menuju asrama dan mesjid menatap segan namun juga terlihat sebagian berbisik pelan seolah sesuatu terjadi karena adanya dirinya.
"Alhamdulillah… akhirnya sampai juga," ucap Abi sambil memeluk Alfath erat. Nada suaranya terdengar berat, seolah menunggu kehadirannya untuk mengurangi sedikit bebannya.
Alfath membalas pelukan itu dengan hormat. "Iya, Bi… maaf Abang lama sampainya. "
Sementara itu, Alisya menunduk sopan, mencium tangan Abi dan para keluarga yang menyambutnya."Assalamu’alaikum…"
Bukan hanya Al, tapi juga Alisya merasa hatinya mendadak berdebar cepat saat menginjakan kakinya di rumah sang mertua.Perasaannya mendadak tak enak, entah kenapa pikirannya tertuju pada sang putri tercinta.
"Bi, ada apa? " Tanya Al tak sabar.
"Masuk dulu, kita bicarakan di dalam" Ajak Gus Ilham.
Semua masuk kedalam rumah, begitu pintu rumah terbuka. Kening Al berkerut saat melihat sang putri diam dalam pelukan sang Umma.
Langkah kakinya memelan memastikan keadaan sang anak yang terlihat berbeda.Tubuhnya membeku saat melihat mata sang anak yang begitu sembab, tanpa menunggu lama Al langsung bergegas menghampiri sang anak.
"Sayang.. " Panggil Al
Alyana mengangkat wajahnya, tangisnya kembali pecah. "Ayah.. "
Al memeluk sang anak dengan erat. "Ada apa? Apa yang terjadi sama kamu? ". Tanya Al khawatir.
Ia memeriksa seluruh tubuh sang anak,tak ada satu pun luka. Namun kenapa sang anak menangis seperti ini.
Alisya ikut memeluk sang anak. "Mba Aya baik-baik saja, Nak?"
Bukannya mereda, tangis Alyana semakin menjadi.
"Ada apa mbak? Bilang sama ibun, apa yang terjadi? "
"Mbak sakit? " Tanya Alisya, airmata nya ikut mengalir di kedua pipi nya.
Melihat sang anak terus menangis membuat wajah Al berubah datar, ia menatap orang sekitarnya untuk meminta penjelasan.
Umma Zura tak kuasa untuk bercerita, ia menatap sang suami agar menceritakan apa yang terjadi pada sang cucu.
"Bang, " Panggil Gus Ilham
Al menoleh pada sang Abi,melihat wajah sang Abi yang begitu serius membuatnya yakin jika ini bukanlah masalah kecil.
"Sebelumnya Abi minta maaf, Abi sudah gagal menjaga amanah yang abang titipkan pada Abi."
Gus Ilham, walaupun wajahnya terlihat datar namun dalam hatinya ia merasa hancur. Sebuah amanah yang di titipkan anaknya tak bisa ia jaga, sungguh sebuah penyesalan yang begitu teramat.
"Maksud Abi? " Tanya Al, namun ia faham amanah apa yang di maksud sang Abi.
Dadanya semakin berdebar tak karuan,tangannya semakin erat memeluk sang anak.Pikirannya semakin buruk,Al berusaha untuk mengenyahkan semua pikiran-pikiran buruk itu.
"Allah sedang menguji kita Bang,Mbak Alya-" Ucap Gus Ilham terjeda.Ia menghela nafasnya berat. Kemudian dengan sekuat tenaga menjelaskan semua yang terjadi pada sang cucu tadi.
Bak tersambar petir di siang bolong, tubuh Al membeku. Dunianya teras runtuh seketika. Nafasnya memburu, wajahnya mengeras.Ia menatap laki-laki yang baru ia sadari keberadaannya. Laki-laki muda yang nampak menunduk tak berani menatapnya.
Alisya menangis keras mendengarnya, ia memeluk Alyana dari sisi dengan erat. Hatinya sangat hancur mendengar apa yang di alami sang putri satu-satu nya.
Mata Al menusuk tajam laki-laki yang umurnya nampak masih muda.Tanpa bisa di cegah Al berdiri dan secepat kilat menarik kerah baju Arka.
Satu pukulan keras mendarat di pipi Arka.
"Astaghfirullahalazim" pekik semua orang.
"Ayah.." Panggil Alisya dan Alya bersamaan.
...🌻🌻🌻...
Apa yg dilakukan Arka setelah menikah,bahkan dia malu kalau bertemu teman teman nya bahwa dia sdh menikah.Laki kaki model gini buang aja' ditempat sampah gak berharga.
semangat
semoga mereka bisa menyelesaikan masalah dengan baik.