NovelToon NovelToon
Rerindang Dan Mira

Rerindang Dan Mira

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Romansa Fantasi / Fantasi Wanita / Fantasi / Romansa
Popularitas:493
Nilai: 5
Nama Author: Chiknuggies

Mira akhirnya harus kembali ke desa setelah kehilangan pekerjaannya di kota.

Kepulangan itu bukan karena keinginan, melainkan keterpaksaan yang lahir dari keadaan.

Rumah yang dulu ia tinggalkan masih sama, orang tuanya tetap setia dengan rutinitas sederhana.

sementara ia datang membawa beban kegagalan dan kegelisahan yang sulit ia sembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chiknuggies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 4 Kesalahan & Kasih Sayang

Suara piring yang saling beradu ketika aku sedang membantu ibu mencuci piring, saling sahut membentuk alunan musik.

Aku menyenggol tangan ibu menggunakan siku, merendahkan suara agar tidak terdengar oleh bapak. "buk, bapak tuh marah ya sama Mira?"

Ibu tidak segera menjawab, dia termenung sebentar sebelum akhirnya menjawab. "Enggak kok, bapak kamu cuma lagi capek aja akhir-akhir ini."

Matanya sempat melirik ke aras sebentar sebelum akhirnya kembali berucap, "Makanya, kamu yang semangat ya bantuin bapak di lahan." ibu tersenyum lembut.

Aku mengangguk pelan, meski hatiku masih penuh tanda tanya. Suara air yang mengalir dari keran, bercampur dengan denting piring, seakan menutupi kegelisahan yang tak bisa kuucapkan.

Aku menatap wajah ibu dari samping. Ada garis lelah di matanya, tapi senyumnya tetap hangat. Senyum itu seperti tameng, menutupi sesuatu yang tidak ingin ia ungkapkan.

"Aku takut, Bu," bisikku lirih. "Takut bapak nggak nerima aku lagi."

Ibu berhenti sejenak, lalu meletakkan piring ke rak. Tangannya yang basah menyentuh lenganku. "Mira, bapakmu itu keras di luar, tapi hatinya nggak pernah berubah. Kamu anaknya, dan itu nggak akan hilang."

Aku menunduk, air mataku hampir jatuh, tapi segera kutahan. Di luar, suara langkah bapak terdengar berat, mendekat ke dapur.

Ibu cepat-cepat mengusap tangannya ke celemek, lalu berbisik, "Sudah, jangan banyak mikir. Tunjukin aja yang terbaik."

Pintu dapur berderit. Bapak muncul dengan wajah yang masih dingin, membawa arit di tangannya. Matanya sekilas menatapku, lalu beralih ke ibu.

"Sudah beres?" tanyanya singkat.

Aku buru-buru mengangguk. "Iya, Pak."

Bapak tidak menanggapi, hanya berjalan keluar. Tapi entah kenapa, aku merasa tatapan singkatnya tadi menyimpan sesuatu seperti pesan yang belum sempat diucapkan.

Aku menatap ibu, dan ibu hanya mengangguk kecil, seolah berkata "ikuti saja, Mira."

Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Tatapan bapak tadi masih menempel di benakku, seperti bayangan samar yang sulit diartikan.

Ibu menepuk bahuku pelan. "Pergi, ikut bapak. Jangan tunggu dia manggil lagi." Aku mengangguk, lalu bergegas keluar.

Udara desa menyambut dengan dingin yang menusuk, bercampur aroma tanah basah. Di kejauhan, kulihat punggung bapak berjalan mantap menuju lahan, arit di tangan berkilat terkena cahaya pagi.

Aku melangkah mengikuti bapak ke lahan. Suara sandal bapak beradu dengan tanah basah, ritmenya keras dan tegas, seolah menandai jarak yang tak bisa kutembus.

Sesampainya di lahan, bapak langsung menancapkan cangkul ke tanah. Gerakannya cepat, penuh tenaga. Aku mencoba menirunya, tapi cangkulku hanya masuk setengah, tanah terasa berat.

"Kurang dalam," suara bapak memotong, dingin. "Kalau begini, rumputnya tumbuh lagi."

Aku mencoba lagi, keringat mulai menetes. Jemariku gemetar, cangkulku meleset, mengenai batang cabai yang sudah lemah. Daunnya jatuh, batangnya patah.

Bapak menoleh tajam. "Mira!" suaranya meninggi. "Itu yang bapak bilang jangan disentuh!"

Aku terdiam, wajahku panas. "Maaf, Pak... aku nggak sengaja."

Bapak menghela napas panjang, tapi bukan untuk menenangkan. "Kalau kamu nggak hati-hati, semua bisa rusak. Mau makan apa nanti?"

Kata-kata itu menusuk lebih dalam daripada tatapan tajamnya. Aku menunduk, air mata hampir jatuh, tapi kutahan.

Aku ingin membela diri, ingin berkata bahwa aku sedang belajar. Tapi suaranya kembali memotong, lebih dingin "Kalau mau tinggal di sini, kerja yang bener."

Aku menggenggam cangkul lebih erat, jemariku sakit. Di dalam hati, aku berteriak bapak nggak tahu betapa aku ingin memperbaiki semuanya.

Namun bibirku tetap terkunci. Yang keluar hanya satu bisikan lirih, hampir tak terdengar "Aku bisa."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!