NovelToon NovelToon
Bayangan Penguasa

Bayangan Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi Isekai / Reinkarnasi
Popularitas:913
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Selama sepuluh tahun, Bumi diinvasi oleh monster dari "Gerbang Dimensi" (Gates). Han Do-Yoon adalah seorang Hunter Peringkat-F yang bertahan hidup sebagai kuli panggul di dalam Dungeon. Pada Hari Kiamat, saat "Dewa Luar" (Outer Gods) menghancurkan pertahanan terakhir umat manusia, Do-Yoon mengorbankan dirinya untuk melindungi artefak kuno.
​Alih-alih mati, ia terbangun sepuluh tahun di masa lalu—tepat di hari di mana sistem kebangkitan pertama kali turun ke Bumi. Namun kali ini, ia tidak membangkitkan kelas biasa. Ia mendapatkan kelas tersembunyi berperingkat Myth: Pewaris Ketiadaan. Dengan pengetahuan masa depan dan sistem absolut di tangannya, Do-Yoon bersumpah untuk mengubah nasib dunia dan membantai para Dewa yang mempermainkan umat manusia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Fajar Berdarah

​Sisa malam itu berlalu tanpa ada lagi gangguan.

​Setelah kembali ke atap, Yoo Ji-Ah duduk dalam diam selama berjam-jam. Ia membersihkan sisa darah yang menempel di sarung pedang barunya berulang kali, berusaha menghapus sensasi daging manusia yang terpotong oleh bilahnya dari ingatannya. Di pangkuannya, Ji-Hye masih tertidur pulas, sama sekali tidak menyadari kengerian yang baru saja dilakukan oleh kakak perempuannya.

​Di sisi lain atap, Han Do-Yoon berbaring dengan mata terpejam, namun kewaspadaannya tetap berada pada titik maksimal. Ia tidak benar-benar tidur. Kelas Pewaris Ketiadaan memberikannya kemampuan untuk memulihkan kelelahan mental hanya dengan bermeditasi dalam kegelapan.

​Waktu merayap perlahan hingga langit timur mulai memancarkan semburat cahaya kelabu kemerahan.

​Matahari pagi menyingsing di atas kota Seoul, namun alih-alih membawa kehangatan, sinar fajar itu justru menyingkap skala kehancuran yang sesungguhnya. Asap hitam masih mengepul dari puluhan gedung pencakar langit. Mayat-mayat berserakan di jalanan, dikerubungi oleh lalat dan burung gagak yang bermutasi.

​Tepat pukul 06:00 pagi, lonceng mekanis kembali berdentang di dalam kepala setiap penyintas yang masih hidup.

​[Fajar hari kedua telah tiba.]

[Penyesuaian Tahap Percobaan selesai. Seluruh perisai pelindung tak kasat mata pada zona aman sementara kini dihapuskan.]

[Misi Utama Kedua diberikan!]

​[Misi Utama: Pawai Kematian]

Tingkat Kesulitan: D ~ B

Keterangan: Aroma darah dari hari pertama telah menarik perhatian makhluk-makhluk buas yang kelaparan dari dimensi bawah. Gelombang monster akan menyapu seluruh jalanan kota dalam waktu satu jam.

Syarat Penyelesaian: Bertahan hidup selama 24 jam atau bunuh Pemimpin Gelombang di wilayah Anda.

Hadiah: 5.000 Koin Emas, Kotak Hadiah Acak (Peringkat Menengah).

Hukuman Kegagalan: Kematian.

​Membaca pemberitahuan tersebut, mata Ji-Ah membelalak. "Perisai pelindung zona aman... dihapuskan? Maksudnya gedung-gedung yang belum dimasukki monster kini bisa ditembus?"

​Do-Yoon bangkit berdiri dan meregangkan otot-ototnya hingga berbunyi gemeretak. Ia memandang ke bawah, ke arah jalanan yang perlahan mulai dipenuhi oleh siluet-siluet makhluk mengerikan yang bermunculan dari retakan-retakan dimensi berskala kecil.

​"Benar," jawab Do-Yoon datar. "Di hari pertama, Sistem masih berbaik hati memberikan waktu bagi manusia yang bersembunyi di dalam rumah atau ruangan tertutup. Tapi mulai hari ini, tidak ada lagi tempat bersembunyi. Monster-monster itu akan mendobrak pintu beton, memanjat dinding gedung, dan mengendus bau manusia dari jarak satu kilometer."

​Do-Yoon mengemas ransel perbekalannya, lalu memanggil pipa besi sisa pertarungan semalam dan membuangnya ke sudut atap. Ia tidak lagi membutuhkan senjata rongsokan.

​"Bangunkan adikmu. Kita harus segera bergerak sebelum jalanan benar-benar tertutup oleh gelombang monster," perintah Do-Yoon.

​Ji-Ah mengangguk cepat. Ia menepuk pipi adiknya dengan lembut. Ji-Hye terbangun sambil mengucek matanya yang sembap. Gadis kecil itu menatap sekeliling dengan kebingungan, namun saat melihat wajah tegas kakaknya dan sosok Do-Yoon yang berdiri menjulang, ia segera memeluk leher kakaknya tanpa banyak bertanya.

​Malam panjang yang penuh jeritan telah memaksa gadis berusia delapan tahun itu untuk memahami bahwa dunia sudah tidak sama lagi.

​"Ke mana tujuan kita hari ini?" tanya Ji-Ah seraya mengikatkan kain gendongan di punggungnya, memastikan adiknya aman, lalu menggenggam Pedang Panjang Besi Hitam miliknya.

​"Museum Nasional Korea," jawab Do-Yoon singkat.

​"Museum? Untuk apa kita ke sana di tengah kiamat seperti ini?"

​"Di dalam fasilitas bawah tanah museum itu, terdapat sebuah artefak kuno yang baru saja tersinkronisasi dengan energi Sistem. Sebuah Pusaka Tersembunyi (Hidden Piece)," jelas Do-Yoon sambil melangkah menuju pintu atap. "Sebelum serikat-serikat besar dari dunia masa depan mulai terbentuk dan mengklaim wilayah tersebut, aku harus mengambilnya lebih dulu. Artefak itu adalah kunci penting untuk rencana jangka panjangku."

​Di kehidupan sebelumnya, artefak di Museum Nasional itu ditemukan secara tidak sengaja oleh seorang Pemburu beruntung pada tahun kedua kiamat. Pemburu itu seketika melesat menjadi salah satu dari Sepuluh Penguasa Korea berkat artefak tersebut.

​Do-Yoon tidak akan membiarkan barang seberharga itu jatuh ke tangan orang lain di kehidupan ini.

​Mereka menuruni tangga darurat dalam diam. Saat melewati lantai dua, tidak ada suara apa pun dari ruang staf. Para penyintas yang mereka tinggalkan semalam entah masih bersembunyi atau sudah melarikan diri saat melihat mayat para preman. Do-Yoon sama sekali tidak peduli.

​Ketika mereka mendobrak pintu belakang pasar swalayan dan melangkah keluar ke jalan setapak, udara pagi terasa sangat mencekam. Kabut tipis berwarna kemerahan menyelimuti aspal.

​GRRR... GRRRR...

​Suara geraman rendah yang menggetarkan dada terdengar dari balik kabut. Dari arah jalan raya utama, tiga ekor makhluk berbulu perak melangkah keluar secara perlahan, menghalangi jalur mereka.

​Makhluk itu menyerupai serigala, namun ukurannya sebesar mobil van kecil. Bulu mereka tegak berdiri menyerupai jarum-jarum baja, dan air liur menetes dari taring mereka yang berkilau layaknya pedang tajam.

​[Peringatan! Anda berpapasan dengan Serigala Besi (Tingkat E+)!]

​Ji-Ah mundur selangkah secara naluriah. Ini adalah pertama kalinya ia melihat monster tipe buas dengan kelincahan tinggi di dunia nyata. Berbeda dengan Iblis Kerdil atau Orc yang mengandalkan senjata tumpul dan gerakan kasar, Serigala Besi adalah predator murni.

​"Mereka cepat. Dan bulu baja mereka bisa menahan tebasan pedang biasa," ucap Do-Yoon dengan tenang, seolah ia sedang memberikan kuliah anatomi monster. "Ji-Ah, aku akan mengambil yang di tengah. Dua di samping adalah milikmu."

​"D-dua?!" Ji-Ah menelan ludah.

​Namun, sebelum gadis itu sempat memprotes, Do-Yoon sudah melesat maju. Tidak ada lagi keahlian pergerakan sihir yang digunakannya. Murni mengandalkan Atribut Kelincahannya yang telah menembus angka 30, ia meluncur menembus jarak lima puluh meter hanya dalam dua kedipan mata.

​Mata Serigala Besi yang berada di tengah terbelalak. Insting hewannya menjeritkan bahaya kematian. Makhluk itu membuka rahangnya lebar-lebar, berniat menggigit leher Do-Yoon.

​"Konyol," cibir Do-Yoon dingin.

​Di tengah pelariannya, Do-Yoon merentangkan tangan kanannya. Energi bayangan meledak dari telapak tangannya, memadat menjadi sebilah Bilah Penebas Malam. Garis perak dari batu asah ajaib di ujung bilah itu berkilau mematikan di bawah sinar mentari pagi.

​WUSSH! CRAT!

​Dalam satu tebasan menyilang yang tidak memiliki celah, kepala Serigala Besi itu terputus dari tubuhnya bahkan sebelum makhluk itu bisa menutup rahangnya. Darah menyembur deras. Efek Penembus Zirah absolut membuat bulu baja sang monster tidak lebih tebal dari selembar kertas basah di hadapan pedang Do-Yoon.

​[Anda telah membunuh Serigala Besi.]

[Anda mendapatkan 80 Poin Pengalaman.]

​Melihat pemimpin mereka dibantai dalam satu serangan, dua Serigala Besi yang tersisa melolong marah. Bukannya menyerang Do-Yoon yang jelas-jelas mengerikan, insting predator mereka mengincar target yang terlihat lebih lemah—Yoo Ji-Ah dan anak kecil di punggungnya.

​Keduanya menerjang secara bersamaan dari sisi kiri dan kanan, mencoba mengapit Ji-Ah.

​"Jangan panik, Yoo Ji-Ah! Ingat aliran napasmu saat kau menggunakan pedang kayumu!" teriak Do-Yoon dari kejauhan, menolak untuk campur tangan.

​Ji-Ah mengertakkan gigi. Keringat dingin mengalir di pelipisnya. Ia tidak boleh mundur. Ia telah membunuh manusia semalam; makhluk buas ini seharusnya tidak membuatnya gentar.

​Energi sihir berwarna hijau merembes keluar dari tubuhnya, mengalir ke dalam bilah Pedang Panjang Besi Hitam.

​"Keahlian: Langkah Angin!"

​SYUUT!

​Tubuh Ji-Ah melesat seringan kapas, menghindari terkaman Serigala Besi pertama dengan bergeser tipis ke samping. Di saat yang sama, ia mengayunkan pedangnya dari bawah ke atas.

​TRANG!

​Bilah besinya berbenturan dengan bulu baja di perut sang monster, menghasilkan percikan bunga api. Pedang itu tidak membelah tubuh serigala tersebut hingga putus karena kerasnya pertahanan mereka, namun energi angin yang menyelimuti bilahnya berhasil merobek kulit dan menumpahkan usus makhluk itu ke aspal.

​Serigala pertama melolong kesakitan dan terkapar sekarat.

​Namun, Serigala Besi kedua telah berada tepat di belakang Ji-Ah, cakar besinya terangkat tinggi siap mencabik punggung Ji-Hye.

​"Tidaaak!" jerit Ji-Ah memutar tubuhnya dengan paksa. Ia tidak sempat menarik pedangnya untuk menangkis.

​Dalam kepanikan absolut, Ji-Ah menyalurkan seluruh energi sihirnya ke telapak tangan kirinya yang kosong dan memukulkannya ke arah wajah serigala itu, berniat menukar nyawanya sendiri demi melindungi adiknya.

​BAM!

​Sesuatu yang luar biasa terjadi. Semburan angin puting beliung mini meledak dari telapak tangan kiri Ji-Ah, menghantam wajah Serigala Besi itu dengan kekuatan yang setara dengan tembakan meriam udara.

​Monster itu terpental sejauh sepuluh meter, berguling-guling di atas aspal dengan tulang hidung dan tengkorak depan yang hancur berantakan.

​[Dalam keadaan terdesak, pemahaman Anda terhadap elemen angin meningkat!]

[Anda berhasil membangkitkan Keahlian Aktif baru: 'Pukulan Badai' (Tingkat Rendah).]

[Anda telah mengalahkan Serigala Besi x2.]

[Tingkat Anda telah naik!]

​Ji-Ah berdiri terengah-engah, menatap telapak kirinya sendiri dengan rasa tidak percaya. Ia baru saja menciptakan keahlian baru tanpa buku panduan dari Sistem.

​Dari ujung jalan, tepuk tangan pelan terdengar lambat. Do-Yoon berjalan menghampirinya, pedang bayangannya telah ia bubarkan kembali ke dalam kehampaan. Senyum tipis yang tulus kembali menghiasi wajahnya.

​"Insting yang bagus," puji Do-Yoon. "Itu adalah tanda bahwa kau sudah mulai menyatu dengan Kelas Pahlawanmu. Sistem hanya memberikan dasar; Pembangkit sejati menciptakan keahlian mereka sendiri dari pengalaman hidup dan mati."

​[Rasi Bintang 'Perawan Pedang Suci' meneteskan air mata kebanggaan! Ia menyumbangkan 500 Koin Emas kepada inkarnasi favoritnya!]

[Rasi Bintang 'Penguasa Angin Utara' memuji bakat adaptasi gadis itu.]

​"Terima kasih," napas Ji-Ah masih memburu, namun ada senyum lega di wajahnya. Adik di punggungnya baik-baik saja. Itulah yang terpenting.

​"Jangan buang waktu," ucap Do-Yoon seraya menginjak mayat Serigala Besi di dekatnya. "Gunakan penyerapan bayangan? Tidak, keahlianku tidak akan mendapatkan hal berguna dari sampah tingkat E ini."

​Bumi tiba-tiba bergetar pelan. Suara gemuruh langkah kaki yang berlipat ganda terdengar dari segala arah. Lolongan Serigala Besi, raungan Orc, dan jeritan Goblin saling bersahutan, menyatu menjadi gelombang suara yang menggetarkan gendang telinga.

​Dari jalan-jalan simpang di depan mereka, lautan makhluk buas mulai terlihat mengalir keluar bagaikan air bah. Puluhan... tidak, ratusan monster dari berbagai jenis tumpah ke jalan raya.

​Pawai Kematian telah tiba lebih cepat dari perkiraan.

​Mata Do-Yoon menyipit, mengevaluasi jumlah musuh yang menghalangi jalan menuju museum. Ratusan monster. Jika ia menerjang langsung, ia mungkin bisa memusnahkan mereka, tetapi membuang energi di awal hari adalah tindakan yang bodoh, terutama karena ia harus menjaga Ji-Ah tetap hidup.

​"Kita tidak akan bertarung di ruang terbuka," putus Do-Yoon cepat. Ia menunjuk ke arah celah gelap sebuah stasiun kereta bawah tanah tak jauh di sebelah kiri mereka. "Kita potong kompas melalui terowongan bawah tanah. Rel kereta itu mengarah langsung ke Stasiun Ichon, tepat di bawah Museum Nasional."

​Ji-Ah mengangguk tanpa membantah. "Ayo pergi!"

​Mereka berlari membelah jalanan, menerobos masuk ke dalam pintu masuk stasiun kereta bawah tanah tepat sebelum barisan depan gelombang monster menyapu persimpangan tersebut.

​Namun, saat kegelapan terowongan menelan mereka, Do-Yoon menghentikan langkahnya. Insting dari Mata Kehampaan-nya berdenyut nyeri. Kegelapan di dalam stasiun ini berbeda. Ini bukan sekadar karena ketiadaan cahaya matahari.

​Ada aura kematian yang sangat pekat menggenang di udara, bau busuk mayat yang telah lama membusuk memenuhi hidung mereka.

​[Anda telah memasuki Wilayah Sarang Bawah Tanah.]

[Peringatan! Mata-mata dari kegelapan sedang mengawasi Anda.]

​Sebuah suara kekehan serak dan melengking bergema dari kedalaman terowongan, membuat bulu kuduk Ji-Ah berdiri tegak.

​"Sepertinya," gumam Do-Yoon, matanya berubah menjadi sekelam lubang hitam, "rute pintas kita sudah ada yang memiliki."

1
Alia Chans
Hadir kak 💪


jangan lupa hadir juga 😉
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!