Tidak ada perempuan yang bermimpi menikahi suami kakaknya sendiri.
Namun itulah takdir yang harus diterima Aisyah.
Demi mempertahankan garis keturunan keluarga Adhitama, ayahnya memaksa Aisyah menggantikan sang kakak, Salsa, yang divonis mandul untuk memberi penerus kepada keluarga Adhitama. Semua orang menganggap itu adalah jalan keluar terbaik.
Tidak ada yang pernah bertanya apakah Aisyah menginginkannya. Aisyah memasuki pernikahan dengan harapan sederhana. Meski menjadi istri kedua, ia percaya waktu akan melahirkan kasih sayang. Namun semua harapannya hancur pada malam pertama.
Di hadapan perempuan yang baru saja sah menjadi istrinya, Ammar Adhitama mengucapkan kalimat yang merobek harga dirinya.
"Aku menikahimu hanya untuk memenuhi keinginan keluargaku. Hatiku hanya milik Salsa. Jangan pernah berharap aku akan mencintaimu apalagi menyentuhmu. Mulai malam ini, kau hanya akan menjadi istri di atas kertas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Ammar menggenggam kedua bahu Salsa.
"Tapi aku juga nggak mau mengkhianati cintaku sendiri."
Salsa mengangkat wajahnya dan menunjukkan matanya yang sembab.
"Mas... Kalau memang Mas mencintaiku, tolong... Lakukan ini untuk terakhir kalinya. Aku mohon, laksanakan kewajiban Mas sebagai suami kepada Aisyah. Aku rela menanggung sakitnya, asal keluarga kita tetap utuh dan Mas tidak akan kehilangan Papa dan Mama."
Ucapan itu membuat Ammar terdiam. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar berada di persimpangan yang tidak pernah ia bayangkan. Di satu sisi ada cintanya kepada Salsa, di sisi lain ada tuntutan keluarga yang semakin menyesakkan. Dan di tengah semua itu, ada Aisyah, Perempuan yang sama sekali tidak pernah meminta semua kekacauan ini terjadi.
Ammar terdiam cukup lama, tatapannya tidak pernah lepas dari wajah Salsa yang kini dipenuhi air mata. Perempuan yang selama ini selalu tampak tegar di hadapannya, kini menangis sambil memohon sesuatu yang justru menghancurkan hati mereka berdua. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Ammar merasa benar-benar tidak berdaya.
Perlahan ia mengangkat tangannya dan membuat jemarinya yang hangat mengusap perlahan air mata yang terus mengalir di kedua pipi Salsa.
"Jangan menangis lagi." ucapnya pelan.
Namun kalimat sederhana itu justru membuat tangis Salsa semakin pecah.
"Maafin aku, Mas.... Maaf."
Ammar menggeleng.
"Kamu nggak salah, Justru aku yang nggak bisa menjaga kamu dari semua tekanan ini."
Suara Ammar terdengar berat. Ada rasa bersalah yang selama ini terus ia pendam. Seandainya dulu ia bisa lebih tegas kepada kedua orang tuanya, seandainya ia tidak membiarkan semuanya berkembang sejauh ini, Mungkin perempuan yang kini berada di hadapannya tidak perlu menangis sesakit ini.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Ammar menarik tubuh Salsa ke dalam pelukannya. Salsa tidak menolak, begitu tubuhnya berada di dalam dekapan suaminya, ia langsung menangis sesenggukan. Tangannya mencengkeram bagian belakang jas Ammar seolah takut laki-laki itu benar-benar akan pergi meninggalkannya.
"Mas... Aku takut. Aku takut kehilangan Mas."
Kalimat itu terdengar lirih. Begitu lirih hingga hampir tenggelam oleh isak tangisnya sendiri.
Ammar memejamkan kedua matanya. Dadanya terasa sesak dan membuat pelukannya justru semakin erat di tubuh Salsa.
"Kamu nggak akan kehilangan aku, Salsa." Suara Ammar terdengar mantap. "Selama aku masih hidup, aku akan tetap berada di sampingmu."
Salsa kembali menangis. Entah kenapa, semakin Ammar berusaha menenangkannya, justru rasa sakit di hatinya semakin terasa karena ia sadar, Laki-laki yang kini memeluknya sedang berada di tengah pilihan yang sama-sama menyakitkan. Beberapa menit berlalu, tangis Salsa perlahan mulai mereda. Ammar mengusap pelan rambut istrinya.
"Kamu pasti capek. Istirahatlah dan tidur yang nyenyak. Aku akan mencari jalan keluarnya."
Salsa perlahan mengangkat wajahnya.
"Mas yakin masih ada jalan keluar?"
Ammar tersenyum tipis. Senyum yang terlihat dipaksakan.
"Aku nggak tahu tetapi aku janji akan berusaha." Salsa menatap suaminya cukup lama lalu perlahan menganggukkan kepalanya. "Jangan terlalu dipikirkan malam ini. Kamu harus istirahat." Ammar kembali mengusap pipinya. "Nanti kamu sakit."
Salsa akhirnya mengangguk pelan.
"Iya, mas."
Melihat keadaan Salsa mulai sedikit lebih tenang, Ammar mengecup pelan puncak kepala perempuan itu.
"Bismillah... Semoga besok Allah kasih kita jalan."
Ammar berdiri perlahan. Sebelum keluar, ia menoleh sekali lagi. Salsa masih duduk di tepi ranjang sambil memandang ke arahnya dan membuat tatapan mereka bertemu beberapa detik. Lalu Ammar membuka pintu dan keluar dari kamar dan membuat pintu itu tertutup perlahan. Begitu berada di luar kamar, senyum tipis yang sejak tadi ia paksakan langsung menghilang. Ammar mengembuskan napas panjang. Tangannya mengusap wajahnya dengan kasar.
"Ya Allah, Apa yang harus aku lakukan?"
Ia menyandarkan punggungnya ke dinding lorong. Malam itu rumah Adhitama begitu sunyi, hanya terdengar suara jam dinding yang berdetak pelan.
Tik...
Tik...
Tik...
Namun bagi Ammar, suara itu justru terasa seperti hitungan mundur. Ucapan Salsa kembali terngiang jelas di kepalanya.
"Mas... tolong gauli Aisyah supaya dia cepat hamil."
Ammar langsung memejamkan kedua matanya. Ia menggeleng keras.
"Tidak, Aku nggak bisa melakukan itu."
Namun bayangan lain kembali muncul. Wajah mamanya.
"Kalau Aisyah tidak juga hamil, Mama akan mencarikan istri baru untukmu."
Rahang Ammar langsung mengeras dan membuat satu tangan mengepal kuat.
"Sial." Ia memukul pelan dinding di sampingnya, bukan karena marah kepada siapa pun melainkan karena marah kepada keadaan. Ia mencintai Salsa, sangat mencintainya, namun perempuan yang paling dicintainya justru memintanya melakukan sesuatu yang bertentangan dengan seluruh keyakinan hatinya.
"Apa pun yang aku pilih, pasti ada yang terluka."
Perlahan Ammar membuka kedua matanya. Tatapannya mengarah ke ujung lorong. Di sanalah kamar yang kini ditempatinya bersama Aisyah berada. Kakinya terasa begitu berat, bahkan hanya untuk melangkah beberapa meter saja rasanya seperti menyeret beban berton-ton. Namun akhirnya ia tetap berjalan semakin dekat ke kamar itu, pikirannya justru semakin kacau. Ia tidak tahu apa yang akan dikatakannya kepada Aisyah. Ia sendiri bahkan belum menemukan jawaban atas semua masalah ini.
Beberapa saat kemudian, Ammar berdiri tepat di depan pintu kamarnya. Tangannya terangkat namun tidak langsung mengetuk. Ia menarik napas panjang lebih dulu dan barulah perlahan ia memutar gagang pintu kamarnya.
Pintu itu terbuka, Begitu memasuki kamar, pandangannya langsung tertuju kepada sosok perempuan yang berdiri membelakanginya. Aisyah baru saja selesai melaksanakan salat Isya. Mukena putih masih membalut tubuhnya, Di tangannya terdapat sajadah yang sedang ia lipat dengan rapi. Sesudah menyimpannya ke dalam lemari kecil di sudut kamar, Aisyah berjalan menuju sofa.
Sofa sederhana yang sejak malam pertama menjadi tempat tidurnya. Dengan gerakan pelan, ia merapikan bantal dan selimut yang akan digunakannya malam itu. Melihat pemandangan tersebut, dada Ammar terasa semakin sesak. Perempuan itu, tidak pernah sekali pun mengeluh. Tidak pernah memprotes. Tidak pernah meminta haknya sebagai istri. Padahal semua yang ia alami terjadi karena dirinya. Langkah Ammar akhirnya terdengar.
Tap...
Tap...
Tap...
Aisyah yang sedang merapikan selimut langsung menghentikan kegiatannya. Perlahan ia menoleh. Begitu melihat Ammar sudah berada di dalam kamar, Aisyah segera berdiri tegak.
"Mas, kamu sudah pulang?" Sapa Aisyah pelan.
Ammar membalas tatapan itu beberapa saat. Wajahnya terlihat jauh lebih lelah daripada biasanya. Bahkan sorot matanya dipenuhi kebuntuan.
"Aisyah." Suara Ammar terdengar berat. "Aku sudah dengar semuanya."
Aisyah tampak bingung.
"Maksud Mas?"
"Tentang Mama. Tentang Mama yang tahu kalau kita tidur terpisah. Tentang ancaman Mama yang akan mencarikan istri baru kalau aku tetap nggak menjalankan kewajibanku sebagai suami."
Mendengar itu, wajah Aisyah langsung berubah. Perempuan itu menundukkan kepalanya.
"Maafin aku mas."
Kalimat pertama yang keluar justru permintaan maaf. Ammar mengernyit.
"Kenapa kamu minta maaf?"
parah ini mah kata aku