Mitos dilangkahi adik perempuan menikah, merupakan momok yang menakutkan bagi Bening Embun Pagi. Belum lagi anggapan orang-orang yang akan melabelinya sebagai perawan tua, begitu menkutkan baginya.
keadaan yang membuatnya sangat terdesak ini, membuat Bening akhirnya, mengambil jalan pintas, dengan menjebak pria incarannya di coffee shop miliknya.
Sayangnya penjebakan itu berujung petaka bagi hidup bening, pria yang masuk dalam jebakannya bukanlah pria idamannya melainkan seorang pengusaha perkebunan teh asal Kota Kembang Bandung yang terkenal dengan sifatnya yang arogan.
Bagaimanakah nasib Bening selanjutnya? apakah ia akan menikah dengan pria idamannya atau justru terjebak pernikahan dengan pria arogan yang masuk perangkapnya?
Cerita selengkapnya hanya ada di novel Salah Sasaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 3
Surya melempar pandangang pada dokter Leo. "Apa kau sudah memeriksa Nona Bening?"
"Dari tindak kejahatan? Ya tentu saja," sahut dokter Leo. "Tidak adanya tanda-tanda tindak kejahatan."
Bukan itu maksud Surya. "Maksudku, apakah dia masih perawan?" tanya Surya blak-blakan. Bukan tanpa alasan Surya menanyakan hal ini, sebab ia pernah melihat Bening dekat dengan Aksara, dan ia tahu bagaimana sepak terjang sahabatnya yang brengsek itu.
Sang pendeta mendengus entah karena putus asa atau muak, sementara Budi nampak terkejut. "Yang sedang kita bicarakan ini adalah Nona Bening, Astara's Family ," ujar Budi. "Dia putri tiri dari mendiang Gelimilang Astara, dan adik tiri dari Banyu Sagara Astara. Dia berasal dari keluarga terhormat dan berpendidikan."
"Terserah, tapi yang pasti silsilah keluarga tak ada kaitannya dengan keperawanan," ucap Surya.
Budi dan Leo menunduk, sementara sang Pendeta mengusap wajahnya. Mereka semua terkejut dengan ucapan yang di lontarkan oleh Surya. "Nona Bening menyakinkan aku bahwa dia... Belum ternoda," jawab dokter Leo kaku.
Budi berdeham. "Okay baiklah kalau begitu, bisa kita simpulkan bahwa akan ada pernikahan?"
Surya bimbang, ia teringat akan Rindu, putri dari kolega bisnisnya di Jakarta. Sudah setahun ini mereka melakukan pendekatan, namun Surya belum melamarnya sebab Rindu sama sekali tak pernah membuatnya bergairah, ia tak pernah membayangkan gadis itu telanjang. Meski demikian, Rindu gadis yang dia butuhkan untuk menjadi istri karena kepintaran yang dimilikinya, rencananya Surya akan melamarnya pada akhir tahun ini.
"Tuan," suara Budi yang rendah membuyarkan lamunan Surya. "Kalau Anda tidak setuju, kami akan menuduh Anda melakukan pemerkosaan. Kami tidak akan membiarkan kasus ini berlalu begitu saja, kau sudah menodai seorang gadis polos."
Polos? Mungkin wanita itu tidak berpengalaman, tapi dia tidak polos. Surya mengangkat wajahnya, menatap tiga pria di hadapannya. "Ya, aku akan menikahi Nona Bening."
Awalnya tidak ada yang bersuara, Budi terlihat paling muram dan tak puas dengan keputusan ini, namun kemudian sang pendeta berdiri. "Anda akan melaksanakan pernikahan sesegera mungkin?"
"Minggu ini," ucapnya dengan mantap. "Aku bukan hanya akan menikahinya, tapi membawanya ke rumah ini untuk tinggal di sini selamanya."
"Kalau begitu kita sepakat," ujar sang pendeta singkat, mereka pun pergi dari kediaman Surya.
...****************...
Grace, sahabat baik Bening mondar-mandir di hadapan Bening sembari meremas tangannya. "Jika masih hidup, tante Relung tidak akan memaafkanmu. Beliau pasti kecewa dengan apa yang kau lakukan."
Relung meninggal dunia tak lama setelah ayah tiri Bening meninggal karena gagal ginjal yang sudah dideritanya selama bertahun-tahun, sementara Relung sendiri terkena serangan jantung sebab tak kuasa menahan kesedihan di tinggal suaminya tercinta.
Relung sudah pasti bukan hanya kecewa pada apa yang di perbuat Bening, tapi dia juga akan sedih melihat putrinya menagalami trauma akibat rencanyanya yang salah sasaran. Bening harus menerima kenyataan mengerikan jika ia menjebak pria yang salah, dan sekarang akan menikah dengannya.
"Kau harus meminta bantuan Kakakmu, Banyu. Dia pasti akan menolongmu agar kau tidak menikah dengan pria kejam itu," ucap Grace.
Bening menggeleng. "Tidak," ucapnya. Bagaimana dia bisa meminta tolong pada Banyu, jika Banyu sendiri yang telah mengusirnya dengan halus dari rumah yang telah mereka tempati dari kecil.
Banyu hanya bersedia membagi harta warisan bapaknya pada adiknya saja, pria itu tak sedikitpun membanginya kepada Bening sebab Bening tak memiliki nama belakang yang sama, untuk itulah Bening memutuskan pindah dari kota Surabaya ke kota Bandung, dan mencoba peruntungannya di dunia bisnis kuliner sesuai dengan ilmu yang ia miliki di bidang pastri.
"Aku akan bertanggung jawab dengan apa yang telah aku perbuat tanpa melibatkan siapa pun," ucap Bening dengan tegas.
"Lalu, apa kau sudah memberi tahu adikmu jika kau akan menikah dengan Surya?"
Bening menghela napasnya, sebetulnya ia ingin sekali bercerita pada adiknya. Namun sekali lagi karena ini penjebakan salah sasaran, ia memutuskan tak menghubungi Sukma sampai ia resmi menikah dengan Surya Magenta. Bening tak ingin Sukma menganggap ia putus asa karena akan di langkahi olehnya, walau kenyataannya itu benar.
Seandainya Bening tak salah sasaran, Sukma dan Banyu tentu sudah mengetahui kedekatannya dengan Aksara, sehingga mereka akan memaklumi jika hubungannya naik ke tahap selanjutnya.
"Aku akan memberitahunya setelah pemberkatan nanti," jawab Bening. "Untuk itulah aku memintamu kemari, karena hanya kau yang aku percaya dan aku punya."
Ya hanya Grace, satu-satunya orang yang sekarang menjadi tempatnya berkeluh kesah, menceritakan semua yang terjadi padanya. "Oh, Bening," gadis itu memeluk Bening dengan hangat, dia bisa merasakan kegalauan hati yang Bening rasakan.
Persiapan pernikahan tak terlalu rumit, Surya mengutus seseorang untuk menyiapkan semuanya, dan orang itulah yang berkoordinasi dengan Bening menentukan konsep pernikhannya sesuai dengan yang Bening harapkan. Surya pun akan memberikan uang 100.000 dolar kepada Bening sebagai mas kawin.
Tapi nyatanya Bening tak mengharapkan pernikahan yang mewah, tak mengharapkan mas kawin mahal dari Surya. Bening hanya berharap di hari-hari menjelang pernikahannya ia bisa meletakan kepalanya di pangkuan almarhumah ibundanya, merasakah sentuhan lembut tangan ibundanya mengelus rambutnya.
Bening benar-benar merasa sendiri, terapung-apung di laut berbadai tanpa dayung. Betapa inginnya ia mendapatkan nasehat dari ibunya, dan ia pun ingin Sukma berada di dekatnya.
semoga sukses selalu karya karyanya 🤲
begitulah mereka