Tidak ada perempuan yang bermimpi menikahi suami kakaknya sendiri.
Namun itulah takdir yang harus diterima Aisyah.
Demi mempertahankan garis keturunan keluarga Adhitama, ayahnya memaksa Aisyah menggantikan sang kakak, Salsa, yang divonis mandul untuk memberi penerus kepada keluarga Adhitama. Semua orang menganggap itu adalah jalan keluar terbaik.
Tidak ada yang pernah bertanya apakah Aisyah menginginkannya. Aisyah memasuki pernikahan dengan harapan sederhana. Meski menjadi istri kedua, ia percaya waktu akan melahirkan kasih sayang. Namun semua harapannya hancur pada malam pertama.
Di hadapan perempuan yang baru saja sah menjadi istrinya, Ammar Adhitama mengucapkan kalimat yang merobek harga dirinya.
"Aku menikahimu hanya untuk memenuhi keinginan keluargaku. Hatiku hanya milik Salsa. Jangan pernah berharap aku akan mencintaimu apalagi menyentuhmu. Mulai malam ini, kau hanya akan menjadi istri di atas kertas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Napas Salsa mendadak terasa berat. Tidak. Ia tidak mau membayangkannya. Ia tidak sanggup karena jika hari itu benar-benar datang, Ia tidak tahu apakah dirinya masih bisa bertahan atau tidak. Tanpa sadar, pandangan Salsa terus tertuju kepada Ammar. Kosong dan diam seolah tubuhnya berada di ruang makan, tetapi pikirannya melayang jauh entah kemana.
Di sisi lain, Ammar yang sejak tadi sedang menyantap sarapan akhirnya menyadari sesuatu. Ia merasa ada tatapan yang terus mengarah kepadanya yang perlahan membuatnya menoleh. Dan benar saja, Salsa sedang menatapnya. Namun tatapan itu terlihat berbeda. Tidak ada senyum, tidak ada kelembutan yang biasanya selalu menyambutnya, Yang ada hanyalah mata yang dipenuhi kecemasan. Tatapannya kosong, tatapan seseorang yang sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri. Melihat hal itu, alis Ammar langsung berkerut.
"Salsa?"
Namun tidak ada jawaban. Salsa seolah tidak mendengarnya. Ia masih terpaku dan membuat Ammar meletakkan sendoknya. Tanpa memedulikan orang-orang di sekeliling mereka, ia perlahan meraih tangan Salsa yang berada di bawah meja makan. Sentuhan itu membuat Salsa sedikit tersentak. Ia berkedip beberapa kali sebelum akhirnya menoleh.
"Mas..."
Suara Ammar terdengar pelan.
"Kamu kenapa?" Salsa hanya menatapnya. Ammar menggenggam tangannya sedikit lebih erat. "Dari tadi mas lihatin kamu melamun. Kamu lagi mikirin apa sayang?" Tanya Ammar dengan nada suaranya yang penuh perhatian dan kekhawatiran. Hal itu membuat Salsa berusaha tersenyum, meski senyum itu terlihat sangat dipaksakan.
"Aku nggak apa-apa, mas."
Ammar menggeleng pelan.
"Enggak, kamu pasti bohong. Mas kenal kamu. Kalau kamu bilang nggak apa-apa sambil wajahmu seperti ini, berarti ada sesuatu."
Salsa menundukkan kepalanya. Ia menggigit bibir bawahnya pelan. Haruskah ia mengatakan isi hatinya? Haruskah ia mengakui bahwa dirinya sedang cemburu kepada adiknya sendiri? Beberapa detik berlalu, akhirnya Salsa mengembuskan napas panjang.
"Aku..." Ia berhenti. Tatapannya kembali jatuh kepada Aisyah yang sedang membantu salah seorang pelayan menuangkan teh.
"Mas... Aku takut."
Ammar langsung memusatkan seluruh perhatiannya kepada Salsa.
"Takut apa?"
Salsa kembali menatap wajah suaminya dengan matanya yang mulai berkaca-kaca.
"Aku takut kalau perhatian semua orang nanti akan beralih kepada Aisyah." Perkataan itu keluar begitu lirih seolah Salsa sendiri malu mengakuinya. "Aku tahu aku nggak seharusnya berpikir seperti ini. Aku tahu Aisyah nggak salah. Tapi..." Air matanya mulai menggenang. "Papa, Mama dan semua pelayan yang ada disini, Semuanya terlihat begitu menyayangi Aisyah." Salsa menarik napas panjang. "Baru sehari, Mas. Baru satu hari Aisyah tinggal di sini tapi semua orang sudah memujinya." Salsa tersenyum getir. "Aku takut," Suaranya mulai bergetar. "Kalau lama-lama semua orang akan lebih memilih Aisyah daripada aku."
Ammar langsung menggeleng.
"Tidak akan."
Namun Salsa belum selesai. Yang paling berat justru belum ia ucapkan. Perlahan ia menggenggam balik tangan Ammar lebih erat dan membuat matanya bertemu dengan mata laki-laki itu.
"Aku juga takut kalau suatu saat nanti... Mas juga begitu."
Ammar terdiam sementara Salsa menggeleng pelan.
"Aku takut Mas akan mulai melihat semua kebaikan Aisyah. Takut Mas mulai luluh. Takut..." Air mata Salsa akhirnya jatuh membasahi pipinya. "Takut kalau mas memiliki tempat untuk Aisyah di hati Mas."
Kalimat terakhir itu membuat Ammar langsung menghela napas panjang. Tanpa ragu, ia mengangkat tangan kanannya. Jemarinya mengusap perlahan air mata yang mengalir di pipi Salsa lalu membelainya dengan penuh kasih. Tatapannya begitu lembut.
"Salsa." Dunia seolah mengecil. Di tengah ramainya ruang makan, bagi Ammar hanya ada satu perempuan di hadapannya, yaitu Salsa. "Dengarkan mas." Salsa menatapnya.
"Hatiku akan selalu menjadi milikmu." Tidak ada keraguan sedikit pun dalam suara Ammar. "Aku memang mulai sadar kalau Aisyah bukan orang jahat. Aku sadar dia juga korban. Tapi itu tidak berarti perasaanku akan berubah." Ia mengusap pipi Salsa sekali lagi.
"Aku mencintaimu dan rasa itu tidak akan tergantikan. Tidak oleh siapa pun, termasuk oleh Aisyah." Tatapan Ammar semakin dalam.
"Aku sudah berjanji kalau aku akan selalu mencintaimu. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menempati hatiku, selain kamu tidak akan ada lagi untuk perempuan lain."
Kalimat itu membuat bibir Salsa perlahan bergetar. Beban yang sejak tadi menghimpit dadanya perlahan terasa lebih ringan. Ia mengangguk pelan sementara air matanya masih tersisa. Namun kini, senyum kecil mulai kembali menghiasi wajahnya.
"Benarkah, Mas?"
Ammar membalasnya dengan senyum tipis.
"Benar. Aku tidak akan mengingkari janjiku."
Salsa akhirnya mengembuskan napas lega. Jemarinya menggenggam tangan Ammar sedikit lebih erat, seolah memastikan laki-laki itu benar-benar masih berada di sisinya. Dan untuk sesaat, rasa takut yang sejak tadi memenuhi hatinya perlahan mereda..Meski jauh di dalam lubuk hatinya, ada sebuah kegelisahan yang belum benar-benar hilang. Sebab ia tahu, waktu bisa mengubah banyak hal. Dan ia hanya bisa berharap, hati Ammar akan tetap seperti yang baru saja dijanjikannya hari ini.
Pak Wira melirik jam tangannya sebelum menoleh kepada Ammar.
"Sudah waktunya berangkat."
Ammar langsung mengangguk.
"Baik, Pa."
Ia mengambil tas kerjanya lalu berdiri dari kursi. Pak Wira melakukan hal yang sama. Beberapa pelayan segera membuka pintu rumah sementara Bu Ratih ikut mengantar hingga ke teras depan. Udara pagi masih terasa sejuk. Cahaya matahari baru mulai menghangatkan halaman luas di kediaman Adhitama. Sebelum melangkah menuju mobil, Pak Wira menghentikan langkahnya.
"Aisyah... Salsa."
Kedua perempuan itu serempak mengangkat wajah mereka.
"Iya, Pa."
"Kalian antar suami kalian sampai depan."
Salsa langsung berjalan mendekati Ammar sementara Aisyah sempat terdiam beberapa detik sebelum akhirnya ikut melangkah pelan. Ia berdiri dengan jarak yang cukup jauh dari Ammar, seolah sengaja menjaga batas agar laki-laki itu tidak merasa terganggu. Pak Wira mengamati semuanya tanpa berkata apa-apa.
Sesaat kemudian ia menoleh kepada putranya.
"Ammar."
"Iya, Pa?"
"Sebelum berangkat, pamit sama istri-istrimu."
Ammar mengangguk. Tanpa ragu ia lebih dulu menghadap Salsa. Tatapannya yang semula datar langsung berubah hangat. Tangannya terangkat untuk membelai lembut pipi perempuan yang sangat dicintainya itu.
"Mas berangkat kerja dulu ya, sayang."
Salsa mengangguk kecil.
"Iya, Mas. Hati-hati di jalan."
Ammar tersenyum tipis, lalu dengan penuh kasih ia mengecup kening Salsa cukup lama.
"Jaga kesehatan." Suaranya terdengar begitu lembut. "Mas janji akan pulang secepat mungkin."
Salsa membalas dengan senyum yang dipenuhi rasa bahagia.
"Iya mas, aku tunggu."
Pemandangan itu diam-diam membuat Aisyah menundukkan wajah lebih dalam. Dadanya terasa sesak sekaligus hangat disaat bersamaan ketika melihat kakaknya, salsa begitu dicintai oleh Ammar sementara ia harus melihat kemesraan itu secara langsung. Begitu selesai berpamitan kepada Salsa, Ammar langsung berbalik menuju mobil seolah menganggap urusannya telah selesai.