Genta, pemuda udik dari gunung dengan kemampuan medis legendaris, turun ke kota metropolitan untuk menikahi Kiara Prameswari, CEO cantik dan dingin dari keluarga konglomerat, sesuai wasiat gurunya. Alih-alih sambutan hangat, Genta justru dihina dan dianggap benalu oleh Kiara dan keluarganya yang tidak tahu bahwa di balik penampilannya yang lusuh, Genta didampingi oleh "Sistem Pewaris Tabib Sakti" yang memungkinkannya menyembuhkan penyakit mustahil. Terjebak dalam pernikahan politik yang dingin, Genta harus menggunakan ilmu medis magis dan bantuan sistemnya untuk menampar balik semua orang yang meremehkannya, menyelamatkan nyawa, dan membangun kekuasaannya sendiri di rimba kota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
Empat pengawal raksasa keluarga Adhitama langsung menerjang maju secara bersamaan dari empat arah berbeda.
Mereka semua mengeluarkan pisau lipat taktis dari balik jas mereka, mengincar titik vital di tubuh Genta.
Kiara menjerit ngeri dan memejamkan matanya, mengira suaminya akan ditebas menjadi potongan daging.
Brak! Bugh! Krak!
Namun yang terdengar selanjutnya bukanlah rintihan Genta, melainkan suara tulang patah dan jeritan kesakitan dari para pengawal.
Hanya dengan mengandalkan tendangan kaki kanannya tanpa melepaskan cengkeraman pada rahang Kevin, Genta menghabisi mereka semua.
Empat pengawal terlatih itu terpental jauh ke segala arah, menghancurkan meja hidangan dan terkapar pingsan dalam hitungan detik.
Aula pesta mendadak sunyi senyap, tidak ada satu pun tamu yang berani bernapas melihat kekuatan fisik Genta yang tidak masuk akal.
Genta kembali memusatkan perhatiannya pada Kevin yang kini wajahnya memutih seperti mayat melihat pengawalnya hancur lebur.
"Sekarang, minum anggur mahamu ini sampai habis Tuan Muda," bisik Genta dengan nada yang terdengar seperti malaikat maut.
Genta menuangkan seluruh isi gelas kristal itu ke dalam mulut Kevin yang terbuka lebar, memaksanya menelan cairan merah itu hingga tetes terakhir.
Gluk. Gluk.
Setelah memastikan anggur beracun itu masuk ke lambung Kevin, Genta melepaskan cengkeramannya dan mendorong tubuh Kevin hingga terjatuh ke lantai.
Kevin memegangi lehernya sendiri, berusaha memuntahkan kembali anggur yang baru saja ditelannya dengan raut wajah horor.
"Uhuk! Uhuk!
Kau... kau baru saja membunuhku dasar iblis!" tangis Kevin pecah bercampur ingus dan air mata.
Para tamu undangan melangkah mundur ketakutan, membuat lingkaran kosong yang lebar di tengah aula.
Lima menit berlalu dengan ketegangan yang luar biasa mencekik.
Tiba-tiba, wajah Kevin berubah menjadi biru pucat keunguan.
Dia memegangi dada kirinya dengan kedua tangan, meronta-ronta di lantai seolah ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungnya.
"Arrrgghhh!
Tolong... jantungku... sakit sekali!" jerit Kevin melolong kesakitan, matanya melotot nyaris keluar dari kelopaknya.
Fakta medis di depan mata mereka semua kini menjawab segalanya.
Anggur itu benar-benar mengandung racun mematikan, dan Kevin Adhitama secara terang-terangan berencana membunuh Kakek Baskoro malam ini.
Kakek Baskoro mengepalkan tangannya kuat-kuat, kemarahan yang luar biasa memancar dari sorot matanya yang tua.
"Keluarga Adhitama benar-benar sudah bosan hidup di kota ini rupanya," desis Kakek Baskoro menahan amarah.
Kiara menatap Genta dengan rasa kagum yang luar biasa besar, suaminya ini kembali menyelamatkan keluarganya dari ambang kehancuran.
Genta berjongkok santai di samping tubuh Kevin yang sedang meregang nyawa, menatap wajah kesakitan tuan muda itu dengan dingin.
"Bagaimana rasanya Tuan Muda? Bubuk Penghancur Jantung itu akan membuat pembuluh darahmu meledak dari dalam lima menit lagi."
Kevin menarik ujung celana Genta dengan tangan gemetar, seluruh kesombongannya telah hancur berganti menjadi rasa takut mati yang absolut.
"Tolong aku... aku mohon selamatkan aku... aku tidak mau mati hari ini," rintih Kevin memohon belas kasihan.
"Aku janji keluarga Adhitama tidak akan pernah mengganggu keluarga Prameswari lagi selamanya!"
Genta tersenyum miring, dia mengeluarkan sebuah botol porselen kecil dari saku jasnya dan mengguncangnya pelan.
"Kebetulan sekali, aku punya satu butir pil penawar rahasia yang bisa menyelamatkan nyawa anjing kotor sepertimu."
Mata Kevin langsung berbinar penuh harapan melihat botol porselen di tangan Genta.
"Berikan itu padaku! Cepat berikan!" teriak Kevin putus asa mencoba merebut botol itu.
Genta dengan mudah menepis tangan lemah Kevin dan berdiri tegak menjauhi tuan muda itu.
"Pil ini sangat langka dan sulit dibuat Kevin, aku tidak bisa memberikannya secara gratis pada orang yang berniat membunuh kakekku."
"Lalu apa maumu?! Uang?! Berapa yang kau minta, sebutkan saja!" jerit Kevin sambil meremas dadanya yang semakin sakit.
Genta mengangkat satu jari telunjuknya tinggi-tinggi ke udara agar semua orang bisa melihat.
"Satu triliun rupiah, ditransfer tunai detik ini juga ke rekening pribadi istriku, Kiara Prameswari."
Permintaan harga yang gila itu membuat seluruh aula pesta kembali heboh.
Satu triliun rupiah bukanlah jumlah yang sedikit, bahkan untuk sekelas keluarga konglomerat Adhitama sekalipun, itu akan menguras kas utama mereka secara drastis.
"Kau gila! Memeras satu triliun hanya untuk sebutir pil?! Kau merampokku!" bentak Kevin memuntahkan sedikit darah segar.
Genta hanya mengangkat bahunya tidak peduli dan memasukkan kembali botol porselen itu ke dalam sakunya.
"Kalau kau merasa nyawamu lebih murah dari satu triliun, silakan mati saja di lantai ini dan jadilah pupuk tanaman istriku besok pagi."
"Tiga menit tersisa sebelum jantungmu benar-benar meledak Kevin, waktu terus berjalan."
Rasa sakit di dada Kevin kini sudah tidak tertahankan lagi, pandangannya mulai kabur dan napasnya terasa sangat berat.
Kematian benar-benar sudah menyentuh ubun-ubunnya, uang sebanyak apapun tidak akan ada gunanya jika dia mati malam ini.
"Baik! Aku bayar! Aku bayar satu triliun sekarang juga!" teriak Kevin dengan sisa napas terakhirnya.
Kevin mengeluarkan ponselnya dengan tangan bergetar hebat, membuka aplikasi perbankan khusus miliarder dan menekan nominal transfer dengan panik.
"Nona Kiara, sebutkan nomor rekening utamamu sekarang," perintah Genta santai kepada istrinya.
Kiara yang masih sedikit syok buru-buru menyebutkan nomor rekening perusahaan Prameswari Group dengan suara lantang.
Dua menit kemudian, suara notifikasi nyaring terdengar dari ponsel pintar milik Kiara.
Mata CEO dingin itu terbelalak lebar saat melihat angka nol yang sangat panjang baru saja masuk ke saldo perusahaannya.
"Uangnya... uangnya benar-benar masuk, satu triliun rupiah tunai," ucap Kiara dengan suara bergetar tidak percaya.
Semua tamu undangan menelan ludah dengan susah payah, pemuda bernama Genta ini baru saja melakukan pemerasan paling elegan dan brutal dalam sejarah kota ini.
"Uangnya sudah masuk, sekarang berikan penawarnya iblis!" tuntut Kevin merangkak memeluk kaki Genta.
Genta tersenyum puas, dia mengeluarkan sebutir pil berwarna cokelat pekat dari botol porselennya dan melemparkannya ke lantai begitu saja.
"Makanlah Tuan Muda, selamat menikmati hidup keduamu yang kubeli seharga satu triliun."
Tanpa mempedulikan harga dirinya di depan ratusan pasang mata, Kevin langsung memungut pil kotor itu dari lantai dan menelannya bulat-bulat.
Sensasi dingin yang sangat menyegarkan langsung menyebar dari lambungnya menuju ke jantung, memadamkan rasa sakit yang menyiksa itu seketika.
Wajah Kevin perlahan kembali mendapatkan warna aslinya, napasnya berangsur normal, dia benar-benar terhindar dari kematian.
Setelah menyadari dirinya sudah selamat, Kevin perlahan bangkit berdiri dengan tubuh yang masih sedikit gemetar.
Dia menatap Genta dan keluarga Prameswari dengan tatapan kebencian yang berkali-kali lipat lebih besar dari sebelumnya.
"Kau pikir ini sudah selesai Genta?!" desis Kevin menunjuk wajah pemuda itu.
"Keluarga Adhitama akan memburu nyawamu, uang satu triliun itu akan menjadi biaya pemakamanmu dan seluruh keluarga Prameswari!"
Genta sama sekali tidak terintimidasi, dia justru melangkah maju dan menatap Kevin dari jarak yang sangat dekat.
Aura membunuh yang luar biasa pekat memancar dari tubuh Genta, membuat Kevin reflek mundur selangkah ketakutan.
"Pulanglah ke kandangmu Kevin, dan sampaikan pesan ini pada ayahmu yang arogan itu."
"Jika keluarga Adhitama masih berani mencari masalah dengan istriku, aku sendiri yang akan mencabut nyawa kalian semua satu per satu tanpa tersisa."
"Sekarang enyah dari hadapanku sebelum aku berubah pikiran dan mematahkan lehermu saat ini juga!"
Bentakan Genta bergema keras di seluruh penjuru aula, auranya benar-benar mendominasi seluruh ruangan seperti seorang raja mutlak.
Kevin tidak berani membalas sepatah kata pun, dia berbalik dan berlari terbirit-birit keluar dari kediaman Prameswari, meninggalkan pengawalnya yang masih pingsan.
Sorak-sorai dan tepuk tangan meriah langsung meledak dari para tamu undangan yang mengagumi tindakan berani Genta.
Malam ini, nama Genta tidak akan lagi dikenal sebagai gembel udik atau parasit keluarga.
Malam ini, seluruh elit kota metropolitan akhirnya tahu bahwa keluarga Prameswari dilindungi oleh sosok monster yang tidak bisa disentuh oleh siapapun.
Di tengah keramaian pujian itu, suara denting sistem kembali menyapa pendengaran Genta dengan sangat merdu.
[Ding!]
[Misi menundukkan musuh publik berhasil dengan sempurna.]
[Master berhasil memeras aset musuh dalam jumlah fantastis.]
[Poin Reputasi Master bertambah 5000 Poin.]
[Membuka akses kemampuan baru: Teknik Pukulan Penghancur Tulang Level 1.]
Genta tersenyum tipis merayakan kemenangannya, dia kemudian menoleh ke arah istrinya yang masih menatapnya dengan pandangan penuh kekaguman.
"Bagaimana Nona Kiara? Apa satu triliun cukup untuk uang saku bulanan suamimu ini?" goda Genta sambil mengedipkan sebelah matanya.
Wajah Kiara langsung memerah padam seperti kepiting rebus, dia memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan senyum simpul yang tidak bisa dia tahan lagi.
"Jangan terlalu sombong Genta, ini baru permulaan dari badai yang sebenarnya," gumam Kiara pelan, namun hatinya merasa sangat aman berada di dekat pria ini.