Siapa yang tidak kenal dengan Jordan Mikhael Anderson. Pria berkharisma itu adalah pemilik perusahaan MA Group. Perusahaan besar di dunia, memiliki banyak cabang di setiap negara.
Dewi keberuntungan sedang tidak berpihak padanya, Alana Jovanka. Alana menelan saliva dengan susah payah melihat kopinya yang tumpah pada tuksedo pria yang kini menatapnya, tatapan itu seperti laser yang siap membelah tubuhnya.
Alana menahan nafasnya, saat Jordan mendekat dan membisikan sesuatu di telinganya.
"Jangan harap kau bisa lepas dariku, bodoh!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riska Almahyra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Balapan
Jordan melihat wajah Alana yang bersemu merah, saat memanggil namanya dengan sebutan Sayang. Untuk pertama kalinya Jordan menampilkan senyum tipisnya pada Alana.
Alana semakin terpesona saat Jordan menampikan senyum tipisnya untuk Alana. Jantung Alana berdetak lebih cepat, namun kali ini dia mencoba menormalkannya kembali.
Berusaha bersikap dewasa di hadapan Jordan, Alana memperhatikan Jordan yang menikmati sarapannya.
“Nanti ajari aku cara membuat omelet super lembut ini yah,” ucap Alana dengan nada memohon.
“Hmmm,” Jordan hanya menjawab ucapan Alana dengan deheman. Karena Jordan sedang mengunyah omelet di dalam mulutnya.
Jordan dan Alana telah selesai menghabiskan sarapannya.
“Kau ingin berkeliling?”
Alana menganggukkan kepalanya, “Mau.”
Jordan menggenggam tangan Alana dan berjalan beriringan dengan Alana.
Fokus Alana jatuh pada tangannya yang di genggam oleh Jordan. Apa seperti ini rasanya berkencan?
Pipi Alana bersemu merah tanpa sepengetahuan Jordan. Ingat Alana kamu hanya penghangat ranjang Jordan.
Oh ayolah biarkan aku bahagia sedikit saja, jadi jangan ingatkan aku akan hal itu.
Jordan melihat perubahan raut wajah Alana yang tampak sedih, “Kau kenapa?”
“Ah tidak. Apa di sini ada sepeda? Rasanya aku ingin sedikit berolah raga.”
“Tentu saja ada.”
Jordan membawa Alana ke garasi, di sana ada sepuluh sepeda dengan merek berbeda, dan tipe yang berbeda. Melihat dari mereknya saja Alana sudah bisa menebak harga satu sepedanya pasti ratusan juta.
Alana memilih sepeda yang sedikit pendek dan pas di tubuh mungilnya. Jordan sudah siap melaju, “Ikuti aku Alana.”
“Oke.” Alana mengeluarkan sepedanya. Mulai mengayuh dengan perlahan mengikuti Jordan.
Sinar mentari pagi menghangatkan tubuh siapa saja yang ada di bawahnya. Alana mempercepat kayuhannya menyejajarkannya dengan sepeda Jordan.
Jordan melihat Alana berusaha mengimbanginya, namun Jordan tidak ingin gadisnya kelelahan. Dengan sengaja Jordan memperlambat kayuhannya.
Jordan sesekali melirik Alana yang tampak bersemangat, rambut coklatnya beterbangan tanpa arah. Menunjukkan leher putih milik gadisnya yang berkeringat.
“Siapa yang paling cepat sampai rumah bakal mendapat satu permintaan,” ucap Alana sambil melirik Jordan lalu fokus ke depan.
“Oke.”
“Hitungan ke tiga ya.” Alana melirik Jordan dengan senyum bahagianya.
“Satu … dua … tigaaaa.” Dengan cepat Alana mengayuh sepedanya dengan segenap jiwa meninggalkan Jordan di belakangnya.
Jordan tetap pada ritme sepedanya meskipun Alana sudah jauh di depannya.
Melihat Jordan yang tertinggal di belakangnya. Alana mengayu dengan pelan.
Sepertinya Alana tidak sadar bahwa jaraknya dengan Jordan hanya tinggal satu meter. Jordan mengeluarkan bakat bersepedanya meninggalkan Alana yang kini ada di belakangnya.
Alana terkejut saat melihat Jordan mendahuluinya, dengan sekuat tenaganya Alana mengayuh sepedanya. Namun sayang Alana sudah jauh tertinggal, bahkan dia tidak melihat Jordan ada di depannya.
Alana memilih memelankan sepedanya, toh dia kejar pun percuma. Jordan sudah jauh di depannya, saat bertemu jalan bercabang Alana kebingungan dia tidak tahu jalan pulang ada di kiri atau di kanan.
Akhirnya Alana mengambil rute kanan, Alana mengayuh sepedanya dengan kecepatan sedang. Entah kenapa alarm bahaya di hatinya berbunyi.
Sepanjang jalanan yang Alana lalui hanya rumput-rumput liar di pinggir jalan. Alana menambah kecepatan sepedanya, dia mulai merasa ketakutan.
Kelopak matanya mulai terisi air mata, Alana tidak tahu di mana dia berada. Dan bodohnya lagi ponselnya tertinggal di rumah, dia tidak bisa meminta bantuan pada Jordan.
Keringat Alana membasahi tubuhnya. Alana sudah melalui jarak yang cukup jauh, tetapi jalan ini seperti tiada akhir.
Alana memperlambat laju sepedanya dia menengok ke kanan dan ke kiri, ke kanan ke kiri, ke kanan ke kiri.
Wes tak usah nyanyi Alana lagi tegang woi, bukan lagi senam aerobik (Humor Receh).