Pengkhianatan yang di lakukan Mike, membawa Aleena bertemu dengan seorang pria tampan yang tidak di kenalnya sama sekali di sebuah club mewah yang berada di pusat kota London.
Minuman alkohol yang di teguk Aleena malam itu benar-benar mempengaruhi dirinya. Gadis polos itu seketika menjadi liar bahkan dengan berani merayu pria yang saat itu berada di dekatnya.
Pria tampan pemilik rahang tegas itu terlihat semakin gelisah, ketika merasakan aliran panas tubuhnya tidak wajar. Terlebih gadis muda pemilik wajah cantik dengan rambut warna karamel bergelombang indah itu merayunya dengan gerakan begitu seksi.
Dalam keadaan setengah sadar Aleena menyerahkan tubuhnya pada pria asing yang tidak di kenalnya sama sekali.
Keduanya menghabiskan malam panas dengan liar layaknya pasangan yang sedang di mabuk cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HARI YANG BERAT
Sedikit tertatih Aleena melangkahkan kakinya memasuki perusahaan tempat ia bekerja. Gedung pencakar langit yang berdiri kokoh tepat di pusat kota London.
Gadis itu tidak menghiraukan rasa sakit di bagian bawah tubuhnya.
Aleena melirik jam tangannya. Tentu ia tidak mau terlambat, mengingat hari ini, hari ke dua ia bekerja di sana. Tersisa sepuluh menit lagi.
"Aleena... cepat kita hampir terlambat", teriak seorang gadis yang sudah berada lebih dulu di dalam lift karyawan. Di situ sudah banyak orang. Aleena tampak ragu-ragu, namun waktunya sudah mepet sekali.
"Stella, kau baru tiba juga?", tanya Aleena sedikit ngos-ngosan karena berkejaran dengan waktu. Beruntung setelah sampai apartemen miliknya tadi pagi ia sempat berendam air hangat. Meskipun letih tubuhnya belum hilang semua tapi setidaknya bisa mengurangi.
"Iya".
Ting
"Huhh... hampir saja terlambat", ujar Aleena bernafas lega setelah pintu lift terbuka di lantai sepuluh divisi marketing.
"Kalau kau terlambat, habis lah kau", balas Stella menggoda Aleena.
Aleena mengangguk. Karena kata-kata temannya itu benar sekali. Ia masih terhitung masa percobaan di perusahaan ini. Jika melanggar aturan ia pasti di pecat tidak hormat dan tidak bisa menuntut apapun.
Aleena dan Stella duduk di kursi masing-masing yang letaknya berdampingan. Keduanya baru saja berkenalan kemarin, tapi langsung klop. Aleena menyukai Stella yang ramah dan tidak sungkan berbagi ilmu padanya yang notabene karyawan baru.
"Ale, bisakah kau menolongku membawa berkas ini ke ruang meeting sekarang? Hari ini, aku akan menyampaikan presentasi. Jika presentasi ku yang terpilih mewakili divisi kita aku akan bertemu langsung CEO, jabatan ku akan naik", ucap Stella menautkan tangannya di depan dada sambil memejamkan mata.
"Tentu saja. Good luck Stella. Aku yakin kamu pasti bisa", ujar Aleena memberi semangat.
"Kamu tahu, sejak setahun yang lalu aku mempersiapkan diri untuk presentasi seperti ini. Kau pun setelah masa kerja mu tiga tahun bisa mengikuti cara ku, Ale. Inilah kesempatan kita naik jabatan, langsung berapa tingkat. Ajukan proposal mu pada manajer marketing. Meskipun sulit karena tentunya banyak yang berkompetisi tapi jika kau menguasai apa yang kau sampaikan tidak menutup kemungkinan program mu lah yang terpilih".
Aleena menganggukkan kepala, walaupun terlalu cepat memikirkannya. Sudah diterima saja bekerja ia sangat beruntung. Memikirkan naik jabatan, sungguh hal luar biasa. "Yang pasti aku akan bekerja sebaik mungkin dan mengikuti aturan perusahaan. Sekarang aku masih harus beradaptasi dengan lingkungan kerja", jawab Aleena seraya menaruh berkas di tangannya ke atas meja.
"Tapi kamu tetap harus berusaha, Ale. Apa kau mau selamanya duduk di tempat itu? Kita harus semangat Ale, supaya memiliki ruangan sendiri", sela Stella sambil menyusun laporan yang akan di sampaikan nya nanti.
Aleena menatap ruang meeting itu. Menurut Stella bukan ruang meeting utama untuk jajaran direksi tapi sekarang mereka berada di ruang meeting divisi marketing yang di khususkan bagi divisi tersebut membahas hal-hal penting yang kelak hasilnya akan di sampaikan ke atasan mereka.
Bisa dibayangkan sibuknya tempatnya bekerja ini yang memiliki banyak divisi menangani pekerjaan sesuai bidang masing-masing. Sudah pasti persaingan ketat untuk menapaki jenjang lebih tinggi. Aleena sadar diri.
"Selamat pagi..
Aleena dan Stella menoleh ke arah pintu. Seorang pemuda masuk menghampiri mereka.
"Stella, kau sudah siap?"
Stella mengangkat bahunya. "Seperti yang kau lihat, aku sudah siap", jawab Stella singkat.
Tatapan laki-laki itu beralih pada Aleena. "Apa dia karyawan baru?"
Aleena tersenyum, seraya menganggukkan kepalanya.
"Rico", ucap laki-laki itu sambil mengulurkan tangannya pada Aleena.
"Aleena".
"Hm... Stella, sebaiknya aku kembali ke kursi ku. Good luck ya", tutur Aleena memberikan semangat.
"Terimakasih, Ale".
"Senang berkenalan dengan mu Aleena, kita akan menjadi tim yang hebat", ujar Rico tak berkedip menatap gadis itu.
Aleena tersenyum manis, sebelum menutup pintu.
*
Sean menyandarkan kepala pada kursi kebesarannya. Hampir seharian ia menghadiri meeting sesuai jadwalnya.
Kepalanya tak henti berdenyut. Kejadian semalam membuat laki-laki itu tidak fokus bekerja hari ini. Sungguh mempengaruhi nya seharian ini.
Sean merogoh saku celana, mengambil sebuah anting mutiara. Netranya tak berkedip mengamati anting itu. Ia tahu anting itu bukan barang murah karena di kelilingi berlian.
"Uhh... Siapa kau sebenarnya?"
"Kalau kau gadis baik-baik, tingkah mu menunjukkan sebaliknya. Aku tidak percaya kau masih perawan dengan kelakuan mu seperti itu. Tapi kenyataannya kau memang virgin", ucap Sean menggenggam erat anting itu ketika lamunannya ada yang menginterupsi.
Ketukan pintu menyadarkan nya. Ryan asistennya masuk membawa beberapa berkas.
"Tuan, berkas-berkas ini harus segera anda tandatangani", ucap pemuda tampan itu dengan hormat.
"Kemari".
Sean membaca satu persatu berkas yang diberikan Ryan. Seperti biasa ia tidak akan menandatangani apapun sebelum meneliti kebenarannya.
Beberapa saat berlalu.
Sean berdiri dari duduknya setelah menandatangani semua berkas penting itu.
"Kau lanjutkan pekerjaan mu, aku akan ke tempat temanku Evans".
"Baik tuan". Permisi keluar ruangan atasannya itu.
"Aku akan memberi pelajaran, bastard satu itu. Dia menjebak ku. Aku yakin Evans lah di balik kejadian yang aku alami semalam".
"Sebaiknya bajingan itu punya penjelasan.!"
...***...
To be continue