Ini tentang Anin yang berusaha menjaga api cinta dalam rumah tangganya agar tetap menyala kala badai datang menggoyahkan–menguji cinta dan keutuhan rumah tangganya dengan Harsa yang telah banyak memberi bahagia. Haruskah ia gadaikan cinta mereka dengan perasaan sesaat?
....
Kamu adalah cinta yang datang layaknya hujan, membasahi saat aku merasa paling gersang. Namun, sayangnya kamu pergi bagai puing yang belum pernah sempat kugenggam.
~Sekala Bumi
....
Aku pernah tersesat diantara persimpangan gelap, kamu hadir menemukanku diantara pekatnya malam yang hampir menelan. Sayangnya diantara ribuan pilihan kau malah meninggalkanku sendirian tanpa pernah kau perjuangkan.
Kini ... aku tak lagi sama. Ragaku telah bertuan, walau pada kenyataannya separuh hatiku masih ingin menggenggammu.
~Anindyaswari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Senada, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4. Kehidupan Bertetangga
Kehidupan Anin setelah resmi jadi Nyonya Harsa Adiwijaya dan sebenarnya agak berat di awal. Beradaptasi dengan orang-orang baru merupakan hal yang paling sulit bagi Anin. Insiden fitnah yang ia alami saat masih menjadi flight attendent membuatnya trust issue pada orang lain. Namun, untungnya lingkungan tempat tinggal mereka dihuni oleh orang-orang yang cukup asyik sehingga ia dengan mudah membuka diri dan berinteraksi normal sebagaimana kehidupan bertetangga pada umumnya. Belum lagi kehadiran Azzura membuat Anin tak lagi merasa kesepian karena sudah ada yang menemani di saat Harsa sedang sibuk bekerja.
Seperti pagi ini, setelah Harsa berangkat kerja Anin mendapat panggilan oleh tetangga samping rumah yang katanya akan mengadakan makan-makan bersama dalam rangka syukuran atas mobil baru mereka. Tentu Anin langsung meluncur, toh semua pekerjaan rumah sudah beres, apalagi yang mengajak memang orang yang terbilang akrab dengannya, bisa dibilang circle pergaulan Anin selama jadi warga komplek di sana.
“Assalamualaikum...”
“Duh, udah pada rame aja nih ternyata,” ujar Anin yang baru saja datang sambil menggendong Zura yang begitu antusias melihat banyak orang. Bayi itu terus berceloteh riang sambil menggerak-gerakkan kaki dan tangan.
“Waalaikumsalam.” Para tetangga dan orang terdekat yang notabene para ibu-ibu itu menjawab salam Anin serentak.
“Eh, si Zura gemoy udah dateng. Sini neng cantik, duduk.”
“Sini Mama Zura, masuk.”
“Duh, si gemoy nih gemesin banget, ah. Jadi pengen bawa kabur.”
Beberapa tetangga yang memang sudah akrab dengan Anin pun mulai menyapa. Sebagian ada yang senang dan sangat gemas melihat tingkah lucu Azzura si bayi periang.
Sementara, Gita, atau kerap Anin sapa mama Aldo–si pemilik rumah yang baru muncul dari dalam rumah itu langsung antusias dan menghampirinya yang masih berdiri di ambang pintu.
“Duh, Anin ... ngapain repot-repot, sih. Segala bawa ginian,” protesnya sembari memegang lengan Anin. Niatnya memanggil untuk makan-makan, tapi ini malah si Anin yang datang membawa buah tangan, membuatnya jadi tak enak hati.
Anin menggeleng sembari mengulas senyum. Diraihnya tangan Gita untuk diberi tas belanja berwarna hijau dari supermarket berlogo nama dan element garis biru, merah dan kuning yang bertuliskan ’Say No To Plastic’ itu.
Ya, karena tak ingin datang dengan tangan kosong. Dan kebetulan di rumah tak ada hal yang bisa dibawa karena stok mereka hampir habis, jadi tadi Anin memutuskan pergi belanja ke minimarket yang tak jauh dari komplek perumahan mereka.
“Gak apa, mbak.”
“Selamat ya, atas mobil barunya,” ucap Anin tulus. Lalu ia pun ikut bergabung duduk lesehan bersama tujuh orang yang ada. Katanya mereka akan nge-grill ala rumahan bersama.
Tak butuh waktu lama, saat semua bahan dan peralatan sudah siap, mereka pun mulai acara nge-grillnya. Dan karena dirasa di ruang tamu mama Aldo agak sempit, sesuai saran salah satu ibu-ibu mereka akhirnya pindah ke teras depan yang agak luas–baru selesai di renovasi ala teras kekinian semi indoor, terbuka dan udaranya lebih segar.
Anin rasa hari ini cukup seru. Meski ia tak terlalu banyak membantu karena diantara mereka semua hanya ia yang punya anak kecil, selebihnya anak-anak mereka sudah sekolah. Ada yang baru masuk SD tahun ini, ada yang masih TK dan ada pula yang belum punya anak, serta satu diantaranya ada yang masih single, adalah Nana–tetangga yang tinggal persis di depan rumah Anin.
“Akhir pekan jalan-jalan yok,” ajak salah seorang wanita yang merupakan kenalan Gita–Ibu dari teman sekolah Aldo.
Mereke sudah selesai menyantap menu utama dan kini tengah bersantai sembari menikmati cemilan ringan.
“Boleh tuh, mumpung aku udah lama gak diajak jalan sama suami.” Yang ini namanya mbak Laksmi, tetangga kiri Gita. Sebab tetangga samping kanannya adalah Harsa dan Anin sendiri.
“Boleh tuh, tapi ke mana ya bagusnya?” tanya Gita menimpali.
“Ke Kota Tua aja, di Eco Park seru juga sekalian nyenengin anak-anak.”
Beberapa yang lain dan Anin hanya diam sambil mengamati, sesekali Anin memerhatikan Zura yang sibuk main dengan anak-anak yang lain.
“Eh, tapi sekali-kali ke Bogor bagus kali ya, sekalian nginep sehari rame-rame kayaknya seru. Sabtu berangkat, minggu sore langsung balik.” Gita ikut menimpali memberikan saran.
“Ide bagus tuh, tapi nanti tanya pak suami dulu gak sih?” Wanita bernama Cida yang anaknya masih TK, tinggal di lorong belakang ikut menyahuti.
“Mama Zura ikut gak nih?” tanya Melda, tetangga yang rumahnya tepat di depan Gita–samping rumah Nana.
“Ayo Nin, ikut. Sekalian ajak Pak Harsa liburan, pasti mumet tuh sama kerjaannya.” Kali Ini Nana ikut bersuara. Gadis yang biasanya jarang ada waktu ikut healing bersama member yang hadir persis seperti Anin itu tiba-tiba antusias mau ikut membuat Anin lantas membatin.
Kesambet apa nih si Nana Nanabul? Anin bertanya dalam hati sambil menatap Nana dengan tatapan penuh selidik yang hanya mereka berdua yang paham.
“Diliat nanti deh, ya. Nanti aku kabarin kalau fix apa nggaknya.” Anin menjawab setelah sejenak berpikir sambil menarik Zura yang hendak mengobok mangkuk bekas makan yang masih tertumpuk di tengah, belum dibereskan.
“Harus fix ya, Nin, jangan nggak!” Nana yang sudah seperti teman akrab Anin karena hampir seumuran itu pun memperingati.
Setelahnya, obrolan mereka pun berlanjut ke pembahasan lain. Sebagai penutup acara nge-grill hari itu, tak lupa mereka mengabadikan moment dengan berfoto di depan rumah, di jalan perumahan dan juga membuat video dengan tren dari aplikasi Tiktok dengan lagu Timur mix Minang yang viral itu.
Semua tampak lihai dan menghafal gerakan. Sementara Anin dan Nana yang sama sekali bukan user aplikasi sebelah itu hanya bisa meringis sebab hanya mereka yang tak tahu gerakannya, bahkan saat diajar pun sangat kaku dan tak kunjung pandai. Maklum, Anin dan Nana adalah user aplikasi ping milik Markzukenberg garis keras. Keduanya hampir memiliki banyak kesamaan. Maklum lagi, diantara circle kompleks–hanya mereka berdua anomali dari Gen Z, selebihnya Milenial pride.
“Gimana sih, aku gak tau, sumpah.” Anin hanya bisa terkekeh saat ia nyaris putus asa karena tak kunjung menghafal koreografi tren tersebut, ditambah lagi ia sangat kaku kalau soal berjoget.
“Ya ampun sama, haha. Kita nih kudet banget ya kalau soal tren sebelah.” Nana menimpali dengan tak kalah ngakaknya. Bukan kurang update sih sebenarnya, hanya saja mereka tak doyan karena terlalu kaku hingga membuatnya tak tertarik.
“Ya, lagian zaman sekarang kok ya ada orang gak main tiktok, aneh kalian tuh!” semprot Mbak Laksmi yang tahu Anin dan Nana tak menginstal aplikasi kesayangan mereka.
“Ya mau gimana lagi, mbak, kita terlanjur nyaman di IG.” Anin menimpali sambil menyikut Nana kemudia cengengesan bersama.
“Iya nih, maafin kami berdua ya mbak-mbakku.” Nana ikut membantu Anin membela diri.
“Ya udah kalian berdua koreografi suka-suka aja deh, yang penting masuk frame.” Mbak Enda, tetangga kanan Anin menimpali.
Dan akhirnya acara mengabadikan moment itu pun berakhir.
Anin beserta Zura yang tadis sempat menangis karena sepertinya sudah ngantuk pun melangkah pulang dengan Nana. Gadis itu membantu memayungi Anin yang kewalahan karena bayi gembulnya malah ngereog tantrum bersamaan dengan suara radio mesjid yang mulai menggema dari tiap sudut Kota, tanda waktu Dzuhur akan segera tiba. Belum lagi matahari yang sangat terik seakan membakar kulit membuat siapa saja ingin cepat-cepat masuk rumah.
“Si Zura ngantuk banget tuh, Nin.”
“Iya nih, Na.” Anin mendesah lelah, jujur ia sangat kewalahan jika Zura sudah mode begini. “Dia emang gini kalau jam tidurnya lewat.” Anin kelihatan sangat kesusahan, tubuh Zura yang padat berisi itu membuat nafasnya tersengal. Tenaganya sudah nyaris terkuras habis menggendong Zura dalam keadaan tantrum.
“Ya udah kamu cepetan masu gih, takutnya makin susah didiemin.”
Anin mengangguk dengan wajah lelah, anak Harsa ini memang ceria dan periang tapi sekali tantrum sungguh ia akan sulit ditenangkan dan Anin sangat kewalahan jika Harsa sedang bekerja, jika suaminya di rumah sudah pasti dia akan bantu mengatasi.
Untungnya Nana sosok yang peka dan bisa diandalkan. Tanpa diminta, gadis yang empat bulan lebih tua darinya itu gerak cepat membukakan pagar rumahnya yang hanya setinggi pinggang orang dewasa itu.
“Makasih ya, kamu gak masuk dulu? ”
Nana hanya mengangguk, ia langsung menutup kembali pagar rumah Anin begitu wanita itu masuk.
Pertanyaan Anin hanya ia jawab gelengan lalu berkata, “nggak lah, ini tuh jam istirahat. Waktunya sholat juga, Nin. Ya kali aku bertamu siang-siang.”
Anin yang tadinya hanya basa-basi itu lantas terkekeh mendengar ocehan to the point Nana yang teramat jelas.
“Ya, aku juga cuma basa-basi kali, Na. Kalau kamu beneran mau masuk udah pasti aku usir lah. Orang aku mau ngelonin Zura juga.”
“Aku gak nerima tamu jam segini.” Anin terkekeh puas dengan wajah bangga sudah membuat Nana salah paham dengan basa-basinya.
Nana memutar mata malas karena perkataan Anin. Demikianlah, mereka memang sudah seakrab itu. Dari semua tetangga, bisa dibilang Nana sudah seperti sahabat sekaligus saudari bagi Anin. Entah bagaimana awal mula kedekatan mereka, yang jelas Anin merasa klop dengan gadis yang berprofesi sebagai front office di salah satu hotel berbintang itu.
“Ya elah, Nin. Basa basi lo basi banget.”
Anin hanya merespon dengan gelakan puas melihat ekspresi kesal Nana.
“Udah, sono masuk lo, Mamud!”
“Anak lo tuh, udah ngantuk parah.” Nana membuat gerakan tangan mengusir, menyuruh Anin segera masuk. Dan istri Harsa itu langsung masuk setelah menampakkan ekspresi mengejek pada Nana.
.
.
Sementara di gedung Pengadilan Negeri yamg ada di kota itu. Di salah satu ruang tampak seorang pria baru sedikit bersantai setelah hampir dua jam di ruang sidang. Waktu istirahat membuat ia lekas melaksanakan ibadah terlebih dahulu, tidak langsung mengisi perut. Setelahnya pun ia lebih memilih duduk terlebih dulu sembari meneguk air putih dan mengeluarkan ponsel dari sakunya.
Pria yang tak lain dan tak bukan adalah Harsa itu menyerngit ketika melihat pesan dari istrinya. Ya, dari banyaknya pesan yang masuk, ia lebih memilih kontak dengan profil Azzura tengah tersenyum menampakkan empat gigi pertamanya–Yang Mulia Istri, begitu nama kontak Anin yang tersimpan di ponsel pria 35 tahun itu.
Yang Mulia Istri : (Video Zura tengah tantrum di atas tempat tidur)
Melihat itu, wajah yang tampak datar meski pikirannya kian bercabang melihat putrinya yang tantrum di rumah itu lantas menekan tombol panggilan video. Tak butuh waktu lama, panggilannya langsung tersambung. Menampakkan Zura tengah menangis sambil guling-guling di kasur. Sementara Anin, dilihat dari arah pengambilan gambar, istrinya itu pasti sedang berbaring di sofa. Bisa Harsa tebak bagaimana wajah lelah dan kewalahan Anin menghadapi Zura yang seperti itu.
“Dia kenapa?” tanyanya sembari memencet pelipis, pusing memikirkan kasus yang ditangani, ditambah mengetahui istrinya tak baik-baik saja karena anak mereka membuat pikirannya kian penat.
Anin terdengar menghela napas panjang, lalu menampakkan wajahnya yang kelihatan murung dan lelah. “Biasa ... kalau lambat diboboin kan emang gitu anak kamu.” Dengan mata berkaca-kaca Anin menatap wajah Harsa. Membuat laki-laki itu lantas tersenyum, berusaha menenangkan meski hanya lewat tatap dalam diam. Sebatas senyum yang diharapkan mampu mengobati lelahnya Anin dalam mengurus anak mereka. Ia tahu itu tak mudah.
“Tadi mbak Gita manggil buat makan-makan di rumahnya.”
“Udah 30 menit dia gitu mulu. Diayun gak mau, nenenin juga gak mau, gendong gak mau, semuanya gak mau.” Anin menghela napas lagi.
Dan ia tahu jawabnya, jika semua sudah dicoba maka satu-satunya yang diinginkan Zura adalah dirinya. Namun, mau dikata apa, ia tak bisa berbuat apa-apa karena sedang bekerja, masih ada satu sidang lagi yang harus ia tangani sebagai Jaksa Penuntut Umum.
“Coba bawain hp-nya. Siapa tau dia mau tenang kalau liat aku.” Dan saran darinya itu langsung diikuti oleh Anin. Istrinya itu melangkah ke tempat tidur, meraih anak mereka–memangkunya lalu mengarahkan ponsel pada bayi gembul yang sudah sesegukan karena terlalu lama menangis.
“Zura... Hei, anak Papa kok nangis? Kenapa sayang, kenapa?” tanya Harsa dengan wajah cerianya. Yang mana ternyata itu cukup efektif, Zura langsung diam dan terus menatapnya.
Bahkan Anin yang melihat itu hanya bisa geleng-geleng. “Emang bener-bener anak Papa ya kamu, nak!” seru Anin gemas sembari mengecup pipi bulat Zura yang perlahan tenang.
“Pa pa ... Zu La bo bo, Pa?”
Anin dan Harsa kian tersenyum gemas saat Zura bahkan sudah mau berbicara dan menyebutkan semua kata itu secara bersamaan.
Harsa mengangguk, sungguh ia sangat menyayangi buah hati mereka ini. “Iya, Zura harus bobo, ya. Gak boleh cengeng.”
Dan tepat setelah ia mengatakan itu, bayi 17 bulan yang sudah mengerti asal nutrisi yang ia dapatkan dari ibunya itu langsung mengambil posisi berbaring di pangkuan Anin, meminta Mamanya untuk segera meng-asihi.
“Ayo Ma cepetan, Zura udah haus banget nih, mau bobo.” Senyum Harsa kian terulas lebar, memerhatikan interaksi kedua perempuan itu membuat hatinya penuh. Ia merasa sangat tenang.
Kini Anin sudah berbaring dengan sebelah tangan memegang ponsel sembari mengasihi Zura yang terus menatap wajah Papanya dari balik layar. “Ayo cepetan nenennya, Papa gak pergi kok. Papa mau temenin Zura bobo, kan Pa?” ujar Anin saat melihat Zura yang seperti takut Harsa menghilang dari balik ponsel.
“Iya, papa gak ke-mana-mana kok.”
“Masih ada waktu 15 menit lagi, Papa temenin bobo siangnya, ya.”
Sebagaimana perkataan Papanya, bayi 17 bulan yang seakan paham arti 15 menit yang dimaksudnya itu akhirnya terlelap juga setelah melewati berbagai fase yang membuatnya hanya bisa geleng-geleng. Melihat bagaimana aktifnya anak mereka membuat Harsa tak sabar ingin pulang, Zura bergerak mulai dari mengarahkan kaki ke perut mamanya, lalu naik ke atas tubuh mamanya, Zura terlalu banyak goyang sebelum akhirnya benar-benar terlelap.
.........