Tersedak boba membawa petaka! Alara, cewek modern bermulut pedas, mendadak isekai jadi Selir Alara Villin—selir terbuang Dinasti Ruelle yang lemah dan ditindas di Istana Dingin. Tragisnya lagi, dia diberi makan bubur basi yang airnya lebih banyak daripada nasi.
Sebagai pencinta makanan sejati, Alara menolak mati kelaparan. Dia pun nekat menyelinap ke paviliun pribadi Kaisar Kaivan dan mencuri paha ayam panggang sang penguasa.
Sialnya, aksi Alara tertangkap basah. Bukannya bersujud ketakutan menghadapi sang Kaisar yang terkenal kejam dan sedingin es, Alara malah menodongnya:
"Anda kurung saya tanpa makanan layak. Baru ambil satu paha ayam, Anda masih utang sembilan puluh sembilan ayam lagi sama saya. Sini bayar!"
Kaisar Kaivan yang gengsian setengah mati mendadak dibuat jantungan oleh logika absurd selir bar-barnya ini. Siapa sangka, di balik wajah esnya, sang Kaisar aslinya jago lawak, gampang panik, dan takut kecoa!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman Gajah Perang Selatan (Alara Meracik Senjata Kimia Rumahan)
Kabar mengenai seratus ribu gajah perang dari Kekaisaran Selatan Wu membuat seantero Kota Chang-an gempar.
Ruang rapat militer utama Ruelle dipenuhi kepanikan. Para jenderal veteran berkumpul mengitari peta wilayah, wajah mereka tegang menatap titik perbatasan selatan yang bergunung-gunung.
"Yang Mulia! Gajah-gajah tempur Kekaisaran Wu dilapisi zhirah besi tebal di bagian kepala mereka. Anak panah biasa tidak akan mempan, dan barisan kavaleri kuda kita pasti akan kocar-kacir karena ketakutan mencium bau gajah!" lapor Jenderal Qin, panglima darat senior, dengan janggut yang bergetar cemas.
Kaisar Kaivan berdiri di ujung meja taktis. Wajah esnya tidak memancarkan ketakutan sedikit pun, namun tangannya mengepal begitu erat di atas hulu pedang naganya hingga buku-buku jarinya memutih.
"Aku sendiri yang akan memimpin pasukan ke perbatasan. Siapa pun yang berani meminta Permaisuriku sebagai jaminan perdamaian, kepalanya akan kujadikan hiasan tombak pertama di barisan depan."
"Tahan dulu, Tuan Kai yang hobi main tebas," sebuah suara renyah memotong atmosfer tegang ruangan tersebut.
Alara melangkah masuk ke ruang rapat militer tanpa permisi, diikuti Lily dan Kasim Wen yang kewalahan membawa beberapa stoples kaca besar berisi cairan kental berwarna hitam, beberapa bongkah belerang kuning, dan karung-karung kecil berisi bubuk putih misterius.
"Permaisuri Alara! Ini rapat strategi militer tingkat tinggi, wanita tidak boleh" Jenderal Qin berniat memprotes, namun langsung bungkam saat Kaivan melemparkan tatapan elang sedingin es ke arahnya.
"Biarkan Permaisuri bicara," perintah Kaivan mutlak.
Alara meletakkan stoples-stoples kaca itu di atas meja taktis, tepat di atas wilayah perbatasan selatan.
"Para jenderal sekalian, mari kita berpikir secara logis ala sains modern. Gajah itu hewan yang besar, kuat, dan tebal kulitnya. Menghadapi mereka pake zirah besi dan pedang? Itu namanya buang-buang anggaran dan nyawa prajurit secara sia-sia!"
Alara mengetuk stoples berisi cairan hitam kental. "Gajah punya dua kelemahan fatal yang tidak bisa dimodifikasi oleh zirah jenis apa pun mereka takut api dan mereka punya pendengaran yang sangat sensitif terhadap suara ledakan frekuensi tinggi."
"Apa isi stoples-stoples ini, Alara?" tanya Kaivan, melangkah mendekati istrinya dengan dahi berkerut penasaran.
Alara menyeringai licik, mengambil salah satu stoples. "Ini namanya Minyak Bumi Mentah hasil sulingan dari sumur tua di barat yang kemarin saya minta dari Pangeran Julian.
Dan bubuk putih ini adalah Kalium Nitrat yang saya ekstraksi dari kotoran kelelawar di gua belakang istana, dicampur belerang dan arang halus."
"Dalam dunia modern, kombinasi bahan-bahan rumahan ini dinamakan Koktail Molotov Spek Militer dan Granat Kejut Bubuk Hitam," jelas Alara dengan binar mata seorang profesor gila.
Alara mengambil sebuah botol tanah liat kecil yang sudah diisi cairan hitam, lalu menyumbat bagian mulut botol dengan kain perca yang dibasahi minyak.
"Cara pakenya gampang banget. Tinggal bakar kain percanya, lalu lemparkan botol ini menggunakan ketapel raksasa atau dilontarkan dari atas bukit perbatasan ke arah barisan gajah. Begitu botolnya pecah, minyak bumi di dalamnya bakal memercikkan api yang gak bisa dipadamkan cuma pake air biasa!"
Alara beralih mengambil sebuah tabung bambu kecil yang sudah diisi bubuk hitam dan dipasang sumbu pendek.
"Dan kalau tabung bambu ini dibakar lalu dilempar, efek ledakannya gak cuma menghasilkan daya hancur, tapi menghasilkan suara dentuman BOOM! yang luar biasa memekakkan telinga.
Seratus ribu gajah itu dijamin bakal panik, stres berjamaah, lalu berbalik arah menginjak-injak pasukan infantry Kekaisaran Wu sendiri!"
*STUNNED.
Seluruh jenderal veteran di ruang rapat langsung membeku, mulut mereka menganga lebar hingga beberapa orang hampir tersedak air liur mereka sendiri.
Mereka menatap Alara seolah-olah wanita itu adalah reinkarnasi dari Dewa Perang kuno yang turun dari langit membawa ilmu sihir alkimia terlarang.
Jenderal Qin perlahan menelan ludah, menatap tabung bambu di tangan Alara dengan tubuh gemetaran.
"I-ini... ini bukan lagi sekadar taktik, ini adalah pemusnahan massal secara psikologis! Selir maksud hamba, Permaisuri Alara... Anda benar-benar jenius yang mengerikan!"
"Ah biasa aja, Jenderal. Ini cuma pelajaran kimia dasar kelas dua SMA," sahut Alara santai tanpa beban.
Kaivan menatap botol-botol itu, lalu beralih menatap Alara. Rasa cemas di dadanya lenyap tak berbekas, digantikan oleh rasa kagum yang begitu masif hingga sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat menawan.
Kaivan melangkah maju, meraih pinggang Alara di depan seluruh jenderal, lalu mengecup keningnya dengan penuh kebanggaan mutlak.
"Kau benar-benar rubah kecilku yang paling berharga, Alara. Jenderal Qin! Siapkan seluruh pandai besi dan divisi logistik untuk memproduksi massal senjata buatan Permaisuri dalam waktu tiga hari!"
"SIAP MELAKSANAKAN TITAH, YANG MULIA KAISAR!" seru para jenderal serentak dengan semangat yang kini membara seratus persen.
Tiga hari kemudian, pasukan elit Ruelle bergerak menuju perbatasan selatan, membawa ribuan botol tanah liat dan tabung bambu rahasia di dalam kereta-kereta logistik yang tertutup rapat.
Kaivan memimpin di barisan paling depan dengan zirah naga hitamnya, sementara Alara... bersikeras ikut menunggangi keledai setianya di barisan belakang dengan memakai helm pelindung kepala dari kuningan yang dia desain sendiri.
Namun, begitu mereka sampai di puncak Bukit Naga Merah yang membatasi kedua kekaisaran, pemandangan di bawah sana benar-benar mencengangkan.
Pasukan gajah Kekaisaran Wu sudah berbaris rapi seperti dinding zhirah bergerak, dipimpin oleh Kaisar Selatan Wu, Kaisar Xiang, seorang pria bertubuh raksasa yang menunggangi gajah putih terbesar di dunia dengan tatapan penuh keangkuhan.
Kaisar Xiang mengarahkan pedang besarnya ke arah bukit.
"Kaivan! Kau sudah datang membawa ajalmu! Serahkan Permaisuri Alara sekarang juga, atau jalur sutramu akan berubah menjadi sungai darah oleh injakan gajah-gajahku!"
Alara yang mendengar itu dari atas bukit langsung membetulkan posisi helm kuningannya, lalu mengeluarkan ketapel kayu rahasianya dari saku jaket safari.
"Tuan Kai," Alara melirik Kaivan dengan senyuman savage yang siap mengacak-acak sejarah dunia kuno.
"Bisa tolong perintahkan pasukan ketapel raksasa kita untuk menyalakan korek api? Mari kita beri sambutan kembang api tahun baru yang tak terlupakan untuk om-om raksasa di bawah sana!"
---
Bersambung~
makasih Thor cerita menghibur bgt ttp semangat ya💪💪💪