Gwen adalah seorang dokter spesialis jantung di salah satu rumah sakit di tengah kota New York. Di suatu siang yang sibuk, dia mendapatkan seorang pasien. Seorang pria tua yang mendapatkan serangan jantung. Gwen berhasil menyelamatkan nyawanya, sehingga pria itu sangat berterima kasih. Ia menghadiahi Gwen tiket pesawat dan sebuah vila di Bali.
Saat sampai di vila, betapa terkejutnya Gwen ketika menyadari bahwa dia tidak akan tinggal sendiri. Karena pria tua itu ternyata belum memberitahu cucunya kalau vila itu akan diberikan kepada Gwen.
Zachary, nama si cucu. Pria yang tampan, dan arogan. Sedang asyik mencumbu seorang wanita di dekat kolam renang.
KARYA:
1. Hutang Kepada Mr. Devil (end)
2. Aku Bukan Malaikat (end)
3. My Arrogant Prince (ongoing)
4. Kesempatan Kedua (otewe)
Salam kenal dari author penggemar Happy ending story 😊✌️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wardah Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjodohan
30
Adrian mengamati laki-laki yang tampak tenang duduk di kursi kerja menyimak berita dari Chanel YouTube televisi tanah air tentang dirinya. Setelah tayangan itu selesai, dia meletakkan kembali ponselnya dan membuka salah satu file di meja. Ia mulai membuka pena dan konsentrasi penuh ia curahkan pada lembar demi lembar kertas di depannya.
“Kalau lihat lo santai kaya gini, sepertinya Lo udah prediksi sebelumnya kalau akan ada gosip.”
“Yap,” jawab Zach tanpa melihat Adrian. Jarinya masih setia memainkan pena.
“Kenapa ga lo akhiri aja? Lo tau, kan kalau suami Sandra sekarang politisi?” Zach tetap tenang, padahal Adrian sudah gemas setengah mati. “Kalau itu orang pebisnis biasa, gue ga protes. Tapi Lo tau sendiri kalau urusan dengan orang pemerintah itu bahaya? Lo icon perusahaan, Zach. Meskipun perusahaan ini masih nama kakek lo, tapi urusannya bisa panjang kalau sampai kita di-blacklist. Lalu ijin-ijin dipersulit?”
“Gua ga ngapa-ngapain sama Sandra.”
“Lo pikir public percaya? Apalagi ada bukti foto kalian di hotel.”
“Tapi di hotel itu juga ada ....”
“Ada apa? Siapa?” tanya Adrian penasaran.
“Nevermind. Urus aja kerjaan lo. Biarin gosip itu. Kalau mereka keterlaluan, biar pengacara kita yang turun tangan.”
Andai perempuan itu adalah model yang biasa diajak cucunya, Ahmad tak akan syok. Akan tetapi perempuan itu adalah istri dari salah satu mentri negara ini. Publik sudah dipastikan heboh. Sebenarnya Ahmad juga mengerti sejarah antara cucunya dengan perempuan itu. Cinta monyet yang bersemi kembali, itulah yang dinarasikan para pemburu bahan ghibah.
Zach segera menaiki jet pribadinya untuk terbang ke Indonesia setelah mendapatkan telepon dari Iwan. Kakeknya kembali harus masuk rumah sakit. Jika dia tak peduli dengan apa yang dipikirkan orang lain, beda halnya dengan Ahmad. Sudah sepantasnya Ahmad pensiun dan menyerahkan urusan perusahaan kepada Zach. Namun, kelakuan Zach yang selalu membuat sensasi membuat Ahmad ragu.
Zach datang ketika hari sudah pagi. Lagi-lagi dia harus menepis rasa mual nan melilit di perutnya ketika masuk kembali ke rumah sakit. Dia menutup hidungnya dengan sapu tangan agar aroma karbol dan obat tak bisa masuk ke indera penciumannya. Ingin juga dia menutup mata, tapi hal itu akan menyusahkan. Zach sudah menelepon dokter Wiliam selama perjalanan ke rumah sakit dan merencanakan agar Ahmad dirawat di rumah saja karena kondisinya sudah stabil.
“Akhirnya sampai juga,” ujar Zach sambil menyeka keringat dingin dari dahinya. Iwan mengambilkan segelas air minum kepada Zach. Lilitan itu masih ada, tapi Zach sudah merasa lebih baik karena desain kamar Ahmad mirip dengan kamar hotel.
Seperti sudah diprediksi Zach sebelumnya, Ahmad marah. “Bagaimana aku mendidikmu selama ini? Ini sudah keterlaluan, Zach.”
“Tapi Zach tidak berbuat aneh-aneh dengan Sandra, Kek.”
“Jangan sebut nama itu di depan kakek!” Suara Ahmad meninggi. “Setiap tingkah lakumu harus kamu perhatikan. Kamu membawa nama besar perusahaan. Bagaimana kamu akan mengatasi hal ini?”
Zach tampak berpikir. Lalu dengan hati-hati dia menjawab. “Aku akan adakan konferensi pers.”
“Lalu apa yang kamu katakan dalam konferensi itu?”
“Kenyataannya.”
“Apa mereka bisa percaya?” Zach tampak ragu. “Tak perlu konferensi pers. Kakek punya rencana. Hanya saja kamu harus setuju apapun rencana kakek,” ujar Ahmad.
Zach mengerutkan dahi. Dia terpaksa mengangguk.
“Menikahlah dengan gadis pilihan kakek.”
Zach membelalak. “A–apa maksud Kakek?”
“Gosip ini akan berhenti kalau kamu menikah.”
“Apa tidak ada solusi lain?”
“Tidak ada. Jika kamu mengadakan konferensi pers tanpa diimbangi fakta baru, mereka tetap mencibirmu. Lain halnya jika ada kejadian istimewa. Wartawan yang haus job akan memburu berita baru itu. Entah mereka akan meninggalkan berita perselingkuhan wanita itu atau malah menggabungkannya dengan berita kamu menikah itu terserah mereka. Yang jelas kamu sudah mempunyai alibi.”
Ahmad dan Zach masih beradu pandang. Zach ingin membantah tapi mengingat Ahmad masih lemah dengan kabel dan slang masih menancap di tubuhnya, ia tak tega.
“Terserah Kakek. Tapi jangan harap aku menjalani pernikahan palsu ini dengan cara baik-baik. Apalagi dengan perempuan antah berantah.”
“Jaga bicaramu Zach. Sebuah pernikahan itu ikatan suci. Siapapun yang menjadi istrimu, hormatilah dia. Apalagi kamu juga mengenalnya dengan baik.”
“Siapa dia yang Kakek maksud?”
“Nanti saja Kakek beritahu.”
“Meskipun dia temanku, aku tidak bisa begitu saja menyukainya, kan?”
“Enam bulan. Kalau kamu bisa bertahan sampai enam bulan, kamu jadi pewaris utama.”
Zach tampak terkejut. “Sungguh?”
Ahmad mengangguk. “Tapi, perusahaan di New York akan kuberikan ke Theo.”
Zach menimbang-nimbang pernyataan Ahmad. Perusahaan di New York prospek dan progres-nya sangat bagus. Namun, perusahaan di tanah air sudah stabil dan Zach tinggal melanjutkan saja.
“Kebetulan hari ini sebenarnya ada jadwal rapat dengan ayah gadis itu. Kamu gantikan kakek.”
“Apa?!” tanya Zach dengan suara meninggi.
Ahmad kemudian memerintahkan Zach untuk segera menghadiri rapat dengan mitra bisnisnya. Zach protes keras, kenapa rapat itu tetap digelar meskipun Ahmad sedang berada di rumah sakit? Bukan karena tidak punya empati. Namun, ini keputusan Ahmad. Profesionalisme adalah penting bagi para pelaku usaha.
“File dan profil perusahaan bisa kamu pelajari dulu. Sekretarisku sudah siap di kantor.”
Setelah Zach mempelajari perjanjian investasi dengan perusahaan Prasetyo, dia menyadari bahwa Prasetyo menyerahkan putrinya sebagai ganti investasi bernilai lima belas triliun untuk perusahaannya. “Luar biasa,” ujar Zach disertai senyuman miring.
****
Pagi itu Prasetyo tampak serius. Gwen yakin banyak hal yang membebani kepalanya. “Dad, apa masakannya tidak enak?” tanya Gwen sewaktu mereka sarapan bersama.
“Oh, maaf Baby-G masakanmu selalu enak. Hanya ... banyak hal yang mengganggu pikiran Daddy akhir-akhir ini.”
Gwen meletakkan sendok dan garpunya. “Jangan terlalu banyak pikiran, Dad. Bagi-bagi tugas buat bawahan di kantor kalau Dad rasa pekerjaan itu terlalu banyak.”
“Iya, Bu Dokter,” jawab Prasetyo sambil tersenyum.
Gwen dan Naufal berpamitan untuk berangkat lebih dulu. Sedangkan Prasetyo berbicara dengan Laras di kamar.
“Apa Mama yakin Gwen akan menerima permintaan kita?” tanya Prasetyo sambil memilih dasi yang akan ia kenakan.
Laras membantunya dengan mengambilkan sebuah dasi berwarna biru bermotif kecil tapi dari jauh kelihatannya polos. “Dia in syaa Allah menerima. Gwen anak yang baik. Tapi ... semua keputusan kita serahkan kepadanya. Gwen sudah dewasa, bagaimanapun juga ini tentang hidupnya.” Laras kemudian memakaikan dasi itu ke kerah kemeja suaminya.
“Andai masalah ini tidak ada. Aku malu sebagai orangtua. Aku tak pernah hadir dan mendampingi Gwen hingga dewasa, tapi hari ini aku meminta bantuannya.”
“Gwen pasti mengerti hal itu. Maka dari itu kita serahkan keputusan kepadanya.”
“Nanti makan siang, tolong telepon Gwen suruh datang ke kantor.”
“Kenapa? Apa kamu takut aku ikut bicara?”
“Bukan begitu maksudnya. Aku ingin dia melihat langsung kondisi perusahaan dan bisa memutuskannya dengan baik. Selain masa depannya, ini juga tentang masa depan kita keluarganya.”
-------------------------------------------------------------------
bang Diesel lope lope bang