Bagaimana jika hidupmu seperti di neraka hanya karena sebuah kesalahpahaman yang sulit untuk dibuktikan?
Sienna Breezie Sinclair seorang wanita malang yang dituduh membunuh seorang konglomerat terpandang, harus menerima perlakuan tak adil sepanjang hidupnya. Bak angin lalu suaranya tak pernah didengar, ia justru dituntut untuk mengakui perbuatan bejat yang tidak pernah ia lakukan.
Bisakah Sienna membuktikan bahwa bukanlah dia pelaku pembunuhan itu? atau Selamanya namanya akan tercatat dan dikenang sebagai seorang pembunuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11
Kegelapan di dalam kamar penyimpanan linen begitu pekat hingga Sienna tak bisa membedakan apakah matanya terbuka atau terpejam. Udara dingin basemen yang lembap meresap tanpa hambatan ke dalam gaun seragam abu-abunya yang robek di bagian lutut.
Sienna duduk bersandar pada dinding beton yang kaku. Kedua telapak tangannya yang terbalut perban darurat perih luar biasa, bekas goresan pecahan porselen antik tadi siang masih meninggalkan selapis darah kering yang mengeras.
Setiap kali ia berusaha menarik napas panjang untuk meredakan nyeri di rusuk kirinya, bau tembakau pekat dan wewangian mahal khas Nico seolah masih tertinggal di lehernya, bekas cengkeraman kasar pria itu.
Pintu terkunci dari luar.
Perintah Nico dilaksanakan tanpa cela oleh Matteo dan James. Sepanjang sore hingga malam merayap naik, tidak ada satu pun langkah kaki yang mendekati lorong servis itu. Tidak ada setetes air atau sepotong roti kering. Hanya rasa lapar yang menggerogoti lambungnya dan dahaga yang membakar kerongkongannya.
Sienna memeluk kedua lututnya yang terluka, menyembunyikan wajah pucatnya di sana. Air matanya sudah kering sejak beberapa jam lalu, meninggalkan jejak lengket di pipinya yang memar.
“Saya tidak melakukannya...” bisik Sienna pada kegelapan yang sunyi. Suaranya serak dan nyaris tak terdengar, tenggelam di antara dengung pendingin udara gedung.
Ia tahu membela diri di hadapan Nico adalah tindakan sia-sia. Pria itu telah membulatkan pikirannya bahwa keluarga Sinclair lahir hanya untuk menghancurkan hidupnya. Apapun yang pecah, apapun yang rusak, atau apapun yang hilang di rumah ini, Sienna adalah jawaban yang paling mudah dan memuaskan bagi amarah Nico.
Di lantai atas, ruang kerja Nico tenggelam dalam pendar remang lampu meja bernuansa kekuningan.
Nico duduk di balik meja mahoninya, menatap layar monitor komputer yang menampilkan berkas akuisisi saham anak perusahaan logistik Vance Group. Namun, pandangannya tidak benar-benar fokus pada angka-angka finansial yang tertera di sana.
Di sudut meja, di atas tatakan beludru hitam, tergeletak pecahan keramik putih berukiran emas peninggalan ibunya. Pecahan itu telah dibersihkan oleh James, namun noda darah tipis yang meresap ke dalam bagian porselen yang retak tidak sepenuhnya bisa hilang.
Nico merogoh gelas kristal di sampingnya, menyesap wiski pekat tanpa es. Alkohol itu membakar kerongkongannya, namun rasa panas di dadanya tak kunjung mereda.
Pintu ruang kerja terketuk dua kali dengan jeda yang teratur.
"Masuk," sahut Nico tanpa mengalihkan pandangannya dari layar monitor.
Arleen melangkah masuk dengan nampan berisi cangkir kopi hitam panas dan segelas air mineral. Pelayan wanita paruh baya itu menundukkan kepalanya dalam-dalam, menunjukkan sikap santun yang amat terlatih.
"Kopi malam Anda, Tuan Nicolas," ujar Arleen halus seraya meletakkan cangkir itu di tepi meja, dengan jarak yang sangat aman dari berkas-berkas penting Nico.
Nico melirik Arleen dari balik gelas wiskinya. Tatapan mata kelabunya begitu dingin dan penuh analisis, membuat Arleen sempat tertahan sejenak saat menarik kembali nampannya.
"Bagaimana keadaan di bawah?" tanya Nico singkat. Suaranya serendah guruh di kejauhan.
Arleen membetulkan posisi apronnya, dengan cepat menguasai raut wajahnya. "Nona Sienna masih berada di dalam kamar penyimpanan linen, Tuan. Sesuai perintah Anda, pintu tetap terkunci rapat dan Tuan Matteo menjaga area koridor servis."
Nico tidak langsung merespons. Ia mengetuk-ngetukkan jemarinya pada permukaan meja mahoni. "Apakah dia membuat keributan?"
"Tidak sama sekali, Tuan," jawab Arleen dengan nada prihatin yang dibuat-buat, menggelengkan kepalanya pelan. "Dia sama sekali tidak bersuara sejak Tuan Matteo menguncinya. Tapi... jika hamba boleh jujur, Tuan..."
Nico memicingkan matanya. "Bicara."
Arleen mendesah pelan, seolah berat untuk menyampaikan perkataannya. "Saya merasa Nona Sienna agak teledor karena kondisinya yang kurang fit. Tadi siang, saat saya menyuruhnya mengambilkan cangkir antik itu, saya melihat tangannya gemetar hebat. Saya sudah memperingatkannya agar tidak memaksakan diri, tapi dia tetap nekat meraihnya hingga cangkir itu terlepas dari genggamannya."
Penjelasan Arleen mengalir begitu mulus, merangkai narasi bahwa Sienna-lah yang bersalah akibat keteledoran dan kelalaian fisiknya sendiri. Arleen dengan cerdik menutupi dorongan fisiknya pada siku Sienna tadi siang, mengubah insiden itu menjadi kecelakaan akibat kesombongan Sienna yang menolak bantuan.
Nico mendengus dingin. Kebenciannya pada Sienna tidak membutuhkan banyak alasan tambahan untuk makin mengakar.
"Dia bukan Nona di rumah ini, Arleen," desis Nico kaku. "Jangan sebut dia dengan panggilan itu."
"A-ampun, Tuan. Saya mengerti," jawab Arleen terburu-buru seraya membungkuk lebih rendah. "Kalau begitu, saya permisi kembali ke dapur."
"Tunggu," panggil Nico tepat sebelum Arleen memutar gagang pintu.
Arleen membeku, memutar tubuhnya kembali. "Ada perintah lain, Tuan?"
Nico menatap pecahan porselen peninggalan ibunya di atas meja. "Besok pagi, pastikan dia membersihkan seluruh jendela luar di lantai bawah. Jika ada satu noda saja yang tersisa, kau tahu apa yang harus kau lakukan."
"Baik, Tuan Nicolas. Saya akan menyampaikannya pada Tuan Matteo." Arleen membungkuk sekali lagi lalu mundur perlahan keluar dari ruangan.
Saat pintu kayu tebal itu tertutup rapat, Arleen berdiri di lorong ruang kerja yang sunyi. Wanita itu menghela napas panjang, merapikan sanggul rambutnya seraya menyunggingkan senyum tipis yang tak terlihat oleh siapa pun.
Ia berjalan menyusuri koridor menuju kamar pribadinya di area pelayan, merogoh saku seragamnya untuk menyentuh ponsel genggam berlayar datar yang tersimpan rapat di sana.
Suasana malam di pusat kota makin pekat ketika jarum jam menunjuk angka dua dini hari.
Di dalam kamar penyimpanan linen yang gelap, Sienna terbangun akibat rasa perih yang melilit lambungnya. Napasnya terdengar patah-patah. Demam tipis yang sempat mereda kemarin sore kini kembali menyelimuti tubuhnya, membuat persendiannya terasa berat bagai ditindih bongkahan batu.
Tiba-tiba, suara engsel pintu yang berderit pelan memecah kesunyian.
Sienna tersentak, berusaha membelalakkan matanya yang berat. Pendar cahaya remang dari lampu lorong menerobos masuk saat celah pintu terbuka beberapa sentimeter.
Sesosok bayangan tinggi berdiri di ambang pintu.
Nico.
Pria itu telah melepaskan jas dan dasinya. Kemeja putihnya tergulung hingga siku, dan kancing atasnya terbuka, memperlihatkan garis lehernya yang tegas. Di tangan kirinya, ada sebuah botol wiski yang tinggal seperempat. Aroma alkohol yang tajam merebak masuk ke dalam ruangan sempit itu sebelum langkah kakinya menyentuh lantai beton.
Sienna mengerutkan tubuhnya makin rapat ke dinding, jantungnya berdegup kencang oleh rasa takut murni. "T-Tuan Vance..."
Nico tidak menyahut. Ia melangkah masuk, membiarkan pintu terdorong menutup kembali namun tidak terkunci rapat. Langkah kakinya agak lambat, namun aura penindasan yang dibawanya terasa dua kali lipat lebih berat daripada tadi siang.
Nico berdiri menjulang di hadapan Sienna yang tergeletak di lantai. Mata kelabunya yang biasanya kaku dan dingin kini berkilat suram di bawah kegelapan ruangan.
"Kau masih bernapas Sienna?" suara Nico terdengar serak, dipenuhi nada intimidasi yang kental akibat pengaruh alkohol.
Sienna menelan ludah, suaranya gemetar saat menjawab, "Saya... saya masih di sini, Tuan Vance."
Nico terkekeh sinis, sebuah tawa kaku tanpa rasa humor sedikit pun. Ia membungkuk perlahan, bertumpu pada satu lututnya di atas lantai beton, membuat jarak di antara wajah mereka hanya tersisa beberapa inci. Hawa panas bernapas alkohol menerpa permukaan kulit Sienna yang dingin dan lembap.
"Kau tahu kenapa aku tidak membiarkanmu mati tadi siang?" bisik Nico, suaranya begitu rendah hingga terasa bagai gesekan logam di telinga Sienna.
Sienna tidak berani menjawab. Ia hanya menundukkan pandangannya, menahan guncangan ketakutan di dadanya.
Nico mengulurkan tangannya yang besar, jemarinya yang tegap mencengkeram rahang Sienna secara kasar, memaksa wajah pucat gadis itu mendongak menatap lurus ke dalam matanya. Cengkeramannya begitu kuat hingga menekan bekas memar di pipi Sienna.
"Karena kematian adalah hadiah yang terlalu indah untuk seorang Sinclair," desis Nico dengan ketegasan yang kejam. "Ayahmu tewas di dalam penjara tanpa pernah memohon ampun pada ibuku. Dan kau... kau akan membayar setiap detik penderitaan yang harus kutanggung selama belasan tahun ini."
"Saya tidak pernah merusak cangkir itu, Tuan..." air mata Sienna kembali menetes, membasahi jemari Nico yang mengunci rahangnya. "Saya mohon... percaya pada saya sekali saja..."
"Percaya padamu?" Nico memicingkan matanya, mengencangkan cengkeramannya hingga Sienna meringis kesakitan. "Setiap kata yang keluar dari bibirmu adalah racun. Kau dan ayahmu diciptakan dari tanah yang sama, penipu dan pembunuh."
Nico menghempaskan rahang Sienna hingga kepala gadis itu tertekuk ke samping menabrak dinding beton.
Nico berdiri kembali, menatap Sienna yang memegangi leher dan rahangnya dengan nafas terengah-engah. Tidak ada selapis pun rasa iba atau kehangatan di wajah Nico. Yang ada hanyalah kepuasan kaku dari seorang penguasa yang berhasil menegaskan kembali rantai dominasinya atas pesakitan yang tak berdaya.
"Besok pagi pukul lima, kau sudah harus berada di teras bawah," perintah Nico dingin seraya berbalik menuju pintu. "Arleen akan mengawasimu. Jika kau pingsan lagi seperti kemarin... aku sendiri yang akan memastikan nenekmu di panti jompo merasakan akibat dari kelemahanmu."
Ancaman itu menghantam dada Sienna bagai bilah pisau yang menancap dalam.
Nico melangkah keluar, membanting pintu hingga terkunci kembali dari luar dengan bunyi kllik yang final dan mematikan.
Di dalam ruangan yang kembali gelap gulita, Sienna memeluk kedua lututnya yang berdarah, membiarkan isak tangisnya pecah tanpa suara di dalam kesendirian yang menelan habis sisa-sisa harapannya.
...Bersambung......