Setelah mengorbankan wujud fananya untuk menyelamatkan jiwa Su Qingyue, Lin Chen hancur oleh cakar Kaisar Langit dari Ras Naga Sejati.
Sisa jiwanya yang nyaris sirna diselamatkan oleh pengorbanan umur Tian Yu yang memanggil Esensi Phoenix Abadi, mengubahnya menjadi sebuah kepompong api. Atas kehendak Tuan Istana Ujung Takdir, kepompong itu dibuang ke dunia fana murni Kerajaan Chen tempat di mana hukum kultivasi, Qi spiritual, dan ancaman dewa tidak pernah ada.
Ratusan tahun berlalu dalam keheningan, menunggu sang Penantang Langit untuk menetas kembali. Tanpa kultivasi, tanpa tombak dewa di tangannya, namun membawa fondasi fisik gabungan dari Naga, Kekacauan, dan Phoenix Abadi, Lin Chen memulai kehidupan keduanya bukan sebagai monster kehancuran, melainkan sebagai seorang pangeran fana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: Penaklukan Gerbang Perunggu
Ujung jari Lin Xue yang lentik menyentuh permukaan gerbang perunggu itu dengan rasa ingin tahu yang murni. Namun, bagi entitas yang tertidur di baliknya, sentuhan fana itu adalah sebuah provokasi.
WUUUNGGG!
Ukiran makhluk bersayap di permukaan gerbang seketika menyala merah darah. Lumut hijau yang menempel berjatuhan layaknya kulit mati. Pintu perunggu itu tidak terbuka, namun dari celah-celahnya, sebuah gelombang kejut energi Yin yang luar biasa pekat meledak keluar. Gelombang itu tidak hanya membawa dorongan fisik, melainkan sebuah serangan spiritual berbentuk lolongan jiwa yang mengincar langsung ke arah kesadaran Lin Xue.
Bagi manusia fana, terkena serangan jiwa seperti itu akan membuat akal sehat mereka hancur, mengubah mereka menjadi boneka bernapas tanpa ingatan.
Lin Xue mematung, matanya terbelalak ngeri melihat kabut hitam berbentuk tengkorak melesat ke arah wajahnya. Ia bahkan tidak sempat menjerit saat kakinya lemas tak bertulang.
Namun, sebelum kabut itu bisa menyentuh sehelai pun rambut Lin Xue, sebuah tarikan kuat merenggut lengan gaunnya.
WUSSSHH!
Kecepatan Lin Chen melampaui nalar. Ia menarik kakaknya ke belakang punggungnya dalam sepersejuta detik, menempatkan tubuhnya sendiri sebagai perisai hidup di antara Lin Xue dan gerbang perunggu tersebut.
Lin Chen tidak merapal teknik perlindungan. Ia tidak melepaskan Hawa Kekacauan-nya karena takut fluktuasinya akan melukai kakaknya yang berada tepat di belakangnya. Sebagai gantinya, Lin Chen mengeraskan punggungnya, memanggil seluruh Kepadatan Tubuh Dewa dari Darah Naga Primordial dan Esensi Phoenix Abadi untuk menahan hantaman tersebut.
BLAAAAARRR!
Gelombang energi spiritual berbentuk tengkorak itu menghantam punggung Lin Chen dengan telak.
Bagi ahli kultivasi biasa, hantaman itu akan meremukkan meridian mereka. Namun bagi Cangkang Dewa Lin Chen, energi purba itu hancur berantakan seketika layaknya ombak yang menabrak tebing karang abadi. Tidak ada satu pun tulang Lin Chen yang bergeser. Hanya jubah sutranya yang sedikit robek di bagian bahu akibat dorongan angin kencang.
"Kyaaa!" Lin Xue menjerit, memeluk erat pinggang adiknya dari belakang dengan mata terpejam rapat, tubuhnya gemetar hebat.
Tanah di bawah kaki mereka bergetar. Batu di langit-langit gua mulai berjatuhan, menghantam lantai batu.
"Kak Xue! Awas runtuhan batu! Gempa bumi!" seru Lin Chen dengan nada panik yang dibuat-buat, tangannya menepis bongkahan batu fana yang mengancam kepala mereka, memastikan ilusi bencana alam itu terlihat sempurna.
Sambil melindungi kakaknya dari reruntuhan, tangan kanan Lin Chen bergerak dengan kecepatan yang tidak bisa ditangkap mata fana. Ia menjulurkan tangannya ke bawah, memetik Teratai Darah Tulang Bumi beserta akarnya dengan sangat rapi, lalu menyembunyikannya ke dalam Cincin Penyimpanan yang ia rampas dari Jian Wu malam sebelumnya.
Hanya butuh dua tarikan napas bagi Lin Chen untuk mengamankan pusaka utama itu.
Getaran di gua perlahan mereda setelah energi dari balik gerbang itu terkuras.
Lin Chen berbalik, memegang kedua bahu kakaknya yang masih pucat pasi. "Kakak tidak apa-apa?! Ada batu yang mengenaimu?!"
Lin Xue membuka matanya perlahan. Ia melihat adiknya yang berdiri melindunginya, dengan bahu jubah yang sedikit robek karena tertimpa 'batu'. Rasa takutnya seketika tergantikan oleh rasa haru dan khawatir pada adik bungsunya.
"Kakak tidak apa-apa, Chen'er! Kau sendiri terluka?!" Lin Xue meraba bahu Lin Chen dengan cemas.
"Hanya tergores batu kecil," Lin Chen tersenyum menenangkan. Ia lalu menarik tangan kakaknya. "Tempat ini sudah tidak aman, Kak. Labirin ini sudah terlalu tua, atapnya bisa runtuh kapan saja. Ayo kita kembali ke atas sekarang!"
Lin Xue yang masih trauma dengan getaran tadi mengangguk dengan cepat. Ia bahkan meninggalkan keranjang bunganya yang terjatuh, membiarkan adiknya menuntunnya berlari menyusuri lorong gelap itu kembali menuju Perpustakaan Kerajaan.
Malam hari turun menyelimuti Istana Kerajaan Chen.
Setelah memastikan Lin Xue tertidur lelap setelah meminum teh penenang yang telah ia campur dengan setetes Qi pemulih, Lin Chen kembali berdiri di depan rak buku sejarah di Perpustakaan Kerajaan.
Ia menekan batu bata pemicu itu sekali lagi.
GRRRKKK...
Lorong gelap itu kembali terbuka. Namun kali ini, langkah kaki yang memasuki labirin bawah tanah itu tidak lagi ringan dan berhati-hati.
Lin Chen tidak lagi mengenakan jubah sutra pangeran yang elegan, melainkan jubah hitam legam yang ujungnya menyerap cahaya obor di sekelilingnya. Tidak ada senyum manja di wajahnya. Mata keemasannya memancarkan kedinginan kuat yang bisa membekukan Sungai Takdir.
Ia berjalan lurus, sama sekali tidak memedulikan jebakan fana yang bermutasi. Saat anak panah beracun melesat atau lumut iblis mencoba menjerat kakinya, Hawa Kekacauan yang berputar satu inci dari tubuhnya langsung menghancurkan benda-benda itu menjadi debu, membiarkannya lewat layaknya raja yang berjalan di karpet merah.
Hanya dalam waktu singkat, Lin Chen kembali berdiri di depan gua raksasa.
Gerbang perunggu itu kini terdiam. Lumutnya telah bersih, menampakkan ukiran makhluk-makhluk iblis bersayap enam yang terlihat sangat hidup di bawah pendaran cahaya merah redup dari dalam sela-sela pintu.
Lin Chen berhenti tepat tiga langkah dari gerbang tersebut. Ia bisa merasakan tatapan buas dari balik perunggu tebal itu, sebuah eksistensi kuno yang menanti mangsanya masuk ke dalam kegelapan.
"Kau berani mengincar jiwa kakakku siang tadi," bisik Lin Chen pelan, namun suaranya beresonansi dengan kekuatan yang membuat ruang gua itu bergetar. "Kau tahu, bahkan dewa di Alam Abadi harus berpikir seribu kali sebelum berani melakukan hal itu."
Dari balik gerbang, terdengar geraman rendah yang meremehkan. Sosok itu jelas merasakan kultivasi Lin Chen yang hanya berada di tahap Foundation Establishment Puncak. Bagi monster yang telah hidup ribuan tahun, manusia di ranah itu hanyalah camilan penutup.
Ujung bibir Lin Chen melengkung, membentuk seringai tiran yang luar biasa kelam.
"Kau mengandalkan gerbang perunggu terkutuk ini untuk menahan kekuatanku?"
Lin Chen melangkah maju. Ia tidak mengeluarkan pusaka pedang atau merapal sihir penghancur gerbang. Ia hanya mengangkat kedua telapak tangan kecilnya yang terlihat pucat dan menempelkannya tepat di tengah ukiran iblis perunggu tersebut.
Darah Naga Primordial di dalam sumsum tulangnya meraung bangkit. Esensi Phoenix Abadi membakar setiap inci ototnya. Dan Hawa Kekacauan mengalir deras, menyatu dengan dorongan Kepadatan Tubuh Dewa miliknya.
"Buka."
Satu kata yang keluar dari bibir Lin Chen diikuti oleh dorongan fisik murni yang menentang hukum alam semesta.
KRAAAAAAKKKK!!! BOOOOOOM!!!
Pintu gerbang perunggu raksasa setebal sepuluh jengkal yang telah tertutup selama ribuan tahun itu menjerit histeris. Logamnya melengkung ke dalam karena tidak mampu menahan tekanan dari telapak tangan Lin Chen. Dalam satu dorongan brutal, kedua daun pintu perunggu itu terlempar ke dalam, menghantam dinding batu di seberangnya dengan suara ledakan yang memekakkan telinga!
Debu purba mengepul tebal, menyapu keluar dari dalam makam kuno tersebut.
Saat debu perlahan menipis, mata keemasan Lin Chen menatap lurus ke dalam kegelapan ruangan raksasa itu. Di tengah makam yang dipenuhi tumpukan tulang belulang manusia dan tumpukan batu spiritual yang telah menghitam, sepasang mata merah raksasa sebesar kereta kuda terbuka, menatap Lin Chen dengan keterkejutan dan amarah yang meledak.
Eksistensi itu memancarkan tekanan murni dari ranah Soul Formation tahap akhir.
Lin Chen melangkah masuk melewati ambang pintu, jubah hitamnya berkibar diterpa angin makam yang berbau darah. Ia memutar lehernya hingga terdengar bunyi gemeretak tulang yang ritmis.
"Sarang yang cukup bagus untuk seekor anjing tua," ucap Lin Chen dengan tenang, menatap monster raksasa itu seolah menatap barang mati. "Sekarang, serahkan pusaka di dalam makam ini, dan aku mungkin akan mengizinkanmu mempertahankan mayatmu tetap utuh."
Su Qingyue ikut Lin Chen dan Tua hitam ke alam Abadi.
Kenapa ana Qingyue lagi di alam Fana 🤣🤣