NovelToon NovelToon
IBUKU ADALAH MAUT

IBUKU ADALAH MAUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Pengkhianatan / CEO
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi F. Sari

Nafisa tak pernah menyangka kehidupan rumah tangganya akan berakhir setelah mengetahui suami dan ibunya menjalin hubungan di belakangnya. Lebih menyakitkan lagi, sang ibu bahkan mengandung anak dari suaminya.

“Kenapa harus suamiku, Bu?!”

Hatinya hancur. Kepercayaannya musnah.

Lalu, langkah apa yang akan diambil Nafisa setelah mengetahui pengkhianatan dua orang yang paling ia cintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ingin Mengkhitbahmu.

Di luar ruangan, Nafisa berdiri berhadapan dengan Dewangga. Pria itu tampak tenang, tetapi sorot matanya begitu dingin.

“Pak, kenapa Bapak main setuju saja?” tanya Nafisa.

“Ini permintaan Oma, Naf. Saya tidak bisa menolaknya.”

Nafisa mengatupkan bibir.

“Tapi masa iddah saya baru dimulai, Pak.” Nafisa menatap Dewangga lekat-lekat. “Tidak sah kalau saya menikah lagi sebelum masa iddah saya selesai.”

“Kita nikah siri saja.”

Nafisa menggeleng pelan. “Tidak bisa begitu, Pak. Pernikahan tetap harus memenuhi ketentuan agama hanya karena kita ingin memenuhi keinginan Oma.”

Ia meraih lengan Dewangga, berusaha membuat pria itu memahami maksudnya.

“Pak, bagaimana kalau kita mengatakan yang sebenarnya kepada Oma? Kita jelaskan kalau kita tidak memiliki hubungan apa-apa. Saya yakin Oma bisa mengerti kalau kita bicara baik-baik.”

Nafisa menunggu jawaban. Namun, Dewangga justru mengalihkan pandangan, seakan tidak berniat menanggapi usulnya.

Perlahan, tangan Nafisa terlepas dari lengan pria itu.

“Kalau begitu, biar saya saja yang menjelaskan semuanya kepada Oma.” Ia mengembuskan napas, lalu berbalik menuju pintu.

Baru beberapa langkah, tangannya sudah tertahan.

“Tunggu, Naf.”

Nafisa menghentikan langkahnya dan menoleh. “Ada apa lagi, Pak?”

Dewangga melepaskan tangannya.

“Kita bicara dengan Oma dulu. Saya akan bilang kalau saya ingin mengkhitbah kamu.”

Nafisa tertegun. ‘Mengkhitbah?’

Ia menatap Dewangga dengan alis sedikit berkerut, mencoba memastikan bahwa dirinya tidak salah dengar.

“Tidak, Pak.”

Dewangga menyipitkan mata. “Kenapa? Mengkhitbah tidak sama dengan menikah. Kita tidak melanggar aturan agama dengan melakukan itu.”

“Tapi saya tidak mau, Pak. Saya tidak ingin memberikan harapan yang palsu kepada Oma.”

“Ayo, kita masuk lagi. Saya akan bicara dengan Oma.”

Nafisa mengangguk. Dengan langkah berat, ia mengikuti Dewangga masuk kembali ke dalam ruangan

.

Sementara itu, di dalam ruangan, Oma Rima buru-buru menjauhkan telinganya dari daun pintu. Ia berbalik dan berjalan sedikit tergesa menuju tempat tidurnya, dibantu dokter, perawat, Jony, dan Kalendra.

“Pelan-pelan, Oma. Nanti malah ketahuan,” bisik Jony sambil membantu membenarkan posisi bantal di belakang punggung perempuan tua itu.

Oma Rima melotot sekilas. “Ssst! Diam kamu!”

Tepat ketika mereka selesai, pintu ruangan terdengar terbuka perlahan.

Oma Rima segera memejamkan mata. Namun, rasa penasarannya membuat salah satu matanya terbuka sedikit, mengintip ke arah pintu untuk memastikan siapa yang masuk.

“Oma....”

Suara Dewangga membuat Oma Rima perlahan membuka kedua matanya. Ia mengamati wajah cucunya, lalu mengalihkan pandangan kepada Nafisa yang berdiri di samping pria itu.

“Bagaimana?” tanyanya dengan suara lemah. “Kalian sudah membicarakannya?”

Dewangga menarik napas sebelum menjawab. “Oma, sebenarnya Nafisa baru saja bercerai dan masa iddahnya masih berjalan. Jadi, kami tidak bisa langsung menikah.”

Mata Oma Rima membulat. “A-apa?”

Ia menoleh kepada Nafisa dengan ekspresi terkejut yang di buatnya, supaya dirinya tak mengetahui apapun.”

Nafisa menundukkan kepala. Kedua tangannya saling bertaut di depan perut.

“Oma Rima, maafkan saya.” Suaranya terdengar lirih. “Saya tidak bermaksud membohongi Oma. Saya hanya....”

Kalimat itu terputus.

“Sudah, sayang. Tidak apa-apa.” Oma Rima menggenggam tangan Nafisa begitu perempuan itu duduk di sisi ranjangnya. “Oma mengerti. Kamu gak perlu merasa bersalah.”

“Tapi, Oma....”

“Enggak ada tapi-tapian.” Oma Rima mengusap punggung tangan Nafisa dengan lembut. “Oma bisa menunggu. Selama Allah masih memberikan Oma umur panjang sampai melihat Nafisa dan Dewangga menikah.”

Oma Rima diam-diam mengamati wajah Nafisa.

‘Sepertinya aku gak salah memilih calon untuk Dewangga. Meskipun Nafisa seorang janda, bukan berarti dia gak pantas mendapatkan kebahagiaan. Justru sikapnya membuat ku semakin yakin.’

Namun, senyum tipis di bibir Oma Rima perlahan memudar ketika ia mengingat kebohongan yang baru saja dilakukannya.

‘Ya Allah, ampuni hamba karena sudah berpura-pura sakit demi membuat mereka berdua mendekat. Aku hanya ingin melihat cucuku menikah dan menemukan pendamping hidup yang baik.’

“Oma....”

Panggilan Nafisa menyadarkannya dari lamunan. Oma Rima kembali menatap ke arah wanita itu.

 Oma Rima mengusap tangan Nafisa, berusaha menenangkannya. “Jangan menangis, sayang. Oma gak marah kepadamu.”

Nafisa mengangguk kecil, meski matanya masih memerah.

Dewangga yang berdiri tak jauh dari ranjang, memperhatikan Nafisa yang masih menggenggam tangan Oma Rima. Wanita itu tampak berusaha menahan tangis, tetapi air matanya justru semakin sulit dibendung.

Sudut bibir Dewangga terangkat tipis.

‘Memangnya aku tidak tahu permainan Oma?’

Sejak awal, ia sudah curiga dengan sikap Oma Rima. Apalagi setelah Kalendra diam-diam memberitahunya bahwa kondisi Oma tidak separah yang mereka kira.

Dewangga melirik ke arah Kalendra. Pria itu sedang menatapnya sambil menaikkan sebelah alis, seolah bertanya apakah ia akan membongkar sandiwara tersebut sekarang.

Dewangga menggeleng tipis.

‘Untung ada Kalendra. Kalau bukan karena dia yang menjadi mata-mata, mungkin aku sudah menjadi pria bodoh yang mengikuti drama ini.’

Tatapannya kembali tertuju pada Nafisa. Wanita itu masih menunduk. Bahunya sesekali bergerak kecil.

Dewangga melangkah mendekat, kemudian duduk di sisi ranjang. Tangannya terulur, mengusap punggung Nafisa perlahan.

“Sudah, jangan menangis terus,” ucapnya dengan suara yang sengaja dilembutkan.

Nafisa tak menoleh. Ia hanya mengusap sudut matanya dengan tangan yang bebas.

Dewangga menahan senyum.

‘Dasar cengeng. Kalau kamu tahu kalau ini cuma tipuan Oma supaya kita menikah, apa kamu masih akan menangis seperti ini?’

Tangannya tetap bergerak mengusap punggung Nafisa, meskipun dalam hati ia mulai kehilangan kesabaran.

Beberapa menit berlalu, tetapi air mata perempuan itu belum juga berhenti.

Dewangga melirik jam tangannya, lalu mengembuskan napas pelan.

‘Sial. Sudah berapa menit, tetapi tangisnya bisa bertahan selama ini.’

Ia melirik wajah Nafisa dari samping.

. . .

Beberapa saat kemudian, diruang rawat, suasana pun hening hanya ada suara obr dan juga tawa yang sesekali terdengar.

Dewangga kembali melirik ke arah ranjang Oma Rima.

Nafisa kini duduk di sisi wanita tua itu. Kasur yang sebelumnya hanya cukup untuk satu orang sudah diganti dengan ranjang yang lebih lebar atas permintaannya sendiri. Dengan begitu, Nafisa bisa tidur di samping Oma Rima tanpa harus merasa sempit.

Dewangga berdeham cukup keras, membuat kedua wanita yang sedang asyik berbincang itu serentak menoleh.

Dewangga memasang wajah serius, lalu melipat kedua tangannya di depan dada.

“Oma, kambuhnya sudah sembuh?”

Seketika, suasana ruangan berubah hening.

Oma Rima yang tadi tertawa langsung terdiam. Sementara Nafisa mengerjapkan mata, bergantian menatap Dewangga dan perempuan tua di sampingnya.

Dewangga nyaris tertawa melihat perubahan ekspresi mereka. Ia bahkan harus menggigit bagian dalam pipinya agar tidak membocorkan kecurigaannya.

“Loh, iya juga.” Nafisa menoleh kepada Oma Rima. “Oma sudah sembuh?”

Dewangga hampir terbahak mendengar pertanyaan itu. Ia menunduk sebentar, menyembunyikan senyum yang semakin sulit ditahan.

Sedangkan ekspresi Oma Rima tampak salah tingkah. Wanita tua itu berdeham.

“Su-sudah. Oma sudah sembuh, Sayang.”

Nafisa mengerutkan kening. “Secepat itu, Oma?”

Dewangga segera mengangkat wajahnya. Dan mendapati Oma Rima meliriknya tajam.

Namun, Dewangga justru mengangkat kedua alisnya dengan wajah polos.

“Apa? Aku cuma bertanya, Oma.”

“Diam kamu!” gerutu Oma Rima.

Dewangga terkekeh pelan.

.

Di sisi lain, Yulia masih duduk di dalam angkot yang membawanya bersama Damar menuju desa.

Sejak tadi, tak banyak percakapan di antara mereka. Damar sibuk menatap jalan di depan, sedangkan Yulia sesekali melirik wajah suaminya yang tampak muram.

Bagaimana tidak? Mobil milik Damar yang selama ini mereka gunakan sudah terjual dengan harga enam puluh juta rupiah. Kini, mereka terpaksa mengandalkan angkutan umum untuk sampai ke desa.

Beberapa menit kemudian, angkot yang mereka tumpangi mendadak berhenti di pinggir jalan.

Yulia mengernyit. Ia melongok ke depan, memperhatikan jalan sempit yang terbentang di hadapan mereka.

“Loh, kenapa berhenti, Pak?” tanyanya kepada sopir.

Sopir angkot itu menoleh sebentar. “Maaf, Bu. Saya enggak bisa masuk lebih jauh. Jalannya susah dilewati, apalagi mobil saya besar.”

Yulia menatap jalanan itu sekali lagi. Belum sempat ia mengatakan apa-apa, Damar sudah bangkit dari tempat duduknya.

“Sudah, ayo turun.”

Damar mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu rupiah dari dompetnya, lalu menyerahkannya kepada sopir.

“Ambil saja kembaliannya, Pak.”

“Terima kasih, Mas.”

Damar turun lebih dulu, disusul Yulia yang harus berhati-hati saat menapakkan kaki di jalan. Begitu keduanya menjauh, angkot itu kembali melaju, meninggalkan mereka di pinggir jalan yang cukup sepi.

Yulia memandangi kendaraan tersebut sampai menghilang di tikungan. Setelah itu, ia mengalihkan pandangan kepada Damar yang sudah berjalan beberapa langkah di depannya.

“Ayo. Mungkin kalau jalan kaki, sekitar dua puluh menit kita sampai,” ujar Damar.

Yulia mengangguk kecil, lalu menyusul suaminya.

Mereka berjalan menyusuri jalan yang semakin sempit. Di beberapa bagian, permukaannya tampak tidak rata.

Sesekali, Yulia melirik perutnya sendiri. Tangannya mengusap bagian itu dengan lembut sebelum akhirnya ia memberanikan diri membuka percakapan.

“Damar.”

“Hm?”

“Nanti kalau aku melahirkan, bagaimana? Di desa ada rumah sakit?”

Damar menoleh sekilas, lalu kembali memusatkan perhatian pada jalan. “Enggak ada. Adanya klinik.”

Langkah Yulia sedikit melambat.

“Kalau begitu, bagaimana kalau ada keadaan darurat? Apa kliniknya bisa menangani persalinan?”

Damar mengembuskan napas pendek. “Kita lihat nanti. Kalau memang perlu, kita cari rumah sakit di kota.”

Jawaban itu belum cukup menenangkan Yulia. Ia menggigit bibir bawahnya sebentar sebelum kembali bertanya.

“Kalau susu dan vitamin kehamilan bagaimana? Di sana ada yang jual?”

“Ada apotek.”

Yulia terdiam.

. . .

Dan tanpa terasa hari sudah hampir menjelang siang ketika langkah Yulia dan Damar akhirnya berhenti di depan sebuah rumah papan. Halamannya dipenuhi rumput liar yang tumbuh tak beraturan, sementara beberapa bagian dinding kayunya tampak kusam dimakan usia.

Yulia berdiri mematung, menatap rumah itu dari depan hingga ke bagian samping.

“Dam, kita akan tinggal di sini?” tanyanya sambil menoleh kepada sang suami.

“Memangnya mau bagaimana lagi? Kalau ada uang lebih, rumah ini bisa kita renovasi. Tapi putrimu malah enggak mau menjualnya.”

Nada dingin itu membuat Yulia terdiam.

Ia tahu Damar kecewa karena tanah dan rumah miliknya tak bisa dijual begitu saja kalau tidak ada persetujuan dari hak waris.

Belum sempat ia mengatakan apa-apa, Damar sudah berjalan lebih dulu. Pria itu merogoh saku celananya, mengeluarkan sekumpulan kunci, lalu memilih salah satunya untuk membuka gembok yang terpasang di pintu depan.

Bunyi klik terdengar ketika gembok itu akhirnya terbuka.

Damar mendorong pintu kayu tersebut. Engselnya berderit panjang, seolah memprotes setelah sekian lama tak digunakan.

“Ayo masuk,” katanya singkat.

Yulia menurut. Ia melangkah melewati ambang pintu sambil memperhatikan keadaan di dalam rumah.

Begitu kakinya menginjak lantai, langkahnya seketika terhenti.

Astaga!

Matanya menyapu ruangan yang tampak begitu berantakan.

Yulia menelan ludah. Sudah berapa lama rumah ini dibiarkan kosong sampai keadaannya begitu menyedihkan?

“Dam, rumah ini sudah lama enggak ditempati, ya?” tanyanya sambil menoleh.

“Kelihatannya begitu, kan?” Damar menjawab tanpa menatapnya. “Sudah, kita bereskan sekarang. Aku mau keluar sebentar buat beli makanan.”

Yulia mengangguk. “Iya, Dam.”

Tanpa menunggu jawaban lain, Damar berbalik dan keluar dari rumah. Bahkan, pria itu tak sempat menoleh untuk memastikan Yulia baik-baik saja.

Suara langkahnya semakin menjauh, menyisakan kesunyian di dalam rumah tua itu.

Yulia berdiri beberapa saat sambil memandangi sekeliling. Ia menarik napas perlahan, lalu meletakkan tasnya di atas meja yang berdebu.

Yulia berjalan menuju sudut ruangan dan menemukan sebuah sapu yang tersandar di dekat dinding. Setelah mengambilnya, Yulia memandangi sarang laba-laba yang menjuntai dari langit-langit.

“Entah sudah berapa tahun rumah ini enggak dibersihkan,” gumamnya.

Yulia mencari bangku kecil yang masih cukup kokoh, lalu menggunakannya untuk membersihkan sarang laba-laba di bagian yang bisa dijangkau. Setelah itu, ia beralih mengelap meja dan kursi menggunakan kain bekas yang ditemukannya di dekat lemari.

Debu yang menempel begitu tebal hingga membuat kain itu cepat menghitam.

“Banyak banget debunya.”

Ia melanjutkan pekerjaannya dengan menyapu lantai secara perlahan. Sesekali, Yulia berhenti untuk meluruskan punggungnya. Perutnya yang semakin membesar membuat gerakannya tak lagi sebebas dulu. Meski begitu, ia tetap berusaha menyelesaikan pekerjaannya sedikit demi sedikit.

1
Mundri Astuti
iya ih Nafisah masih percaya beud sama emaknya ..
kasih kaca yg gede emakmu Nafisah, perut dah gede gitu ..dah tua juga, masih ga insaf juga...
Mundri Astuti
hati" Nafisa ibumu belum tobat romannya...jangan tinggal bareng ya, sewain tmpt tinggal dan kasih pembantu yg usianya sama...

sempet" nya lagi acara serius pada saling sindir 😄
Lee Mba Young
widih calon mangsa baru bu Yulia nih 🤣🤣🤣. dah gatel tu
Lee Mba Young
Ibu ibu dah tua kakean polah, the real beban buat nafisa.
nafisa blm punya anak tp nnti pasti suruh nanggung biaya bayi itu iuhhh.
Lee Mba Young
nnti pasti semua biaya sang bayi smp bayi itu besar, biaya sekolah nafisa yg di suruh nanggung. iuhhh kasian nafisa, ibunya bukan membahagiakan tp ngasih beban.
Lee Mba Young
hbis ini ngemis lagi ke anak yg di khianati trus tanggung jawab adik nya semua biaya suruh nafisa yg nanggung. the real beban ibu Dan sang bayi.
Lee Mba Young
sekarang tinggal nunggu karma ibu Dan Adam itu. iuhh naudzibillah banget ngangkang ke mantu sendiri. jalang ketemu laki ngacengan 🤣.
Neni Rahmawati
bagus dewangga .
Neni Rahmawati
super duper gila..naudzubillah
Neni Rahmawati
ya ampun naudzubillah bu yulia..moga cepet dapet azab..si damar juga sama2 gila
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!