NovelToon NovelToon
Hati Yang Terluka

Hati Yang Terluka

Status: tamat
Genre:Romantis / Romansa Modern / Tamat
Popularitas:1.2M
Nilai: 5
Nama Author: Astirai

Langkah yang ku tempuh sudah terlalu jauh, tetapi sepertinya tidak berujung...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astirai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Seminggu lebih kejadian

di gereja telah berlalu. Dan siang ini Tia dan Arya sudah sepakat untuk

mempertemukan Renata dan Bram dengan cara makan siang bersama tanpa

sepengetahuan Renata.

“Cepet Ren mumpung boss

gak ada, kita keluar sekarang yuk.” Tia mengajak Renata makan di luar kantor.

“Gak sabar amat

sih....!!!!” Kata Renata sedikit cemberut

“Keburu abis waktu

istirahat...”

Setelah sekitar duapuluh

menit, keduanya sampai di restaurant langganan dan mencari tempat duduk di pijok

yang menjadi favorit mereka. Sedang serius memilih makanan di daftar menu,

datang Arya berdua dengan Bram ke meja mereka. Tia dan Renata menoleh. Dan saat

tatapan mata Bram bertemu dengan Renata, ada desiran halus di dadanya, melihat

mata sendu yang memperlihatkan ada luka di dalamnya.

“Eh... mas, duduk yuk.

Ren kenalin ini temen mas Arya. Mas Bram ini temenku, kenalin.” Kata Tia sambil

berdiri.

“Bramantyo...” Sambil

mengulurkan tangannya.

“Renata....”

“ Kalian sudah pesan apa?

Kita ngikut aja, atau Bram kamu mau apa? ” Tanya Arya

“Eeemmm... ter...terserah

apa aja ngikut” Jawab Bram sambil sedikit gugup, karena tertangkap basah Arya

dia sedang memandangi wajah Renata yang tertunduk asyik dengan ponsel di

tangannya.

“Eeeiiittss... knapa jadi

gugup loe? Gak ada menu terserah...” Jawab Arya menggoda Bram.

“Kamu pesen apa Ren?

Terserah juga, ........?” Goda Arya

“Biar Tia aja yang pesen

mas, udah apal kok dia. Aku ngikut aja....” Kata Renata lembut sambil melirik

Tia.

“Yaaakk.... oke makanan

udah, tinggal masing-masing mau minum apa?” Kata Tia sambil menyodorkan daftan

minuman ke tengah meja.

Setelah semua  lengkap, sambil menunggu pesanan datang,

mereka terlibat dalam obrolan. Hanya Renata yang terlihat diam mendengarkan

obrolan teman-temannya, sekali-kali jawab  kalau ada pertanyaan.

“Ren ini mas Bram yang

pernah aku omongin dulu, yang mau ku kenalin sama kamu. Dia sohib mas Arya,

malah bisa disebut kayak sodara cuma beda emak sama bapak doank. Eeiiitss..

satu lagi, beda urat. Maksud gue, yang satu urat boss, yang satunya urat malu.....haaa....”

Bram sama Arya tertawa

ngakak mendengar omongan ngacau Tia, sementara Renata hanya tersenyum seperti males-malesan

dengan menarik sudut bibirnya sedikit. Cuma untuk menghargai guyonan sahabatnya

saja, sedangkan pikirannya melayang entah kemana.

“Dan mas Bram, Renata ini

sahabatku yang paling....eeemmm..paling apa yah...paling smuanya dech...Yang

jelas paling baik...tapi paling bawel juga....`”

Sampai dengan pesanan

datang, mereka masih ngobrol seru .

“Yuk dimakan, dah laper

nih. Sengaja tadi kosongin perut biar muat banyak..” Kata Arya

“Lho kok Rena cuma makan

itu..” Tanya Bram setelah melihat piring Rena cuma berisi salad buah.

“Rena beda mas..kalau

makan ikan aja dia paling doyan. Cuma di sini ikannya kurang enak, jadi dia gak

mau pesen.” Jawab Tia karena Rena cuma diam.

“Ini sudah cukup kok..”

Rena menjawab pendek sambil terus mengunyah makanannya.

“ Ajak donk kita makan

ikan di tempat langganannya mas Bram itu.., di mana mas aku lupa. Yang dulu

kita pernah makan itu. Enak lhooo ikannya. Segar-segar lagi..”

“ Kamu aja kalo soal

makanan paling inget, gak ada yang boleh lewat.” Tiba-tiba Arya menyahut omongan

Tia.

“Lhooo iya kan mas, ikan

di situ enak. Mas Arya aja cuma makan ikan gak pake nasi, mana ambil yang porsi

gede lagi”

“Oke..oke..kapan kalian

mau. Ada lagi tempat yang lebih enak dan bagus. Cuma agak jauh lokasinya..”Bram

memotong perdebatan Tia dan Arya.

“Gak sejauh hatimu padaku

kan mas...ya gak Ren” Kata Tia tertawa sambil melirik Renata dan menyikut

pinggangnya, karena Renata makan sambil  menunduk terus memandangi piringnya

“Uuupss...ke... kenapa?” Tanya

Rena yang dari tadi makan salad tanpa ikut komentar menjawab sedikit gugup

dengan pertanyaan Tia. Tia tertawa melihat muka Renata terlihat bengong.

“Laaahhh...makan sambil

ngelamun. Mikirin apa sih non? Direktur baru yang ganteng mah gak usah

dipikirin. Dia juga udah ada yang mikirin makan siangnya kok, ada sekretarisnya

tuhhh.... Jauuuhhh... mikir yang deket aja..”

“Apaan sih...ngaco aja..”

Jawab Rena sedikit sewot sambil mulutnya manyun

Dalam hati Bram, lucu

juga nih cewek kalo lagi sewot. Wajahnya kelihatan sangat imut dan lucu. Tanpa

sadar bibirnya tersenyum sambil matanya tetap memandang Renata. Hal ini membuat

Renata merasa grogi dan pengen lari dari hadapan Bram.

“Heeiii...ngapain loe

senyum-senyum sendiri. Kesambet ya....?”Ttiba-tiba Arya menyodok pinggang Bram

di sebelahnya. Bram malu karena ketahuan lagi dari tadi melihat ke arah Renata

terus yang duduk persis di depannya. Dan tanpa sadar Renata melihat ke arah Bram,

yang kebetulan juga sedang memandang wajahya sehingga tatapan mata keduanya

bertemu. Ada desiran halus di hati Bram. Mata itu..., seperti mata kucing. Tapi

kucing yang sedang terluka, dan luka itu tidak dapat disembunyikan sehingga

terpancar di matanya. Kata Bram dalam hati.

Renata salah tingkah,

kemudian langsung memalingkan wajahnya. Menghindar dari tatapan Bram.

“Wooiii... gimana nih

urusan makan ikan? Kok jadi malah pandang-pandangan gitu sih? Kapan mas Bram?” Tiba-tiba

Tia menyadarkan Bram dan Renata, yang membuat keduanya salah tingkah.

“Heiii... ada apa?” Tanya

Bram sambil heran.

“Loe dari tadi ngapain

aja Bram.... gak dengerin orang ngomong...” Arya meledek Bram yang membuat Bram

garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

“Waaahhh... mas Arya

rupanya kita salah ajak orang nih makan di sini. Yang satu ngelamun, eh yang

satunya bengon mikirin anak orang. Nyesel dah gua....” Kata Tia sambil geleng-geleng

kepala, sedangkan Arya cuma nyengir denger ocehan pacarnya.

“Ada apa lagi calon

nyonya Arya.... kok sewot mulu perasaan dari tadi. Gak dapat jatah dari Arya.?”

Tanya Bram lagi

“Laaahhh ini si Rena

mikirin direktur ganteng, eh mas Bram gak tau mikirin siapa. Diajak ngobrol

pada gak konek... eehhh.. gak tauya malah padang-pandangan berdua. Atau

jangan-jangan kalian pada saling mikirin ya.....?” Tia berkata sambil mencolek

pipi Renata. Mendengar ocehan Tia, muka Renata memerah menahan malu, tapi juga

kesal dengan sahabatnya yang bawel itu.

“Isshh... ngapain sih...

udah selesai kan makannya?. Kita mesti cepet-cepet balik Tia, keburu bos

dateng...” Rena menjawab sambil mengalihkan topik bahasan, karena ingin buru-buru

pergi dari tempat itu, apalagi dari hadapan Bram, yang membuat Tia dan Arya

makin gencar meledeknya karena salah tingkahnya.

“Eeeiitts... tunggu sayang.....

Udah gak sabar ya pengen cepet ketemu direktur ganteng. Kita belum ada

kesepakatan nih sama mas Bram..” Jawab Tia.

“Loe ngapain sih

nyebut-nyebut direktur mulu... kurang kerjaan..!” Renata mulai sewot dengan

omongan sahabatnya. Memang Tia orangnya baik, tapi kadang mulutnya sedikit

bocor dan blong. Apa yang ada di pikirannya kadang langsung keluar dari

mulutnya. Untung saja Renata sudah paham dengan tabiat Tia. Jadi biasanya

omongan Tia cuma masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Gak usah dimasukin ke

hati, meskipun kadang ngeselin dan bikin malu. Seperti saat ini, omongannya

lebih ngaco, apalagi soal direktur ganteng dan soal pandang-pandangan dengan

Bram, yang membuat Renata gemes. Karena dia memang tidak ada apa-apa dengan

direktur ganteng. Renata selalu menghindar tiap kali direktur itu mendekatinya

dengan berbagai alasan. Dan Tia sangat paham dengan hal itu. Bahkan sering

membantu menghindar dengan segala akal bulusnya.

“Gimana mas, kapan mau

ngajak makan ikan. Mumpung Rena masih punya hobby makan ikan lho. Repot ntar

kalo dia ganti hobby makan orang.. haa....”

Rena diam saja sambil

menghela napas panjang denger omongan Tia, dan Tia paham kalau Rena sedikit

kesal dengan omongannya. Tapi sebenernya maksud Tia untuk mencairkan kekakuan antara

Bram dan Renata. Selain itu juga biar ada momen lagi pertemuan antara Bram

dengan Rena, makanya dia terus mendesak Bram.

“Oke... sekarang juga

boleh. Ayuukkk...” Jawab Bram

“Itu mah kelihatan gak

iklas mas. Udah tau abis makan, nawarin makan lagi. Lagian ini masih jam

kantor. Emang mas Bram yang punya kantor sediri....?” Jawab Tia cemberut

“Oke kamu yang atur waktunya.

Aku sama Arya tinggal ngikut aja. Gimana Ar..?”

Arya hanya mengangkat ke

dua bahunya tanda setuju

“Rena kamu maunya kapan?”

Tanya Tia sambil menoleh ke arah Renata

“Haa... knapa aku...?” Jawab

Rena bengong tapi cuek

“Yaaahhh... percuma

ngajak ngobrol orang oon...” Kata Tia sambil menowel hidung Rena yang dibalas

dengan cubitan di pinggang Tia.

“Oke kalau begitu atur

aja waktunya. Begitu fix info ke aku ya..” Kata Bram akhirnya. Dia tidak tega

kalau Renata di bully terus oleh Tia.

“Asshiiaaappp boss..”Jawab

Tia.

Setelah ngobrol-ngobrol

sejenak, mereka memutuskan pulang ke kantor masing-masing lagi, karena jam istirahat

hampir selesai.

“Ayo aku antar dulu

kalian ke kantor biar cepet,” Kata Bram.

Berempat menuju tempat

parkir dan masuk ke mobil Bram, menuju ke kantor Rena dan Tia.

“Makasih mas udah

ditraktir.” Kata Tia pada Bram setelah turun dari mobil di depan lobby kantor.

Bram menoleh ke arah Renata

sambil tersenyum. Rena juga membalas senyum sambil berkata pelan. “ Makasih mas

Bram. Yuk mas Arya, trims juga ya.” Kemudian keduanya memasuki lobby kantor.

“Gimana Bram...?” Tanya

Arya setelah keluar dari arena kantor Rena dan Tia

“Apanya yang gimana?”

“Kesan dan pesan loe ke

Renata...haaa....” Kata Arya sambil tertawa

“Si mata kucing yang

terluka. Yaaa....loe liat aja ntar endingnya gimana. Yang jelas gua mau

perjuangkan Renata” jawan Bram sambil menghela nafas.

“Teruss....lanjutannya.???

Kamu berniat serius kan, gak main-main.???’ Tanya Arya lagi.

“Emang aku ada tampang

tukang mainin cewek..???”

“Lhooo...siapa tahu,

sekarang loe udah tambah pinter.”

“Gak...aku niat serius.

Rasanya baru kali ini aku bener-bener gak bisa berkutik. Loe mau kan bantuain...???”

“Oke....ntar sama Tia aku

pasti bantuin perjuangan loe.”

“Aku sebenernya kasihan

juga sama Renata. Orangnya baik dan gak macem-macem, dasar lakinya saja yang

kurang ajar. Ke luar negri bukannya bener, eeehhhh....tahu-tahu nikah  di sana. Mana gak ada omongannya lagi....gimana

coba gak shock...” Kata Arya dengan muka kesal.

“Yaaaa....siapa tahu ada

alasan yang kita sama-sama gak tahu Ar...”Jjawab Bram.

“Yaaa...alasannya memang

dia gak setia..”

“Memang dia nikah sama

siapa...?” Tanya Bram penasaran.

“Katanya sih sama mantan

pacarnya yang sama-sama kuliah di sana. Aku juga gak begitu jelas. Tahu-tahu

ada yang kirim foto nikahan mereka. Hanya itu yang sampai ke Renata. Padahal

rencananya, setelah pulang dari luar negri, mereka mau tunangan, dan beberapa bulan

kemudian, dua atau tiga bulan, mereka mau nikah. Kamu pernah merasakan kan,

dulu bagaimana rasanya...?” Cerita Arya panjang lebar.

Bram mejadi sedikit lebih

tahu latar belakang Renata.

“Ya.....kalau kita

laki-laki mungkin bisa lebih rasional, tapi kalau cewek? Kamu saja yang

ngalamin, butuh waktu sekian lama, baru sekarang ketemu Renata, mulai terbuka

lagi...”

“Rasa-rasanya aku bisa

lebih memahami kalau ceritanya begitu. Sepertinya hampir sama jalan ceritanya.

Mirip-mirip, semoga saja....” kata Bram pelan sambil membayangkan kembali wajah

Renata dengan mata sendunya.

****

“Ren gimana kesan loe

dengan mas Bram?” Tanya Tia setelah duduk di ruang kerjanya

“Heeemm...biasa aja”Jawab

Rena cuek sambil tetap membaca berkas-berkas yang ada di mejanya, dan sekali-kali

melihat di layar laptopnya.

“Maksud gue gimana gitu,

orangnya...., penampilannya... atau apanyalah gitu....” Desak Tia lagi

“Sssstttt... udah jangan

berisik. Gua lagi repot nih. Dokumen besok pagi harus sudah siap.” Jawab Renata

tanpa menolehkan kepalanya.

“Tapi......”

“Udah dech Tia... please.....

jangan sekarang....” Jawab Renata dengan muka memelas.

“Oke... oke.... next kita

omongin lagi ya...’ Jawab Tia sambil ngeloyor pergi

Setiap kali Tia menanyakan

tentang Bram pada Renata, selalu tidak dijawab dan Renata menghindar dari

pertanyaan-pertanyaan Tia dengan cara menyibukkan diri dengan dokumen-dokumen

yang menumpuk di mejanya. Akhirnya Tia pun menyerah, tidak lagi menanyakan pada

Renata, karena dia berpikir, toh mereka baru bertemu sekali, itupun hanya sekedar

makan siang. Tia menghibur diri sendiri. Maka Tia akan berusaha terus untuk

mempertemukan kembali Bram dengan Renata di hari-hari berikutnya dengan

berbagai alasan. Dan upaya ini didukung oleh Arya, yang memang sangat senang

kalau Bram bisa menjadi pacar Renata, bahkan sukur-sukur berlanjut sampai menjadi

suami istri.

Dan sore itu Tia masih

mengejar pertanyaan tadi siang yang belum putus, karena dia masih penasaran.

Kebelulan pekerjaan sudah selesai dan tinggal tunggu jam pulang.

“Ren... masih nyambung pertanyaanku

yang tadi siang, kamu belum jawab...”

“Pertanyaan yang mana

lagi Tia....????”

“Jangan pura-pura lupa

ya.... tentang mas Bram...”

“Apanya yang mau kamu

tanyain bawel...!!!”

“Soal mas Bram... menurut

kamu gimana..???”

“Apanya yang gimana? Kan

ketemu juga baru sekali, itupun cuma sebentar, terus pendapat yang gimana

lagi?”

“Berarti perlu ketemu

lagi ya, biar kamu punya pendapat...???” Ledek Tia, yang membuat Renata sedikit

sewot.

“Udah ah.... ngaco aja

kamu kalau ngomong...!!”

“Tapi ini aku serius... Kalau

misalnya mas Bram ternyata naksir kamu... terus kamu gimana, mau terima

gak...?”

“Ah.... udah... gak usah

ngomongin itu lagi...!!!”

“Ren... aku serius... kalau

mas Bram bener-bener jatuh cinta sama kamu, kamu mau mencoba kan...??”

Renata diam tidak menjawab.

Dia hanya menghela nafas panjang.

“Gak usah berandai-andai

Tia. Aku gak mu mikirin dulu....”

“Ren... mas Bram orangnya

baik. Aku kenal betul sama dia. Jadi terus terang... aku berharap kamu mau

mencoba membuka diri sedikiiiitttt..... aja untuk dia”

“Jangan terlalu berharap

Tia, karena akupun juga tidak berani berharap lagi...” kata Renata dengan wajah

sendu.

“Rennn... please... jangan

putus asa. Everything to be allright. Oke...???” kata Tia sambil mencium pipi

Renata untuk menguatkan sahabatnya.

1
Amarantha Chitoz
makasihhhh
Amarantha Chitoz
lanjutin....
Amarantha Chitoz
sasa bisa aza....
Amarantha Chitoz
selamat
Amarantha Chitoz
smoga lancar
Amarantha Chitoz
lanjuttt
Amarantha Chitoz
hati2
next
Amarantha Chitoz
siippp next
Amarantha Chitoz
positif
Amarantha Chitoz
hamil....????
Amarantha Chitoz
jangan2 hamil ya, mudah2an
Amarantha Chitoz
sedih kannnn
Amarantha Chitoz
next yaaaaaa
Amarantha Chitoz
up.....
Amarantha Chitoz
ribet
Amarantha Chitoz
sembuh ya...
Amarantha Chitoz
stop lebay
Amarantha Chitoz
siiiipppp.. lanjut
Amarantha Chitoz
next lah
Amarantha Chitoz
ayo mulai pelan2
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!