Dr. Rania "The Butcher" Wijaya adalah ahli bedah umum (General Surgeon) yang brilian tapi berantakan. Hidupnya adalah tentang UGD, darah, kopi instan, dan sandal Crocs karet. Baginya, estetika itu tidak penting, yang penting pasien selamat.
Dunia Rania jungkir balik ketika manajemen RS merekrut Dr. Adrian "The Prince" Bratadikara, spesialis bedah plastik dan estetika lulusan Korea Selatan, untuk meningkatkan pendapatan RS lewat klinik kecantikan VIP. Adrian adalah kebalikan Rania: obsesif dengan kebersihan, wangi parfum mahal, dan percaya bahwa "jahitan bedah adalah seni, bukan resleting celana."
Masalah utamanya? Mereka adalah musuh bebuyutan (dan mantan gebetan yang gagal jadian) saat kuliah kedokteran dulu. Kini mereka harus berbagi ruang operasi dan menyelamatkan RS dari kebangkrutan, sambil menahan keinginan untuk saling membunuh—atau mencium—satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: Insiden Kopi & Jas Putih Armani
Senin pagi di RS Citra Harapan selalu dimulai dengan aroma yang khas: campuran bau disinfektan lantai, keringat antrean pasien BPJS, dan keputusasaan samar para dokter yang belum gajian.
Bagi Dr. Rania, bahan bakar utama untuk menghadapi semua ini hanyalah satu: Kopi.
Bukan latte macchiato dengan susu oat atau cold brew artisanal. Rania butuh kopi hitam sachet. Kopi tubruk dengan ampas yang kalau didiamkan bisa buat lulur. Ia menyeduhnya di gelas stainless besar yang penyok di bagian bawahnya, airnya panas mendidih dari dispenser pantry.
"Minggir, minggir! Awas air panas!" seru Rania sambil berjalan cepat menyusuri koridor lantai 1.
Dia terlambat untuk ronde pagi (visite) ke bangsal Melati. Di tangannya ada tumpukan status pasien setebal bantal, dan di tangan kanannya ada gelas kopi maut itu.
Sementara itu, dari arah berlawanan, lift VIP berdenting halus. Pintu terbuka.
Keluarlah Dr. Adrian Bratadikara.
Hari ini, Adrian tampak lebih bersinar dari biasanya. Ia tidak memakai jas putih standar rumah sakit yang bahannya kaku dan potongannya seperti karung beras. Tidak. Adrian memakai White Coat kustom.
Jas putih itu terbuat dari bahan katun Italia premium, potongannya slim-fit memeluk tubuh atletisnya dengan sempurna, kerahnya tegas, dan di saku dada terbordir namanya dengan benang emas tipis. Kabarnya, jas itu dijahit oleh penjahit yang sama dengan yang menjahit jas pernikahan selebriti papan atas.
Adrian berjalan sambil menelepon menggunakan earpiece bluetooth kecil di telinganya.
"Ya, pastikan filler Hyaluronic Acid-nya diimpor langsung dari Swiss. Saya tidak mau barang KW," ucap Adrian tegas pada teleponnya.
Dunia Rania dan Dunia Adrian akan bertabrakan dalam hitungan detik.
Penyebab bencananya sepele: Seorang anak kecil yang lepas dari pegangan ibunya berlari mengejar bola mainan yang menggelinding di koridor.
Rania, dengan refleks "The Butcher"-nya yang tajam, menghindar ke kiri agar tidak menabrak anak itu.
"Eh, Dek! Awas!"
Tapi Rania lupa satu hal: lantai koridor itu baru saja dipel oleh Cleaning Service dan tanda "Lantai Basah" tergeser ke pinggir.
Sandal Crocs karet Rania, yang biasanya anti-selip, kali ini mengkhianatinya.
Sreeet!
Rania terpeleset. Tubuhnya melayang ke depan. Hukum fisika bekerja. Gelas kopi di tangan kanannya terlempar, mengikuti lintasan parabola yang indah namun mematikan.
Di ujung lintasan itu, ada dada bidang Dr. Adrian Bratadikara.
BYUR!
Waktu seakan berhenti. Suara keramaian koridor lenyap, digantikan oleh suara tetesan cairan hitam yang jatuh ke lantai marmer.
Rania berhasil menyeimbangkan diri dan tidak jatuh tersungkur, tapi posisinya membeku dengan tangan masih terulur ke depan.
Di hadapannya, Adrian berdiri mematung.
Jas putih Italia itu... hancur.
Noda cokelat gelap yang pekat menyebar luas di bagian dada, merembes cepat ke serat kain mahal itu, menciptakan pola abstrak yang mengerikan. Uap panas mengepul dari dada Adrian.
Adrian memutus sambungan teleponnya perlahan. Ia menunduk, menatap dadanya dengan ekspresi horor, seolah-olah Rania baru saja menikamnya dengan pisau berkarat.
"Panas..." desis Adrian pelan, suaranya bergetar menahan emosi (dan mungkin rasa melepuh di kulitnya).
Rania panik. Otaknya korslet. Mode dokter-nya menyala, tapi bercampur dengan mode panic attack.
"Ya ampun! Adrian! Sorry! Sumpah gue nggak sengaja!" Rania membuang gelas kosongnya ke sembarang arah dan langsung maju mendekat. "Lo nggak apa-apa? Melepuh nggak? Buka bajunya! Eh, maksud gue, lepas jasnya!"
Rania dengan panik menyambar kotak tisu dari troli perawat yang kebetulan lewat. Tanpa berpikir panjang, ia mulai menggosok dada Adrian dengan tisu kasar itu.
"Jangan digosok!" bentak Adrian, menangkap pergelangan tangan Rania.
Tapi terlambat. Rania sudah menggosoknya dengan kuat. Tisu itu hancur terkena cairan kopi, meninggalkan serpihan-serpihan putih yang menempel di noda kopi lengket itu. Sekarang jas Adrian terlihat seperti adonan kue gagal.
"Aduh, maaf! Gue bikin tambah parah ya?" Rania meringis, mencoba mengambil serpihan tisu itu dengan jarinya, yang entah kenapa membuat posisinya terlihat sangat... intim. Tangan Rania berada tepat di dada Adrian, meraba-raba otot pektoralis di balik kemeja basah itu.
Jantung Rania berdegup kencang. Bukan cuma karena panik, tapi karena dia bisa merasakan detak jantung Adrian di balik telapak tangannya. Cepat dan keras.
Adrian menatap Rania. Mata cokelatnya menyipit tajam. Jarak wajah mereka hanya beberapa sentimeter. Rania bisa melihat pori-pori wajah Adrian (yang nyaris tidak ada) dan bulu matanya yang panjang.
"Rania," geram Adrian rendah.
"I-iya?"
"Lepaskan tangan kamu dari dada saya. Sekarang."
Rania tersentak, menarik tangannya seolah tersengat listrik. "Sori. Gue... gue cuma mau bersihin ampasnya."
Adrian menghela napas panjang, berusaha mengendalikan amarahnya agar tidak meledak di depan umum. Ia melepas jas putih kebanggaannya dengan gerakan kasar, lalu memegangnya dengan dua jari seolah itu bangkai tikus.
"Jas ini..." Adrian menatap nanar jas yang kini basah kuyup dan bau kopi murah. "Ini Armani Exchange, edisi khusus tenaga medis. Harganya enam juta rupiah. Dan kamu baru saja menyiramnya dengan kopi yang... astaga, kopi merek apa ini? Baunya seperti aspal cair!"
"Kopi Cap Teko! Itu kopi legendaris!" bela Rania spontan, lalu sadar posisinya salah. "Oke, oke. Gue ganti. Gue laundry. Ada laundry kiloan bagus di depan gang kosan gue."
"Laundry kiloan?!" Mata Adrian melotot. "Kain ini butuh dry cleaning organik dengan pelarut non-toxic! Kalau masuk mesin cuci kiloan kamu, dia akan menyusut jadi baju boneka!"
Di sekitar mereka, beberapa koas dan perawat mulai berbisik-bisik dan menahan tawa. Bahkan beberapa pasien berhenti untuk menonton drama pagi ini.
"Dr. Adrian?"
Suara berat menyela mereka. Dr. Bambang, Direktur RS, muncul dengan wajah sumringah, didampingi dua orang pria berjas rapi yang membawa tas kerja.
"Kenalkan, ini Bapak Wijaya dan Bapak Tanoto, investor utama untuk klinik estetika kita. Mereka ingin melihat Anda sebelum grand opening besok."
Muka Adrian pucat. Dia berdiri di sana, memegang jas basah yang hancur, dengan kemeja di dalamnya yang juga terciprat noda cokelat di bagian perut. Dia tampak jauh dari citra "Dokter Estetika Premium". Dia tampak seperti korban banjir bandang.
Dr. Bambang melongo melihat penampilan dokter andalannya. "Lho? Dok? Kenapa Anda... basah dan bau kopi?"
Adrian menelan ludah. Egonya dipertaruhkan. Dia melirik Rania yang berdiri mematung dengan wajah bersalah.
Kalau Adrian bilang Rania yang menumpahkannya, Rania akan kena marah habis-habisan oleh Direktur. Rania sedang dalam masa percobaan perpanjangan kontrak. Adrian tahu itu dari berkas HRD yang tidak sengaja ia baca.
Rania menunduk, siap menerima semprotan. "Pak Direktur, saya..."
"Saya tersandung," potong Adrian cepat.
Rania mendongak, kaget.
Adrian memaksakan senyum pada para investor, meski matanya menyiratkan penderitaan batin yang luar biasa. "Lantai licin. Saya kurang hati-hati. Mohon maaf atas penampilan saya yang tidak prima. Beri saya waktu 10 menit untuk ganti baju."
"Oh! Hati-hati dong, Dok!" kata investor itu tertawa maklum. "Ya sudah, kami tunggu di ruang rapat."
Setelah Direktur dan investor pergi, Adrian berbalik menatap Rania. Aura dingin menguar dari tubuhnya.
"Lo... nyelametin gue?" bisik Rania tak percaya.
"Jangan kegeeran," desis Adrian. "Saya cuma nggak mau dengar drama pemecatan kamu yang pasti bakal berisik dan bikin sakit kepala."
Adrian mendekatkan wajahnya, menunjuk dada kemejanya yang kotor.
"Kamu berhutang satu nyawa pada saya, Rania. Dan hutang itu mahal."
"Oke, gue ganti jas lo. Gue beliin yang baru," kata Rania sungguh-sungguh.
"Kamu nggak akan sanggup beli jas ini dengan gaji dokter umum kamu," cemooh Adrian, tapi nadanya tidak setajam tadi. "Sebagai gantinya... nanti jam makan siang, datang ke ruangan saya."
"Ngapain?" Rania waspada. "Jangan macem-macem ya. Gue bawa pisau bedah ke mana-mana."
"Bawa makan siang," perintah Adrian. "Makanan sehat. Clean eating. 400 kalori. Tanpa minyak, tanpa santan, tanpa MSG. Saya tidak bisa keluar cari makan karena harus meeting maraton dengan investor gara-gara insiden ini."
"Hah? Gue jadi delivery service lo?"
"Pilih mana? Jadi delivery service atau ganti rugi 6 juta plus bunga?"
Rania menggeram. Giginya gemerutuk. "Bayam rebus sama dada ayam hambar. Deal."
"Bagus. Dan Rania?"
Adrian menunjuk sudut bibir Rania.
"Apa lagi?!"
"Ada ampas kopi di pipi kamu. Hapus. Kamu kelihatan konyol."
Adrian berbalik dan berjalan cepat menuju lift, meninggalkan jas mahalnya di tempat sampah terdekat dengan gerakan dramatis.
Rania berdiri di sana, di tengah koridor, dengan jantung yang masih berpacu kacau. Dia menyentuh pipinya. Benar ada ampas kopi.
"Sialan," gumam Rania, tapi kali ini pipinya terasa panas bukan karena malu.
Di kejauhan, Kevin si koas mendekat dengan wajah polos. "Dokter Rania, itu tadi jasnya Dr. Adrian beneran dibuang? Boleh saya ambil nggak? Lumayan kalau dicuci, buat wisuda."
"Ambil aja, Vin. Ambil!" seru Rania frustrasi, lalu menghentakkan kakinya menuju bangsal. "Dan cariin gue menu makan siang yang paling sehat sedunia tapi rasanya kayak kertas! Cepat!"
Perang belum berakhir. Tapi entah kenapa, Rania merasa musuhnya kali ini sedikit lebih... manusiawi.
Dan wangi. Meskipun sudah disiram kopi, Rania bersumpah dia masih bisa mencium aroma sandalwood dari dada bidang itu.
"Sadar, Rania! Sadar!" Rania menepuk pipinya sendiri keras-keras. "Fokus bedah! Usus buntu lebih seksi daripada dada bidang!"
Tapi Rania tahu, dia berbohong pada dirinya sendiri.
...****************...
Bersambung....
Terima kasih telah membaca 💞
Jangan lupa bantu like komen dan share❣️
ceritanya bagus banget