NovelToon NovelToon
SUAMI PILIHAN PAPA

SUAMI PILIHAN PAPA

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5M
Nilai: 4.9
Nama Author: Rahmania Hasan

Naura adalah putri semata wayang pak Malik, memiliki paras yang cantik, dia tumbuh tampa merasakan kasih sayang seorang ibu. Pak Malik yang khawatir dengan hidup putrinya kelak ketika dia sudah tiada lagi dunia ini, meminta teman lamanya ketika mereka menuntut ilmu di pesantren dulu.
Pilihannya jatuh pada sosok pria sederhana, namanya Hasan. Pria itu sebenarnya tidak pendiam tapi dunia mereka yang berbeda membuat mereka tidak mudah untuk saling dekat.
Perasaan itu mulai tumbuh diantara keduanya tapi tidak ada yang berani memulai. Sampai akhirnya Naura tak bisa lagi menahan perasaannya, dia mencoba mengambil inisiatif dan terus berupaya memberikan signal - signal cinta. Namun Hasan yang ragu dan takut salah mengartikan isyarat itu justru menghindar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmania Hasan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30

CAPTER 30

TETAP LULUH MESKI TAHU SEDANG DIKERJAIN OLEH NAURA

"Mau kemana bik?." tanya Hasan yang melihat bik Siti tengah tergesa-gesa.

"Mau belanja Den." Jawab bik Siti.

"Belanja apa Bik?."

"Belanja bulanan Den."

"Mau saya antar?." tanya Hasan menawarkan diri.

"Tapi pakek motor Bik!." Melanjutkan.

Sebuah ide muncul secara tiba-tiba dibenak bik Siti, yaitu ide untuk membuat Hasan dan Naura semakin dekat. Demi misinya berhasil bik Siti Segera mengiyakan tawaran Hasan dan sekaligus memberi usulanjuga.

"Den kalo pakek motor terus belanjaannya gimana?." Ujar bik Sitimencari alasan.

"Iya juga sih...emang banyak ya Bik?." Ucap Hasan.

Bik Siti menjawabnya dengan anggukan kepala.Dan lanjut memberi masukan sekaligus usulan.

"Den gimana kalo bawa mobil aja...kan digarasi mobil lagi nganggur semua." Ucap bik Siti memberi tawaran.

Hasan tidak berkomentar, dia hanya tersenyum dan menundukkan wajahnya.

"Den kita ajak non Naura ya...kan enak bawa mobilnya Non, entar Aden yang nyetir." Lanjut bik Siti memuluskan rencana.

Hasan hendak bersuara tapi bik Siti dengan semangatnya berlari ke atas untuk mengajak Naura. Hasan hanya bisa tersenyum tipis melihat semangat bik Siti untuk mendekatkan mereka berdua. Sambil menunggu bik Siti kembali, Hasan duduk dikursi dan menyalakan televisi.

"Tok Tok Tok"

Bik Siti mengetok pintu kamar Naura dengan semangat, butuh beberapa kali ketokan sebelum pintu akhirnya dibuka oleh Naura.

"Ada apa bik kok ngedor-ngedor pintu!." Seru Naura begitu membuka pintu.

"Non ikut bibik belanja yuk." Ajak bik Siti.

"Males ah Bik!." Jawab Naura yang lagi malas keluar rumah.

"Dari pada dirumah terus Non...bikin sumpek mending keluar." Seru bik Siti masih belum menyerahkan.

"Males Bik!." Bersikekeh menolak.

"Non pernah janji mau belikan bibik Bedak apa udah lupa...ayo Non!." Desak bik Siti.

"Iya iya...tunggu bentar bik aku ganti baju dulu."

Naura kembali kedalam tanpa menutup pintu, bik Siti dengan semangat menunggunya diluar kamar. Tak lama kemudian Naura keluar dengan tampilan yang beda dari sebelumnya.

"Ayo Nyonya!." Ujar Naura dan menggandeng lengan bik Siti.

Mendengar suara bik Siti dan Naura mendekat, Hasan langsung mematikan televisi. Dia segera bangkit dan menghampiri keduanya. Hasan tampak ragu untuk membuka mulutnya untuk bersuara, khawatir Naura tidak berkenan.

"Den ayo!." Seru bik Siti.

"Lohh Bibik!." Ucap Naura sambil melotot.

Bik Siti menanggapinya dengan senyuman, tidak mau ambil pusing menghadapi protesan Naura. Bahkan bik Siti dengan beraninya meminta kunci mobil pada Naura. Dengan berat hati Naura menyerahkan kunci mobil itu ke bik Siti.

Naura yang tadi cerah sekarang berubah datar, dia tidak banyak bicara selama dalam perjalanan. Obrolan didominasi oleh bik Siti dan Hasan juga sedikit irit bicara, dia hanya menjawab apa yang ditanyakan oleh bik

Siti. Sesekali Hasan mencuri pandang ke Naura melalui kaca spion, hatinya ingin sekali mengajak istrinya bicara tapi dia bingung memulainya dengan tema apa. Mengingat mood istrinya seperti roll coster yang suka naik turun. Kadang Hasan merasa cukup mengenalnya tapi kadang pula sangat asing.

"Non kok cuma diem aja?." Ucap bik Siti.

"Mungkin lagi puasa bicara Bik." Ucap Hasan berusaha memecahkan kebisuan Naura.

"Uda fokus aja nyetirnya!." Perintah Naura.

"Dari tadi juga fokus kok." Ucap Hasan membela diri.

Naura kembali membisu, dia hanya fokus melihat keluar cendela.

"Mba habis belanja mau mampir kemana?." tanya Hasan sambil melirik Naura dari kaca spion.

Naura tidak mendengar pertanyaan yang dilontarkan Hasan, dia tetap menatap keluar cendela sementara pikirannya melayang entah kemana. Bik Siti menepuk paha Naura untuk menyadarkannya.

"Non ditanya sama Aden...habis belanja apa sek mau mampir kemana?!."

"Mampir ke CBC ya." Ucap Naura.

"CBC itu apa Mba?." tanya Hasan yang tidak tahu.

"Beauty Centre." Jawab Naura.

"Ohhh...."

Tak berapa lama mobil bekas henti di salah satu mall yang ada di kota itu, setelah memarkirkan kendaraannya. Hasan keluar dari mobil dan menyusul Naura dan bik Siti yang sudah berjalan didepan.

Mereka memasuki pusat perbelanjaan dan mulai melengkapi daftar belanjaan yang dibawa oleh bik Siti. Bik Siti dan Naura sibuk mencari dan memilih barang yang akan dibeli, sementara Hasan berperan sebagai bodyguard mereka.

"Mungkin ada yang mau dibeli sama Aden?." Tanya bik Siti.

Hasan tersenyum danhanya menggelengkan kepala. Bik Siti merasa Hasan hanyalah malu untuk mengatakan padanya, bik Siti pun berbisik pada Naura.

"Non coba tanya geh mungkin ada yang mau dibeli sama den Hasan." Ucap bik Siti.

"Kok aku bik...kan tadi udah nanya!." Tolak Naura.

"Siapa tahu den Hasan malu yang mau ngomong kalo ke bibik."

"Terus apa hubungannya sama aku?."

"Mungkin kalo sama istri sendiri nggak." Tutur bik Siti.

Hasan melihat sekeliling hanya sekedar mengusir kebosanan, matanya melihat banyak pasangan yang sedang berbelanja juga. Ada yang hanya berdua dan ada juga yang bersama dengan anak mereka. Entah kenapa hati Hasan terenyuh menyaksikan keharmonisan yang mereka tunjukkan. Batinnya juga menginginkan pengalaman itu dirasakan olehnya. Matanya berkaca-kaca ketika melihatnya.

Bik Siti yang menamati Hasan juga terenyuh, bahkan spontan air mata keluar, namun segera dihapus karena takut Naura mengetahuinya. Bik Siti tidak kehabisan akal, dia berniat membantu mewujudkan keinginan Hasan.

"Non bibik ke bagian dapur dulu ya ada yang mau bibik cari sebentar." Ujar bik Siti sambil menyerahkan catatan yang dia pegang.

Dan juga menyerahkan troli yang sedari tadi didorong olehnya. Sedetik kemudian dia berlari kecil menjauh dari keduanya. Bahkan Naura tidak memiliki waktu untuk menolaknya, dia hanya bisa melongo.

Hasan mengambil alih peran bik Siti, dengan cekatan tangannya meraih troli. Lalu mendorongnya, sambil berkata.

"Ayo Mba saya temenin." Ucap Hasan sambil mendorong troli.

"Hmmm...." Guman Naura dan mengikuti Hasan.

Hasan meminta Naura untuk mengecek daftar belanjaan yang belum dibeli, Naura membacanya satu-satu. Dan Hasan mencari barang yang disebutkan oleh istrinya.

"Mba ini banyak pilihannya...biasanya yang sering dibeli yang mana?." tanya Hasan.

"Yang mana ya!." Jawab Naura sambil memilih.

 Mereka berdua sibuk memilih-milih barang, sesekali juga berdiskusi barang mana yangakan diambil. Bik Siti terharu ketika menyaksikan mereka berduadari kejauhan, bahkan air mata kebahagiaan jatuh mengalir di pipinya.

"Ya Allah jangn pisahkan mereka berdua." Do'anya dalam hati.

Nauradan Hasan yang sibuk memilih-milih, tidak menyadari ada  anak kecil berlari dan tidak sengaja menyenggol troli mereka. Anak kecil itu terjatuh dan menangis. Hasan seketika menoleh dan spontan dia meraihnya dan menggendongnya, merayunya juga supaya berhenti menangis. Tangannya mengusap air mata dipipi gadis kecil itu, juga mengelus dadanya dan mencium pipi tembemnya.

"Nah gitu baru cantik...om pengen tahu dong siapa namanya?." tanya Hasan dan kembali mencium pipinya.

"Nana." Jawabnya dan melingkarkan kedua tangannya dileher Hasan.

"Nana...istrinya om juga Nana namanya, cantik juga sama kayak Nana kecil." Seru Hasan dan mencubit pipi Nana kecil.

"Nana kecil kok lari-lari mana mamanya?." tanya Hasan dengan penuh kasih sayang.

"Kalo gitu kita cari mamanya Nana kecil ya!." Ucap Hasan.

Gadis kecil itu mengangguk, tidak butuh lama bagi keduanya untuk menjadi akrab. Bahkan Naura yang tadinya pasif, kini ikutan bercanda dengan gadis kecil itu.

Seorang ibu muda berlari kearah mereka, sambilmemanggil namanya. Naura dan Hasan mempercepat langkah mereka kearah ibu muda itu.

"Maaf ya Mba anak saya ini terlanjur aktiv." Ujarnya pada Naura.

"Lain kali lebih waspada Bu...takutnya kenapa-napa sama putrinya." Tutur Hasan memperingatkan.

"Iya Mas makasih."

Hasan menyerahkan gadis kecil itu pada ibunya, tapi gadis kecil itu justru enggan melepaskan diri dari Hasan. Kedua tangannya melingkar ketat dileher dan membenamkan kepalanya dipundak Hasan.

Hasan mengelus punggungnya dan juga merayunya agar gadis kecil itu mahu melepaskan pelukan dan kembali pada ibunya. Butuh waktu cukup lama sebelum akhirnya dia mau melepaskan Hasan.

"Kok lama Bik?." Ujar Naura.

"Maaf Non barang yang dicari itu stoknya habis, bibik muter-muter nyarinya." Kilah bik Siti.

"Ohhh...ayo cepat antri ke kasir." Seru Naura.

Bik Siti mengambil troli dari tangan Hasan, dia mendorong troli itu dengan penuh semangat dan bahkan meninggalkan mereka berdua dibelakang.

Selesai melakukan pembayaran dikasir, sesuai janji Naura pada bik Siti. Dia membawa bik Siti berkeliling mall untuk mencari toko make up dan membelikan bedak seperti yang ditagih bik Siti tadi sebelum berangkat.

"Non makasih ya!." Ucap bik Siti begitu keluar dari toko make up dan menenteng satu set bedak ditangannya.

Naura tersenyum, dia menggandeng lengan bik Siti untuk melanjutkan langkah kakinya.  Sementara Hasan berada disamping mereka dengan troli yang penuh barang belanjaan.

Ketika hendak menuju eskalator, mereka bertiga tak sengaja lewat didepan salon kecantikan milik Yunita. Yunita yang tengah berada didepan salon menghentikan mereka.

"Ra...nggak nyangka ketemu disini." Sapa Yunita dengan manis.

"Kamu ngapain disini?." tanya Naura yang sudah bersiaga.

"Aku ya kerja lah disini." Jawab Yunita.

"Kerja?!." Naura tidak percaya.

"Iya..ini salonku baru dua bulanan aku ngelolanya." Yunita menjelaskan.

"Loh Mba tadi katanya mau." Hasan tiba-tiba bersuara.

Namun Naura dengan sigap menghentikan Hasan, merangkul lengannya sambil mendongakkan kepala untuk bisa menatap Hasan yang lebih tinggi darinya. Begitu Hasan menundukkan mukanya, Naura memberikan isyarat dengan berkedip.

"Iya makanya buruan." ucap Naura dengan manja.

Hasan segera pamit pada Yunita dan pergi menjauh dari hadapannya. Mereka berjalan menuju eskalator yang langsung terhubung ke tempat parkir dilobi bawah.

Setelah memasukkan semua barang belanjaan, Hasan langsung menghidupkan mesin mobil. Membawanya menyusuri jalanan yang padat normal.

"Mba salonnya yang tadi itu dijalan mana?." tanya Hasan pada Naura.

"Dijalan Sukarno-Hatta dikawasan plazza." Naura menjelaskan.

"Non mau kesalon?." bik Siti mencoba memastikan.

"Iya Bik kan udah dibilang!." Ujar Naura.

"Bibik nggak ikut Non...kerjaan dirumah banyak."

"Alasan nih ya nggak mau nemenin aku." Goda Naura.

"Beneran Non kerjaan bibik banyak." Komentar bik Siti.

“Hmmm...alasan bilang aja nggak mau!.”

“Kapok No bibik nemenin kesalonnya.”

Naura tertawa mendengar pengakuan bik Siti, dia memang pernah mengajak bik Siti untuk menemaninya ke salon dan pulangnya bik Siti terus mengomel karena lama.

"Den turunkan bibik didepan ya." Pinta bik Siti memohon.

Naura terus tertawa melihat wajah bik Siti yang meratap, dia bahkan mengomel dengan menceritakan kembali pengalamannya itu. Naura tidak bisa berhenti tertawa mendengar ratapan diceritanya. Hasan hanya bisa tersenyum melihat protes bik Siti pada Naura yang hanya ditanggapi dengan tawa.

"Den berhenti!." Ujar bik Siti sambil menepuk kursi pengemudi depan.

"Iya Bik iya!." Jawab Hasan.

Begitu mobil berhenti, bik Siti secepat kilat turun dari mobil. Dia takut Naura menghalanginya jika tidak segera turun.

"Bik ayo ikut dong...entar bibik perawatan juga disana." Goda Naura.

"Makasih Non...bibik uda tua." Tolak bik Siti dengan tegas.

Naura turun dari mobil untuk pindah ke kursi depan, tapi bik Siti mengira mau menariknya masuk ke mobil. Dengan segera bik Siti menyetop taxi yang lewat.

"Bibik balik dulu Non." Ucapnya sambil masuk kedalam taxi.

Naura menahan tawanya, dia melambaikan tangan pada bikSiti. Lalu membuka pintu depan mobil.

"Ayo jalan." Perintah Naura.

Mobil kembali melaju menuju salon kecantikan yang dimaksud oleh Naura.

"Ohhhh...salon ini!." Ujar Hasan begitu tiba disana.

Naura memicingkan matanya melihat Hasan, curiga dengan seruan yang Hasan lontarkan tadi. Hasan memberanikan diri untuk bertanya pada Naura yang terlihat menyimpan kecurigaan padanya.

"Tunggu...apa ini maksudnya?!." tanya Hasan dengan mengerutkan alis.

"Kok kayaknya tempat ini nggak asing buat kamu?." Naura balik bertanya.

Hasan terseyum dan menjawab pertanyaan yang diajukan oleh istrinya.

"Iya lah!." Dengan mencondongkan tubuhnya kearah Naura.

Seperti biasanya reaksi yang ditunjukkan Naura pada ucapan Hasan adalah emosi, dia yang tadi sudah membuka sabuk pengaman sekarang malah memasangnya lagi. Dan memerintahkan Hasan untuk menyalakan mobil dan pulang.

"Loh katanya mau kesini?!." tanya Hasan.

"Ogah males!." Jawab Naura ketus.

"Udah ayo turun!." Ucap Hasan dan membuka kembali sabuk pengaman yang sudah dipasang oleh Naura.

“Ihhh... pasang lagi!." Perintah Naura.

"Tempat ini nggak asing buat saya soalnya tiap hari saya itu mesti lewat sini." Mencoba menjelaskan.

"Tiap hari?!." mengulangi ucapan Hasan.

"Iya rumah saya nggak jauh dari sini, dipertigaan depan sana itu belok kanan... kira-kira 100meter dari pertigaan ada perumahan...rumah saya disana." Lanjut menjelaskan.

"Ohhh...aku pikir." Tidak melanjutkan perkataannya.

Naura termasuk salah satu pelanggan  VIP di tempat kecantikan itu, sehingga begitu dia datang karyawan ditempat itu sudah menyiapkan ruang kosong untuknya.

"Selamat siang mba Naura."

"Selamat siang juga." Jawab Naura dengan ramah.

Sementara Naura memasuki ruang untuk mendapatkan perawatan, Hasan menunggu dilobi sambil menonton

televisi yang sudah disediakan ditempat tersebut. Ingat dengan cerita bik Siti yang pernah menemani Naura , Hasan bangkit dari duduknya dan bertanya pada front office.

"Mba maaf saya mau tanya...kalau perawatan tubuh itu lama nggak?." tanya Hasan pada karwayan berseragam ungu.

"Lumayan Pak." Jawabnya dengan ramah.

"Ada sejam Mba?!." tanya Hasan lagi.

"Tergantung jenis perawatan yang diambil...untuk wajah bisa 1-3 jam dan untuk tubuh bisa lebih dari itu...semuanya terantung dari perawatan yan diambil." Tuturnya menjelaskan pada Hasan.

Hasan sempat melongo mendengarkan penjelasan karyawan tersebut, dia juga mencoba menghitung waktu yang akan dihabiskan oleh Naura untuk perawatan tubuh dan wajahnya kali ini.

"Mba kalo wajah sama tubuh?." tanya Hasan lagi.

"Cukup lama Pak...semua tergantung dari jenis perawatan yang diambil." Tuturnya sambil tersenyum sopan.

Kepala Hasan terus mencoba menghitung waktu yang akan dihabiskan ditempat itu, tidak ingin lama menunggu disana Hasan pun memutuskan untuk pulang kerumahnya sendiri. Sambil menunggu Naura, dia akan istirahat disana.

"Mba tolong antar saya ke istri saya ya bentar...takutnya dia nggak pegang ponsel." Pinta Hasan.

"Ohh iya pak mari!."

Karyawan wanita itu mengantar Hasan keruang perawatan dimana Naura berada. Setelah mengetok pintu dua kali, dia membukakan pintu untuk Hasan.

"Terimakasih Mba." Ucap Hasan.

"Sama-sama." Jawabnya dan kembali kedepan.

Langkahnya sedikit ragu untuk masuk, namun dia berusaha memberanikan diri untuk itu. Tentunya karena dia tidak ingin bernasib sama dengan bik Siti. Mata Hasan sempat terkaget melihat tubuh bagian atas istrinya yang tanpa busana. Meski yang terlihat hanyalah bagian punggung dan sedikit bagian pinggul, tapi itu sudah cukup membuat hasratnya membara. Apalagi bagian dadanya yang mengintip dari kedua sisi, membuat dia menelan ludah.

"Mba nya!." Suara Hasan membuat Naura kaget.

Namun dia tidak bisa berbuat banyak, dia hanya bisa pasrah membiarkan suaminya menyaksikan tubuh telanjangnya saat ini. Alih-alih menutupi tubuh, Naura malah membenamkan mukanya kebantal,  hal itu

sontak membuat tubuhnya terangkat sebentar dan mempertontonkan bagian dadanya dari samping. Menyadari tubuhnya terangkat, Naura langsung menutupinya dengan menekuk lengannya. Hasan tersenyum melihat reaksi spontan Naura.

"Ada apa?." tanya Naura.

"Mba kira-kira lama nggak?." jawab Hasan dengan balik bertanya.

"Iya...kenapa?."

"Kalo gitu saya tunggu dirumah ya...nanti kalo uda selesai saya ditelfon." Ucap Hasan mengajukan tawaran.

"Hmmm...." Guman Naura menyetujuinya.

Begitu Naura menyetujui permohonannya, Hasan langsung menghilang dari tempat itu dan dengan secepat kilat dia mengendari mobil menuju rumahnya sendiri.

Tiga kunyuk tengah berada diteras samping rumah, ketika melihat mobil warna kuning masuk kehalaman rumah mereka, tepatnya kosan mereka. Penasaran siapa yang berada didalamnya, Andik berdiri dan hendak melangkah. Namun Hasan segera turun dan mengagetkan mereka bertiga.

"Wiuhhhhh uda kayak orang kaya beneran Mas nya kita ini!." Seru Andik menggoda Hasan.

"Iya tapi mentang-mentang udah kaya...datang nggak bawa apa-apa." Sindir Ilham.

"Kayaknya udah mulai berubah ini...apa terjangkit penyakit OKB ya?!." Ilyas menambahkan.

“Nggak apa-apa...asal bukan corona!.” Jawab Hasan.

Hasan dengan santai berjalan melewati mereka. Menggoda tiga kunyuk dengan bersikap layaknya orang kaya songong.

"Duhhh kita nggak dilihat wes!" Ujar Andik sambilmengikutinya dari belakang.

Setelah membuka pintu kamar, Hasan berkata pada mereka bertiga.

"Mas istirahat dulu ya bentar." Sambil tersenyum dan menutup pintu kamar.

Didalam kamar Hasan tersenyum mengingat kembali wajah tiga kunyuk yang melongo. Tidak butuh lama baginya setelah menjatuhkan badan dikasur,hanya dalam beberapa menit dia pun tertidur.

Waktu sudah sore, Andik membangunkan Hasan dengan mengetok pintu kamar. Setelah dua kali mengetok pintu, Hasan terbangun dan segera membuka pintu kamarnya. Mata Hasan masih mengantuk, tapi dia tetap pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan juga untuk mengusir rasa kantuknya.

Tak lama kemudian dia keluar dan kembali masuk kamar, ingat dengan buku yang lupa dia bawa. Hasan segera mencari dilaci meja kerja. Setelah itu dia keluar dari kamar dan bergabung dengan tiga kunyuk yang lagi duduk santai diterassambil bermain karambol.

"Kok tidur disini Mas?!." tanya Ilham dengan nada curiga.

"Emangnya nggak boleh?." balik bertanya.

"Bukan gitu Mas...maksud kita ini...apa ada sesuatu yang terjadi?!." Ucap Ilham melanjutkan interogasinya.

"Dari pada mas ketiduran dikursi nunggun istri mas...mending kan tidur disini." Jawab Hasan memberitahu mereka.

"Ketiduran dikursi...maksudnya Mas?." sambung Andik.

"Iya Mas nganterin mba Naura ke salon  kecantikan dekat pertigaan depan...Mas juga baru tahu kalo ternyata perawatannya cewek itu lama banget." Hasan menambahkan.

"Bukan cuma lama Mas tapi katanya mahal bisa buat beli motor!." Ujar Andik menggoda.

"La kok motor sih...seharga mobil Mas...ada yang ratusan juta sekali perawatan." Ilham menambahkan.

"Iya bener kayak artis-artis itu." Sambung Ilyas.

"Masak sih...jangan nakutin Mas!." Hasan berucap.

Tiga kunyuk tertawa mendengar ratapan Hasan, tidak hanya ditertawakan tapi mereka juga membuli Hasan. Tiba-tiba suara dering ponsel terdengar, segera Hasan berlari untuk mengangkat panggilan masuk itu.

"Jemput aku ya." Suara Naura terdengar diujung telfon.

"Iya tunggu bentar." Jawab Hasan.

Lalu kembali keluar dengan tergesa-gesa, dia khawatir Naura menunggu lama disana dan keburu dia ngambek

"Mas balik dulu ya!." Teriak Hasan dari dalam mobil.

"Iya Mas hati-hati." Seru Ilham sambil melambaikan tangannya.

Tidak butuh waktu lama bagi Hasan untuk sampai disana dan begitu memarkirkan mobil. Dia segera masuk ke lobi dan sudah mendapati Naura sedang duduk dikursi menunggunya.

"Sudah selesai mba?!." tanya Hasan begitu berdiri didepan Naura.

Naura segera  bangkit dari duduknya dan berbisik ditelinga Hasan. Karena tubuh Hasan cukup tinggi, Naura harus berjinjit agar bisa dekat ke telinga Hasan. Juga tangan Naura memegang tangan Hasan dan menariknya sedikit kebawah. Hasan merespon dengan membungkuk sedikit agar Naura bisa menggapainya.

"Sudah tinggal bayarnya yang belum." Bisik Naura dengan suara pelan.

"Hahh!."

Respon Hasan ketika mendengarnya, dia juga kaget dan sedikit was-was. Itu adalah pengalaman pertama baginya mengantar seorang wanita ke salon kecantikan dan wanita itu adalah istrinya sendiri. Yang terlintas dipikirannya adalah kurang percaya diri dengan saldo rekeningnya. Semua itu cukup beralasan mengingat tempat yang dipilih bukanlah salon kecantikan kelas tiga. Sempat tertegun sejenak, namun bagaimanapun dia tidak boleh mengecewakan istrinya. Bukankah selama ini itulah yang diharapkannya, menjadi suami yang bertanggungjawab atas istri dan anak-anaknya kelak.

Meski ragu dan kurang percaya diri, Hasan tetap melangkah menuju kasir untuk membayar tagihan. Naura tersenyum melihat suaminya berjalan menuju kasir.

"Maaf Mba berapa total biaya perawatan istri saya?." tanya Hasan dengan ragu dan cemas.

"Biayanya hanya 16.500.000 Pak." Jawab wanita yang dikasir.

Tidak yakin dengan jawaban yang diberikan, Hasan mengulangi jumlah yang disebutkan oleh karwayan tersebut. Dalam pikiran Hasan biaya yang dihabiskan jauh lebih diatasnya, bahkan hanya memikirkannya sudah cenat-cenut.

"Iya Pak biayanya 16.500.000 istri Bapak hanya melakukan perawatan biasa, biasanya mba Naura menghabiskan sekitar 50juta  untuk perawatan rutinnya, seperti skin booster, laser glowing dan perawatan wajah lainnya bahkan bisa lebih dari itu kalo mengambil perawatan lain yang tengah booming." Tutur wanita itu memberi tahu Hasan.

"Ohhh...jadi hanya segitu...." Ucap Hasan dan mengeluarkan kartu dari dompetnya.

“Hanya segitu...buat apa perawatan mahal-mahal tapi suami nggak boleh nyentuh” Batin Hasan berguman.

Senyum lebar tersemat dibibir Naura ketika mendengar perkataan Hasan yang menirukan karyawan wanita dihadapannya. Ide baru juga muncul dikepala Naura, dan dia akan melanjutkan yang berikutnya dilain hari.

"Besok-besok kita balik lagi kesini terus ambil spa yang paket couple ya!." Ujar Naura dan menggandeng lengan Hasan dengan riang.

Hasan tidak menjawab, dia hanya menganggukkan kepala dan tersenyum. Melihat Naura penuh dengan kegembiraan hati Hasan juga ikut cerah, meski sebenarnya dia tahu kalau istrinya ini sedang mengerjainya dan juga berniat untuk mengulangnya lagi.

Apapun yang menjadi alasan, bagi Hasan yang terpenting adalah senyum cerahnya. Urusan apakah dia dijadikan target atau tidak, itu menjadi tidak masalah.

Ilham menelfon Hasan yang hendak menjalankan mobilnya kembali, Hasan langsung menginjak pedal rem. Tangannya meraih ponsel disaku celana dan segera mengangkat panggilan itu.

"Hallo Mas." Suara Ilham terdengar.

"Iya ada apa Ham?." tanya Hasan begitu terhubung.

"Mas ini buku yang dimeja sengaja ditaruh dimeja apa ketinggalan?." jawab Ilham dengan kembali bertanya.

"Ya Allah iya lupa mas Ham."

"Terus gimana...mau diantar kesana sama aku apa mau dimabil sendiri kesini?." Ilham memberi usulan.

"Gimana ya...mas udah mau balik...mas ambil besok aja wes." Memberi jawaban.

"Kenapa diambilnya besok...katanya deket dari sini!" Ucap Naura menyela pembicaraan.

"Emang Mba nya nggak keberatan kalo mampir bentar?." Hasan memastikan.

Membiarkan panggilan masih terhubung sehingga Ilham bisa mendengar percakapan mereka.

"Nggak lah." Naura memberi jawaban.

"Hallo Ham." Kembali pada panggilan masuk.

"Iya Mas?."

"Mas kesana sekarang!." Ucap Hasan.

"Tapi kesininya jangan tangan kosong Mas...bawain kita makanan gitu!." Andik menyela.

"Makanan tok yang dipikirin!."

"Huhhh mulai pelit." Ledek Andik.

"Iya iya mas belikan nasi goreng!."

"Masak orang kaya nasi goreng...sesekali lainnya gitu Mas."

"Iya cerewet!." Ujar Hasan dan langsung menutup panggilan.

Mobil kembali dijalankan, keluar dari area salon dan menembus jalanan yang cukup lancar. Naura terus memamerkan kulitnya yang putih mulus pada Hasan.

"Gimana hasilnya kinclong kan!."

"Percuma dikinclongin Mba toh saya nggak boleh nyentuh!." Keluh Hasan menggoda Naura.

Naura tertawa mendengar pernyataan yang keluar dari mulut Hasan, dan menyuruhnya untuk fokus menyetir. tak sengaja matanya melihat toko pizza

"Berhenti dulu!." Tiba-tiba Naura menyuruh berhenti.

"Ada apa Mba?." tanya Hasan yang bingung.

"Belikan mereka pizza!." Sambil menunjuk toko pizza diseberang jalan.

"Pizza nggak bikin mereka kenyang!."

"Ya belikan nasi goreng juga." Naura memberi masukan.

"Ok tunggu sini bentar ya saya beli dulu." Ucap Hasan dan langsung menuju toko pizza yang ditunjuk tadi.

Naura mengangguk dan tersenyum pada Hasan. Saking senangnya hati Hasan, tak terasa tangannya mengusap kepala Naura. Layaknya seorang kakak mengusap adik perempuannya sendiri.

Perhatian yang diberikan secara spontan itu, membuat hati Naura semakin dipenuhi kegembiraan. Bahkan tangannya menyentuh bekas usapan tangan Hasan dikepalanya, matanya terpejam merasakan kehadiran kembali tangan Hasan. Senyum cerah menghiasi wajahnya.

Hasan kembali dengan menenteng dua kotak pizza, setelah menaruh dikursi belakang, mobil dinyalakan kembali. Melewati pertigaan lalu belok kanan. Sebelum masuk kawasan perumahan, mobil berhenti diperempatan jalan, tepatnya didekat nasi goreng pinggir jalan. Hasan turun untuk membelikan tiga kunyuk nasi goreng.

"Lohh mas Hasan saya pikir siapa!." Ujar si penjual nasi goreng.

"Pak pesen nasi goreng seperti biasanya." ucap Hasan.

"Ok Mas ditunggu ya."

Tidak butuh waktu lama,  penjual memberikan pesanan Hasan. Setelah membayar Hasan kembali kedalam mobil. Hanya beberapa menit mobil sudah memasuki halaman rumahnya. Ilyas yang melihat ada mobil masuk, langsung berhambur keluar untuk memastikannya. Lalu disusul oleh Andik dan Ilham.

Hasan turun dengan membawakan mereka bertiga makanan sesuai dengan permintaan. Lalu menyerahkan makanan itu langsung pada Andik.

"Loh Mas kok nggak diajak turun?." Ilham bersuara.

"Cuma bentar kok." Jawab Hasan.

Ilham langsung memberikan perintah pada Ilyas melalui sebuah kode, yaitu menyikut kaki Ilyas dan juga mengedipkan mata sekali. Paham dengan maksud sang ketua, Ilyas langsung berlari keluar dan menghampiri Naura.

"Mba monggo mampir dulu kedalam." Ucap Ilyas pada Naura.

"Iya makasih." jawab Naura sambil tersenyum.

"Masak udah nyampek sini nggak mau turun." Masih berusaha membujuk.

Tidak ingin membuat Ilyas tersinggung, Naura  akhirnya turun dari mobil dan berjalan disamping Ilyas.

"Makasih Mba pizzanya." Seru Ilyas.

"Jangan bilang makasih ke saya...bukan saya yang beli tapi pria itu." Ujar Naura.

"Pria itu!." Ilyas mengulangi perkataan Naura.

Sadar dengan kesalahan kata yang dia gunakan tadi. Naura segera mengoreksinya.

"Maksudnya suami saya." Ucapnya sambil tersenyum.

Mereka berdua terus berjalan menuju teras samping, dan begitu memasuki teras Naura disambut hangat oleh Ilham dan Andik, mereka juga mempersilahkan Naura duduk.

"Jangan khawatir Mba disini meski yang tinggal cowok semua tapi soal kebersihan nggak perlu diragukan." Andik bersuara.

"Tunggu sebentar ya Mba saya buatkan teh." Ilham turut bersuara.

"Tidak usah...makasih." Tolak Naura.

"Nggak apa-apa." Sambung Ilyas.

"Air putih aja sudah." Naura menyerah.

Hasan tidak bisa berbuat banyak, dia hanya bisa pasrah dengan akal-akalan yang dibuat oleh ketiganya. Seolah mengikuti pengaturan yang dibuat ketiganya, Hasan duduk didekat Naura. Sementara Andik dan Ilyas duduk

disisi lainnya.

"Loh Mas nasi gorengnya kok empat?." Andik berucap.

"Masak?!." Tidak percaya.

"Iya...kalo gitu ayo makan bareng." Ajak Andik.

"Udah kalian aja."

Baru selesai bicara ponsel Naura berbunyi, rupanya panggilan itu dari bik Siti. Khawatir ada sesuatu yang terjadi dirumah, Naura segera mengangkatnya.

"Iya Bik?."

"Non masih disalon?." tanya bik Siti diujung telfon.

"Kenapa Bik?." Balik bertanya.

"Nggak apa-apa Non cuma masktikan aja soalnya bibik nggak nyiapin makan malam."

"Loh kenapa nggak nyiapin?." tanya Naura bingung.

"Hehehe...soalnya saya pikir Non pasti makan diluar sama Aden habis dari salon." Ujar bik Siti.

Setelah menutup telfon Naura menghela nafas dalam-dalam. Hasan yang khawatir langsung menanyakan apa ada sesuatu yang terjadi dirumah.

"Nggak ada...cuma bik Siti katanya nggak nyiapin makan malam." Jawab Naura dengan nada lesu.

"Ini aja dimakan mba!." Ucap Andik sambil menyodorkan sebungkus nasi goreng yang sudah ditaruh dipiring.

Naura tidak menjawab, dia malah menoleh ke Hasan. Tatapan matanya seolah mengajukan permohonanan apakah dia diperbolehkan memakan nasi goreng itu. Kebetulan perut Naura memang sudah lapar, mengingat cuma tadi pagi yang diganjal.

Hasan tersenyum, tangannya segera mengambil nasi goreng itu dimeja. Membukanya dan menyerahkannya pada Naura.

"Kamu?." tanya Naura yang tidak tega membiarkan Hasan kelaparan.

"Kalo saya gampang." Jawab Hasan.

Naura yang tidak ingin makan sendiri dan membiarkan Hasan menunggunya makan. Menawarkan pada Hasan untuk dimakan berdua. Awalnya Hasan menolak, tapi karena tidak ingin merusak suasana hati Naura dia pun menyetujuinya.

Tiga kunyuk menjadi saksi keromantisan Hasan dan Naura makan sepiring nasi goreng berdua. Hati mereka turut bahagia melihatnya. Terlebih ketika Hasan menyuapi Naura dengan penuh ketulusan.

1
F2h 29
Lumayan
Bungatiem
aku baca udah ke 4x. tapi pas cerita nya udah mulai melintir ga karuan aku ga lanjutin lagi.
Triwoel Andari
Hasan ngasih mahar ke Naura d episod ke brapa yah.. apa aku yg kelewatan ngebaca nya atau gimana yah...???
Hani P Hani
soweet jadi penggen jadi naura😍😍😍
Hani P Hani
ahirnya mereka bersatu semoga ini menjadi awal yang baik
Hani P Hani
alhamdulilah
Myra Azmoro
Si naura kelewatan ,, Hadeeww episode ini banyak mengadung bawang bikin hati sesak
Yuni
i
나의 햇살
gimana cowok suka sama kamu, orang kamu aja calon pelakor karena kalah saing sama Naura
Jusmiati
enaknya Naura, masak suaminya terus yg berjuang, kalau sy jadi Hasan, sdh sy tinggalin tuh nauranya, cari wanita yg lebih berfikir dewasa....😔😔😔
Yeni Rubianti
berbagi ilmu
Linda Erma
Busyetttt dch nih novel bikin begadang,dtambah nangis lagi gue bacanya 😭😭😭
Linda Erma
Busyetttt dch nih novel bikin begadang,dtambah nangis lagi gue bacanya 😭😭😭
Linda Erma
Bagus bgt critanya,dr tadi bikin mewek mulu 😭😭😭
Linda Erma
Critanya bikin aku mewek bgt 😭😭😭
Linda Erma
Sedih bgt ya 😭😭😭
Linda Erma
Yahhh aku nangis,Naura harusnya bersyukur punya suami yg sabar kyk hasan
Muda MACMUDAH
bagus thor cm sayang kurang lengkap klo g ada ilham jg
Muda MACMUDAH
yg cewek kurang cantik kak soalnya yg cowok tampan abis🤭
Heny Purwati
naura knp egomu tinggi...sampai" tak menyakini ketulusan suami sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!