NovelToon NovelToon
Second Wife

Second Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / CEO / Janda / Selingkuh / Aliansi Pernikahan / Ibu Mertua Kejam
Popularitas:314
Nilai: 5
Nama Author: yulia puspitaningrum

Pernikahan yang bahagia selalu menjadi dambaan bagi setiap wanita didunia ini, namun terkadang takdir tidak berjalan sesuai apa yang kita harapkan.

Begitupun dengan apa yang dialami Alyssa, wanita cantik berusia 26 tahun itu harus menerima kenyataan pahit. Bahwa pernikahan yang selalu ia jaga hancur oleh penghianatan sang suami.

Rasa kecewa dan sakit yang ia rasakan membuat ia trauma dan berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menjadi duri dalam rumah tangga orang lain. ia menutup dirinya rapat rapat namun semua itu tidak lantas mengubah prasangka buruk orang orang karena statusnya sebagai seorang janda.

Namun bagaimana jadinya jika takdir memintanya untuk menjadi istri kedua... akankah ia menolaknya mengingat janjinya. atau ia akan menerimanya karena keadaan yang begitu memaksa dirinya...
lalu sanggupkah ia menjalani kehidupannya.

penasaran intip kisahnya disini jangan lupa berikan kritik dan saran yang membangun...
terimakasih

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yulia puspitaningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27. mulai ada rasa...

Alyssa tidak henti hentinya tersenyum melihat sang ibu yang kini sudah tertidur dengan pulas di ranjangnya.

Tangan wanita itu terulur menyelimuti tubuh ibunya agar tidur wanita itu semakin lelap.

Pandangannya beralih menatap jam yang melingkar di tangannya yang kini menunjukkan pukul 11 malam.

"Ini sudah larut tapi kenapa kak Brayen belum juga pulang." Lirih Alyssa merasa khawatir, ia takut terjadi apa apa dengan suaminya.

"Apa aku harus meneleponnya tapi bagaimana kalau aku mengganggu." Lirihnya merasa sedih, ia takut Brayen marah dan mengganggu waktu laki laki itu.

"Tapi aku ini istrinya, jadi wajar bukan kalau aku menanyakan keadaannya."

Alyssa mulai berbicara sendiri saking asiknya ia sampai tidak menyadari Brayen sudah datang dan kini tengah berada dibelakangnya.

"Apa kamu tidak ada teman mengobrol, kenapa kamu berbicara sendiri?"

Alyssa terkejut ia membalikkan tubuhnya mencari asal suara yang baru saja memasuki gendang telinganya.

"Sejak kapan kakak disini?" Tanya Alyssa menatap Brayen tanpa berkedip, ia masih tidak percaya Brayen ada dihadapannya.

Brayen tersenyum kemudian ia mendorong kursi rodanya agar lebih dekat dengan Alyssa.

"Baru saja..." Singkat Brayen yang membuat jantung Alyssa berdebar dengan kencang ia takut Brayen mendengar apa yang ia katakan.

"Apa kakak mendengar perkataanku?" Tanya Alyssa penasaran.

"Tentu saja kamu mengatakannya dengan sangat jelas jadi mana mungkin aku tidak mendengarnya." Wajah Alyssa berubah tegang, ia menundukkan kepalanya tidak berani menatap Brayen yang saat ini masih setia menatap dirinya.

"Alyssa..." Panggil Brayen namun Alyssa masih enggan menatapnya.

"Jangan takut, aku tidak marah padamu. Kamu boleh menghubungiku, menanyakan keberadaan ku jika kamu mau dan aku sama sekali tidak terganggu dengan itu karena kamu memang istriku kamu memiliki hak untuk itu..."

Perlahan Alyssa mulai mengangkat wajahnya menatap Wajah Brayen yang kini tengah tersenyum.

Glek...

Alyssa menelan ludahnya kasar, ia baru sadar jaraknya dan Brayen begitu dekat sekarang bahkan ia bisa melihat alis tebal laki laki itu dengan sangat jelas.

Jantung Alyssa berdebar, entah mengapa ia menjadi gugup pipinya memerah sedangkan nafasnya tertahan.

"Ada apa denganku..." Batin Alyssa dalam hatinya.

"Em... Itu kak." Ucap Alyssa terlihat ragu.

"Ada apa?"

"Bisakah kakak mundur sedikit..." Ucapnya seraya memperlihatkan gigi putihnya agar Brayen tidak tersinggung dengan permintaannya.

"Ah... Ya maafkan aku." Ucap Brayen mendorong kursi rodanya kebelakang.

Hening kini mereka hanya diam, suasana diantara mereka menjadi canggung.

Pandangan Brayen beralih pada sesuatu yang sedari tadi mencuri perhatiannya.

Sebuah kertas undangan yang tergeletak tak jauh dari ranjang ibu mertuanya membuat ia penasaran. Perlahan ia mendekati kertas itu dan membacanya.

"Undangan dari siapa ini?" Tanya Brayen penasaran.

Tubuh Alyssa menegang, ia bingung harus menjelaskannya dari mana.

"Em... Dari mantan suamiku."

Mata Brayen melebar, ia baru tau kalau Alyssa sudah pernah menikah sebelumnya. Sang ibu tidak pernah memberitahunya.

"Kamu.... Sudah pernah menikah sebelum denganku?" Tanya Brayen ragu ia takut melukai hati Alyssa bagaimanapun itu masa lalunya.

"Iya, apa Tante Lita tidak pernah memberitahu kakak sebelumnya?" Tanya Alyssa sedikit terkejut.

"Sepertinya mama lupa memberitahuku." Alyssa jadi tidak enak hati kepada Brayen, meskipun itu bukan kesalahannya tapi tetap saja ia terkesan menyembunyikan statusnya kepada suaminya itu.

"Maaf..." Ucap Alyssa nyaris tidak terdengar.

"Untuk apa kamu meminta maaf?" Tanya Brayen heran. Ia tidak merasa Alyssa sudah membuat kesalahan.

"Aku tidak memberitahu kakak tentang statusku sejak awal. Aku tidak..." Belum sempat Alyssa menyelesaikan perkataannya Brayen sudah lebih dulu memotong perkataan wanita itu.

"Tidak bermaksud menipuku kan?" Tanya Brayen yang diangguki dengan perlahan oleh Alyssa.

"Tapi aku tidak merasa ditipu, ini bukan kesalahanmu. "

"Apa kakak tidak malu menikahi janda sepertiku."

Brayen melipat kedua tangannya diatas dada. Matanya menyipit sementara dahinya berkerut seolah olah terlihat serius.

"Untuk apa malu... Bagiku status tidak penting toh kamu tetap istriku."

Hati Alyssa menghangat mendengar Brayen mengakui dirinya, entah mengapa Alyssa menjadi senang. Senyum sudah terukir kembali dibibirnya.

sementara Brayen, laki laki itu sudah kembali menghampiri Alyssa dan menyerahkan undangan ditangannya kepada istrinya.

"Jadi apa kamu akan menghadiri pesta pernikahan itu?" Tanya Brayen penasaran.

Alyssa terdiam, menatap undangan yang Brayen berikan nanar.

"Aku rasa aku tidak perlu menghadirinya." Singkat Alyssa yang justru membuat Brayen semakin penasaran.

"Kenapa, apa kamu masih mencintainya?" tebak Brayen mulai meraba tidak nyaman, ada sesuatu yang bergejolak dalam hatinya ketika ia mengatakan itu.

"Cinta... Aku rasa tidak yang tersisa hanya rasa benci dan kecewa." Ucap Alyssa dengan mata berkaca kaca, ia teringat akan rasa sakit yang Arya torehkan dihatinya. Rasa sakit itu tidak akan bisa hilang begitu saja.

"Memangnya apa yang sudah dia lakukan?"

"Dia melakukan kesalahan yang tidak akan pernah aku maafkan. Sebenarnya alasan itu juga yang membuatku ragu untuk menerima tawaran Tante Lita dan menikah dengan kakak."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!