NovelToon NovelToon
Preman Pasar Belahan Jiwaku

Preman Pasar Belahan Jiwaku

Status: tamat
Genre:Chicklit / CEO / Romansa / Tamat
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Dayang, seorang penjual ikan berparas cantik sekaligus "preman pasar" bertangan dingin, memegang teguh prinsipnya untuk hanya melayani rakyat kecil, bukan tengkulak atau bisnis besar. Keteguhannya ditantang oleh Rimba, seorang CEO kaya raya yang berambisi memborong seluruh dagangannya. Setelah gertakan anak buah hingga sogokan uang tunai gagal total di tangan Dayang, Rimba yang terluka gengsinya nekad menyamar sebagai pria miskin yang kelaparan dan pingsan di depan lapak Dayang.
Luluh oleh rasa iba, Dayang menampung Rimba di rumahnya dengan syarat pria itu harus bekerja menjadi kuli pengangkut ikan. Niat awal Rimba yang hanya ingin menundukkan kesombongan si preman pasar perlahan goyah saat kemeja mewahnya berganti kaos lusuh beraroma amis. Di tengah kerasnya kehidupan pasar dan hangatnya perhatian yang tulus, batas antara akal-akalan licik dan perasaan nyata mulai kabur, memaksa sang bos besar mempertanyakan apakah ia akan berhasil meruntuhkan benteng Dayang atau hatinya yang leleh

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Langkah kaki Rimba terasa seberat timah saat ia melangkah menyusuri koridor, lalu menaiki anak tangga darurat menuju area rooftop rumah sakit.

Angin malam yang berembus kencang menyapa wajahnya yang pucat.

Pria perkasa yang disegani di dunia bisnis itu kini berdiri tepat di tepi pembatas atap gedung tinggi tersebut, menatap kehampaan malam dengan mata memerah dan dada yang remuk tak berbentuk.

"Aku akan pergi, Dayang." bisik Rimba parau, menyuarakan keputusasaan dan rasa bersalah mendalam yang teramat sangat hingga meremukkan seluruh jiwa dan pikirannya.

Sementara itu di dalam ruang perawatan VVIP, seorang perawat terengah-engah berlari menerobos masuk tanpa sempat mengetuk pintu.

Wajahnya pucat pasi memancar kepanikan luar biasa.

"Mbak! Pak Rimba mau bunuh diri di rooftop!" teriak perawat itu histeris.

Kata-kata itu bagaikan sengatan listrik yang menghantam kesadaran Dayang.

Rasa benci, amarah, dan sakit hati yang sejak tadi menguasai pikirannya seketika sirna, berganti dengan rasa panik dan ketakutan yang mencekam.

Dayang serta-merta menyibak selimutnya. Tanpa memedulikan rasa nyeri hebat pada dada dan kakinya yang terbalut gips, gadis itu memaksakan tubuhnya untuk bergerak.

"Bintang! Ambil kursi roda, cepat!" teriak Bang Jaka memecah kepanikan.

Melihat rasa sakit yang melumpuhkan kaki kakaknya, Bintang tanpa berpikir panjang langsung melesat berlari mendahului keluar kamar VVIP, menerobos koridor mencari kursi roda atau lift terdekat.

"Bang, bawa aku ke Mas Rimba, Bang. Tolong." bisik Dayang tertahan di balik tangisnya.

Rasa benci yang tadi membakar dadanya kini menguap seluruhnya, berganti dengan ketakutan luar biasa akan kehilangan pria itu selamanya.

Tanpa membuang waktu satu detik pun, Bang Jaka menyusupkan kedua lengan kekarnya di bawah tubuh mungil Dayang, membopong gadis itu dengan hati-hati namun cekatan agar tak makin mencederai kaki kiri yang dibalut gips tebal.

"Tahan ya, Nduk. Tahan!" sengal Bang Jaka sembari memacu langkahnya setengah berlari menyusuri lorong rumah sakit.

Suara napas berburu, decit roda kursi roda yang didorong Bintang dari jauh, serta sirine kepanikan dari para perawat menyatu dalam suasana mencekam.

Di atas rooftop gedung tinggi itu, angin malam bertiup kencang membelah kegelapan.

Rimba berdiri tepat di tepi pembatas atap, menatap kosong ke bawah.

Bayangan kekecewaan di mata Dayang, bisikan kata 'pembohong', serta bentakannya sendiri terus berputar bagai teror yang menghantam kesadarannya tanpa ampun.

Pintu darurat menuju rooftop mendadak terhempas terbuka dengan dentam keras.

Bintang muncul pertama kali dengan napas memburu, disusul Bang Jaka yang membopong tubuh lemas Dayang di belakangnya.

"MAS RIMBA!! JANGAN!!" jerit Bintang histeris.

Rimba perlahan memutar tubuhnya, menatap ke arah pintu.

Matanya merah membara, dipenuhi air mata dan keputusasaan yang teramat dalam, terkejut melihat sosok Dayang ada di sana—dalam bopongan Bang Jaka dengan wajah pucat pasi dan air mata yang mengalir deras.

"RIMBA! JANGAN, RIMBA!"

Jeritan Dayang melengking pecah di tengah terpaan angin malam rooftop yang dingin.

Dalam bopongan erat Bang Jaka, gadis itu berontak pelan dengan sisa-sisa tenaganya, merentangkan tangan ke arah Rimba yang berdiri kaku di tepi pembatas atap.

"Jangan berbuat nekad, Mas. Aku mohon!" tangis Dayang makin histeris, air matanya tak berhenti mengalir membasahi pipinya yang pucat.

"Jangan tinggalkan aku. Aku tidak sanggup kalau harus kehilangan kamu!"

Pengakuan tulus yang keluar dari bibir Dayang bagaikan hantaman keras yang menyadarkan Rimba dari kegelapan jiwanya.

Pria itu terpaku, matanya yang memerah berkaca-kaca menatap gadis yang begitu rapuh dalam bopongan Bang Jaka.

Perlahan, Rimba melangkah mundur menjauhi tepi pembatas atap. Ia berjalan gontai mendekati Dayang, lalu perlahan menjatuhkan kedua lututnya di atas marmer rooftop yang dingin, berlutut tepat di hadapan Dayang dan Bang Jaka.

"Dayang, maafkan aku. Maafkan aku." bisik Rimba dengan suara tercekat dan napas memburu.

Air matanya menetes deras membasahi wajahnya yang penuh penyesalan.

Rimba mendongak, menatap mata Dayang dengan kejujuran yang paling dalam tanpa ada lagi topeng CEO yang ia kenakan.

"Awalnya, aku memang berniat mendekatimu cuma untuk urusan bisnis, Dayang. Aku ingin kamu bekerja sama dengan pabrikku," aku Rimba dengan bibir bergetar hebat.

"Tapi di dalam penyamaranku sebagai Bima, aku melihat ketulusan hatimu. Ketulusan yang belum pernah aku temui seumur hidupku."

Rimba meraih tangan Dayang yang gemetar, menggenggamnya erat dan menempelkannya ke dadanya sendiri yang berdegup kencang.

"Aku jatuh cinta sama kamu, Dayang. Demi Tuhan, rasa cintaku ini nyata. Aku sangat mencintaimu."

Isakan tangis memecah dinginnya malam di atas rooftop gedung rumah sakit itu.

Bang Jaka mendudukkan tubuh Dayang dengan sangat perlahan di atas marmer, menyadarkannya pada dekapan Rimba yang masih berlutut tak berdaya.

Melihat pria perkasa yang tadinya nyaris mengakhiri hidup itu kini bersimpuh pasrah, benteng pertahanan rasa sakit di dada Dayang runtuh sepenuhnya.

Tanpa memedulikan gips di kakinya atau rasa nyeri di dadanya, Dayang langsung menjatuhkan tubuhnya, menyembunyikan wajahnya yang pucat di bahu Rimba.

Gadis itu menangis sesenggukan, meremas kuat kemeja Rimba seolah takut pria di hadapannya ini akan lenyap jika ia lepaskan sebentar saja.

Rimba melingkarkan kedua tangannya erat-erat di tubuh Dayang, menyandarkan dagunya di puncak kepala wanita itu.

"Maafkan aku, Dayang. Maafkan aku." bisik Rimba berulang kali, air matanya tak berhenti menetes membasahi rambut Dayang.

Di sisi mereka, Bang Jaka menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya yang kasar.

Pria tua yang selama ini selalu menjadi benteng kokoh bagi Dayang dan Bintang itu tak sanggup lagi menahan haru.

Bahunya naik-turun saat tangis sesenggukannya pecah, merasa lega sekaligus teriris menyaksikan betapa dalamnya luka dan cinta yang saling mengikat kedua anak manusia di hadapannya.

Bintang ikut berlutut di sebelah Bang Jaka. Remaja laki-laki itu menangis sesenggukan sembari memeluk bahu Bang Jaka, menghapus air mata yang terus meleleh di pipinya.

Rasa takut akan kehilangan sang kakak dan kepedihan atas prahara yang menimpa keluarga mereka akhirnya tumpah seluruhnya di tempat itu.

Angin malam rooftop yang bertiup kencang kini tak lagi terasa membekukan.

Di tengah isak tangis empat insan yang saling menguatkan itu, kebohongan dan penyesalan perlahan memudar, menyisakan ketulusan rasa yang akhirnya saling menerima.

Dayang menyembunyikan wajahnya di dada Rimba, dadanya naik-turun menahan isak tangis yang masih membuncah.

Dengan suara parau yang amat lirih, ia menatap mata Rimba dari dekat.

"Kamu CEO, kenapa mau bunuh diri?" bisik Dayang tertahan, suaranya dipenuhi rasa tak percaya sekaligus kepedihan yang teramat sangat.

Rimba menggenggam erat kedua bahu Dayang, menatap lurus ke dalam manik mata wanita itu dengan sorot yang penuh ketulusan dan keputusasaan.

"Buat apa aku hidup kalau kamu membenciku, Dayang." balas Rimba dengan nada bergetar, air mata kembali menetes membasahi pipinya.

"Harta, jabatan, dan pabrik itu tidak ada artinya sedikit pun kalau aku harus kehilangan kamu."

Mendengar ucapan jujur itu, Dayang makin makin tak sanggup menahan rasa harunya.

Namun belum sempat ia membalas perkataan Rimba, pintu darurat rooftop mendadak terdorong keras.

Seorang perawat senior beserta dua petugas keamanan berlari masuk dengan napas terengah-engah.

Wajah perawat itu seketika berubah merah padam saat menyaksikan situasi di depannya.

"Aduh, Astagfirullah! Ini kenapa pasien patah tulang bisa ada di rooftop?!" bentak perawat itu memarahi semua orang di sana dengan nada tinggi dan panik.

"Bapak-bapak ini bagaimana, sih?! Pasien baru saja lolos dari masa kritis pendarahan dalam dan kakinya gipsan, malah dibawa ke luar begini! Kalau jahitannya lepas atau infeksinya makin parah bagaimana?!"

Ocehan tegas perawat itu seketika memutus ketegangan emosional di atap gedung.

Bang Jaka dan Bintang yang masih menyapu air mata hanya bisa menunduk pasrah kena semprot.

Rimba dengan cepat menghapus sisa-sisa air mata di pipinya.

Mengabaikan statusnya sebagai CEO terpandang yang baru saja bersimbah duka, ia bertindak cepat.

Rimba menyusupkan kedua lengannya yang kokoh di bawah tubuh Dayang, menyangga punggung dan kakinya yang terluka dengan sangat hati-hati.

Dengan sigap, Rimba membopong tubuh Dayang dalam dekapan eratnya.

Dayang melingkarkan tangannya di leher Rimba, menyandarkan kepalanya di dada pria itu tanpa penolakan sedikit pun.

"Maaf, Sus. Saya yang bertanggung jawab. Saya yang akan membawanya kembali ke kamar sekarang," ucap Rimba tegas pada perawat, lalu melangkah lebar membawa Dayang turun menuju ruang VVIP.

1
༻♛A̷͙ͭͫ̕ḑ̴̞͛̒ỉ͔͖̜͌r̴̨̦͕̝a̤♛༺
😄
Muft Smoker
kebahagiaan dayang udh lengkap yx,,
suami yg sayang dan triam dayang serta Bintan apa adanya ,,
punya anak kembar yg lucu2 ,, punya keluarga lain seperti bang Jaka , Jamal dan para nelayan serta pedagang di pasar yg selalu solid ma dayang ,,

bahagia selalu dayang dan kluarga ,,


kak makasih buat cerita ny ,,
dtggu karya terbaru ny ,,
sukses trus kak ,,
Muft Smoker: sama2 kak pho ,, ☺️☺️☺️
total 2 replies
Fadilah Fadilah
lanjutkan
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up thor
Muft Smoker
km harus berusaha keras buat ngeluluhin hati dayang rimba ,, dayang itu hidup di dunia yg keras ,, JD tulang punggung keluarga demi adik ny ,,
jdi wajar kalo dayang menjadi keras kepala dan berpendirian yg kuat ,,
tinggal km gmn cara ny membuktikan ma dayang klo km bnr2 menyesal ,,
Muft Smoker
akhirnya kebohongan terbongkar juga ,, menyisa kan kekecewaan bagi banyak org ,, terutama dayang ,,
ayoo rimba tunjukan ma dayang kalo perasaan km , perlindungan km , dan perhatian km tu tulus ,, meskiii di mulai dr kebohongan bisnis ,,
Fadilah Fadilah
lanjutkan
Muft Smoker
nah kan ,, sudah ku bilang ,,, hapus penyamaran ,, sudah ku bilang ,, toh jujur saja ,, kalo dr awal kontrak ny begini ,, penjelasan ny jelas ,, tanpa kekerasan ,, mungkin dayang bisa berfikir ulang ,,
kalo skarang Mlah di curigai kan 🤭🤭😂😂
Muft Smoker
hati2 rimba jgn bermain terlalu jauh ,, nanti klo terbongkar dayang mengetahui sypa km sbnrnya ,, entah ap yg bakal gmn reaksi dayang ,, yg pasti bukan sesuatu yg bagus
Muft Smoker
hati2 rimba km milih lawan yg salah ,, 🤭🤭🤭
Muft Smoker
lanjuut kak ,, cerita ny seruuu
Muft Smoker
yx kalian yg beres ma si dayang di jadiin ikan asin 🤭🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker
hai kak mampir lgi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!