"Ya Allah ... tolong izinkan abah lebaran sekali lagi."
Doa seorang anak di tengah kesunyian malam. Tak banyak yang dia inginkan untuk lebaran kali ini, hanya kebersamaan dengan Abah saja yang dipintanya.
Nur, seorang anak kecil dari keluarga sederhana yang tak banyak mengeluh. Kehidupan yang sulit tak menjadikan Nur menjadi anak yang murung. Ia tetap percaya diri pergi ke sekolah meksipun sepatunya telah rusak.
Kisah sebuah keluarga sederhana di era 90-an. Selamat membaca!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Izinkan Abah Lebaran Sekali Lagi
25 Ramadan
Dari hari ke hari, sakit abah semakin menjadi. Entah apa yang terjadi, kulihat kakinya membengkak. Untuk berjalan saja, abah terlihat susah payah melakukannya.
Namun, abah selalu menutupi semuanya dengan kata "gak apa-apa". Aku yang ingin memapahnya saat hendak ke kamar mandi, ditolaknya dengan halus mengunakan kata "Abah bisa sendiri".
Meski berjalan sembari berpegangan pada tembok, abah selalu bergegas ke kamar mandi saat waktu shalat tiba. Walaupun ia akan shalat dalam posisi duduk. Kakinya tak kuat berdiri menopang tubuhnya.
"Abah mau ke mana?" tanyaku saat melihat abah yang beranjak dari duduk dan hendak melangkah ke dapur.
"Mau ke kamar mandi," jawabnya sambil meringis saat menggerakkan tubuhnya tadi untuk berdiri.
"Abah mau wudu?" tanyaku lagi karena baru saja adzan Dzuhur berkumandang. Ia mengangguk setelah susah payah menggerakkan tubuhnya untuk duduk.
"Bah, kata orang boleh gak shalat kalau sakit, mah," ucapku sok satu. Abah sedikit terkekeh mendengarnya meski diselingi batuk.
Dengan napas pendek ia menjawab, "Kata siapa shalat boleh ditinggal? Dalam kondisi apa pun, kita sebagai manusia yang membutuhkan Tuhan tidak boleh meninggalkan shalat. Kalau gak kuat berdiri? Duduk! Gak kuat duduk? Baringan! Kalau beringan gak mampu juga? Ya ... dishalatkan!" ucap abah.
Aku menunduk malu. "Tapi, Abah ... 'kan Abah bisa tayammum aja di sini pake debu, gak harus ke kamar mandi," sahutku lagi dengan kembali mengangkat wajah menatapnya.
"Iya, itu kalau ada udzur yang membolehkannya. Seperti sakit yang gak boleh kena air, atau gak bisa jalan sama sekali, atau benar-benar gak ada air di sekitar tempat itu. Baru boleh tayammum," jawab abah lagi.
Bukankah itu ilmu? Aku akan menyimpannya baik-baik. Masih banyak yang belum kuketahui hukum Islam di dunia ini. Aku masih ingin belajar darinya. Belajar apa pun yang bisa menjadi bekalku kelak saat dewasa.
Ya Allah ... jika boleh aku meminta, tolong izinkan abah ikut lebaran sekali lagi! Aku ingin merayakannya bersama abah. Aku ingin menunjukkan padanya, anak gadisnya ini akan belajar menutup aurat untuknya. Aku akan membuktikan padanya, aku bisa menjaga diriku dari dunia luar. Aku hanya ingin lebaran bersama abah walau kali ini saja.
"'Kan Abah juga sakit, jalannya aja susah. Nur takut Abah kepeleset di kamar mandi," kataku jujur.
Abah tersenyum, selalu seperti itu. "Gak apa-apa, Abah masih bisa jalan. 'Kan selama ini juga Abah gak pernah jatuh," katanya lagi yang sudah berdiri di pinggir tembok.
Aku hanya menatap kepergiannya dengan pasrah, abah berjalan sambil meraba tembok dengan perlahan. Kondisi tubuhnya yang semakin hari semakin lemah, membuatku terus memikirkannya dalam setiap tidurku.
"Nur, abah ke mana?" tanya teteh yang keluar dari kamar. Teteh pulang dan tak lagi tidur di pondok karena lebaran sudah dekat.
"Ke kamar mandi, mau wudu," jawabku jujur. Aku kembali fokus pada layar kotak tak berwarna di hadapanku.
"Kenapa gak diantar?" tanya teteh lagi dengan nada tak senang.
"Abahnya gak mau," jawabku lagi tanpa menoleh ke arahnya. Teteh mendengus, ia melengos pergi keluar menemui anak bibi.
Kulihat abah masuk ke kamar shalat, terdengar suara takbiratul ihram hingga ke ruang televisi. Kumatikan saja televisinya, dan berjalan ke dapur. Mak tak ada di sana, dia sedang bersama Aceng entah pergi ke mana?
Kuintip kamar shalat abah dan mendapati abah yang sedang menunaikan shalat sambil duduk. Meski napasnya pendek dan tangannya gemetar, abah tetap melanjutkan shalatnya.
Kusudahi mengintip abah, menyeret kakiku yang enggak beranjak menuju sumur. Dengan pelan-pelan aku menimba air untukku mandi. Berat, dan jauh.
Aku hanya kuat dua kali menimba, kusudahi saja walau ember belum penuh. Langsung mandi kemudian berwudu dan pergi mendirikan shalat.
Mak belum juga datang, ke mana mak pergi? Kenapa aku tak diajak? Karena aku yang ingin tetap di rumah.
Hanya satu yang ku pinta saat ini, "Izinkan Abah ikut lebaran sekali lagi. Jangan panggil ia sebelum merayakan hari raya bersama kami."
________*
28 Ramadan
Keadaan abah memburuk, lidahnya tak lagi jelas saat berbicara karena napasnya yang terus memburu.
Aku semakin takut. Takut akan ditinggalkan abah sebelum lebaran. Kulirik tangannya, terus memutar tasbih dengan bibir yang terus ikut bergerak mengiringi tangannya yang memutar benda bulat kecil-kecil itu.
Abah duduk bersandar di ruang televisi, menemaniku yang asik menonton acara kesukaanku.
"Nur! Aceng!" Suara abah yang parau memanggil kami. Aku yang fokus menonton, langsung menoleh dan beringsut mendekatinya.
Tak ada dari kami yang berbicara, kami hanya duduk di depannya dengan mulut terkatup rapat.
"Kalau nanti Abah gak ada, Nur sama Aceng yang akur, ya! Jangan suka berantem, bantu mak. Dan juga ... ingat selalu pesan Abah, jangan tinggal shalat di mana pun!" ungkap abah dengan susah payah.
Aku mengangguk polos. Yang aku tahu saat itu, aku akan memegang ucapan abah. Aku tidak akan mengecewakannya.
"Emang Abah mau ke mana?" Pertanyaan polos itu keluar dari Aceng. Ia masih terlalu kecil, masih belum mengerti arti kepergian.
Abah tersenyum menatap Aceng, "Nanti Aceng juga tahu, ke mana Abah akan pergi. Jangan suka berantem sama Teteh juga sama teteh Maryam."
Aceng mengangguk, entah mengerti atau tidak ia dengan ucapan abah. Semoga saja dia memang mengerti.
Abah mengeluarkan dua bungkus kembang api yang entah dari mana ia mendapatkannya. Namun, saat aku bermain tadi aku melihat abah yang berjalan menuju rumah menggunakan sepotong kayu yang dijadikan tongkat olehnya. Entah dari mana Abah.
"Kembang api!" pekik Aceng senang.
"Kapan Abah belinya?" tanyaku seraya menerima sebungkus kembang api berukuran besar.
"Tadi, abah beli di jalan besar," jawabnya. Aku terdiam.
"Dibakarnya nanti pas malam takbiran aja, ya!" ucap abah.
Kami mengangguk, kembali menonton televisi dengan satu bungkus kembang api di masing-masing tangan kami.
Mak ikut bergabung duduk bersama kami, begitu pun teteh. Lengkap rasanya malam ini keluarga kami berkumpul.
Saling bercengkerama dan bercanda seolah lupa akan sakitnya, abah ikut berguyon bersama kami.
Tak ada yang lebih membahagiakan dari selain semua anggota keluarga berkumpul bersama seperti ini.
Kami menikmati camilan berupa goreng singkong yang masih mengepul. Baru saja digoreng mak dan langsung dihidangkan untuk kami.
Rasanya gurih dan enak. Ada es orson sebagai pelengkap, sambil menonton acara televisi kami menikmati kebersamaan dengan hidangan sederhana yang menggugah selera.
Alhamdulillah ....
"Udah malam, sana tidur!" titah abah dengan suaranya yang serak terdengar.
"Iya, nanti dibangunin sahur susah lagi," timpal mak ikut berkomentar.
"Tahu, tidur udah kaya kebo juga." Teteh ikut menyahuti.
Aku dan Aceng pasrah dan masuk ke dalam kamar. Tidur.
Rela tidak beli baju baru mendahulukan keinginan anak2nya.
Ah,sungguh indah masa dulu ya author.
Dan aq skrg ngalamin ngedahulukan keinginan anak dan aku mengerti skrg gmn perasaan orgtua hanya utk melihat anaknya tersenyum tulus ketika ngucapkan kata2 "Terimakasih" dan memeluk kita.
Baru tau setelah punya anak itu namanya celana mambo.. hehehe
dan sangat bermanfaat sekali
untuk saya Thor
👍👍🤩🤩🤩🤩🤩
malahan kebalik beliau yang sering kasih uang ke aku kalau datang ke rumah
katanya, ini buat jajan cucu2nya
Alhamdulillah saya juga masih belajar pakai hijab
padahal anak udah 3😥