NovelToon NovelToon
Istri Pajangan

Istri Pajangan

Status: tamat
Genre:Romantis / Misteri / Patahhati / Poligami / Tamat
Popularitas:3.6M
Nilai: 4.8
Nama Author: Asih sunkar

Aku bukan pelakor! Aku hanya lah orang ketiga dalam hubungan kakaku dan calon suaminya.... lah bagaimana mana bisa?

Bagaimana jika suami mu dan suami kakak mu adalah orang yang sama?

Ini adalah kisah ku. Aku-Kania, Adam dan Najira, yang bukan lain adalah kakak tiri ku, terikat dalam satu hubungan yang bernama tali pernikahan.

Jika kalian tanya siapa istri pertamanya mas Adam. Aku, aku istri pertamanya. Tapi siapa wanita yang di cintanya, iya, Najira.

Aku tau betul kalau hati mu hanya milik Najira seorang. Tapi, aku juga istri mu. Tidak kah kau memikirkan perasaanku walau sedikit?

Jangan lupakan Chandra, Pria adi kuasa yang memegang tali merah di kehidupan Kania.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asih sunkar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4. Apa Dia Dalang nya?

Langkah Kak Jira terdengar berat dan tergesa di atas jalanan beraspal. Napasnya memburu, matanya sembab, dan air matanya belum juga berhenti mengalir.

Tujuannya hanya satu — rumah Mas Adam.

Rumah itu berdiri megah di ujung jalan kompleks, sedikit terpisah dari rumah-rumah lainnya. Walau Mas Adam hanya seorang guru honor, tapi ia tinggal di rumah sendiri — kecil tapi rapi, hasil jerih payahnya sendiri, begitu katanya dulu. Kini, rumah itu terasa seperti sarang kebohongan.

Kak Jira berhenti di depan pintu besar itu. Tangannya bergetar, tapi tanpa ragu ia mulai menggedor pintu.

Keras. Cepat. Penuh emosi.

Dug! Dug! Dug!

“Adam! Adaaaam! Hiks… buka pintunya, Adam!”

Suara teriakannya pecah di udara, serak, nyaris histeris.

Pintu itu bergeming.

Ia memukul lagi — kali ini lebih keras, hingga telapak tangannya memerah.

Air matanya menetes satu per satu, jatuh di antara celah ubin teras yang dingin.

Hingga akhirnya...

Klik!

Pintu terbuka.

Seorang pria muncul dari baliknya — Mas Adam, dengan rambut masih basah dan handuk melingkar di leher. Ia tampak terkejut melihat sosok yang berdiri di hadapannya.

“Jira? Kamu kenapa, baby? Kok nangis?” Suaranya lembut, tapi datar. Ia berusaha menyentuh wajah Jira, tapi tangannya segera ditepis kasar.

Plaaak!

“Lepaskan tanganmu, berengsek!” bentak Kak Jira, dorongan kuatnya membuat dada bidang pria itu sedikit terguncang.

Mas Adam mematung. Wajahnya kaget. Belum pernah sebelumnya Najira memanggilnya dengan nada sekeras itu.

“Jira, kamu kenapa? Ayo kita bicara di dalam—”

“Jangan sentuh aku!” seru Kak Jira.

Suaranya pecah.

Matanya berkilat penuh amarah dan luka.

“Apa yang kamu lakukan, hah?! Apa yang kamu lakukan sama Kania!”

Tangannya mengepal, memukul dada Mas Adam bertubi-tubi.

JEDARR!

Pukulan terakhir membuat Mas Adam terdiam.

Tubuhnya kaku. Wajahnya pucat. Napasnya terhenti sejenak.

Kalimat itu...

Kata “Kania” yang keluar dari mulut Najira seperti petir di siang bolong.

Jantungnya seolah berhenti berdetak.

Ia terpaku.

Kepalanya berdenyut.

Pikirannya berputar-putar, mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi.

Apa Kania bilang semuanya pada Najira?

Jadi benar… dia ingin menghancurkan aku…

Di dalam kepalanya, suara Mas Adam bergema seperti racun.

Ia mencoba menenangkan diri, tapi yang muncul justru amarah dan tuduhan yang menyesatkan.

Dasar perempuan murahan, Kania. Kau menjebakku, lalu menyalahkanku.

Namun, di balik tuduhan itu, ada ketakutan lain —

ketakutan bahwa, kebenaran malam itu, akhirnya terbuka.

“Lihat ini, Adam!” suara Kak Jira bergetar. Ia mengeluarkan ponsel dari tas merahnya, membuka sebuah video, lalu menyorotkan layarnya tepat ke wajah Mas Adam.

Mas Adam menatap layar itu.

Detik berikutnya, tubuhnya seperti membeku.

Di layar ponsel itu… wajahnya sendiri.

Dan wajah Kania.

Suara desahan. Gerakan. Malam yang seharusnya tak pernah terjadi.

Wajah Mas Adam memucat seketika. Bibirnya bergetar.

“Ji… Jira, biar aku jelaskan dulu, ya. Tolong tenang, sayang,” ujarnya terbata-bata.

“Kenapaa, Adam?! KENAPA HARUS DIA!”

Teriakan Kak Jira mengguncang udara. Ia membanting ponsel itu ke lantai hingga layar pecah berderak.

Mas Adam hanya terdiam.

Pandangannya kosong. Napasnya berat.

Ia seperti kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri.

Kak Jira memegang dadanya, menahan sesak. Pandangannya berkunang. Suara di sekelilingnya mulai hilang.

Sebelum siapa pun sempat menahan — tubuhnya ambruk.

“JIRA!”

Mas Adam segera menubruk tubuh kekasihnya yang jatuh.

“Jira! Najira! Bangun, baby! Tolong jangan begini!”

Ia menepuk pipi Jira pelan, panik.

Tanpa pikir panjang, ia menggendong tubuh kak Jira yang lemas, membawanya masuk ke rumah, menidurkannya di sofa, lalu berlari ke kamar mengambil kunci mobil.

Langkahnya terburu. Nafasnya berat.

Dalam hitungan menit, suara mesin mobil meraung menembus jalanan siang itu.

---

Beberapa Jam Kemudian – Rumah Sakit Husada

Cahaya putih memenuhi ruangan itu.

Bau obat, desis mesin infus, dan ketegangan yang tak kasat mata.

Di atas ranjang, Kak Jira terbaring lemah. Kelopak matanya bergerak pelan sebelum akhirnya terbuka. Tatapannya kosong — seolah separuh jiwanya tertinggal di kejadian tadi.

“Jira… kamu udah sadar?” suara lembut itu milik Mama Adam, Yuni. Ia menggenggam tangan Najira erat, menatap dengan mata yang penuh kekhawatiran.

“Ma… Mama,” ucap Jira lirih. Napasnya berat, tubuhnya lemah.

Kamar itu penuh orang.

Ayah dan Ibu Kania berdiri di sisi ranjang, begitu juga kedua orang tua Mas Adam. Kania berdiri di ujung, tubuhnya kaku, wajahnya pucat pasi.

“Sayang, kamu kenapa bisa pingsan begini?” tanya Ayah, langkahnya pelan mendekati tempat tidur.

Kak Jira tak menjawab. Ia menutup mata, menarik napas panjang, menahan sesuatu yang bergolak di dadanya.

Pintu kembali terbuka. Mas Adam masuk, masih dengan wajah tegang.

“Jira, kamu udah mendingan?” tanyanya, berusaha mengelus kepala kekasihnya.

Tapi Kak Jira memalingkan wajah.

Dingin.

Tanpa satu kata pun.

Keheningan menggantung.

Semua orang saling berpandangan.

Ada sesuatu yang salah — sangat salah.

Papa Mas Adam, Rahardian, melangkah maju. “Dam, kalian bertengkar? Jangan-jangan kamu mukul Najira? Kamu yang bikin Najira pingsan?” suaranya meninggi.

Mas Adam mengerutkan dahi. “Papa! Aku gak mungkin mukul Jira! Aku bukan orang gila!”

“Lalu kenapa dia bisa begini?” sergah ayahnya.

Mas Adam terdiam. Bibirnya bergerak, tapi suaranya lenyap. Ia melirik ke arah Jira — berharap sang kekasih menolongnya menjelaskan. Tapi pandangan Jira menusuk tajam.

“Jira,” suara Ayah Kania terdengar pelan tapi tegas. “Nak, katakan yang sebenarnya terjadi.”

Kania menahan napas. Matanya bergetar.

Tatapan Kak Jira kini berpindah padanya — dingin, tajam, penuh luka.

Dalam hati Kania berdoa:

Jangan sekarang… kumohon, jangan sekarang.

Namun Kak Jira sudah menoleh pada Mas Adam. Wajahnya datar, tapi senyum tipis tergambar samar di bibirnya.

“Kalau Papa mau tahu,” katanya pelan,

“tanya saja langsung pada Adam. Dia yang paling tahu apa yang terjadi malam itu.”

Keheningan seketika menyelimuti ruangan.

Semua pandangan tertuju pada Mas Adam.

Kania hanya berdiri terpaku — tubuhnya gemetar, wajahnya pucat seperti mayat.

Dan di sudut bibir Kak Jira…

seulas seringai kecil muncul.

Samar. Tapi nyata.

Bersambung

1
Alivaaaa
aku mampir Thor
Marhaban ya Nur17
males ah wkwkw , ruwet cerita e pasti
Arni
Adi thor
Wulanda Ciiee Harahap
Bagus sekali
aku siapa
gak mudeng blas
hanefa aisyah
lumayam menaril
Enung Samsiah
pasti jere di kasih ke adi,,,,
Enung Samsiah
pasti jere
Enung Samsiah
siadam bodoh curiga pd kania,, pdhl njira yg hrs d curigai
Enung Samsiah
adam egois bngettt
Eka Shinkur
😍😘💪💪
Elok Pratiwi
tiap baca certa kok ending nya bersatu lagi terus bucinnn ... membosankan
Elok Pratiwi
paling juga adam n kania bersatu lagi terus jadi bucin seperti cerita yg lain sama dg cerita yg lain ... pengen baca yg ending nya pisah dan bahagia dg pasangan yg baru ada ga sihhh ...
Enovia Harnita
aku yakin Adi
Enovia Harnita
tania bodoh...
ridena tribawono
👍 ceritanya bagus banget kak
Rina
yeeeeyy... akhirnya ga balikan sama adam... aku terhura thor..
Rina
toxic nya adam nih lebih mematikan drpd arsenik.
Rina
kalau aku sih thor pinginnya sama jeremy... tp sama othor dimatiin tuh si jere.
karena saat bersama jere atau bahkan baca surat dari jere, kania bisa tertawa bahagia... othornim kejam...😌
Rina
nanti adam tau kania hamil nuduh yg engga² lagi.. mengingat dia punya sumbu teramat pendek....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!