Bagaimana jika orang yang kamu anggap biasa dan tidak penting dalam hidup mu ternyata adalah belahan jiwamu yang selama ini kamu cari.
Murat terpaksa menikahi Hanna, sahabat dari mendiang istriny zahra. Bagi Hanna ini adalah pernikahan impian karena Murat adalah cinta pertamanya, sedangkan bagi Murat pernikahan ini merupakan amanah yang harus dijalankan demi putranya.
Bagaimana kelanjutan kisahnya... stay tune yah aku harap kalian suka dengan karyaku ini 🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fei yuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4. Tidak Perlu
Setelah keluar dari ruang rawat istrinya, Murat menepuk nepuk dadanya. Hatinya terasanya nyeri entah kenapa apalagi tadi dia melihat Hanna menangis.
Murat menarik nafasnya "Huft..".
"Murat mamah mau bicara". Tiba tiba Ny Amel bersuara dengan tegas. "Kenapa lagi mah". Jawabnya malas.
" Tega kamu Murat memberi nama anakmu dengan nama mendiang istrimu.." Ny Amel protes karena didalam tadi dia tidak bisa mengungkapkan ketidak setujuannya.
" Memangnya kenapa? Hanna saja tidak protes". Dengan tidak tau malunya Murat menjawab. " Dia memang tidak bicara Murat, tapi kamu bisa lihat bagaimana wajah istrimu tadi!". Dengan lantang Ny Amel bersuara.
"Ck...mamah terlalu berlebihan". Acuhnya. " Bukannya mamah tidak suka padanya, kenapa mamah sekarang jadi cerewet". Sikap mamahnya membuat Murat bingung.
"Mamah memang tidak terlalu menyukai istrimu itu, tetapi mamah ini perempuan Murat, mamah mengerti apa yang dia rasakan!". Suara Ny. Amel sedikit meninggi karena kesal dengan tingkah anaknya.
"Ck.. Mamah, sudahlah tenang saja Hanna tidak akan protes, dia pasti mengerti". Suara Murat sedikit meremehkan obrolan mereka.
" Kamu keterlaluan Murat". Ny Amel tidak berhenti untuk memprotes anaknya. " Sudahlah mah, lagian kan ini putri kami, Hanya sebuah nama saja kenapa malah jadi ribut".
Ny Amel duduk menarik nafas "Huft.." dan duduk disebelah anaknya. " Baiklah mungkin untuk nama bisa kalian diskusikan lagi nanti, tetapi sebaiknya sekarang kamu pindahkan kamar istrimu ketempat yang lebih nyaman".
Kali ini Ny Amel mengingatkan anaknya. " Untuk apa? Kamar sekarang terlihat nyaman kok". menurut Murat kenapa harus pindah, lagian Hanna terlihat nyaman dan cocok dengan kamar itu.
" Murat istrimu butuh tempat yang lebih nyaman dan fasilitas yang lebih baik, dulu Zahra mendapatkan fasilitas yang terbaik, sekarang seharusnya juga Hanna mendapatkan itu".
"Mah Zahra dan Hanna dua wanita yang berbeda, mereka berasal dari kelas yang berbeda pula". Memang benar Zahra berasal dari keluarga berada seperti dirinya.
Sedangkan Hanna hanya berasal dari kalangan yang biasa. Murat pikir pasti Hanna tidak masalah dengan pelayanan yang biasa saja di Rumah sakit itu.
" Memangnya kenapa? Wanita yang baru melahirkan itu butuh perhatian ekstra Murat. Nyawanya dipertaruhkan untuk melahirkan putri kecilmu!".
Murat merasa tersentil dengan kalimat mamahnya barusan. Ada rasa sesak sedikit jika mengingat tadi dia tidak ada disana untuk menemani istrinya melahirkan. Tetapi Murat mencoba mengacuhkan perasaan itu.
" Sudahlah mah itu tidak perlu". Tegasnya kali ini dia tidak mau mendengarkan ibunya yang terlalu banyak mengaturnya.
" Kenapa? sekarang kamu jatuh miskin jadi tidak bisa memindahkan kamar istrimu keruangan VIP? Serang Ny. Amel yang mulai dongkol dengan kelakuan anaknya.
"Tidak, menurutku itu bukan sesuatu yang harus dipersoalkan mah". Heran Murat, kenapa sekarang mamahnya jadi membawa bawa masalah ekonomi keluarganya.
" Okey, kalau kamu tidak mampu biar mamah yang tanggung semua biayanya, asalkan dia pindah ke ruangan VIP!". Ny. Amel adalah wanita yang tegas, meskipun terkesan angkuh tetapi Ny. Amel tidak suka dengan ketidak adilan.
"Mah, daripada kita meributkan soal kamar lebih baik mamah tanya saja pada Hanna?" itu adalah saran yang bagus, karena Murat yakin istrinya tidak akan mau merepotkan siapa pun.
"Ngomong ngomong mamah pergi kesini apa papah mengetahuinya, jangan jangan sekarang papah sedang kebingungan mencari mamah" Murat mecoba mengalihkan pembicaraan yang tidak penting menurutnya.
" Mamah sudah menelepon papahmu, sebentar lagi dia akan sampai". Emosi Ny. Amel sedikit menurun. Memang hanya papahnya yang bisa menurunkan emosi mamanya.
" Oh iya, mamah lupa, tadi kamu kemana? kenapa kamu tidak menemani istrimu?" Ternyata Ny. Amel belum puas dengan jawaban anaknya tadi.
Murat memutar bola matanya malas. " Aku sudah bilang mah, ada pekerjaan yang tidak bisa aku tunda".
" Pekerjaan seperti apa yang dengan tega, meninggalkan istrinya sendiri berjuang antara hidup dan mati?". Ny. Amel tidak habis pikir dengan kelakuan anaknya. Kenapa putranya tega meninggalkan istrinya yang sedang hamil tua sendirian.
"Huft..mah..." Obrolan mereka terhenti karena terdengar suara langkah kaki tegas yang mendekat. Ternyata Tuan besar Ahmet Demir telah tiba bersama asisten pribadinya Mahmet.
Kini hawa dirumah sakit semakin dingin dan kaku. " Dimana menantuku?" Tuan Ahmet bertanya pada istrinya dan mengabaikan putranya. "Hanna didalam pah". Ny Amel menjawab dengan lembut.
Tuan Ahmet mengernyit dan melihat pintu ruangan Hanna cukup lama. "Ayo masuk pah" Ny Amel mengajak suaminya masuk dan mengacuhkan putranya.
Mau tidak mau Murat mengikuti dari belakang. Suara langkah kaki tegas mereka menggema diruang rawat Hanna. Hanna masih berbaring menghadap jendela dan air matanya sejak tadi tidak mau berhenti entah kenapa sulit sekali.
Dalam kesedihannya Hanna tidak menyadari suara langkah kaki yang mendekat. " Ini cucuku" Tuan Ahmet memecah keheningan.
Hanna yang menyadari suara Ayah mertuanya, segara menghapus air matanya dan berbalik. " Cantik sekali cucuku ini, mirip seperti mamahnya". Ny Amel menggangguk dan tersenyum.
Tuan Ahmet mendekati menantunya. " Apa kabarmu nak?" suaranya penuh ketegasan sekaligus hangat. "Hanna baik pah". Hanna tersenyum tulus kepada ayah mertuanya.
Tuan Ahmet membelai puncak kepala Hanna. " Kamu hebat nak, sudah melahirkan cucu cantik seperti itu, terima kasih". Pernyataan itu merupakan tamparan keras untuk Murat.
Sejak tadi tidak ada ucapan terima kasih atau pun semangat yang dia berikan untuk istrinya setelah berjuang melahirkan. Murat tertunduk malu dengan sikap ayahnya yang berbanding terbalik dengan sikapnya tadi terhadap istrinya.
Ny. Amel melirik anaknya yang tertunduk. Dirinya tersenyum tipis, dia bangga, secara tidak langsung suaminya mengajarkan putranya untuk menghargai wanita yang sudah melahirkan anaknya.
Mata Hanna berkaca kaca, sikap ayah mertuanya membuat dirinya merasa dihargai dan dicintai. Tuan Ahmet tersenyum. Dia memperhatikan setiap sudut ruangan yang Hanna tempati.
" kenapa menantuku mendapatkan kamar sekecil ini". Protesnya dalam hati. " Mahmet !". Asisten pribadi itu mendekat dengan sigap. " Pindahkan kamar menantuku ketempat yang lebih nyaman!".
"Baik tuan". Ny Amel melirik putranya lagi, dia merasa menang karena benar. " Ah tidak usah pah, disini sudah cukup nyaman untukku dan putriku". Hanna merasa tidak enak telah merepotkan ayah mertuanya.
"Tidak boleh, Menantu dari kelurga Demir harus mendapatkan fasilitas terbaik di Rumah sakit ini, kamu dan putrimu butuh kenyamanan nak," tegas sang tuan besar.
Sekali lagi sikap tuan Ahmet membuat Murat semakin malu sendiri karena sikapnya yang acuh terhadap istrinya.