Revalina Celendia 20 tahun, sering di sapa Lina atau Reva, seorang pelayan kafe dan penjaga warnet. Tapi juga memiliki nama 'Recel' di dunia dunia siber.
Abhirama Notonegoro 27 tahun, pengacara junior yang terpaksalah menikah dengan pelayan kafe, yang baru di kenalnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eed Reniati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4. Abirama
"Kamu yakin, menemui undangan Carol?"
"Dia bilang, ini permintaan terakhir kalinya sebelum berangkat ke luar negeri, untuk lanjut S2, sekaligus permintaan maafnya." jawabku sambil melangkah keluar dari mobil bersama Rangga, temanku sekaligus rekan kerjaku satu kantor.
Jujur, aku sendiri tidak yakin dengan kelakuan Carol, makanya aku mengajak Rangga untuk menjaga sesuatu hal buruk terjadi. Entah kenapa aku punya firasat buruk dengan niatnya kali ini, mengingat dalam pertengkaran terakhir kami, aku sempat membentuknya karena menghina mamaku yang kampungan.
Carol sendiri tidak tahu siapa keluargaku, mamaku yang seorang dokter spesialis dan papaku yang seorang jendral TNI. Yang Carol tahu aku hanya seorang pengacara muda
Aku dan Carol pacaran dari jaman kuliah, dia 2 tingkat di bawahku. Hubungan kami putus nyambung, karena mama tidak suka dengannya dan aku juga tidak tahu alasannya.
Terakhir kali kami putus, karena dia membentak mamaku yang menegurnya, karena berpakaian terlalu seksi saat datang ke apartemenku, yang kebetulan bertemu dengan mama.
"Jika cuma makan malam terakhir, kenapa harus di hotel sih. Tidak di restoran, aja?"
"Aku sudah mengusulkan di restoran, tapi Carol menolaknya. Karena itu aku curiga, Carol punya niat tersembunyi, jadinya aku ngajak kamu."
Saat aku masih magang di kantor pengacara dan Carol masih kuliah, kami putus karena aku melihat Carol nonton berdua dengan lelaki lain. Setahun kemudian kami balikan, setelah dia menyakinkan aku kalau lelaki itu hanya temannya, tidak lebih.
Putus yang kedua, karena Rangga mengirim foto Carol sedang dugem, kami putus dan nyambung lagi setelah Carol berjanji tak akan dugem lagi.
Aku bukan pria baik, aku juga pernah masuk ke club malam dan icip-icip minuman di sana, tapi untuk menyelidiki kasus bukan untuk bersenang-senang seperti Carol.
Seburuk-buruknya aku, aku juga ingin cari pasangan yang baik, yang sayang dengan aku dan keluargaku, terutama mama, ratu di rumah yang tidak bisa di ganggu gugat atau di bantah oleh siapapun, karena bagi siapapun yang melawan mama akan langsung menghadapi papa.
"Sudah tahu itu cewek gak bener, kenapa juga masih kamu mau nemuin dia?"
"Dia.bilang, untuk terakhir kalinya. Lagian sekalian buat penyelidikan, kasus pelecehan."
"Maksudmu tentang satpam itu?"
"Iya, aku curiga dia tidak bersalah."
Beberapa hari yang lalu, aku hampir menabrak seorang pria berpakaian satpam, mungkin usianya sudah masuk akhir 60 tahun. Yang mengaku di pecat, karena di tuduh melecehkan seorang karyawan hotel. Padahal dia hanya menolong, karena melihat karyawan itu pingsan.
"Kamu masuk duluan, aku mau angkat telpon dedek gemes dulu" ucap Rangga membuatku mengangguk pelan dan masuk ke dalam lift duluan, meninggalkan Rangga yang langsung mengangkat telpon, pacarnya yang pencemburu berat.
Aku melangkah masuk ke tempat yang sudah di pesen oleh Carol, tempat makan dengan pemandangan indah, di rooftop. Kedatanganku di sambut hangat oleh Carol yang langsung memelukku, dan memberikan kecupan di kedua pipi dan bibirku sekilas.
"Langsung ke intinya saja ya, makan dan habis itu aku pergi."
"Tidak ingin ngobrol dulu, sebelum kita berpisah lama?"
"Bukannya kamu sendiri yang bilang hanya menemanimu makan malam terakhir, sebelum kamu berangkat ke luar negeri, ya. Sekaligus mau minta maaf, ya." ucapku sambil mengirim sherlock berjalan pada Rangga, sebelum ponsel aku masukan kembali ke dalam kantong celanaku.
"Kamu dari dulu selalu begitu, to the point. Tidak suka bertele-tele."
Aku hanya tersenyum tipis melihat Carol yang cemberut, bersamaan dengan kedatangan pelayan yang menyajikan makana.
"Kamu pesan semua ini?"
"Iya ayo di makan, apa mau minum dulu."
Aku hanya terdiam, mengamati aneka makanan yang di sajikan. Sebelum akhirnya aku memutuskan untuk meminum jus jeruk di depanku, sampai habis.
"Eh kok langsung di habiskan minumannya."
"Aku lagi haus, emang kenapa?" heranku, melihat wajah Carol yang aneh.
"Tidak, seharusnya makan dulu baru minum." ucapnya sambil tersenyum manis, yang terlihat seperti seringai di depanku.
"Kamu beri sesuatu di minumanku?" tanyaku, saat kepalaku mulai terasa pusing, tubuhku panas dan penglihatan seperti buram, serta sesuatu di bawah sana tiba-tiba mengeras.
"Aku hanya memberi sedikit obat kuat, supaya kamu jadi kuat malam ini dan bisa bermain dengan 2 perempuan sekaligus." seringainya sambil bertepuk tangan, hingga dua perempuan datang.
"Ingat, bikin video sehot mungkin, aku ingin nama baiknya hancur. Supaya dia dan mamanya yang sok alim, itu malu."
"Gila kamu, Carol!"
"Aku tidak akan gila, jika mamamu tidak memandang rendah aku. Apa dia tidak tahu, siapa aku ini. Aku itu Carolina Smith, anak Nichole Smith, manajer hotel yang tidak bisa seenaknya di bentak dan hina oleh orang biasa seperti kalian." tawanya, sambil pergi meninggalkanku.
Tubuhku terasa lemas saat dua perempuan itu memapahku dan membawaku keluar dari Rooftop yang di jadikan restoran.
Saat di depan lift dan menunggu lift terbuka, aku berusaha mengumpulkan tenaga. Begitu lift terbuka dan mereka memapahku masuk ke dalam lift, secepat mungkin aku berlari keluar dari lif setelah membuat 2 wanita itu terjatuh dan tidak bisa bangun, karena aku tendang kedua kaki mereka hingga membuat 2 perempuan bayaran itu kesakitan.
Aku berjalan sempoyongan dengan memegang kepalaku yang terasa sangat berat, dengan pandangan yang buram sampai aku melihat seorang wanita berjalan dengan lambat sibuk dengan ponselnya.
"Panas, tolong aku."
***
"Mama tidak mau tahu, kamu harus temui perempuan itu, kalau perlu nikahi dia!"
"Mah, disini aku yang terluka," kataku sambil menujuk keningku yang ada plester dan tanganku yang masih membekas gigitannya.
Jujur aku sangat berterima kasih, karena dengan begitu aku tidak sampai berbuat cabul. Aku tak bisa bayangkan, jika gadis itu tidak bisa membela diri, mungkin aku sekarang jadi terdakwa kasus pencabulan.
"Abirama! Kamu hanya luka fisik, tapi gadis itu bisa aja mengalami luka Psikis karena tindakanmu, semalam!"
"Apa yang di katakan mamamu benar, lebih baik kamu cari gadis itu dan minta maaf."
"Kalau perlu nikahi dia!" kata mama memotong ucapan papa, membuatku langsung melotot tidak setuju.
"Mah, aku akan cari untuk minta maaf, tapi tidak untuk menikah dengan dia yang masih sangat muda." tolakku sambil melihat selembar kertas biodata yang sudah papa dapatkan.
Setelah merasakan gigitan dan benturan di kepala aku tidak sadar apa yang terjadi. Aku terbangun sudah ada di rumah sakit, ditemani mama dan papa yang sudah mendapatkan video CCTV hotel plus data gadis menyelamatkan aku dengan cara ekstrim.
"Ya semoga saja orang tuanya tidak menuntutmu."
"Aku akan minta maaf secara baik-baik ma. Lagian jika ingin punya mantu, Naya yang harusnya mama suruh nikah bukan aku." ucapku membuat mama langsung berdiri.
"Mama tunggu kabarmu minta maaf, sekalian tuntut itu Carol Carol itu, mama tahu dari Rangga, kamu kesana karena undangannya."
"Iya ma."
"Papa akan bantu, jika kamu butuh bantuan untuk menuntut mereka." ucap papa dengan berdiri.
"Iya pa, tapi aku akan cari cara untuk membalas mereka."
terima kasih cerita bagusnya....
Sengaja nengokin Mas Juna, eeeh... saingannya udh gede ternyata.... 🤣🤣🤣
in