Sejak ibunya menikah lagi, Aria terpaksa tinggal serumah dengan kakak tirinya, Lucien Ashford, pria yang nyaris sempurna di mata semua orang. Tampan, sopan, dan selalu hadir saat Aria membutuhkan bantuan.
Awalnya, Aria mengira Lucien hanya menjalankan perannya sebagai seorang kakak.
Sampai ia menyadari satu hal.
Lucien selalu tahu ke mana ia pergi.
Selalu muncul di waktu yang tepat.
Dan perlahan, semua orang yang mencoba mendekatinya mulai menghilang dari hidupnya.
Saat Aria berusaha mencari jawaban, ia justru menemukan rahasia yang jauh lebih mengerikan.
Lucien ternyata telah mengenalnya jauh sebelum mereka menjadi keluarga.
Kini Aria harus memilih, tetap tinggal di rumah yang perlahan berubah menjadi sangkar, atau melarikan diri dari seseorang yang tidak pernah berniat melepaskannya.
"Di rumah ini, tidak ada yang lebih berbahaya daripada seseorang yang mengaku ingin melindungimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fatimah Azzahra Al-aini Sarabiti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Pagi hari di lantai empat puluh terasa seperti hidup di dalam ruangan tanpa udara. Suara desir halus dari sistem pendingin udara otomatis menjadi satu-satunya indikator bahwa waktu terus berjalan. Bagi Clara, setiap detik yang terlewat terasa seperti langkah perlahan menuju jurang yang tak berdasar.
Ia berdiri di samping dinding kaca raksasa, menatap map berlogo maskapai penerbangan swasta yang tergeletak di atas meja kaca. Di dalamnya terselip dua lembar tiket pesawat jet pribadi tujuan Karibia atas nama Kenzo dan Clara, terintegrasi dengan dokumen medis buatan yang menyatakan bahwa Clara membutuhkan perawatan isolasi khusus di luar negeri.
"Penerbangan kita dijadwalkan besok Sabtu, pukul sembilan pagi,"
suara Kenzo memecah keheningan dari arah lorong.
Pria itu baru saja selesai membenahi kancing kemeja mewahnya. Tatapannya dingin, namun memancarkan kepuasan yang teramat nyata.
"Ibu sudah menyetujui semuanya. Di sana, sebuah vila pribadi di tepi pantai terisolasi sudah siap untuk kita huni. Kau tidak akan pernah butuh paspor atau tiket pesawat lagi."
Clara membalikkan badan, menatap pria itu dengan rahang menegang.
"Kau memanipulasi seluruh keluarga. Kau mengubah statusku dari seorang mahasiswi menjadi seorang pasien yang harus diasingkan!"
"Aku hanya melindungimu dari dunia yang salah, Clara,"
balas Kenzo tenang, melangkah mendekat.
"Dan untuk memastikan kau bisa beradaptasi dengan baik sebelum penerbangan besok, kita akan menetapkan beberapa aturan baru selama di sini."
Kenzo berhenti tepat satu langkah di depan Clara. Pria itu merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah buku catatan kecil bersampul kulit hitam murni, menyodorkannya ke dada Clara.
"Buka dan baca,"
perintah Kenzo lembut.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Clara menerima buku itu dan membuka lembaran pertamanya. Tulisan tangan Kenzo yang rapi dan tegas terukir jelas di sana.
...Aturan Penthouse & Isolasi....
...* Tidak ada akses perangkat elektronik pribadi dalam bentuk apa pun....
...* Semua pakaian, jadwal makan, dan aktivitas harian ditentukan oleh Kenzo....
...* Setiap bentuk kontak fisik atau bicara dengan pihak luar tanpa izin dianggap sebagai pelanggaran tingkat berat....
...* Clara wajib tidur di kamar utama bersama Kenzo....
Darah Clara seolah berhenti mengalir saat matanya membaca poin terakhir.
"Kamar utama bersamamu?!"
serunya dengan nada tidak percaya.
"Kenzo, kau gila! Aku tidak akan pernah tidur di kasur yang sama denganmu!"
"Itu bukan penawaran, Clara. Itu aturan,"
potong Kenzo dingin. Pria itu maju satu langkah lagi, mendesak Clara hingga punggung gadis itu menempel erat pada kaca tebal di belakangnya.
"Selama dua hari ini kau selalu mencoba mencari celah untuk kabur atau menyakiti dirimu sendiri. Aku tidak bisa membiarkanmu berada di kamar terpisah tanpa pengawasanku."
"Aku bukan barang milikmu!"
amuk Clara.
Ia mencoba mendorong dada Kenzo, namun pria itu dengan mudah menangkap kedua pergelangan tangan Clara, menyatukannya di atas kepala gadis itu dan menguncinya pada kaca.
"Kau milikku sejak hari pertama ibumu membawamu masuk ke rumah keluargaku,"
bisik Kenzo dengan suara rendah yang menggetarkan dada.
Wajahnya menunduk, mengikis habis jarak di antara mereka.
"Ingat gelang di tanganmu ini, Clara? Setiap kali detak jantungmu naik karena kemarahan atau ketakutan, aku bisa merasakannya dari sensor di ponselku. Kau tidak memiliki rahasia lagi dariku."
Napas Clara memburu tajam. Ia bisa merasakan kehangatan tubuh Kenzo yang begitu kontras dengan dinginnya dinding kaca di punggungnya. Tatapan Kenzo jatuh tepat pada bibir Clara yang gemetar, sebuah tatapan penuh obsesi yang siap menelannya utuh.
"Lepaskan aku"
cicit Clara, matanya berkaca-kaca.
"Satu pelanggaran berarti satu hukuman,"
gumam Kenzo, merendahkan kepalanya hingga bibirnya menyapu sudut bibir Clara, memberikan kecupan-kecupan menuntut yang membuat Clara tersentak pasrah.
"Dan penolakanmu barusan sudah menghitung satu pelanggaran."
Kenzo melepaskan cengkeraman tangannya, membiarkan Clara meluruh pelan seraya memegangi pergelangan tangannya yang memerah. Pria itu menatapnya dari atas dengan raut puas yang mengerikan sebelum akhirnya membalikkan badan menuju ruang kerjanya untuk menyelesaikan berkas keberangkatan besok.
Sore harinya, keheningan penthouse mendadak terasa makin mencekik. Kenzo sedang berada di dalam ruang rapat virtual kedap suara untuk menyelesaikan pengalihan saham serta koordinasi dengan tim pengawal di Karibia.
Clara memanfaatkan kesempatan itu. Ia melangkah berjinjit menuju area kamar mandi utama. Rasa takut dan keputusasaan yang membakar dadanya mendorong keberanian nekat yang belum pernah ia miliki sebelumnya.
Ia tahu gelang perak di tangannya adalah pelacak, dan ia tahu seluruh penthouse diawasi kamera. Namun, di dalam ruang mandi transparan tersebut, ada satu sudut mati di balik lemari handuk tinggi yang tidak terjangkau oleh sudut pandang kamera pengawas.
Dari dalam lipatan gaun bagian dalamnya, Clara mengeluarkan sebuah benda kecil yang berhasil ia ambil secara sembunyi-sembunyi saat Kenzo membuang barang-barangnya tadi pagi, sebuah alat pemotong kuku dari bahan baja berujung tajam yang luput dari perhatian Kenzo.
Jemarinya gemetar hebat saat ia mengarahkan ujung tajam pemotong kuku itu ke celah mikroskopis di bawah gelang perak pergelangan tangannya. Niatnya bukan untuk memotong gelang logam tebal itu, ia tahu itu mustahil, melainkan untuk merusak komponen sensor detak jantung yang berada di bagian dalam gelang tersebut.
Jika sensor itu mati atau korslet, sinyal pengunci otomatis penthouse bisa mengalami glitch sementara.
Sreeek!
Ujung tajam baja itu berhasil menyelusup ke celah sensor. Clara menahan napasnya, memeras sisa tenaganya untuk menekan dan merusak jalur sirkuit kecil di dalamnya. Keringat dingin menetes di pelipisnya.
BZZZZT!
Percikan api biru kecil muncul disertai bunyi dengung halus. Gelang perak itu bergetar sekali, lalu lampu indikator merah kecil di permukaannya padam seketika.
Clara mendesah lega, dadanya naik turun tajam. Berhasil! Sensor pelacaknya mati!
Namun, kebahagiaan singkat itu hancur berantakan dalam sekejap mata.
BIIIIP! BIIIIP! BIIIIP!
Suara alarm peringatan darurat bernada tinggi tiba-tiba menggema keras memenuhi seluruh sudut penthouse! Lampu-lampu utama di ruangan mendadak redup, berganti menjadi pendaran lampu darurat berwarna merah darah yang berkedip-kedip ganas.
Pintu kaca kamar mandi mendadak terdorong terbuka dengan hempasan keras.
Kenzo berdiri di ambang pintu. Wajah pria itu tidak lagi menampilkan ketenangan dinginnya yang biasa. Matanya membelalak penuh amarah yang liar dan pekat, rahangnya mengeras tajam saat tatapannya jatuh pada pemotong kuku di tangan Clara dan gelang perak yang lampunya telah mati.
Langkah kaki Kenzo yang terburu-buru dan berat mendekatinya seperti seekor predator yang siap mematahkan leher mangsanya.
"Apa yang baru saja kau lakukan, Clara?!"
bentak Kenzo dengan suara gelegar yang belum pernah Clara dengar sebelumnya.
Clara mundur keluar ruang mandi hingga tubuhnya terbentur sudut lemari, memegang pemotong kuku itu di depan dadanya dengan tangan gemetar hebat.
"Jangan mendekat, Kenzo! Jangan"
Kenzo tidak berhenti. Pria itu menyambar pergelangan tangan Clara dengan cengkeraman yang begitu kuat hingga pemotong kuku itu terlepas dan jatuh berdenting ke lantai marmer. Dalam satu gerakan cepat dan dominan, Kenzo mendorong tubuh Clara ke atas tempat tidur utama, menguncinya di bawah himpitan tubuh bidangnya.
Pintu-pintu baja penthouse terdengar mengunci secara permanen dengan bunyi KLIK elektronik yang berat dan bergema.
Kenzo menunduk, matanya yang gelap menatap lurus ke dalam manik mata Clara yang diliputi ketakutan mutlak. Napas pria itu memburu tepat di atas wajah Clara.
"Kau baru saja memicu prosedur penguncian darurat Level Max,"
bisik Kenzo dengan suara rendah yang sangat berbahaya, jemari tangannya merayap naik dan mencengkeram rahang Clara dengan erat.
"Artinya, tidak ada penerbangan besok. Dan tidak ada seorang pun yang bisa keluar dari tempat ini selama empat puluh delapan jam ke depan. Hanya ada aku dan kau di dalam ruangan terkunci ini."