Dan Dia rahasiakan, kita tak pernah sedikitpun tahu...
Dan Dia jaga, kita tak pernah sedikitpun menerka nya...
Kita selama ini hanya mengeluh sembari seolah jalani saja....
Fii Lauhim Mahfudz... kisah kehakikian kehidupan yang menyuguhkan segala cuplik kehidupan.
Seorang Habibah yang mencintai Habibi dalam diam, dan hanya bisa berdoa dengan berbagai usaha yang menggemaskan.
Di bumbui oleh lika-liku kehidupan yang apik, dengan berbagai kisah persahabatan, persaudaraan dan cinta ❤😘...
selamat membaca 🥰🥰🥰
bisa juga kalian dapatkan buku novelnya melalui online di link nulisbuku.com
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Febby Sadin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kasih Sayang Aby Mahbub
Pagi yang cerah, hati yang masih saja di liputi oleh ketentraman. Kedua bersaudara itu
pun selalu berusaha manfaatkan sebaik mungkin segala ketenangan itu. Tak ingin di siasiakan sedikitpun. Aisyah tak lagi khawatirkan kedua anaknya, karena dia tahu keduanya telah sama-sama sudah besar dan tak mungkin lagi bertengkar, sebagaimana dulu semasa kecil keduanya. Aisyah pun tak ragu lagi bila setiap dia akan tinggalkan keduanya ke pasar ataupun ke sawah untuk berladang.
Sedangkan tanpa sepengetahuan Aisyah, saat Aisyah pergi ke pasar. Kedua putra-putrinya itu malah memanfaatkan kesempatan itu untuk menyiapkan sesuatu.
“Habibah!” Aby memanggil-manggil Habibah yang masih ada di kamarnya.
“Ya, kak!” sahut Habibah dari dalam kamar.
“Cepatlah!” lalu sampailah Aby di kamar adiknya. Habibah pun mengisyaratkan untuk masuk. Habibah masih berada di atas meja belajar kesayangannya.
“Sebentar, kak… beri aku waktu.” Ucapnya. Lalu dia pun mulai menulis. Sedangkan Aby yang memperhatikan Sang adik sibuk berkutat dengan pena dan buku agendanya pun hanya
tersenyum-senyum kagum.
𝓚𝓪𝓫𝓾𝓽 𝓽𝓮𝓻𝓼𝓪𝓹𝓾 𝓸𝓵𝓮𝓱 𝓴𝓮𝓴𝓾𝓪𝓽𝓪𝓷 𝓪𝔂𝓪𝓽-𝓪𝔂𝓪𝓽𝓝𝔂𝓪…
𝓐𝓴𝓾 𝓫𝓮𝓻𝓪𝓭𝓪 𝓭𝓲 𝓪𝓷𝓽𝓪𝓻𝓪 𝓪𝓷𝓰𝓲𝓷 𝓭𝓪𝓷 𝓪𝔀𝓪𝓷. 𝓚𝓮𝓭𝓾𝓪𝓷𝔂𝓪 𝓼𝓮𝓸𝓵𝓪𝓱 𝓶𝓮𝓷𝔂𝓮𝓵𝓲𝓶𝓾𝓽𝓲 𝓱𝓪𝓽𝓲𝓴𝓾. 𝓐𝓴𝓾 𝓹𝓾𝓷
𝓶𝓮𝓻𝓪𝓼𝓪 𝓭𝓲 𝓱𝓪𝓷𝓰𝓪𝓽𝓴𝓪𝓷 𝓸𝓵𝓮𝓱 𝓴𝓮𝓼𝓮𝓳𝓾𝓴𝓪𝓷𝓷𝔂𝓪…
𝓐𝓴𝓾 𝓽𝓪𝓴 𝓲𝓷𝓰𝓲𝓷 𝓴𝓮𝓱𝓲𝓵𝓪𝓷𝓰𝓪𝓷 𝔀𝓪𝓴𝓽𝓾 𝓾𝓷𝓽𝓾𝓴 𝓶𝓮𝓷𝓾𝓵𝓲𝓼𝓴𝓪𝓷 𝓼𝓮𝓶𝓾𝓪. 𝓓𝓲 𝓼𝓪𝓪𝓽 𝓪𝓴𝓾 𝓫𝓮𝓻𝓼𝓪𝓶𝓪-𝓼𝓪𝓶𝓪
𝓭𝓮𝓷𝓰𝓪𝓷 𝓼𝓸𝓼𝓸𝓴 𝓟𝓪𝓷𝓰𝓮𝓻𝓪𝓷 𝓭𝓪𝓷 𝓪𝓴𝓾 𝓢𝓪𝓷𝓰 𝓟𝓾𝓽𝓻𝓲. 𝓚𝓲𝓽𝓪 𝓼𝓪𝓶𝓪-𝓼𝓪𝓶𝓪 𝓟𝓾𝓽𝓻𝓪 𝓭𝓪𝓷 𝓟𝓾𝓽𝓻𝓲 𝓜𝓪𝓱𝓴𝓸𝓽𝓪 𝓭𝓲
𝓘𝓼𝓽𝓪𝓷𝓪 𝓢𝔂𝓾𝓻𝓰𝓪 𝓡𝓸𝓫𝓫𝓲…
𝓜𝓮𝓼𝓴𝓲 𝓽𝓮𝓻𝓵𝓪𝓵𝓾 𝓽𝓲𝓷𝓰𝓰𝓲 𝓪𝓴𝓾 𝓶𝓮𝓷𝓪𝓯𝓼𝓲𝓻𝓴𝓪𝓷 𝓴𝓮𝓫𝓮𝓻𝓪𝓭𝓪𝓪𝓷𝓴𝓾, 𝓷𝓪𝓶𝓾𝓷 𝓫𝓪𝓰𝓲𝓴𝓾, 𝓽𝓪𝓴 𝓪𝓭𝓪 𝓽𝓮𝓶𝓹𝓪𝓽 𝔂𝓪𝓷𝓰
𝓵𝓮𝓫𝓲𝓱 𝓬𝓸𝓬𝓸𝓴 𝓴𝓾 𝓼𝓮𝓫𝓾𝓽 𝓼𝓮𝓫𝓪𝓰𝓪𝓲 𝓽𝓮𝓶𝓹𝓪𝓽 𝓽𝓮𝓻𝓲𝓷𝓭𝓪𝓱 𝔂𝓪𝓷𝓰 𝓴𝓲𝓷𝓲 𝓴𝓾 𝓽𝓮𝓶𝓹𝓪𝓽𝓲 𝓼𝓮𝓵𝓪𝓲𝓷 𝓼𝓮𝓹𝓮𝓻𝓽𝓲 𝓢𝔂𝓾𝓻𝓰𝓪
𝓡𝓸𝓫𝓫𝓲…
𝓐𝓴𝓾 𝓼𝓪𝓷𝓰𝓪𝓽 𝓶𝓮𝓷𝔂𝓪𝔂𝓪𝓷𝓰𝓲 𝓐𝓫𝔂𝓴𝓾. 𝓢𝓪𝓷𝓰 𝓟𝓾𝓽𝓻𝓪 𝓜𝓪𝓱𝓴𝓸𝓽𝓪 𝔂𝓪𝓷𝓰 𝓼𝓮𝓵𝓪𝓵𝓾 𝓶𝓮𝓵𝓲𝓭𝓾𝓷𝓰𝓲 𝓳𝓪𝓾𝓱 𝓶𝓪𝓾𝓹𝓾𝓷
𝓭𝓮𝓴𝓪𝓽, 𝓼𝓮𝓱𝓪𝓽 𝓶𝓪𝓾𝓹𝓾𝓷 𝓼𝓪𝓴𝓲𝓽. 𝓐𝓴𝓾 𝓽𝓪𝓴𝓴𝓪𝓷 𝓵𝓾𝓹𝓪𝓴𝓪𝓷 𝓲𝓽𝓾. 𝓚𝓪𝓻𝓮𝓷𝓪 𝓴𝓲𝓷𝓲 𝓪𝓴𝓪𝓷 𝓴𝓲𝓽𝓪 𝓹𝓮𝓻𝓼𝓲𝓪𝓹𝓴𝓪𝓷 𝓾𝓷𝓽𝓾𝓴
𝓴𝓮𝓳𝓾𝓽𝓪𝓷 𝓢𝓲 𝓡𝓪𝓽𝓾. 𝓡𝓪𝓽𝓾 𝓼𝓮𝓭𝓪𝓷𝓰 𝓾𝓵𝓪𝓷𝓰 𝓽𝓪𝓱𝓾𝓷, 𝓴𝓮𝓭𝓾𝓪 𝓟𝓾𝓽𝓻𝓪 𝓭𝓪𝓷 𝓟𝓾𝓽𝓻𝓲𝓷𝔂𝓪 𝓪𝓴𝓪𝓷 𝓶𝓮𝓶𝓫𝓮𝓻𝓲𝓴𝓪𝓷 𝓱𝓪𝓵
𝔂𝓪𝓷𝓰 𝓽𝓪𝓴 𝓽𝓮𝓻𝓵𝓾𝓹𝓪𝓴𝓪𝓷…
Habibah tutup buku agendanya setelah itu, dan dia letakkan pena di atasnya. Lalu dia
berdiri dari duduknya dekati Sang kakak yang duduk di dekat tempat tidurnya sembari
pandangi nya. Habibah pun menyenggol lengan Sang kakak.
“Hey… ada apa kak? Apa yang akan kita lakukan?” tanyanya.
“Aku bangga padamu…” ucap Aby tiba-tiba.
Habibah pun menimpali, “Ah kakak… bukan saatnya merayu-rayu dengan pujian!”
ucapnya. Hingga di buatlah tersenyum Aby olehnya.
“Baiklah! Ayo ikut aku.” Ucap Aby kemudian. Dia pegang tangan Habibah dan tarik dia.
Aby ajak Habibah kalau rumah dan pergi keluar dengan menggunakan sepeda yang ada di
rumah.
“Kakak yakin akan membonceng ku dengan sepeda ini?” Habibah terlihat ragu.
“Yakinlah!” jawab Aby.
“Memangnya kakak mau ajak aku ke mana?”
“Ah! Pokoknya. Di sana tempat yang banyak menjual barang-barang cocok untuk kado…”
Habibah pun menganggukkan kepala sembari membulatkan mulutnya hingga
membentuk O.
Aby pun mengayuh sepedanya dengan begitu mahir nya. Habibah tiada henti pasang
wajah sumringahnya di bonceng oleh Aby dengan sepeda bekas Sang ayah dulu. Teringat lah seketika itu oleh Habibah saat Sang ayah pergi bekerja dengan sepeda itu. Tiba-tiba rindu pun dirasakannya.
“Kak…” panggilnya.
“Hem…” hanya itu yang mampu di jawab, dalam konsentrasinya mengayuh sepeda.
“Aku rindu ayah, kak…” ucap Habibah.
Aby pun terdiam, dia tetap mengayuh sepeda. Sedangkan Habibah melanjutkan katakatanya,
“Aku ingin nanti kita ke sana setelah perayaan ulang tahun Ibu, kak.. mau nggak,
kak?” Habibah pun bertanya.
“Insya Allah.” Akhirnya Aby memberikn jawaban, meski hanya satu kalimat. Itu pun
Habibah cukup senang akan hal itu.
Sesampainya keduanya di pasar penjualan barang-barang untuk kado. Aby menggandeng
Habibah dan dia berjalan di depan Habibah. Aby terkesan sangat memahami tempat itu.
Sehingga tak sulit untuknya mendatangi tempat yang di maksudnya.
...****************...
yuuuk mmpir juga dikaryaku berjudul "menikah karena perjodohan (Haris dan Hana) " smoga berkenan, mksh 🥰🥰🥰
intip playboy mengejar cinta❤😘 yuk