Bisu, tuli, dan dianggap aib keluarga. Amara diperlakukan lebih buruk dari hewan di mansionnya sendiri. Puncaknya, ia dibuang ke halaman belakang yang dingin membeku tanpa diberi makan sedikit pun saat pesta bisnis ayahnya berlangsung.
Di tengah keputusasaannya, muncul Gabriel—CEO muda paling ditakuti dengan tato bunga mawar di lehernya.
Melihat Amara yang terkulai lemas menahan lapar, pria dingin itu melepaskan jasnya dan merangkul sang gadis.
"Mulai malam ini, siapa pun yang menyakitimu... akan kuhancurkan."
Ketika sang Putri yang Dibuang dilindungi oleh Pria Paling Berkuasa, pembalasan dendam pun dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengumuman Sang Penguasa
"Tuan, saya mendapatkan kabar!" seru Bayu terengah-engah setelah berlari masuk ke dalam kontrakan sempit di pinggiran kota yang melayani sebagai tempat persembunyian mereka.
Hendra yang sedang duduk tegang di atas bale-bale kayu langsung melompat berdiri, matanya melotot liar penuh kecemasan. "Kabar apa?! Apa polisi sudah menemukan tempat ini?!"
"Bukan, Tuan! Bukan polisi!" pangkas Bayu cepat seraya menyodorkan ponselnya yang menampilkan berita utama di berbagai media nasional. "Tuan Gabriel sudah mulai mempublikasikan bahwa Nyonya Amara adalah istrinya! Walaupun kemarin mereka menikah tanpa pesta besar, saat ini Tuan Gabriel mengumumkan secara resmi ke publik bahwa Nyonya Amara sedang mengandung keturunannya!"
Hendra merebut ponsel itu dengan tangan gemetar hebat. Matanya membelalak menatap foto Amara yang berdampingan dengan Gabriel dalam balutan pakaian mewah, terlihat amat anggun dan terlindungi.
"H-hamil?!" pekik Hendra syok, suaranya bergetar antara tak percaya dan rasa iri yang membakar dada. "Anak bisu itu... mengandung pewaris tunggal kekayaan Gabriel?!"
"Benar, Tuan," sahut Bayu dengan wajah pucat. "Berita ini sudah tersebar di seluruh media bisnis dan portal berita utama. Tuan Gabriel bahkan memberikan pernyataan tegas... siapa pun yang berani mengusik ketenangan Nyonya Amara atau anak dalam kandungannya, akan dihancurkan tanpa sisa."
PRANG!
Hendra melempar ponsel itu ke lantai hingga layarnya retak seribu. Ia mencengkeram rambutnya sendiri, meraung frustrasi di dalam ruangan yang pengap itu.
"Harusnya anak itu mengingat jasaku!" jerit Hendra histeris, mukanya memerah padam. "Aku yang membesarkannya! Kalau bukan karena aku, dia tidak akan pernah bertemu dengan Gabriel! Sekarang dia hidup bergelimang harta dan menjadi permaisuri, sementara aku harus sembunyi seperti buronan di tempat kotor ini!"
"Tuan, kecilkan suara Anda!" bisik Bayu panik seraya memeriksa celah jendela. "Kalau ada warga sekitar yang curiga, keberadaan kita bisa terbongkar!"
"Aku tidak peduli!" bentak Hendra penuh keserakahan yang membutakan akalnya. "Cucu dalam kandungan Amara itu adalah darah dagingku juga! Gabriel tidak bisa menyingkirkanku begitu saja! Aku punya hak atas kekayaan mereka!"
Bayu menatap majikannya dengan pandangan ngeri. "Tuan sudah gila... Tuan Gabriel mengumumkan hal ini justru untuk memperingatkan semua orang, terutama Tuan! Sekali saja Tuan mencoba mendekati Nyonya Amara saat dia sedang hamil, Tuan Gabriel tidak akan ragu menghabisi Tuan di tempat!"
Hendra terdiam kaku, ancaman dingin Gabriel seolah kembali merayapi tengkuknya. Namun, binar keserakahan di matanya tak sepenuhnya padam—ia telah kehilangan segalanya, dan kehamilan Amara adalah satu-satunya kartu liar yang tersisa dalam pikirannya.
"Bagaimana keadaan Siska?" tanya Hendra dengan nada dingin, mencoba mengalihkan kemarahannya meski guratan panik di wajahnya tidak bisa disembunyikan.
"Nyonya Siska beberapa kali mencoba untuk kabur, Tuan," jawab Bayu menghela napas berat, matanya melirik cemas ke luar jendela kontrakan kusam itu. "Bahkan dia terus berteriak-teriak di dalam sel, bilang jika Tuan datang dia akan menuntut semua orang di sana karena merasa diperlakukan kasar."
Hendra mendecih keras, matanya membelalak penuh kekesalan atas kebodohan istrinya.
"Wanita gila! Dia pikir sel polisi itu rumah nenek moyangnya?!" bentak Hendra dengan suara tertahan. "Sudah tahu posisinya terjepit karena dipolisikan langsung oleh Gabriel, dia malah membuat keributan yang makin memperberat hukumannya!"
"Pihak kepolisian bahkan tidak memutus penahanannya sama sekali, Tuan," tambah Bayu pelan, memberikan kenyataan pahit. "Kabar dari informan kita, Tuan Gabriel memberikan tekanan penuh pada kantor polisi itu. Tidak ada jaminan, tidak ada penangguhan. Nyonya Siska dipastikan akan langsung naik ke meja hijau dengan ancaman pasal berlapis."
Hendra memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut hebat. Rasa frustrasi dan ketakutan merayapi seluruh tubuhnya.
"Dia benar-benar memutus semua jalan kita..." gumam Hendra gemetar, suaranya meluruh menjadi rintihan pasrah. "Siska mendekam di sel, rumah kita disita, rekening dibekukan, dan sekarang Amara... Amara sedang hamil keturunan keluarga paling berpengaruh di kota ini."
"Tuan..." bisik Bayu hati-hati, menatap majikannya yang tampak makin memprihatinkan. "Kalau Nyonya Siska sampai membuka suara di depan penyidik demi meringankan hukumannya sendiri, bukan tidak mungkin nama Tuan akan diseret sebagai otak di balik pemalsuan dokumen itu."
Wajah Hendra seketika pucat pasi bagai mayat. Kebenaran ucapan Bayu menghantam kesadarannya tanpa ampun. Siska yang panik dan terdesak pasti tidak akan segan menumbalkannya demi menyelamatkan diri sendiri.
"Tidak... tidak boleh!" desis Hendra penuh kecemasan yang membuncah. "Bayu, kita harus tinggalkan kota ini malam ini juga! Jangan sampai ada yang tahu tempat tinggal kita selanjutnya!"
"Baik, Tuan. Saya akan mulai melakukan pergerakan sekarang agar tidak ada warga atau orang-orangnya Tuan Gabriel yang curiga," bisik Bayu tegas seraya merapikan pakaian lusuhnya.
"Lakukan dengan cepat, Bayu!" tekan Hendra setengah berbisik, matanya liar melirik ke sekeliling ruangan pengap itu. "Jangan bawa barang yang tidak penting. Ambil sisa uang tunai yang kita punya, lalu cari kendaraan yang tidak terdaftar atas nama kita!"
"Saya paham, Tuan," sahut Bayu sigap, mengambil tas ranselnya yang tersandar di dinding. "Tuan tetap di dalam dan kunci pintu dari dalam. Jangan sekali-kali membuka jendela atau menampakkan diri sebelum saya kembali memanggil Tuan."
"Iya, iya, aku tahu!" bentak Hendra panik, tangannya yang gemetar mendorong bahu Bayu agar segera keluar. "Ingat, kalau ada yang bertanya atau mencurigaimu, katakan saja kamu cuma perantau yang sedang mencari kontrakan!"
Bayu mengangguk mantap. Sebelum membuka pintu kayu yang berderit itu, ia menoleh sebentar pada majikannya. "Tuan... kalau nanti kita berhasil keluar kota, apa Tuan benar-benar akan menyerah dan tidak mengusik Nyonya Amara lagi?"
Hendra terdiam sejenak. Sorot matanya yang penuh rasa ketakutan mendadak berganti menjadi kilatan kejam yang sarat akan keputusasaan dan dendam.
"Menyerah?" desis Hendra dingin, mengepalkan tangannya rapat-rapat. "Anak itu hidup bergelimang harta dan disanjung seperti ratu, sementara ayahnya sendiri diburu seperti anjing liar! Begitu anak dalam kandungannya lahir dan situasi sudah tenang, aku pasti akan menagih hakku pada Amara!"
Bayu menghela napas panjang, tak berani mendebat lebih jauh. Pria itu menggeleng pelan, lalu perlahan menyelinap keluar pintu dan menghilang di kegelapan gang sempit.
untung nyonya Eleanor cepat sadar yx ,, dn bnr2 berubah kepada Amara ,,