Tiga tahun menikah, Tania hanya menjadi bayangan di rumahnya sendiri. Baginya, Rey adalah semesta, tapi bagi Rey, Tania hanyalah 'obat penawar' saat hatinya hancur ditinggal masa lalu.
Tania sudah memberikan segalanya, sampai dia sadar—di hati suaminya, tetap ada nama wanita lain yang tak sanggup dilepaskan.
Saat Tania berhenti peduli dan berpapasan tanpa lagi menatap mata suaminya, Rey baru merasakan dingin yang sesungguhnya.
"Apakah mencintai harus sesakit ini? Jika kau cinta, mengapa tak menahannya, Rey?"
Terinspirasi dari lagu Arvian Dwi(Hatimu Milik Dia)
Dukung Authir yaa,,like,komen,gift hehehe
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Seseorang yang Menghargai
Suara pintu taksi yang tertutup menjadi pembatas antara dunia Tania yang menyesakkan dan dunia luar yang asing.
Tania menyandarkan kepalanya pada jendela mobil yang dingin karena sisa hujan semalam. Ia menatap pantulan dirinya di kaca. Lipstik merah itu... ia merasa seperti sedang memakai topeng keberanian, meski di dalamnya hatinya masih rapuh berkeping-keping.
Tania meraih ponselnya. Ada belasan panggilan tak terjawab dari Rey yang sengaja ia abaikan.
Di bawahnya, ada satu pesan WhatsApp yang sudah mengendap selama dua hari tanpa ia balas.
Adrian: "Tan, aku lewat butik bunga langganan kamu tadi. Ingat kamu suka tulip putih, aku kirim ke kantormu ya? Semoga harimu menyenangkan."
Tania menghela napas. Adrian. Pria itu selalu tahu cara memberikan perhatian tanpa pernah meminta imbalan. Berbeda dengan Rey yang harus diminta ribuan kali hanya untuk sekadar memperhatikan warna rambut baru Tania.
Sesampainya di kantor—sebuah agensi desain interior tempat Tania bekerja paruh waktu—sebuah vas berisi tulip putih segar sudah duduk manis di atas mejanya. Aroma segarnya menyambut Tania, seolah memberikan pelukan yang ia butuhkan sejak tadi pagi.
"Ciee, yang dapet bunga pagi-pagi," goda Maya, yang baru saja duduk di kubikel sebelah dengan segelas es kopi di tangan.
Tania hanya tersenyum tipis sembari meraba kelopak tulip yang halus itu. "Dari Adrian."
Maya meletakkan kopinya, matanya langsung berbinar. "Tuh, kan! Apa aku bilang. Ada pria yang rela lari-lari cari tulip putih cuma buat bikin kamu senyum, sementara suami kamu di rumah malah bikin kamu nangis gara-gara tas buat mantan. Tan, buka mata kamu deh."
"May, aku masih istri Rey," gumam Tania, meski suaranya terdengar ragu.
"Istri yang tidak dianggap itu beda tipis sama pajangan, Tan," sahut Maya tajam.
"Oh ya, tadi Adrian tanya ke aku, apa kamu ada waktu makan siang hari ini? Dia mau bahas proyek renovasi kafenya, tapi aku tahu itu cuma alasan dia buat ketemu kamu."
Tania terdiam. Pikirannya melayang pada Rey. Biasanya jam segini Tania akan mengirim pesan: "Jangan lupa makan siang ya, tadi aku bawain rendang di tas bekalmu." Tapi hari ini, ponselnya bisu. Rey bahkan tidak bertanya apakah Tania sudah sampai kantor atau belum setelah keributan tadi pagi.
"Oke," ucap Tania tiba-tiba.
Maya melotot. "Oke apa?"
"Oke, aku mau makan siang sama Adrian. Tolong bilangin dia."
"Kenapa harus aku yang bilang? Kamu kan bisa whatsapp dia sendiri, Tan," balas Maya.
"Kamu aja." jawab Tania cuek, mulia sibuk mengatur meja kerjanya.
Maya hanya mendengus kecil melihat sikap sahabatnya tersebut.
...----------------...
Jam satu siang, sebuah mobil SUV hitam berhenti di depan lobi kantor Tania. Adrian keluar dengan gaya santainya—kemeja putih yang digulung sampai siku dan kacamata hitam yang tersampir di kerah baju.
Saat melihat Tania keluar, senyumnya langsung merekah. Senyum yang tidak pernah Tania lihat di wajah Rey dalam 2 tahun terakhir.
"Kamu kelihatan... berbeda hari ini, Tan," ucap Adrian saat Tania mendekat. Matanya tertuju pada bibir Tania. "Lipstik itu cocok banget buat kamu. Berani."
Tania merasa pipinya sedikit memanas. "Makasih, Yan. Dan makasih juga buat tulipnya. Cantik banget."
"Sama-sama. Ayo, aku sudah pesan tempat di restoran favorit kamu."
Di dalam restoran, suasana terasa hangat. Adrian bukan tipe pria yang sibuk dengan ponselnya saat makan. Dia mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Tania. Dan menatap mata Tania saat bicara—sesuatu yang sangat sederhana, tapi terasa seperti kemewahan luar biasa bagi Tania.
"Kamu baik-baik aja, Tan?" tanya Adrian di tengah percakapan mereka. "Matamu nggak bisa bohong, meskipun lipstikmu merah menyala kayak gitu."
Tania tertegun. Ia meletakkan garpunya perlahan. "Apa kelihatan banget ya kalau aku lagi berantakan?"
Adrian meraih jemari Tania yang ada di atas meja, hanya sebentar, sebelum Tania menariknya halus karena merasa tidak enak. "Aku nggak perlu lihat kamu menangis buat tahu kamu lagi terluka, Tan. Aku udah kenal kamu sejak kita masih rebutan buku di perpustakaan kampus, ingat?"
Tania tertawa kecil, kenangan masa lalu itu sedikit mengobati perih di hatinya. "Dulu semuanya terasa lebih mudah ya, Yan?"
"Semuanya akan tetap mudah kalau kita memilih orang yang tepat untuk berjalan di samping kita," sahut Adrian serius. Tatapannya begitu dalam, seolah sedang menyampaikan pesan yang tertahan selama bertahun-tahun.
Tepat saat itu, ponsel Tania di atas meja bergetar hebat. Kali ini bukan telepon, melainkan sebuah notifikasi dari Instagram.
Tania membukanya. Itu adalah update InstaStory dari Bianca.
Foto sebuah meja makan mewah dengan dua piring steak dan dua gelas wine. Di sudut foto, terlihat tangan seorang pria dengan jam tangan Rolex perak yang sangat Tania kenali. Jam tangan itu adalah hadiah ulang tahun dari Tania untuk Rey tahun lalu.
Keterangan fotonya: "Lunch date with my favorite person. Thanks for always being there when I need a shoulder."
Dunia Tania serasa berhenti berputar. Adrian yang menyadari perubahan wajah Tania langsung bertanya, "Tan? Ada apa?"
Tania tidak menjawab. Ia hanya menunjukkan layar ponselnya pada Adrian dengan tangan yang gemetar. Adrian membaca tulisan itu, lalu rahangnya mengeras. Ia menatap Tania dengan tatapan penuh amarah yang tertuju pada Rey.
"Bajingan," desis Adrian pelan.
"Dia bilang dia sibuk meeting, Yan..." suara Tania pecah. "Dia bilang dia capek..."
"Tania, dengerin aku," Adrian mencondongkan tubuhnya. "Berhenti memaafkan pria yang bahkan tidak merasa salah sudah menyakitimu. Kamu berharga, Tan. Lebih berharga dari semua tas mewah atau janji kosongnya."
Di saat yang sama, pintu restoran terbuka. Sosok Rey masuk bersama Bianca yang bergelayutan di lengannya. Sepertinya mereka mencari tempat yang lebih privat di area VIP restoran tersebut.
Langkah Rey terhenti saat matanya menangkap sosok Tania yang sedang duduk bersama Adrian di sudut ruangan. Pandangan mereka bertemu.
Dulu, Tania akan langsung panik dan merasa bersalah. Tapi sekarang? Tania hanya menatap Rey dengan tatapan kosong. Ia tidak berdiri, tidak menyapa, bahkan tidak menunjukkan rasa cemburu. Tania justru kembali menoleh pada Adrian dan tersenyum—senyum paling manis yang dipaksakannya.
"Yan, bisa tolong pesenin aku dessert? Aku tiba-tiba pengen yang manis-manis," ucap Tania dengan suara yang cukup keras agar terdengar oleh Rey yang masih mematung di kejauhan.
Rey mengepalkan tangannya. Untuk pertama kalinya, ia merasakan hatinya diremas oleh sesuatu yang disebut... cemburu.