NovelToon NovelToon
RATU UNTUK KELUARGA CHARTER

RATU UNTUK KELUARGA CHARTER

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cintapertama
Popularitas:515
Nilai: 5
Nama Author: Essa Amalia Khairina

Sophia lahir dari keluarga sederhana di pinggiran kota London. Hidupnya tak pernah berlebih, namun penuh kehangatan dari kedua orang tuanya. Hingga suatu hari, datang tawaran yang tampak seperti sebuah pertolongan—keluarga kaya raya, Mr. Rich Charter, menjanjikan masa depan dan kestabilan finansial bagi keluarganya. Namun di balik kebaikan itu, tersimpan jebakan yang tak terduga.

Tanpa sepengetahuan Sophia, orang tuanya diminta menandatangani sebuah dokumen yang mereka kira hanyalah kontrak kerja sama. Padahal, di balik lembaran kertas itu tersembunyi perjanjian gelap. Yakni, pernikahan antara Sophia dan putra tunggal keluarga Charter.

Hari ketika Sophia menandatangani kertas tersebut, hidup Sophia berubah selamanya. Ia bukan lagi gadis bebas yang bermimpi menjadi pelukis. Ia kini terikat pada seorang pria dingin dan penuh misteri, Bill Erthan Charter—pewaris tunggal yang menganggap pernikahan itu hanya permainan kekuasaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TANDA TANGAN KONTRAK

Margaret dan Thomas sudah menunggu sejak pagi. Mereka duduk di ruang tamu, sesekali melirik jam dinding yang berdetak pelan namun terasa begitu lambat. Margaret, dengan tangan terlipat di pangkuan, tampak gelisah—matanya terus menatap jendela, berharap setiap suara mobil yang melintas adalah tamu yang mereka nantikan.

Thomas, di sisi lain, berulang kali berdiri dan berjalan mondar-mandir di depan perapian yang hampir padam. “Sudah hampir pukul sembilan,” Gumamnya, nada suaranya mengandung campuran cemas dan tak sabar.

"Ayah, Ibu. Aku mohon bersabarlah." Tanggap Sophia dengan hati yang tak kalah menahan kesabaran.

"Awas saja kalau kau menipu kami!" Ungkap Margaret dengan nada setengah mengancam. "Kau tahu sendiri jika hidupmu selama ini hanya menumpang pada kami. Setidaknya kau bisa berbalas budi atas semua yang telah kami berikan sampai kau masih bisa hidup sampai sekarang!"

Sophia tertelan, bola matanya perlahan berkaca. Sementara, Thomas menatap istrinya sekilas, namun tidak berusaha menghentikan ucapannya. Ia hanya menghela napas panjang, sementara tangannya terlipat di dada.

“Aku… aku tidak menipu,” Ucap Sophia akhirnya, suaranya bergetar namun tegas. “Pria itu benar-benar akan datang pagi ini. Dia bilang sendiri kemarin—dia akan membeli semua lukisanku.”

Margaret mendengus sinis. “Baiklah... Dua ratus lima puluh ribu pound bukan jumlah kecil, Sophia!"

Sophia mengangguk pelan, menatap jam di dinding yang jarumnya kini tepat menunjuk pukul sembilan. Jantungnya berdetak cepat—antara gugup, cemas, dan harapan yang hampir menyesakkan dada.

Tiba-tiba, suara deru mesin mobil terdengar dari luar. Roda beradu dengan kerikil di pelataran rumah, menimbulkan gema halus yang langsung membuat suasana di ruang tamu menegang.

Margaret spontan menoleh ke jendela, matanya melebar tak percaya. Thomas berdiri tegak, langkahnya kaku namun penuh kewaspadaan. Sementara itu, Sophia hanya bisa terpaku di tempatnya, kedua tangannya menggenggam kuat ujung gaunnya.

Suara rem mobil berhenti tepat di depan teras. Dari balik tirai, tampak siluet mobil hitam mengilap—mewah dan berkelas, begitu asing di halaman rumah sederhana mereka.

Margaret menelan ludah. “Itu… dia?” Bisiknya tak yakin.

Sophia tak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan, menatap ke arah pintu yang kini mulai mengetuk dengan ketukan tegas dan berwibawa.

Pegangan tangan Thomas di kenop pintu sempat ragu sejenak sebelum akhirnya ia memutarnya. Daun pintu terbuka perlahan, menyingkap sosok pria berpenampilan rapi dengan mantel panjang berwarna gelap. Di sampingnya, seorang sopir berdiri menunggu dengan sikap sopan.

"Selamat pagi. Perkenalkan, saya Edward Rich Charter. Saya ingin bertemu dengan..."

"Sophia, Tuan,” Potong Sophia dengan nada lemBut namun penuh keyakinan. Matanya menatap lurus, meski kedua tangannya menggenggam ujung gaun lusuhnya erat-erat, menahan gugup yang hampir menelannya.

Edward menoleh, sedikit terkejut namun segera menampilkan senyum tipis. “Ah, rupanya Anda yang saya cari.” Suaranya menurun lembut, mengandung kehangatan yang membuat udara di ruangan itu berubah seketika. “Senang akhirnya bisa bertemu dalam keadaan yang lebih pantas.”

Margaret dan Thomas berdiri tak jauh di belakang, terpaku di tempat. Tatapan mereka beralih dari pria asing berpenampilan aristokrat itu ke putri mereka yang tampak kecil dan sederhana di hadapannya. Tak ada yang menyangka, pria dengan mobil hitam mengilap dan pakaian elegan itu datang benar-benar untuk Sophia.

Margaret kemudian refleks merapikan celemek di pinggangnya, berusaha menyembunyikan rasa kikuk yang mendadak menyerang. Sedangkan Thomas, yang biasanya tegas dan dingin, kini hanya bisa menelan ludah, menatap Edward dengan tatapan campuran antara kagum dan waspada.

"Silahkan masuk," Ucap Margaret. Suaranya terdengar setengah gugup, setengah berusaha ramah.

Edward menundukkan kepala sedikit, memberi hormat sopan, lalu melangkah masuk dengan langkah mantap. Sepatunya yang mengilap menimbulkan bunyi halus di lantai kayu tua, seolah setiap langkah membawa aroma kemewahan yang belum pernah menginjak rumah itu sebelumnya.

Margaret menutup pintu perlahan, lalu menoleh pada suaminya. “Thomas, bantu Tuan Charter duduk,” Katanya dengan nada tegang namun penuh sopan santun. Ia lalu melangkah ke arah meja kecil di sudut ruangan. “Saya akan menyiapkan teh.”

Namun Edward menggeleng halus. “Tidak perlu repot, Nyonya. Saya tak akan lama, hanya ingin melihat lukisan Nona Sophia dan..."

Mata Edward sejenak melirik ke arah Brian—tatapannya singkat, nyaris tak terlihat, namun cukup bagi salah satu asistennya itu untuk segera paham maksud tuannya. Gerakannya cepat namun tetap anggun. Dari balik mantel panjangnya, Brian mengeluarkan sebuah map kulit berwarna cokelat tua. Map itu tampak elegan, berkilau halus di bawah cahaya matahari yang menembus jendela ruang tamu.

Dengan langkah mantap, ia maju dan meletakkan map tersebut di atas meja kayu tua di hadapan mereka. Gerakannya rapi dan terukur, seperti seseorang yang sudah terbiasa menangani urusan penting dengan presisi sempurna.

Edward mengangguk ringan tanpa perlu bicara, membiarkan Brian menata map itu hingga posisinya sempurna—lurus, sejajar dengan tepi meja, seolah kesempurnaan kecil itu mencerminkan keseriusan isi di dalamnya.

“Dokumen kontraknya sudah siap, Tuan,” Ucap Brian dengan nada sopan, suaranya tenang namun terdengar berwibawa.

Thomas dan Margaret hanya bisa menatap, tak tahu harus berkata apa. Mereka belum pernah melihat pemandangan seperti ini—dua pria dengan penampilan elegan membawa aroma bisnis dan kemewahan yang begitu asing di rumah sederhana mereka.

Edward lalu memutar pandangannya ke arah Sophia, yang berdiri diam dengan tangan menggenggam erat gaunnya. Senyum tipis muncul di bibirnya. “Ini adalah kontrak pembelian karya Anda, Nona Sophia,” katanya pelan, namun tegas. “Saya ingin semuanya dilakukan secara resmi dan terhormat.”

Brian membuka map itu, memperlihatkan lembaran kertas tebal dengan kop perusahaan dan tanda tangan notaris di bagian bawah. Pena perak diletakkannya rapi di atas dokumen itu—sebuah undangan diam untuk memulai langkah besar dalam hidup gadis muda itu.

Sophia menatapnya tak percaya. Rasanya seperti mimpi—pagi yang ia pikir akan dipenuhi teguran kini berubah menjadi awal dari sesuatu yang besar.

"Ayo tunggu apalagi, Sophia?!" Lirih Margaret. "Cepat tanda tangan!"

"Dua ratus lima puluh ribu pound sterling!" Tambah Thomas di sisi lainnya, suaranya pelan namun penuh penekanan. "Tidak perlu kau baca-baca lagi, semua tulisan disana sudah sangat jelas!"

Dan di tengah ketegangan itu, Sophia perlahan mendekati meja. Matanya menatap pena, lalu map yang terbuka lebar di hadapannya—lembaran-lembaran kertas berisi baris-baris kalimat resmi, yang seolah menatap balik padanya, menuntut keputusan besar yang akan mengubah seluruh hidupnya.

Tangannya bergetar saat hendak meraih pena. Ia bisa merasakan degup jantungnya berdentum keras di dada, nyaris menyaingi detak jam dinding yang menggema di ruangan. Margaret berdiri di belakangnya, menatap dengan campuran cemas dan haru, sementara Thomas hanya diam kaku, tak mampu berkata apa-apa.

Edward memperhatikan gadis itu dengan pandangan lembut namun dalam. “Tidak perlu terburu-buru,” Katanya tenang. “Baca dulu, pahami setiap kata. Saya ingin Anda tahu, keputusan ini sepenuhnya milik Anda.”

"Tidak," Geleng Thomas cepat. "Sophia akan menandatanganinya sekarang juga. Bukan begitu, Sophia?"

Sophia mengangguk pelan, menarik napas panjang untuk menenangkan debar di dadanya. Ujung jarinya dingin, namun dalam tatapan matanya tersimpan tekad yang perlahan menguat. Ia tahu—satu tanda tangan ini akan menjadi garis pemisah antara masa lalu dan masa depannya.

Dengan gerakan hati-hati, ia meraih pena perak yang sejak tadi tergeletak di atas meja. Pancaran cahaya matahari dari jendela memantul di permukaannya, menambah kesan sakral pada momen itu. Sekilas, ia menatap Edward yang berdiri di seberangnya; pria itu mengangguk kecil, seolah memberi restu tanpa kata.

Sophia menunduk, menghembuskan napas terakhir yang menahan gugup, lalu pena itu mulai bergerak di atas lembaran kontrak. Suara gesekan halus antara ujung pena dan kertas terdengar jelas di tengah keheningan ruangan. Setiap goresan terasa berat, tapi juga pasti—huruf demi huruf dari namanya mengalir dalam tinta hitam yang tegas.

Begitu tanda tangannya selesai, Sophia menatap hasilnya lama. Namanya terpampang di sana, nyata dan hidup, menjadi saksi bahwa mimpi yang selama ini hanya ia bawa dalam diam kini benar-benar terwujud.

Edward tersenyum tipis, lalu menatap Brian yang segera melangkah maju menutup map itu dengan rapi. “Semuanya sudah sah,” Ujar Edward pelan, namun penuh wibawa.

Di saat itu juga, Brian yang berdiri di sisi kanan Edward kembali bergerak. Dengan gerakan tenang dan profesional, ia merogoh ke dalam saku dalam mantelnya, lalu mengeluarkan sebuah amplop putih tebal. Dari dalamnya, ia menarik selembar cek—kertas bernilai tinggi yang tampak begitu kontras di tengah suasana sederhana ruang tamu itu.

Tanpa banyak bicara, Brian meletakkan cek tersebut di atas meja, tepat di depan Sophia. Nilainya tertera jelas dengan tinta hitam tebal: tiga ratus ribu pound sterling—lebih besar dari jumlah yang dijanjikan sebelumnya.

Margaret menutup mulutnya spontan, nyaris terpekik. “T-tiga ratus ribu…?” Suaranya tercekat di tenggorokan, antara terkejut dan tak percaya. Sedangkan Thomas di sampingnya sampai melangkah maju setengah, menatap cek itu dengan mata membesar, seolah tak yakin penglihatannya sendiri.

Begitu juga dengan Sophia. "Tuan ini..."

"Sesuai janjiku kemarin," Sela Edward. "Les melukismu akan di mulai hari ini. Kau siap?"

“Sesuai janjiku kemarin,” Sela Edward sambil melirik jam tangannya sekilas. Nada suaranya tenang, tapi tegas dan tak memberi ruang untuk ragu. “Les melukismu akan dimulai hari ini. Kau siap, Sophia?”

Sophia sempat terdiam. Ucapannya itu terasa seperti sebuah langkah baru—bukan hanya sekadar latihan, tapi babak pertama dari kehidupan yang benar-benar berbeda. Ia menatap Edward yang kini berdiri di hadapannya, tegap dan percaya diri, dengan tatapan yang tajam namun tak mengintimidasi.

“Saya… siap, Tuan,” Jawab Sophia pelan, namun suaranya bergetar antara gugup dan antusias. Jemarinya saling menggenggam di depan dada, seolah mencoba menahan riuh debar di dadanya.

Edward tersenyum tipis, lalu mengangguk. “Bagus.” Ia menoleh pada Brian. “Supirku akan membantumu untuk mengemasi semua barang-barangmu."

"Ba-barang-barang?" Tanya Sophia heran.

"Les melukismu tidak akan selesai dalam satu hari, Sophia." Jelas Edward. "Manfaatkan kesempatan emas ini!"

****

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!