Sejak ribuan tahun lalu, dunia telah diatur oleh sang Dewi Takdir. Namun sang Dewi harus mengorbankan kehidupannya yang pada saat itu tengah terjadi perang di alam dewa, antara kubu dewa dewi dengan kubu iblis.
Namun, pengorbanannya itu tidak bertahan lama, sang Dewi harus melakukan reinkarnasi untuk kembali menyeimbangkan dunia.
Akankah sang Dewi Takdir mampu kembali menyatukan takdir yang telah dijaganya beribu tahun yang lalu?
ikuti kisahnya dalam bab berikut ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShinZa_17, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Kaisar Qin Lun masih menggendong putrinya dengan penuh kebanggaan. Senyum harunya tak pernah lepas dari wajahnya. Bahkan Permaisuri Mei Lin menatap putrinya dengan lembut walaupun dimatanya terlihat berkaca-kaca, seolah semua rasa sakit telah terbayar lunas dengan kelahiran sang putri.
Namun, di malam yang kembali tenang ini, suara petir kembali terdengar. Kali ini jauh lebih kuat, bahkan dinding istana pun ikut berderak.
Sedangkan di luar kediaman, para penjaga langsung menjauhi kediaman dan mencari tempat yang aman. Karena langit malam dipenuhi dengan cahaya kilat yang saling bersahutan. Dari salah satu petir itu ada yang menghantam atap kediaman permaisuri dengan begitu kuat.
"BRAAAAK!"
Suara kilat terdengar begitu nyaring, tetapi kilatan itu tidak menghancurkan kediaman, justru dari kilatan cahaya itu menyebar ke seluruh ruangan menjadi cahaya murni keemasan.
Semua orang yang berada di kediaman langsung menutup mata karena silau, begitu juga dengan kaisar dan permaisuri.
Cahaya itu terus menjadi lebih terang, hingga dari sekian banyak cahaya yang menyilaukan, terdapat sekumpulan inti cahaya yang mengelilingi ruangan dan berputar menuju bayi Ling Xi.
Perlahan, cahaya itu masuk ke dalam tubuh bayi Ling Xi dan menghangatkan tubuh mungilnya. Tak lama kemudian, muncullah semburat tanda di tangannya berbentuk bintang dan bulan sabit.
Awal tanda itu muncul, terasa panas di tangannya, kemudian perlahan menjadi dingin.
Alika yang berada di tubuh bayi Ling Xi pun bergumam dalam hati, "Aduhh, kenapa panas sekali sih... aku gak kuat sama panasnya... tapi, loh sekarang kenapa terasa dingin sekali... ini terlalu mendadak berganti... ya ampun dingin sekali, aku gak kuat banget..."
Berselang setengah dupa kecil, cahaya di kediaman permaisuri perlahan meredup, dan berganti dengan suara tangisan bayi Ling Xi.
"Uaaa... uaaa... uaaa!"
Tangisan itu begitu kuat. Bahkan semua orang yang baru saja membuka matanya, langsung beralih menatap bayi Ling Xi.
"Ada apa sayang? Kenapa tiba-tiba menangis?" ucap permaisuri dengan lembut.
"Permaisuri, sepertinya bayi Ling Xi mulai lapar. Kalau begitu, kami semua izin pergi, karena tugas kami telah selesai," jawab sang tabib.
Permaisuri pun menolehkan wajahnya, dan menatap sang tabib. "Sepertinya begitu. Kalian semua telah bekerja dengan baik dan menjalankan tugas dengan sempurna. Kelahiran Putri Ling Xi berjalan dengan lancar."
"Nanti kaisar akan memberikan hadiah untuk kalian semua," lanjutnya.
"Terima kasih, Permaisuri. Kami mohon pamit Yang Mulia Kaisar, Permaisuri," jawab tabib.
Mereka semua pun pergi. Bersamaan dengan itu, suara petir pun hilang di kegelapan malam, meninggalkan bulan yang pucat.
Kini hanya tinggal permaisuri, kaisar dan bayi Ling Xi yang berada di kediaman Phoenix.
Kaisar pun segera menyerahkan bayi Ling Xi pada permaisurinya untuk disusui.
Sedangkan bayi Ling Xi, yang jiwanya telah terganti dengan jiwa orang dewasa, yaitu Alika Fuji, rasanya ingin menjerit, tetapi yang dapat dilakukan oleh Alika hanya bisa menangis. Sedangkan permaisuri yang melihat itu, langsung tersenyum dan berkata, "Sepertinya kamu lapar sekali, ya."
Setelah itu, Permaisuri Mei Lin pun mengeluarkan buah persiknya dan mengarahkannya ke mulut sang bayi.
Sedangkan bayi Ling Xi yang berjiwa Alika, seorang jenderal militer di dunia modern, hanya bisa menahan malu.
Bahkan dari pipinya mulai terlihat jelas semburat merah, merah merona karena malu.
Permaisuri yang melihat pipi sang bayi memerah, langsung tertawa, karena ia berpikir bahwa bayinya itu sangat lapar.
Setelah kurang lebih satu dupa kecil, bayi Ling Xi pun akhirnya tertidur. Permaisuri langsung melepaskan buah persiknya dari mulut bayi Ling Xi dan menyerahkan bayi nya kepada Kaisar untuk dipindahkan ke ranjang khusus.
Kaisar Qin Lun mengangkat bayi Ling Xi dengan penuh hati-hati, seolah ia seperti sedang memegang emas yang sangat berharga.
Tatapannya penuh dengan kelembutan sekaligus kewibawaan bercampur menjadi satu. Ia berjalan perlahan menuju ranjang bayi yang terbuat dari kayu cendana merah, yang diukir dengan motif naga dan phoenix yang melambangkan kewibawaan dan keberuntungan.
Tetapi, ketika Kaisar meletakkan putrinya di ranjang, tiba-tiba cahaya samar muncul dari tangan sang putri.
Kaisar yang penasaran pun langsung mengangkat lengan baju bayi Ling Xi dengan perlahan, karena takut bayi Ling Xi akan terbangun.
Dan ketika membukanya, kaisar sangat terkejut karena mendapati di lengan sang putri terdapat simbol berbentuk bintang dan bulan sabit.
Karena sewaktu ia belum menikah, ia pernah mendengar sesuatu dari peramal yang pada saat itu tengah berbincang dengan Kaisar terdahulu atau ayah Kaisar Qin Lun.
"Yang Mulia Kaisar, saya ingin memberitahu Anda sesuatu, karena dulu pernah ada peperangan di alam dewa antara dewa-dewi dengan suku iblis. Untuk menutup gerbang kegelapan itu, dewi takdir harus mengorbankan dirinya, dan dirinya akan bereinkarnasi menjadi seorang manusia diantara lautan manusia. Selain itu, untuk mengetahui reinkarnasi dewi takdir itu akan muncul sebuah tanda di tangannya."
Kaisar pun langsung kembali ke kesadarannya ketika mendengar suara permaisuri.
"Yang Mulia," ucap Permaisuri Mei Lin yang mengejutkan Kaisar Qin Lun.
"Kenapa lama sekali, apakah bayi Ling Xi terbangun?"
Kaisar pun menoleh pada sang permaisuri dengan sambil tersenyum ia berkata, "Tidak, sayang. Aku hanya mengamati bayi kita, wajahnya perpaduan dari kita berdua."
Sang permaisuri yang mendengar itu pun tersenyum kecil.
Kaisar pun mendekati permaisuri setelah memastikan bayi Ling Xi tidur nyenyak.
Mereka pun berbaring di ranjang, dengan sang Kaisar mendekap dengan lembut permaisuri.
Sedangkan Kaisar, ia belum tidur karena masih terkejut dengan apa yang terjadi.
"Putriku, siapapun dirimu, ayah akan selalu menyayangimu," gumamnya dalam hati.
Setelah itu, barulah Kaisar Qin Lun menyusul permaisurinya yang sudah tertidur pulas.
🍃
🍃
Di saat semua orang sudah tertidur, di luar kediaman, justru suasana terasa mencekam. Awan gelap masih berputar di langit disertai dengan suara petir yang saling bersahutan. Namun, kali ini suara petir tidak seperti sebelumnya.
Sedangkan di sebuah kuil kuno, yang terletak di kaki gunung, para biksu yang menjaga kitab leluhur, mendadak membuka matanya dari meditasi panjang. Mereka merasakan getaran yang tak biasa.
"Cahaya keemasan itu... akhirnya muncul kembali," ucap salah satu biksu tua dengan suara yang parau. "Dewi Takdir telah kembali ke dunia fana ini dan pertempuran melawan iblis akan terjadi kembali."
Mereka pun segera menyalakan dupa, lalu berlutut menghadap ke arah timur, tempat di mana istana kekaisaran berdiri.
Do'a-do'a segera mereka panjatkan dengan bercampur suara lonceng besar yang berdentang tiga kali, tanda bahwa sesuatu telah berubah dalam keseimbangan dunia.
Dan di saat yang sama, bayi Ling Xi terbangun dari tidurnya, seolah mendengar do'a-do'a yang sedang dipanjatkan sambil tersenyum samar.
Namun, dalam hatinya, Alika bergumam dengan getir, "Apa pun yang menantiku di masa depan, aku tidak boleh kalah..."
Maaf karena lambat update, karena author sedang dalam keadaan sibuk
Jangan lupa, sehabis baca tinggalkan jejak, like, komen, subscribe, gift or vote.
Terima kasih...
Salam hangat dari author