NovelToon NovelToon
Bukan Kakak yang Kau Inginkan

Bukan Kakak yang Kau Inginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:66
Nilai: 5
Nama Author: Luna Widy

Sejak kecil, Sekar hanya "anak nomor dua" di rumahnya sendiri.

Semua yang terbaik selalu untuk sang kakak, Laras—si sulung yang sempurna, cerdas, dan dibanggakan. Sekar? Cukup pakai baju bekas kakaknya, tidur di kamar bekas gudang, dan tersenyum saat dilupakan.

Maka ketika Laras membawa pulang tunangannya saat Lebaran—**Damar Wirajaya**, pewaris konglomerat yang dingin, tampan, dan kaya raya—Sekar pikir pria itu tak ada urusannya dengannya.

Ia salah besar.

Karena tatapan datar Damar selalu berhenti terlalu lama… di wajahnya. Karena hadiah, perhatian, dan "kebetulan-kebetulan" itu semua mengarah padanya. Dan pada satu malam yang tak bisa ia ceritakan pada siapa pun, Sekar menyadari kebenaran yang mengerikan:

**Bukan kakaknya yang diinginkan pria itu. Tapi dirinya.**

Damar tak akan melepaskannya. Dengan utang miliaran rupiah, perjanjian pranikah yang mengikat, dan kuasa yang bisa menghancurkan seluruh keluarganya, ia menyeret Sekar ke dalam pernikahan yang tak pernah Sekar inginkan—sementara satu-satunya cinta yang tulus, sahabat kecilnya **Rangga**, hanya bisa menatap dari kejauhi.

Tapi Sekar bukan lagi gadis yang menunduk dan menerima.

Di balik senyum patuhnya, ia menghitung. Ia menunggu. Dan ketika rahasia kelahirannya sendiri terbongkar—bahwa darah yang mengalir di tubuhnya jauh lebih rumit dari yang siapa pun tahu—Sekar berhenti menjadi mangsa.

Kali ini, dialah yang memegang pisau.

*Berapa harga sebuah kebebasan? Sekar siap membayarnya—sampai tetes terakhir.*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30

Bab 30: Aku Percaya Padamu

"Jauhkan tangan Anda dari gerbang."

Suara Rangga memotong halaman sebelum aku sempat menjawab Damar.

Ia berdiri tiga langkah di belakangnya, helm masih di tangan, napas cepat setelah menyeberang. Wajah Rangga tidak menunjukkan amarah meledak. Justru ketenangan yang dipaksakan itu membuatku tahu betapa kuat ia sedang menahannya.

Damar menoleh perlahan. "Ini percakapan pribadi."

"Sekar minta saya menjemputnya. Berarti percakapan selesai."

"Dia bisa mengatakannya sendiri."

Keduanya menatapku.

Perbedaan itu kecil, tetapi penting. Damar mengatakannya seperti tantangan, yakin aku akan terlalu takut untuk bicara. Rangga menunggu tanpa mendesak, benar-benar menyerahkan jawaban kepadaku.

"Aku mau pergi," kataku.

Rangga mengulurkan tangan, bukan untuk menarikku, hanya untuk menahan gerbang agar terbuka. Damar tidak segera melepaskan batang besi.

"Anda dengar dia," kata Rangga.

"Jangan ikut campur dalam sesuatu yang tidak kamu pahami."

"Saya memahami kata pergi."

Damar memandang pakaian Rangga yang masih berbau jalan dan minyak dari warung, lalu tersenyum tipis. "Kamu pikir bisa menjaganya dengan mengantar pesanan dan proyek yang belum menghasilkan?"

"Saya nggak perlu lebih kaya dari Anda untuk menghormati batas orang lain."

Senyum Damar hilang.

Pintu rumah terbuka. Mbak Laras berdiri di ambang, wajah pucat. "Mas, pergi."

Damar menoleh kepadanya. Untuk beberapa detik, kami semua menunggu apakah ia akan mengabaikan permintaan itu juga.

Akhirnya tangannya lepas dari gerbang.

Aku berjalan melewatinya. Rangga bergeser memberi ruang, menjaga tubuhnya di antara aku dan Damar tanpa menyentuh siapa pun.

"Sekar," panggil Damar.

Aku tidak menoleh.

"Gelangnya jangan dilepas."

Langkahku goyah. Rangga melihat lingkar hijau di tanganku, tetapi tidak bertanya sampai kami mencapai motor.

Ia menyerahkan helm cadangan. "Kamu mau langsung pulang atau ke tempat ramai dulu?"

"Pulang."

"Baik."

Aku duduk di belakangnya tanpa memegang pinggangnya. Jemariku mencengkeram pegangan motor, tetapi saat kendaraan mulai bergerak, seluruh tubuhku bergetar terlalu keras. Rangga memperlambat laju.

"Boleh berhenti sebentar?" tanyanya.

Aku mengangguk meski ia tidak bisa melihat.

Kami berhenti di depan minimarket yang terang. Orang-orang keluar masuk membawa kantong belanja, suara mesin pendingin dan iklan promo memenuhi udara. Tempat biasa itu membuat halaman tadi terasa sedikit lebih jauh.

Rangga membeli air mineral lalu duduk di pembatas trotoar, menyisakan jarak di sebelahnya. Ia tidak membuka botol sebelum menyerahkannya kepadaku.

"Dia menyentuhmu tadi?"

Aku memandang gelang di tangan. "Dia memasang ini lagi."

"Tanpa izin?"

"Iya."

"Ada bagian tubuhmu yang sakit?"

Aku menggeleng. Pertanyaan sederhana itu justru membuka pintu bagi pertanyaan lain yang sudah bertahun-tahun kutahan.

"Kalau yang sakit bukan dari hari ini?"

Rangga tetap diam.

"Malam hujan waktu Lebaran," lanjutku. "Aku minum teh. Setelah itu ingatanku putus-putus. Damar baru saja mengaku dia memasukkan sesuatu ke minumanku. Dia masuk kamar, mengunci pintu, dan..."

Kata berikutnya tersangkut. Aku tidak perlu memaksanya menjadi rincian.

"Dia menyentuhku saat aku nggak bisa memilih," kataku.

Rangga menunduk. Tangan yang memegang tutup botol memutih, tetapi suaranya tetap rendah.

"Kamu merekam pengakuannya?"

"Iya."

"Bagus. Kita buat salinan setelah sampai."

"Kamu nggak mau tanya aku kenapa baru cerita?"

Ia menatapku. "Nggak."

"Kenapa aku ikut ke Surabaya? Kenapa aku menerima gelang? Kenapa aku nggak langsung melapor?"

"Karena jawaban apa pun nggak mengubah bahwa dia melakukannya tanpa persetujuanmu."

Air mata memenuhi pandanganku.

"Damar bilang orang akan memeriksa semua pilihanku."

"Mungkin benar. Orang bisa kejam." Rangga menarik napas, menahan sesuatu di rahangnya. "Tapi kekejaman mereka juga nggak mengubah kebenaran."

"Kalau rekamannya nggak cukup?"

"Kita cari bantuan yang mengerti bukti. Bara bisa menunjukkan layanan pendamping. Ayahmu bisa menjadi saksi perubahanmu malam itu. Tapi kamu yang menentukan kapan."

Aku akhirnya menangis. Tidak cantik, tidak diam. Napasku tersendat dan bahuku berguncang di bawah lampu putih minimarket. Rangga tidak memelukku. Ia duduk di sana, cukup dekat untuk kutemukan, cukup jauh agar tubuhku tidak merasa dikepung.

Akulah yang lebih dulu meraih ujung lengan bajunya.

Baru setelah itu ia membuka tangan.

Aku bersandar pada bahunya. Pelukannya ringan, tanpa tekanan di punggung atau pinggang. Ketika tubuhku menegang karena suara motor yang tiba-tiba keras, ia langsung melonggarkan tangan.

"Jangan lepaskan," bisikku.

Ia kembali memelukku. "Aku di sini."

Kami baru melanjutkan perjalanan setelah aku bisa bernapas tanpa tersedak. Di sepanjang jalan pulang, gelang giok beradu dengan pegangan motor, menghasilkan bunyi kecil yang membuatku mual.

Di rumah, Bara belum kembali dari rumah sakit. Bu Lina sedang menyendok rawon untuk pelanggan terakhir. Begitu melihat wajahku, ia tidak bertanya di depan orang lain. Ia hanya menyuruh Pak Bambang menutup warung lebih cepat.

Rangga menyalin rekaman ke laptop dan satu penyimpanan daring. Ia menuliskan waktu, tempat, dan orang yang hadir di rumah. Aku menambahkan bahwa Mbak Laras melihat Damar memasang gelang setelah ia mengambilnya dari laci.

Kami tidak memutar seluruh rekaman. Aku hanya mendengarkan sepuluh detik pertama untuk memastikan suaranya jelas, lalu meminta Rangga memakai penyuara telinga. Meski begitu, aku melihat perubahan di wajahnya ketika sampai pada pengakuan tentang teh. Matanya menutup sesaat. Ia melepas penyuara telinga sebelum bagian terakhir selesai.

"Maaf," katanya.

"Kenapa kamu yang minta maaf?"

"Karena tadi aku ingin memukul dia." Ia meletakkan kedua tangan di atas meja, terbuka. "Keinginan itu nggak membantu kamu. Kalau aku melakukannya, dia bisa mengubah cerita dan menjadikan dirinya korban."

Aku teringat caranya berdiri di gerbang, marah tetapi tetap memintaku mengatakan sendiri bahwa aku ingin pergi.

"Terima kasih karena nggak melakukannya."

"Aku akan belajar terus," katanya. "Melindungi kamu bukan berarti memilihkan tindakan untukmu."

Kalimat itu kusimpan di tempat yang berlawanan dengan suara Damar.

"Mau aku bantu buka pengaitnya?" tanya Rangga.

Aku mencoba sendiri. Kukuku berkali-kali terpeleset. Setiap kali ia menawarkan bantuan, aku mendengar perintah Damar agar gelang itu tidak dilepas.

"Belum," kataku akhirnya. "Aku belum bisa."

Rangga tidak memandang gelang itu sebagai tanda kepemilikan. "Nggak apa-apa."

Malam semakin larut. Setelah Bu Lina dan Pak Bambang tidur, kami duduk di teras belakang. Lampu rumah-rumah tetangga menyala hangat. Di atas atap, hanya dua bintang terlihat di antara awan Bandung.

"Dia bilang sejak awal yang dia inginkan adalah aku," kataku.

Rangga menatap halaman. "Kamu bukan sesuatu yang bisa dia inginkan lalu ambil."

"Aku takut dia nggak akan berhenti."

"Aku juga takut," katanya jujur. "Tapi kamu nggak sendirian menghadapinya."

"Kalau suatu hari aku berubah pikiran berkali-kali? Tentang melapor, tentang pulang, tentang menceritakan ini kepada Mbak Laras?"

"Kita periksa lagi apa yang kamu butuhkan setiap kali. Berubah pikiran bukan berarti kamu berbohong."

Aku menatap profil wajahnya. "Kamu percaya semua yang kuceritakan?"

Rangga berbalik kepadaku. Tidak ada keraguan, rasa kasihan, atau pertanyaan tersembunyi di matanya.

"Aku percaya padamu, Sekar."

Di bawah cahaya rumah sederhana itu, kalimatnya tidak menghapus apa yang terjadi.

Namun untuk pertama kalinya, kebenaranku tidak harus berdiri sendirian dalam gelap.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!