Aqilla Pramesti begitu putus asa dan merasa hidupnya sudah benar-benar hancur. Dikhianati dan diceraikan oleh suami yang ia temani dari nol, saat sang suami baru saja diangkat menjadi pegawai tetap di sebuah perusahaan besar. Ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Namun, takdir berkehendak lain, siapa sangka nyawanya diselamatkan oleh seorang pria yang sedang berjuang melawan penyakitnya dan ingin hidup lebih lama.
"Apa kamu tau seberapa besar perjuangan saya untuk tetap hidup, hah? Kalau kamu mau mati, nanti setelah kamu membalas dendam kepada mereka yang telah membuat hidup kamu menderita. Saya akan membantu kamu balas dendam. Saya punya harta yang melimpah, kamu bisa menggunakan harta saya untuk menghancurkan mereka, tapi sebagai imbalannya, berikan hidup kamu buat saya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni t, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
"Keano sakit?" tanya Aqilla, terkejut. "Ya Tuhan, di mana Keano sekarang, Sayang?"
"Keano ada di kamar, Bu," jawab Kaila seraya terisak. "Kenapa Ibu ke sininya nggak sama Ayah sih, Bu? Dari semalam dia manggil-manggil Ayah sama Ibu terus."
Radit yang masih berdiri di tempatnya seketika tertegun, menatap wajah anak dan ibu yang terlihat begitu tertekan bahkan sampai sakit karena memendam kerinduan kepada orang tuanya. Penampilan Kaila terlihat begitu mengenaskan dengan pakaian yang kebesaran dan rambut yang sedikit berantakan. Dalam sebuah perceraian, anak akan selalu menjadi korban. Salahnya, Aqilla sempat menyerah dengan hidupnya, meninggalkan kedua buah hatinya begitu saja tanpa memikirkan dampak yang akan diterima oleh anak yang sebenarnya tidak bersalah. Beruntung, ia akhirnya menyadari kesalahannya dan segera menjemput kedua buah hatinya itu.
"Sebaiknya kita bawa anak kamu ke Rumah Sakit, Aqilla," ucap Radit seraya mengusap pundak Aqilla dengan lembut.
Kaila mendongakkan kepala, menatap wajah Raditya dengan bingung. "Om ini siapa, Bu?"
Aqilla menyeka air mata yang membasahi kedua sisi wajahnya seraya berdiri tegak. "Kenalin, Kaila, beliau teman Ibu, namanya Om Radit," ucapnya dengan senyum paksa.
"Pacar baru Ibu?"
"Hah? Bu-bukan, Sayang. Om Radit ini cuma teman Ibu, bukan pacar."
Radit berjongkok tepat di depan Kaila seraya tersenyum kecil. "Apa kabar, Kaila cantik? Kenalin, Om teman dekat Ibu kamu," ucapnya seraya mengulurkan telapak tangan hendak bersalaman.
Akan tetapi, bukannya menerima uluran tangan Radit, yang dilakukan oleh anak berusia tujuh tahun itu adalah membuang muka ke arah samping dengan wajah sinis.
"Apa dia pacar baru Ibu? Kemarin Ibu memintaku dan Keano tinggal di sini, kenapa sekarang tiba-tiba dateng lagi bersama Om Radit? Jangan-jangan ..." batin Kaila, kembali menatap wajah sang ibu dengan kesal.
"Ibu jahat!" ujarnya, kedua matanya kembali berkaca-kaca.
Aqilla membelai rambut panjang Kaila dengan lembut dan menahan air mata. "Maafin Ibu, Sayang. Ibu benar-benar mohon maaf sama kamu dan Keano, Ibu janji gak akan pernah ninggalin kalian lagi," lirihnya penuh penyesalan. "Sekarang antar Ibu ke kamar adikmu, ya. Kita harus membawa adikmu ke Rumah Sakit."
Kaila menganggukkan kepala seraya menyeka kedua matanya yang berair.
***
Setibanya di kamar yang dihuni lebih dari lima orang dengan tiga buah ranjang bertingkat, Aqilla melangkah cepat menuju ranjang tempat di mana putranya berbaring. Air matanya kembali bergulir deras hingga membanjiri kedua sisi wajahnya saat melihat putra bungsunya berbaring lemah dengan separuh tubuh tertutup selimut tebal. Pelipis wajah sang putra nampak berkeringat, wajahnya pun benar-benar pucat.
"Ya Tuhan, Keano, Keano putra Ibu," lirih Aqilla berjongkok tepat di samping ranjang, seraya menangis sesenggukan. "Sayang, ini Ibu, Nak. Bangun, Sayang. Ibu minta maaf."
Keano perlahan membuka kedua mata, berkedip pelan, wajah sang ibu terlihat samar-samar bersama sang kakak juga pria asing yang berdiri tepat di belakangnya. Telapak tangan Keano perlahan bergerak lemah, mengusap kedua matanya dengan lembut, berharap tidak sedang berhalusinasi atau hanya sekedar bermimpi.
"I-ibu? Ini beneran Ibu, 'kan?" gumamnya dengan lemah dan bergetar.
Aqilla menganggukkan kepala seraya menahan isakan. "Iya, Sayang. Ini Ibu, maafin Ibu, Nak. Ibu benar-benar minta maaf karena udah ninggalin kamu di sini."
"Huaa ... Ibu!" jerit Keano, seketika bangkit dan duduk tegak seraya memeluk tubuh sang ibu. "Kenapa Ibu baru dateng sekarang? Huaaa ..."
Aqilla menangis sesenggukan, memeluk erat tubuh Keano, benar-benar dihujani penyesalan yang mendalam. Dadanya sesak, hatinya sakit luar biasa. Seharusnya ia tidak pernah meninggalkan kedua buah hatinya di sana. Apa yang akan terjadi jika ia benar-benar pergi dari dunia ini? Mungkin kedua buah hatinya itu akan menanggung derita di seumur hidup mereka.
"Ibu benar-benar mohon maaf, Keano. Seharusnya Ibu tak pernah meninggalkan kalian di sini. Ibu menyesal," lirih Aqilla lagi, seraya mengurai pelukan, membelai kedua sisi wajah Keano dengan lembut dan penuh kasih sayang.
Raditya yang berdiri tepat di belakang Aqilla tidak kuasa menahan kesedihannya, buliran bening seketika memenuhi kedua mata, hatinya terasa nyeri seolah turut merasakan kesedihan yang tengah dirasakan oleh anak bernama Keano. Pria itu menyeka kedua matanya yang berair lalu menyentuh pundak Aqilla dengan pelan.
"Aqilla, saya mau menemui Ibu panti dulu sebelum kita membawa Keano ke Rumah Sakit," ucapnya.
Aqilla sontak menoleh dan memandang wajah Radit seraya menganggukkan kepala lalu kembali memandang wajah sang putra.
"Kata kakakmu, kamu sakit, Sayang. Kita ke Rumah Sakit, ya," ucapnya seraya membelai kepala Keano dengan lembut.
"Ibu gak ke sini sama Ayah?"
"Nggak, Ibu gak ke sini sama Ayah," celetuk Kaila dengan sinis lalu duduk di tepi ranjang.
"Sayang, Ibu akan menjelaskan semuanya sama kalian, tapi nanti. Sekarang kamu harus ke Rumah Sakit dulu, Keano. Ibu gak mau kalau kamu sampai kenapa-napa, oke?" jawab Aqilla, seraya menggenggam telapak tangan Keano dengan erat dan hanya dijawab dengan anggukan oleh kedua anak itu.
***
Di Rumah Sakit, Keano segera mendapatkan pertolongan pertama dari petugas medis yang bertugas di Unit Gawat Darurat. Dari hasil pemeriksaan, anak itu didiagnosa menderita gejala tipes dan harus dirawat selama beberapa hari di Rumah Sakit tersebut. Tanpa diminta, Radit segera memesan kamar VVIP agar anak itu mendapatkan perawatan terbaik dan beristirahat dengan tenang tanpa ada gangguan dari pasien lain.
"Terima kasih, Pak Radit. Seharusnya tak perlu di ruangan VVIP segala, Keano bisa ko dirawat di kelas tiga aja," ucap Aqilla, sudah berada di ruangan rawat inap bersama Kaila dan juga Keano.
"Gak apa-apa, Aqilla. Kasihan kalau Keano harus dirawat di kelas tiga. Kamu gak usah mikirin biaya perawatan, semuanya saya yang nanggung," jawab Radit dengan senyum kecil, seraya menatap wajah Kaila dan adiknya yang tengah berbaring di atas ranjang. "Sekarang kamu ke ruang administrasi, ya. Ada beberapa dokumen yang harus kamu tanda tangani."
Aqilla menoleh dan menatap wajah Kaila dan Keano secara bergantian. "Kalian gak apa-apa 'kan Ibu tinggal sebentar?"
"Gak apa-apa, Qilla. Saya akan temani mereka di sini, kamu pergi aja," ujar Radit, masih dengan senyuman yang sama.
"Baiklah, Ibu pergi dulu, ya," pamit Aqilla dan hanya dijawab dengan anggukan oleh kedua putranya.
Wanita itu pun melangkah ke arah pintu lalu keluar dari dalam kamar, kembali menutup pintu dan hendak melangkah menuju ruang administrasi. Namun, langkahnya seketika terhenti saat melihat sepasang manusia yang tengah berjalan di koridor. Mereka terlihat mesra, bahkan saling bergandengan tangan layaknya sepasang pengantin baru.
"Mas Ilham," gumam Aqilla, sontak memundurkan langkahnya dengan kaki gemetar.
Bersambung ....