Demi menyelamatkan seluruh aset perusahaan peninggalan almarhum ayahnya, Maya diwajibkan oleh surat wasiat kakeknya untuk menyerahkan Buku Nikah sebelum batas waktu jam lima sore. Ketika mantan tunangannya berkhianat akibat suap dari sang paman dan waktu tersisa kurang dari satu jam, Maya nekat menarik seorang pria berkaus oblong lusuh di tepi jalan untuk diajak menikah kontrak di KUA dengan imbalan lima ratus juta rupiah.
Maya mengira suami barunya, Arka, hanyalah seorang buruh serabutan miskin. Namun, setiap kali pamannya berusaha menjatuhkan Maya, skema jahat itu selalu hancur secara beruntun lewat bantuan misterius. Maya tidak pernah menyadari bahwa pria sederhana yang tinggal di rumahnya itu adalah Arka Nusantara, CEO penguasa konsorsium bisnis terbesar di kota ini yang sengaja menyamar demi melindunginya dari balik layar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey 18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan dari Benua Barat
Keesokan harinya, sinar matahari pagi memantulkan kilau keemasan di atas sayap pesawat jet pribadi Nusantara Group yang meluncur mulus membelah angkasa. Perjalanan kembali menuju kota asal terasa jauh lebih tenang dibanding saat mereka berangkat menuju ibu kota.
Di dalam kabin utama jet yang amat mewah, Maya tertidur lelap di sofa empuk. Kepala cantiknya bersandar nyaman di pangkuan Arka. Kelelahan emosional setelah melewati rentetan jebakan dan intrik di Gedung Merdeka akhirnya terbayarkan oleh rasa aman yang sempurna.
Arka mengusap lembut helai rambut Maya dengan jemarinya. Tatapannya begitu penuh kehangatan saat memandangi wajah istrinya yang damai. Namun, ketika tangannya merogoh saku jas dan mengeluarkan peranti komunikasi rahasia, ekspresi di wajah Arka seketika berubah menjadi sangat dingin.
Ia menempelkan earphone mikro ke telinganya.
"Bicaralah," kata Arka dengan suara amat pelan agar tidak membangunkan Maya.
Dari balik saluran terenkripsi, suara Kakek Utama dari dewan pembina pusat terdengar sangat serius.
"Yang Mulia Dewa Perang," sapa Kakek Utama penuh hormat. "Pengalihan aset triliunan rupiah dari Wijaya Group kepada Wibowo Group semalam telah memicu reaksi keras dari Konsorsium Aliansi Barat."
Arka menyipitkan matanya rapat rapat. "Aliansi Barat? Mereka berani ikut campur dalam urusan internal Nusantara Group?"
"Aliansi Barat menduga ada manipulasi kekuasaan di tingkat Asia," terang Kakek Utama. "Mereka telah mengutus Valerie Dupont, Direktur Eksekutif Komite Pengawas Keuangan Internasional, untuk datang langsung ke kota Anda minggu depan. Valerie membawa wewenang penuh untuk membekukan seluruh sertifikat ekspansi Wibowo Group jika Maya Wibowo gagal membuktikan kelayakan bisnisnya di tingkat global."
Arka menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan aura dominasi mutlak.
"Valerie Dupont..." bisik Arka dingin. "Wanita angkuh dari Eropa itu rupanya belum kapok setelah kekalahannya di pasar saham tiga tahun lalu. Biarkan dia datang. Aku ingin melihat sejauh mana Aliansi Barat berani merentangkan tangannya di tanah kita."
"Petunjuk diterima, Yang Mulia. Pasukan Bayangan akan memantau seluruh pergerakan Valerie sejak ia mendarat," sahut Kakek Utama sebelum memutus sambungan.
Arka menyimpan kembali peranti komputasinya. Tepat saat itu, Maya bergerak pelan, mengerjapkan matanya perlahan sebelum mendongak menatap Arka.
"Arka..." bisik Maya dengan suara khas bangun tidur yang lembut. "Apakah kita sudah mau sampai?"
Arka mengulas senyum hangatnya kembali, mengusap pipi Maya dengan jemarinya. "Sebentar lagi kita mendarat, Maya. Tidurmu nyenyak sekali."
Maya duduk tegak seraya merapikan rambutnya, lalu menggenggam kedua tangan Arka dengan erat.
"Aku bermimpi indah sekali tadi," ujar Maya dengan mata berbinar bahagia. "Dalam mimpiku, Proyek Wibowo Park sudah selesai dibangun dan menjadi pusat bisnis paling megah. Dan kamu... berdiri di sampingku memakai setelan jas paling mewah, diakui oleh seluruh dunia."
Arka terpana sejenak mendengar ucapan tulus istrinya. Jantungnya berdesir hangat.
"Mimpimu akan menjadi kenyataan, Maya," balas Arka mantap. "Bahkan lebih besar dari apa yang kamu bayangkan."
Satu jam kemudian.
Pesawat jet pribadi mendarat dengan selamat. Pengawalan ketat namun tersamar mengiringi kepulangan Arka dan Maya kembali ke kediaman mereka.
Kabar mengenai pengalihan aset Wijaya Group senilai belasan triliun rupiah telah menyebar luas di seluruh penjuru kota. Kedatangan Maya di kantor pusat Wibowo Group disambut oleh jajaran direksi dan ratusan karyawan yang berdiri berbaris di lobi utama, memberikan tepuk tangan riuh penuh rasa bangga.
Maya melangkah masuk ke ruang kerjanya yang kini makin megah. Di meja kerjanya, menumpuk belasan proposal kerja sama dari berbagai konglomerat daerah yang sebelumnya sempat meremehkan Wibowo Group.
Namun, di tengah suasana penuh kemenangan tersebut, pintu ruang kerja Maya mendadak diketuk dengan terburu buru.
Sekretaris pribadi Maya melangkah masuk dengan raut wajah sangat cemas, membawa sebuah dokumen tebal berlogo bahasa Inggris dengan lambang burung elang emas.
"Nona Maya," kata sekretaris itu dengan suara bergetar. "Ada pemberitahuan darurat dari Organisasi Perdagangan dan Keuangan Internasional."
Maya mengerutkan alisnya, meraih dokumen tersebut dari meja. "Dokumen apa ini?"
"Utusan khusus dari Komite Pengawas Internasional Benua Barat baru saja mengirimkan telegraf resmi," terang sekretaris itu. "Mereka menyatakan bahwa pengalihan aset sisa Megah Pratama Group kepada Wibowo Group ditahan sementara untuk proses audit kelayakan standar internasional."
Maya membelalakkan matanya kaget. "Audit kelayakan internasional?! Wibowo Group adalah perusahaan lokal yang sah secara hukum negara! Mengapa lembaga asing bisa menghentikan ekspansi kita secara sepihak?!"
Sekretaris itu menunduk takut. "Utusan utama mereka, Nyonya Valerie Dupont, dipastikan mendarat lusa dan meminta Anda menghadap di rapat komite khusus."
Maya mengepalkan tangannya di atas meja. Rasa cemas kembali mencoba merayapi pikirannya. Tantangan kali ini bukan lagi sekadar serigala lokal seperti Surya Wijaya atau Melati Wijaya, melainkan raksasa keuangan benua barat yang memiliki pengaruh jaringan global.
Arka yang sejak tadi berdiri tenang di dekat jendela, melangkah mendekati meja kerja Maya.
Ia meletakkan tangannya di atas kepalan tangan Maya, menyalurkan rasa tenang dan keyakinan yang tak tergoyahkan.
"Jangan cemas, Maya," kata Arka dengan nada suara yang begitu anggun dan penuh kepastian. "Aliansi Barat hanya sedang mencoba memamerkan kekuatan mereka. Mereka pikir bisa menekan perusahaan lokal dengan stempel internasional."
Maya mendongak menatap Arka dengan mata bergetar. "Tapi Arka... Valerie Dupont memiliki wewenang untuk membekukan izin transaksi ekspor dan kredit internasional kita."
Arka menyunggingkan senyum misteriusnya yang sangat dingin. Iris matanya memancarkan keagungan seorang penguasa puncak yang tak tertandingi di marcapada.
"Maka lusa nanti," tegas Arka pelan namun menggema di seluruh ruangan, "aku akan membuat utusan dari benua barat itu sadar... siapa pemilik hukum sebenarnya yang menguasai pilar keuangan di tanah ini."
itu.