Aarav Baskara Darma, seorang jaksa yang harus menyewa jasa bodyguard untuk melindunginya dari teror yang terus saja menghampirinya, setiap dia berhasil menyelesaikan satu kasus. Dia tidak menyangka jika bodyguard cantik itu selalu bisa menarik perhatiannya, hingga hatinya merasa nyaman dengannya dan perlahan-lahan mulai menyukainya, walaupun gadis itu sangat dingin dan bahkan kejam padanya, dia juga sangat mata duitan. Dan jelas selalu saja membuat Aarav dengan mudahnya naik darah.
Bagaimana perjalanan kisah manis mereka?
Yuk! ikuti ceritanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wachid Tiara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 30
.
30
.
"Mm, dia supirku, kamu tidak mengenalnya. Dia baru bekerja sekitar tiga bulanan padaku." jawab Aarav.
"Supir? Supir pribadi mu tinggal di apartemen? keren sekali." Liam menatap sahabatnya untuk memberikan dia penjelasan tentang itu.
Aarav melihat ke arah Olivia yang sama sekali tidak tertarik untuk mendengarkan itu, bahkan Olivia terlihat begitu acuh dan sepertinya sudah tidak nyaman berada di sana.
"Aku yang menyediakannya untuknya. Dia berasal dari desa di kaki gunung. Dan itu sangat jauh, awalnya dia menyewa kamar kost yang murah, tapi itu terlalu jauh dari rumahku. Karena dia tidak mau menginap di sini, dengan alasan ada terlalu banyak pria, jadi aku memintanya untuk tinggal di apartemen itu selama dia menjadi supir ku." jelas Aarav.
"Jadi, apa dia cantik?" Dari namanya seharusnya dia wanita bukan?" tanya Liam lagi yang semakin penasaran.
"Aku mau pulang!" Olivia beranjak dari tempat duduknya.
"Ini kunci mobil mu Aarav, terimakasih banyak." ucap Olivia yang memberikan senyuman tipis padanya, bahkan senyuman itu hampir tidak terlihat
"Sama-sama Oliv, apa kamu sangat terburu-buru?" Aarav menatap wajah cantik Olivia yang hanya menganggukkan kepalanya padanya.
"Oliv... Kita bahkan baru sampai. Aku bahkan belum mencicipi makanan dari Aunty Bellan... Aku juga masih ingin berbicara banyak dengan Aarav..." Liam terlihat masih belum ingin pulang, tapi sepertinya Olivia sudah begitu tidak ingin ada di sana.
Melihat itu Aarav merasa sangat sedih. Dia tidak mengerti kenapa Olivia selalu saja bersikap dingin padanya.
"Iya Oliv, kamu bahkan baru sampai, kamu juga sangat jarang main kesini." ujar Aarav yang juga masih ingin melihat Olivia ada di sana.
"Aku sibuk Aarav, banyak client yang sedang menungguku. Aku juga harus mempelajari banyak kasus yang sedang aku tangani. Jadi aku tidak memiliki banyak waktu untuk itu." jawab Olivia.
Aarav tersenyum kecut.
Olivia memang sangat profesional, dia akan sangat memprioritaskan pekerjaannya dalam keadaan dan kondisi apapun.
"Liam, aku mengajakmu kemari karena aku membutuhkan tumpangan setelah kau mengembalikan mobil Aarav. Sekarang kamu harus mengantar ku pulang. Kamu juga belum mencicipi makanan mama Rania bukan? Dia juga merindukanmu." Olivia tersenyum manis pada Liam yang hanya bisa menghela nafasnya dengan pasrah.
Lagi-lagi Aarav tersenyum kecut saat melihat bagaimana Olivia tersenyum begitu manis pada Liam, tapi selalu memberikan sikap biasa saja, dan bahkan terlalu sering memberikan dia sikap yang begitu dingin padanya.
"Baiklah, aku akan datang kemari besok lagi Aarav. Hari ini sang pengusaha ini adalah milik nona pengacara Olivia, jadi aku harus menuruti keinginannya itu." ucap Liam seraya beranjak dari tempat duduknya, "ayo nona Olivia..." lima tersenyum lebar pada Olivia yang segera tersenyum manis padanya.
"Ayo." jawab Olivia.
"Kalian mau kemana?" tanya Bellan yang sedang berjalan ke arah mereka membawa banyak cemilan di nampan yang di bawanya
"Maaf aunty... Aku sangat buru-buru , client ku sudah terus menghubungi ku. Jadi aku harus menemuinya." jawab Olivia dengan sopan.
"Sayang sekali. Pekerjaan memang harus di lakukan. Biar bagaimanapun itu adalah tanggung jawab kita. Kalau begitu hati-hatilah." ucap Bellan seraya meletakkan nampan yang di bawanya ke atas meja yang ada di sana.
"iya aunty... Kamu pulang dulu." Olivia dan Liam mendekati Bellan untuk mencium tangannya sebelum mereka pergi dari sana.
Sementara Aarav hanya bisa melihat kepergian keduanya yang sebenarnya masih ingin dia tahan untuk tetap berada di sana.
"Olivia sepertinya memiliki masalah denganmu..." ujar Bellan
"Aku sendiri tidak tahu ma... Aku juga tidak mau tahu. Aku benar-benar lelah hari ini. Bukan hanya Olivia yang tidak bisa aku mengerti, tapi Erza juga... Aku lebih tidak mengerti apa keinginannya itu. Sikapnya sangat cepat berubah. Aku hanya meninggalkan dia selama kurang lebih 30 detik saja, tapi dia sudah mengubah keputusannya. Aku benar-benar tidak bisa mengerti dirinya!!" gerutu Aarav seraya menjatuhkan tubuhnya di sofa empuk yang ada di ruang tamu rumahnya.
"Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Bellan.
Aarav melihat ke arah Bellan yang sedang menunggu jawaban darinya. Tapi dia tidak mungkin mengatakan semuanya pada Bellan, bisa-bisa dia akan berakhir saat ini juga.
"Mama tidak perlu tahu. Ini urusan anak muda." jawab Aarav seraya memutar badannya membelakangi Bellan.
"Cih! Dasar! Memangnya hanya kamu yang masih muda! Mama bahkan masih berusia 17 tahun!" sungut Bellan seraya berjalan pergi dari sana meninggalkan putranya yang masih berbaring di sana.
"Aku memang tidak bisa mengerti wanita!" sungut Aarav pada dirinya sendiri.
.
.
.
Keesokan harinya.
"Itu sepertinya motor Erza, tapi kenapa dia tidak langsung masuk saja seperti biasanya?" tanya Bellan saat dia mendengar suara motor yang berhenti di depan rumahnya.
"Mungkin sebentar lagi." jawab Dio.
"Aku panggil saja..." Adrian sudah bersiap-siap untuk bergerak dari tempat duduknya, tapi Aarav menahannya.
"Dia akan masuk sendiri kemari seperti biasanya. Jangan repot-repot!" jawab Aarav.
Kini mereka semua sedang berkumpul bersama untuk sarapan pagi.
Saat ini Erza memang sudah datang, seperti biasanya, Erza memang akan segera masuk ke dalam rumah itu setelah dia mengucapkan salam dengan sangat keras, tapi saat ini begitu sepi, dan setelah menunggu beberapa saat, Erza masih juga belum masuk ke dalam rumah.
"Aku akan melihatnya." ujar Adrian yang sudah tidak tahan lagi menunggu Erza di sana.
Adrian berjalan dengan cepat untuk keluar dari rumahnya. Dia ingin melihat kenapa Erza tidak juga masuk ke dalam rumah.
"Erza..." suara Adrian mengejutkan Erza yang tengah duduk di kursi teras depan rumah keluarga Bellan. Erza beranjak dari tempat duduknya untuk memberikan senyuman pada Adrian.
"Eh! Tuan Adrian..." ucap Erza seraya memberikan senyuman manisnya
"Tuan? Bukankah aku sudah mengatakan padamu untuk tidak memanggilku seperti itu?"
Erza menggelangkan kepalanya, "tidak bisa, kamu adalah anggota keluarga dari Boss ku, jadi akan sangat tidak sopan jika aku memanggilmu langsung dengan namamu." jawab Erza.
"Apa yang terjadi padamu? Apa ada masalah?" tanya Adrian khawatir.
Erza menggelangkan kepalanya, "tidak ada. Jangan khawatir." jawab Erza.
"Apa kak Aarav melakukan sesuatu lagi padamu?"
Erza kembali menggelangkan kepalanya.
"Tidak sama sekali. Jangan terlalu banyak berfikir. Aku tidak apa-apa. Hanya saja aku memang merasa jika aku harus melakukan hal ini." jawab Erza.
"Kamu jadi aneh Erza... Aku merasa sangat jauh darimu." Adrian memeluk tubuh Erza dengan erat. Dia tidak mengerti alasan apa yang sampai membuat Erza menjadi seperti itu, dan itu sangat membuatnya tidak nyaman dan tidak suka.
Erza terkejut saat Adrian tiba-tiba saja memeluknya seperti itu.
"Tuan Adrian..."
"Kamu tidak masuk?" tanya Adrian yang masih memeluk tubuh Erza.
"untuk apa?" tanya Erza balik. Dia mendorong Adrian untuk segera menjauh darinya, dia tidak mau ada salah paham lagi jika ada yang melihatnya seperti itu.
"Bukankah kamu biasanya akan masuk ke dalam rumah? mama dan yang lainnya menunggumu. aku juga." Erza tersenyum tipis pada Adrian
"Biasanya aku memang seperti itu, itu karena aku belum sarapan dari rumah. Tapi tadi pagi aku sudah sarapan. Jadi aku tidak perlu masuk ke dalam rumah." jelas Erza.
Adrian tidak tahu lagi harus mengatakan apa, dia juga tidak tahu harus melakukan apa untuk bisa mengembalikan Erza menjadi Erza yang ceria seperti kemarin. Bukan Erza yang begitu dingin dan tidak bersemangat seperti sekarang ini
"Erza!" suara keras Aarav memanggil Erza yang sedikit terkejut dengan itu.
.