Bagi publik, Arka Dirgantara adalah pengusaha sukses berselimut gosip miring, mulai dari disfungsi ereksi hingga rumor menyukai sesama jenis. Tak ada yang tahu rahasia terbesarnya, ditinggal kabur mantan istri di malam pengantin membuatnya trauma dan masih perjaka.
Terdesak ancaman dicoret dari warisan dan runtuhnya investasi, Arka nekat mengajak Naya Kirana, gadis ceria yang butuh uang pengobatan ibunya, untuk menjalani pernikahan kontrak satu tahun. Aturannya tegas, pura-pura mesra di depan media, tapi dilarang saling sentuh di rumah.
Namun, hidup seatap dengan Naya yang blak-blakan perlahan meruntuhkan dinding kaku Arka. Ketika sang mantan istri kembali untuk membongkar rahasia kelamnya, akankah sandiwara konyol ini hancur, atau justru berubah jadi cinta sejati yang menyembuhkan trauma masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fhatt Trah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Pengantin Skenario
Butik rancangan desainer ternama di kawasan Senopati itu terasa terisolasi dari keramaian Jakarta. Aroma bunga peony dan lilin aromaterapi vanila menyambut Naya begitu ia melangkahkan kaki melewati pintu kaca setinggi tiga meter.
Di sekelilingnya, deretan gaun pengantin berwarna putih gading dan murni berdiri anggun di atas manekin, tampak begitu mahal dan tidak tersentuh.
“Ibu Marisa sudah memesan seluruh area ruang tunggu pribadi untuk hari ini, Mbak Naya,” terang seorang staf butik dengan senyum ramah yang sangat formal, membimbing Naya menuju sofa beludru di bagian tengah ruangan.
Tak berapa lama, Ibu Marisa melangkah masuk bersama dua asistennya. Wanita itu tampil elegan dengan setelan kemeja sutra dan kacamata hitam yang baru dilepasnya saat duduk. Matanya langsung menyapu Naya dari atas ke bawah, menilai penampilan calon menantu rekayasa tersebut tanpa intensi menyembunyikannya.
“Keluarga Dirgantara tidak pernah memakai gaun jadi,” ujar Ibu Marisa dingin, melambaikan tangan ke arah perancang busana yang sudah berdiri siap di sampingnya. “Saya sudah meminta Madam Chloe menyiapkannya secara khusus. Naya, berdiri.”
Naya patuh. Ia berdiri kaku di atas panggung bundar berkaca saat Madam Chloe dan dua asistennya mulai mengukur lingkar tubuhnya. Pita ukur yang dingin menempel di pinggang, dada, dan bahunya.
Setiap sentuhan terasa seperti pengingat betapa absurdnya situasi ini. Ia hanyalah wanita biasa yang terbelit hutang dua miliar demi pengobatan ibunya, namun kini diukur untuk sebuah busana pengantin mewah yang nilainya mungkin bisa membiayai operasinya.
Pintu kaca butik berdentang pelan. Arka melangkah masuk. Jas gelapnya tampak sedikit kusut di bagian lengan, tanda bahwa ia baru saja menyelesaikan rapat maraton atau mengurus kebocoran media yang disinggung Doni kemarin.
Pria itu menyapu pandangan ke sekeliling ruangan sebelum tatapannya terkunci pada Naya.
“Kamu terlambat lima belas menit, Arka,” tegur Ibu Marisa tanpa menoleh dari majalah mode di pangkuannya.
“Urusan kantor, Mami,” jawab Arka singkat. Ia berjalan mendekati panggung tempat Naya berdiri, lalu menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi kayu di dekatnya.
Madam Chloe meminta bantuan asistennya untuk membawakan gaun perdana, sebuah busana ballgown dengan potongan off-shoulder yang dipenuhi bordiran kristal Swarosvki.
“Mba Naya, silakan coba yang ini terlebih dahulu. Ini rancangan utama yang dipilihkan oleh Ibu Marisa,” ujar Madam Chloe.
Naya menghilang di balik tirai kamar ganti yang tebal. Dibantu oleh dua orang staf, ia bersusah payah memasukkan tubuhnya ke dalam gaun yang sangat berat itu. Gaun tersebut dirancang begitu megah, namun kain brokat ketat di bagian dada membuat Naya sulit bernapas lega.
Ketika tirai beludru dibuka kembali, Naya melangkah keluar dengan ragu.
Ibu Marisa mengamati dengan mata terpicing. “Terlalu mencolok untuk postur tubuhnya. Bahunya terlalu kecil untuk potongan seperti itu. Ganti.”
Naya mengangguk pasrah dan kembali ke balik tirai. Gaun kedua dicoba, sebuah gaun berpotongan mermaid yang sangat ketat menempel di pinggul. Kali ini, Ibu Marisa menggelengkan kepala sebelum Naya bahkan sempat berdiri tegak di tengah panggung.
“Terlalu modern. Terkesan tidak sopan untuk acara keluarga besar,” cetus Ibu Marisa melambaikan tangan, memberi isyarat untuk menggantinya lagi.
Tiga kali Naya keluar masuk ruang ganti. Rasa lelah fisik dan mental mulai menggerogoti pertahanannya. Luka memar kecelakaan kecil di pinggangnya mulai terasa nyeri akibat gesekan kain-kain kaku tersebut. Wajah Naya kian pucat, dan napasnya mulai terengah pelan.
Saat tirai dibuka untuk kali keempat, Naya mengenakan gaun berpotongan A-line sederhana berwarna putih gading dengan lengan panjang berbahan renda halus. Tanpa kilau kristal yang berlebihan, gaun itu jatuh dengan sangat anggun, membingkai tubuhnya dengan pas.
“Mami rasa yang ini—” Ibu Marisa baru hendak memberikan penilaian kritis lainnya, namun suara Arka memotong cepat.
“Yang ini pas.”
Ibu Marisa menoleh, menatap putranya dengan alis terangkat. “Arka, gaun ini terlalu sederhana untuk standar pernikahan keluarga kita.”
Arka berdiri dari sandarannya. Ia berjalan mendekati panggung kecil tempat Naya berdiri. Langkah kakinya tenang, namun matanya menatap lurus pada Naya yang tampak menahan napas. Arka menyadari jemari Naya yang tersembunyi di balik lipatan kain gaun saling meremas dengan kuat, tanda wanita itu berada di ambang batas kemampuannya.
“Pernikahan ini tinggal lima hari lagi, Mami,” ujar Arka dengan suara rendah namun tidak bisa dibantah.
“Naya terlihat nyaman dengan yang ini. Lagipula, renda di bagian lengan menyamarkan bekas luka perban di tangannya dengan sempurna. Media tidak akan bertanya-tanya.”
Ibu Marisa melirik lengan Naya, lalu mendengkus pelan. “Baiklah kalau kamu memaksa. Tapi Mami ingin veil-nya dibuat lebih panjang dengan renda perak.”
“Atur saja dengan Madam Chloe,” sahut Arka datar.
Ibu Marisa berdiri, mengibaskan gaunnya, lalu melangkah menuju area depan untuk membicarakan detail tambahan bersama perancang busana. Dua asistennya mengekor dari belakang, meninggalkan Arka dan Naya berdua di area panggung utama.
Naya mengembuskan napas panjang yang sejak tadi ia tahan, bahunya terkulai sedikit.
“Makasih, Mas,” bisik Naya pelan, tidak berani menatap mata Arka lewat cermin di hadapannya. “Gaun yang tadi berat banget. Saya hampir tidak bisa bernapas.”
Arka melangkah lebih dekat, berdiri tepat di belakang Naya. Dari pantulan cermin, mata tajam pria itu menatap bayangan Naya.
Tangan Arka terangkat perlahan, menyentuh bagian renda di bahu Naya, merapikan kain yang sedikit terlipat dengan gerakan yang teratur dan dingin.
“Jangan berterima kasih,” gumam Arka, suaranya terngiang amat dekat di belakang telinga Naya.
“Saya hanya tidak mau kamu pingsan sebelum hari H. Kalau kamu tumbang, kerja keras Doni menahan berita medis tentang ibumu akan sia-sia.”
Naya tersentak pelan. Pengingat itu menghantamnya kembali pada kenyataan. Tidak ada tempat untuk romansa atau belas kasihan di sini. Ini hanyalah transaksi bisnis bernilai dua miliar.
“Saya mengerti, Mas,” jawab Naya tegar, mendongak menatap pantulan mata Arka di cermin. “Saya tidak akan membuat masalah.”
Arka menatapnya beberapa detik lebih lama, mencari tanda-tanda kelemahan di mata wanita itu, namun yang ia temukan hanyalah tekad yang makin mengeras.
Arka tidak bersuara lagi. Ia melepaskan sentuhannya dari bahu Naya secara perlahan, lalu menarik langkah mundur beberapa sentimeter. Dingin kembali menguasai jarak di antara mereka.
“Madam Chloe akan menyelesaikan ukurannya,” ujar Arka sembari melirik jam tangan perak yang melingkar di pergelangan tangannya. “Setelah ini, Doni akan mengantarmu kembali ke rumah sakit.”
“Mas Arka tidak ikut?” tanya Naya refleks, sebelum ia sempat menahan lidahnya sendiri.
Satu alis Arka terangkat tipis. “Saya ada janji dengan tim hukum dan PR di kantor. Foto-foto fitting hari ini harus disortir sebelum disebar ke beberapa media terpilih besok pagi. Kita butuh narasi bahwa pernikahan ini didasari rasa cinta, bukan keterpaksaan.”
Naya mengangguk pelan, membuang muka ke arah cermin. Tentu saja. Setiap detik dalam hidup pria ini adalah kalkulasi bisnis.
Madam Chloe kembali ke ruangan bersama seorang asisten yang membawa pita ukur dan beberapa sampel bahan renda perak atas arahan Ibu Marisa. Dengan sigap, desainer itu merapikan bagian bawah gaun Naya.
“Model A-line ini memang paling cocok untuk Mbak Naya,” ujar Madam Chloe ramah, mencoba mencairkan ketegangan yang masih tersisa di udara. “Rendanya sangat halus, tidak akan mengikis kulit. Dan yang paling penting... Pak Arka punya mata yang jeli. Beliau tahu apa yang pas untuk Mbak.”
Naya hanya memberikan senyum tipis yang dipaksakan. Jeli atau sekadar pragmatis? batinnya pahit. Bagi Arka, gaun ini hanyalah penutup cacat dan alat pembungkus skenario.
Setelah proses pengukuran akhir selesai, Naya kembali ke kamar ganti. Begitu tirai tertutup, ia menyandarkan punggungnya pada dinding kayu kamar ganti, membiarkan tubuhnya rileks sejenak. Otot-ototnya terasa kaku, dan memar di pinggangnya menjerit nyeri akibat gesekan gaun-gaun sebelumnya.
Ia memejamkan mata, membayangkan wajah ibunya yang masih terbaring lemah di ruang ICU. Dua miliar, bisiknya dalam hati, seolah mantra itu bisa memberinya kekuatan ekstra untuk bertahan lima hari lagi.
–tbc–
lanjut
buat arka jatuh cinta ke naya ya kak... dan naya makin jaga jarak dan sadar diri dgn pernikahan kontraknya
lanjut kak