Rey adalah manusia yang diubah menjadi anomali-monster kanibal yang sengaja dijadikan tameng oleh para penjajah halus di Paradise. Menganggap nasibnya sebagai hukuman atas dosa masa lalu, ia menemukan sosok yang ia anggap sebagai ibu keduanya. Namun, kasih sayang Dwi ternyata hanyalah manipulasi. Perlahan, jati diri dan kewarasan Rey dihancurkan hingga melahirkan The Luna, seorang psikopat yang rela mempertaruhkan sisa kemanusiaannya demi melindungi Dwi dari hukuman mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon likaa0_0, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 2 misi
Merida melihat apa yang dilakukan oleh Rey membuatnya kagum sekaligus membuat perasaannya berbunga-bunga namun ia tidak mengekspresikannya di depan Rey.
*ya ampun.... Senior Rey kamu benar-benar keren banget ahhhh.... astaga*
rey berdiri
kemudian Rey mengambil sebuah pisau yang tertancap di kepala anomali tersebut. lalu ia berjalan mendekati merida, mereka berdua saling menatap namun Merida saat melihat Rey secara dekat membuat matanya berbinar
*walau berlumuran darah saat di lihat lebih dekat dia begitu indah*
rey menyodorkan pisau yang berlumuran darah ke Merida
"Merida. Simpan pisau ini"
Namun Merida tidak mendengarkan perintah Rey dia masih tidak memperhatikan, Rey pun memanggil Merida dengan lebih kencang lagi.
"MERIDA!!!"
Merida tersentak terkejut saat Rey memanggil namanya begitu keras
"senior Rey. ada apa?"
"Kamu di panggil tetep aja ngelamun. Ini simpan pisau ini setelah itu mari kembali ke kantor, karena tugas kita sudah selesai disini"
Rey memberikan pisau kepada Merida dan segera memintanya untuk kembali ke kantin
"baik senior Rey"
Mereka berdua pun setelah menyelesaikan tugas segera kembali ke kantor
****************
Televisi di sebuah ruangan menampilkan siaran berita tempat kejadian yang terjadi di tempat kejadian perkara di rumah yang baru saja di datangi oleh Rey dan merida
Beberapa polisi dan petugas terlihat sedang mengamankan lokasi kejadian.
"Baiklah, bersama saya, jurnalis Alea Farsha, dan seorang petugas kepolisian. Di sini saya ingin menanyakan kepada Pak Polisi, apakah benar telah terjadi pembunuhan terhadap seorang pria paruh baya?"
"Iya, benar, Mbak. Jadi pria paruh baya tersebut adalah—"
Televisi di matikan
Seorang gadis remaja berparas manis dan imut di depan televisi sedang menyaksikan berita
Ia memiliki poni yang menutupi dahinya, rambut panjang, serta ujung rambut yang disemir putih yaitu Eva
"Lagi-lagi berita lokal membahas hal yang nggak penting."
" jelas banget.... yang dibunuh itu bukan orang biasa."
Tiba-tiba terdengar suara seorang pria dari atas
"Eva."
Eva langsung mendongak ke atas melihat seorang pria seumuran denganya yang sedang duduk di atas pagar pembatas lantai dua yaitu nathan
"Memangnya kamu tahu dia siapa?"
"Nathan?"
Nathan turun dari lantai atas dengan cara melompati pagar pembatas lantai dua
Brukk!!!
Ia mendarat dengan cukup keras, tetapi tidak memedulikannya. Nathan segera bergegas menghampiri Eva yang masih berdiri di dekat televisi.
"Aku aslinya tidak mengetahui siapa orang itu tetapi aku yakin dia bukanlah warga biasa" (ujar Eva)
Kemudian Eva mematikan televisi namun Nathan yang masih penasaran dengan berita tersebut. tanpa banyak bicara, ia mengambil remote televisi lalu menyalakannya. Ia berharap berita yang baru saja mereka lihat masih berlangsung. Namun, layar televisi justru menampilkan acara lain.
"Yah... beritanya udah selesai. Padahal aku masih penasaran loh...."
nathan menghelai nafasnya
"Ngapain nonton berita yang jelas-jelas sampah begitu?" (ujar Eva)
Nathan menoleh.
"Kalau memang sampah, kenapa diliput di televisi? Ayolah, Eva. Jangan terlalu berpikiran negatif."
"Siapa yang berpikiran negatif?" (tanya Eva)
"Aku cuma ngomong fakta. Sekarang banyak berita yang membahas hal-hal nggak penting. Bahkan kehidupan sehari-hari selebgram saja bisa dijadikan berita, seolah-olah hidup mereka paling penting."
eva menyilangkan kedua tangannya lalu meletakkannya di depan dadanya
"Dan lagi... semua orang tahu kalau Anomali biasanya menyerang orang-orang yang punya masalah dengan para petinggi. Tapi begitu diberitakan, mereka selalu disebut sebagai warga biasa."
Eva kemudian melanjutkan dengan suara lebih rendah.
"Aku tahu kamu Anomali yang dibuang oleh Athena. Aku juga tahu kamu masih punya alasan untuk membela Athena."
Kalimat itu membuat Nathan sedikit kesal
nathan mematikan televisi
seketika kedua bola mata Nathan berubah menjadi merah yang menjadi ciri khas anomali, serta mulutnya tersenyum cukup lebar tak wajar hingga ujung mulutnya rahang, ia menunjukkan seluruh gigi taringnya yang panjang serta tajam, dan ia menjulurkan lidahnya yang seperti ular yang menjulur ke luar.
Nathan menatap Eva dengan tatapan intimidasi nya kemudian ia menertawakan Eva
"HAHAHAHA... ternyata kamu benar-benar tahu semuanya, Eva..... Aku memang kabur dari Athena karena ketidak adilan kepadaku serta manusia lainnya"
nada suara Nathan berubah merendah
"oleh karena itu aku harus membalas dendam ku kepada Athena"
Nathan berjalan mendekati Eva mundur satu langkah.
Namun Nathan terus mendekat hingga akhirnya ia berdiri tepat di hadapan Eva. Tangan kanannya terangkat dan menyentuh pipi Eva hingga membuatnya membeku, Nathan mulai tersenyum lebar namun itu cukup mengerikan.
"Eva. aku tau bisa memakan siapapun dan apa saja termasuk di depan ku ini, hahahahaha namun aku berjanji untuk tidak menjadi kanibal"
Eva menatap nathan dengan perasaan takut.
Tiba-tiba dua orang sedang melihat mereka berdua dari atas yaitu satu wanita berambut pendek dengan potongan rambut Bob cut berwarna merah gelap duduk di atas pagar (Eveline)serta pria botak dengan tato naga di kepalanya(Hendra). Eveline segara meneriaki mereka dari atas.
"HEY KALIAN BERDUA NGAPAIN ITU?!"
Nathan menurunkan tangannya lalu mereka berdua mendongak ke atas melihat Eveline dan Hendra sedang memperhatikan mereka berdua.
Kemudian Eveline turun dengan menjatuhkan dirinya dari duduk di atas pagar.
Bruk!!
Eveline berjalan mendekati mereka berdua. Perlahan-lahan wajah Nathan kemabli normal Eva memasang raut ekspresi kembali normal.
Eveline merogoh-rogoh sakunya kemudian mengambil sebuah kertas yang terlipat menjadi kecil lalu memberikannya kepada mereka berdua. Eva mengambil kertas tersebut lalu membuka kertas tersebut, saat kertas itu terbuka kertas itu hanya terdapat sebuah foto besar seorang pria parubaya namun foto pria tersebut adalah foto dari korban penyerangan anomali yang di lihat oleh Eva dan Nathan bernama Sucipto.
Eva dan Nathan kebingungan dengan pria parubaya bernama Sucipto.
"Sucipto? Siapa pria ini?" (tanya Eva)
namun anehnya saat Eveline mendengar nama "Sucipto" dirinya malah tertawa terbahak-bahak
"apa? Sucipto... HAHAHAHA!!"
Eva dan Nathan saling menoleh satu sama lain melihat reaksi Eveline yang aneh.
"HAHAHAHA!!!"
Hendra segera memberitahu ke Eva serta Nathan dari atas mengenai Eveline
"hei kalian berdua anggap saja ini hal normal... Eveline otak sudah terkontaminasi oleh brainroot makanya dirinya memilikimu humor yang rendah"
"memangnya apa yang di pikiran oleh Eveline sampai dirinya tertawa seperti ini?" (Tanya Eva)
"aku teringat pada stiker internet yang menunjukkan seekor hiu dengan nama Sucipto di bawahnya"
"huh? Apanya yang lucu dari itu?"
"sudahlah lupakan saja kamu tidak akan paham Eva"
Eveline segera melanjutkan pembicaraannya tadi...
"pria parubaya itu adalah seorang korban dari keserakahan para petinggi di daerah strate mereka. Daerah strate memang mengalami tindakan penyimpangan namun sayangnya banyak sekali warganya tidak menyadari jikapun mereka sadar bakalan akan di bungkam oleh para petinggi."
"apayang di lakukan oleh para petinggi itu?" (tanya Eva)
"hmmm.... Aku tidak bisa menjelaskan terlalu detail karena kalian berdua akan di jemput oleh Johan"
"Johan? Siapa dia?" (tanya Nathan)
"Dia adalah seorang jurnalis kontroversial namun namanya selalu di sembunyikan"
tiba-tiba Hendra ikut menyambung pembicaraan Eveline
"Yap... Itu benar Johan jurnalis yang kontrovesial ingat dia pernah melakukan membuat artikel tentang kritikan tajam terhadap para petinggi. Jadi kalian berdua harus bersiap-siap karena satu jam lagi Johan akan menjemput kalian menggunakan mobilnya"
"untuk apa?" (tanya Eva)
"kalian nanti akan tahu sendiri jadi bersiaplah"
Setelah menjelaskan sedikit Hendra langsung meninggalkan mereka bertiga..
"iya betul yang di katakan oleh Hendra jadi bersiap-siaplah karena aku sudah memberikan misi kepada kalian"