No Plagiat ❌
Sejak kecil, Valerie Sinclair selalu bermimpi tentang seorang anak laki-laki bernama Hazel yang tumbuh bersamanya, namun setelah Hazel di mimpinya tumbuh remaja wajahnya tak pernah terlihat jelas. Setelah kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan tragis, Valerie menikah kontrak dengan Damian demi membalas budi keluarga konglomerat yang diselamatkan orang tuanya.
Seiring waktu, Valerie jatuh cinta pada Damian karena sosoknya begitu mirip dengan pria dalam mimpinya. Namun sikap Damian yang dingin membuat Valerie memilih bercerai. Saat Damian akhirnya menyadari perasaannya dan berusaha merebut kembali hati Valerie, sebuah kecelakaan mengungkap rahasia mengejutkan tentang mantan istrinya yang membuat Damian prustasi.
Mampukah Damian mendapatkan kembali cinta wanita yang pernah ia sia-siakan, atau kesempatan kedua ini justru datang terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luh Belong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masih ada yang mengkhawatirkanku
Pelayan itu segera membungkukkan badan.
“Nona Muda berada di balkon, Tuan.”
Damian mengernyitkan dahi.
“Di jam segini?”
Pelayan itu mengangguk.
“Nona Muda terlihat sedikit kurang sehat, Nona kehujanan saat pulang dari mengunjungi pemakaman kedua orangtuanya.”
Mendengar ucapan pelayan itu, langkah Damian terhenti sesaat. Tatapannya berubah serius. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia segera berjalan menuju balkon kamar Valerie.
Di balik pintu kaca, ia melihat Valerie duduk sendirian di kursi rotan. Tubuhnya terbungkus selimut tipis, sementara kedua tangannya sibuk menggambar sesuatu di buku sketsa yang berada di pangkuannya.
Tatapannya tampak kosong, namun jemarinya terus bergerak seolah sedang menuangkan perasaan yang tidak mampu ia ungkapkan dengan kata-kata.
Damian memperhatikan sejenak.
Dari tempatnya berdiri, ia dapat melihat samar-samar gambar anak laki-laki yang tersenyum bahagia. Perlahan, Damian membuka pintu balkon.
Suara pintu yang bergeser membuat Valerie menoleh.
“Damian...”
Damian berjalan mendekat.
“Kenapa kamu duduk di sini?” tanyanya pelan. “Cuaca sedang dingin karena hujan.”
“Kata playan, tadi kamu kehujanan.”
“Udara dingin seperti ini tidak baik untuk kondisimu.”
Valerie tersenyum kecil.
“Aku hanya ingin menenangkan pikiran.”
“Dan mendengar suara hujan membuatku lebih nyaman.”
Damian menyilangkan tangannya.
“Tapi ini sudah malam, kamu sebaiknya beristirahat di dalam kamar.”
Valerie menatap langit malam yang masih menyisakan gerimis.
“Baiklah.” Jawab Valerie saraya tersenyum.
Ia menutup buku gambarnya perlahan lalu meletakkannya di atas meja kecil di samping kursi, kemudian ia berdiri. Namun baru beberapa langkah berjalan, tubuhnya tiba-tiba goyah.
Pandangan Valerie mendadak berputar, pendengarannya tiba-tiba mendenging. Tubuh Valerie kehilangan keseimbangan.
Melihat tubuh Valerie yang melemah, Damian dengan sigap bergerak maju. Tangannya dengan cepat menangkap tubuh kecil Valerie sebelum terjatuh.
“Valerie!”
“Hei...”
Valerie tidak menjawab. Kepalanya bersandar lemah di dada Damian, tubuhnya terasa sangat panas. Dan beberapa detik kemudian, Valerie benar-benar kehilangan kesadaran.
Damian terkejut.
“Kenapa dia panas sekali.”
Tanpa menunggu lama, Damian segera menggendong Valerie masuk ke dalam kamar. Ia membaringkan Valerie dengan hati-hati di atas tempat tidur, lalu menyelimuti tkeluarga Setelah itu, Damian meraih ponselnya.
“Tolong datang ke rumah sekarang,” katanya singkat kepada dokter keluarga.
Tak lama kemudian, dokter tiba. Setelah melakukan pemeriksaan, dokter melepaskan stetoskopnya.
“Tuan Muda, kondisi Nona muda tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”
“Hanya kelelahan.”
“Kurang istirahat.”
“Tekanan emosional yang cukup berat.”
“Ditambah kehujanan, sehingga memicu demam pada tubuhnya yang lemah.”
Dokter memandang Damian.
“Nyonya muda membutuhkan waktu untuk beristirahat.”
“Untuk sementara, sebaiknya beliau menunda aktivitasnya.”
“Tidak perlu ke kampus sampai kondisinya benar-benar membaik.”
Dokter kemudian menyiapkan beberapa obat dan menyerahkannya kepada Damian.
“Berikan obat ini setelah beliau bangun, dan pastikan tubuhnya tetap nyaman.”
Damian mengangguk.
“Terima kasih, Dok.”
Dokter tersenyum tipis sebelum berpamitan meninggalkan kamar.
Suasana kembali sunyi.
Damian menatap Valerie yang masih tertidur. Wajah gadis itu tampak memerah karena demam, napasnya terdengar sedikit berat.
Semalaman Damian tetap berada di sana. Ia mengganti kompres di kening Valerie, memastikan suhu tubuhnya tidak semakin tinggi. Sesekali ia memeriksa selimut Valerie agar tidak tersingkap.
Di tengah tidurnya, Valerie mulai mengigau.
“Hazel...”
Air mata perlahan mengalir membasahi pipinya.
“Hazel...”
“Kamu dimana?”
“Jangan tinggalkan aku.”
“Aku takut sendirian...”
Damian terdiam. Tatapannya tertuju pada wajah Valerie yang dipenuhi kesedihan bahkan saat tertidur, ia melihat betapa dalamnya arti nama itu bagi Valerie.
“Siapa Hazel?”
“Apa dia mantan kekasihmu?”
Melihat kondisi Valerie, Damian tidak tega meninggalkannya sendirian. Pria yang selama ini bersikap dingin dan selalu menjaga jarak itu akhirnya menghela napas pelan.
Ia duduk bersandar di sisi ranjang, tatapannya tetap tertuju pada Valerie. Malam semakin larut, hujan masih turun di luar jendela. Ini pertama kalinya ia memutuskan memilih menjaga Valerie yang sedang sakit, wanita yang seharusnya hanya menjadi istrinya di atas kertas.
•●✿●•
Sinar matahari pagi perlahan menembus celah tirai, menyinari kamar yang masih dipenuhi suasana tenang.
Valerie mengerjapkan matanya yang silau. Tubuhnya terasa sedikit lebih ringan dibandingkan malam sebelumnya, meski masih menyisakan nyeri dan pegal di seluruh badan.
“Emhhh...” keluhnya pelan.
Ia mencoba bergerak, namun seketika menyadari ada sesuatu yang terasa asing. Tangannya sedang memeluk sesuatu, hangat, keras, dan jelas bukan bantal.
Valerie menunduk perlahan, matanya membulat seketika. Ia sedang memeluk tubuh Damian yang tertidur di samping ranjang, dengan posisi kepalanya bersandar di tepi tempat tidur.
“ARGHHH!”
Teriakan Valerie menggema memenuhi kamar.
Damian yang sedang tertidur langsung tersentak bangun.
“Ada apa?!” tanyanya dengan suara serak karena baru bangun.
Valerie segera mundur menjauh sambil menutupi tubuhnya dengan selimut.
“Kenapa kamu ada di tempat tidurku?!”
Damian mengusap wajahnya pelan lalu menatap Valerie dengan ekspresi kesal.
“Aku pikir kamu berteriak karena melihat setan.”
Valerie memerah karena malu.
“Tidak... bukan begitu!”
“Aku hanya kaget!”
“Tiba-tiba kamu tidur di kamarku.”
Damian menghela napas panjang.
“Semalam kamu demam tinggi.”
“Akulah yang merawatmu.”
“Aku mengganti kompresmu.”
“Aku juga yang memanggil dokter.”
“Karena tidak tega melihatmu sakit, aku semalaman disini menemanimu.”
Valerie terdiam.
Potongan-potongan ingatan semalam perlahan kembali. Ia memang sempat merasa tubuhnya sangat panas sebelum semuanya menjadi gelap.
Wajahnya berubah canggung.
“Maaf...”
“Aku minta maaf sudah merepotkanmu.”
Damian berdecak pelan, lalu berdiri merapikan kemejanya yang sedikit kusut.
“Dasar, tidak tau terima kasih.”
Valerie langsung menundukkan kepala.
“Terima kasih, Tuan Damian.”
Namun Damian hanya menghela napas kecil.
“Jangan terlalu formal.”
Valerie mendengus pelan.
“Terima kasih, suamiku.”
Wajah Damian seketika memerah, lalu ia melangkah mendekati Valerie.
Valerie yang melihat Damian semakin dekat langsung menegang.
“A-apa yang...”
Damian menghela napas.
“Jangan berpikir berlebihan.”
Valerie menarik selimut hingga menutupi sebagian wajahnya.
“Tapi aku takut.”
Damian terdiam beberapa detik, lalu menatap Valerie seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
“Kamu benar-benar menganggapku setan. rupanya.”
Damian mendecakkan lidah pelan.
Kemudian.
Tok!
“Aw...!”
Valerie memegang keningnya yang baru saja disentil.
“Kamu!”