“Jadi ini wanita yang akan menjadi istri ku?” Suara nya rendah penuh cemooh. “Ayah benar benar berhasil menemukan wanita yang paling membosankan untuk ku”
Dreven Orsley Dastan, pewaris keluarga Dastan, dikenal sebagai pria kasar, pengacau, sekaligus cassanova yang tak pernah serius pada wanita mana pun. Namun, sebuah kecelakaan membuatnya harus duduk di kursi roda—tanpa sedikit pun mengubah sifat liarnya.
Sampai akhirnya, sang ayah menjodohkannya dengan Elnara Sevana, gadis dingin dan cerdik yang terkenal mampu membungkam siapa pun dengan tatapan dan kata-katanya. Ia bukan wanita yang mudah dipermainkan. Setiap serangan lawan selalu dipatahkan sebelum sempat menjadi ancaman.
Elara diminta untuk melahirkan pewaris untuk keluarga Dastan , dan sebagai gantinya Saham perusahaan.
Elara terkekeh sinis, "Sepertinya tidak adil. Bagaimana jika kesepakatannya begini. Aku rubah putramu menjadi anak anjing penurut dan hadiahnya adalah perceraian untukku. Ini terdengar menguntungkan bagiku"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
"Nyonya, tuan muda sudah kembali."
Tak!
Suara cangkir teh yang bertabrakan dengan tatakan di meja sedikit terdengar dramatis.
"Dia mati?!"
Dreven baru dibawa ke rumah sakit beberapa jam yang lalu, dan sudah pasti kondisinya tak mungkin cepat pulih untuk dibawa pulang kecuali dia tak selamat.
Pelayan yang mendengar itu bingung, namun sebelum pelayan itu menjelaskan Elara sudah berdiri dan bergegas keluar.
Namun, begitu tiba di ruang depan mansion, ia terhenti. Matanya langsung menangkap sosok Dreven yang baru saja memasuki ruangan dengan kursi rodanya. Wajahnya sedikit pucat, tetapi matanya tetap tajam seperti biasa.
"Kenapa ekspresimu seperti itu? Kau berharap aku mati?" tanya Dreven dengan nada santai, meskipun ada sedikit senyum di sudut bibirnya.
Elara yang awalnya hendak meluapkan amarahnya justru terdiam. Ia menatap pria itu, memastikan tidak ada luka fatal yang terlihat. "Kau seharusnya masih di rumah sakit."
"Aku benci rumah sakit," balas Dreven ringan dari kursi rodanya. "Lagipula, aku sudah cukup sehat untuk pulang."
Elara memejamkan mata sejenak, mencoba menahan emosinya. "Kau bodoh," gumamnya.
Dreven mengabaikan itu lalu perlahan menggerakkan kursi rodanya mendekati sofa sambil sedikit meringis karena luka jahitannya belum kering, "ambilkan aku minum," titahnya dengan santai.
"Kau menyuruhku?" tunjuk Elara pada dirinya sendiri.
Dreven mengangguk, "tentu saja, aku terluka karena melindungimu. Sudah sewajarnya kau berbalas budi dengan merawatku sampai sembuh."
Elara mendecak kesal, tapi akhirnya berbalik menuju dapur. Tangannya meraih gelas dan menuangkan air dengan gerakan agak kasar, seolah melampiaskan kekesalannya pada benda mati itu.
Begitu kembali ke ruang tamu, ia menyerahkan gelas itu tanpa banyak bicara.
Dreven menerima gelasnya dengan santai, menyesap airnya perlahan. "Lihat? Tidak sulit kan berbuat baik padaku?" katanya dengan seringai kecil.
Elara memutar matanya. "Aku tidak baik padamu. Aku hanya membayar jasamu."
Dreven tertawa kecil, lalu menatapnya dalam. "Kalau begitu, bayar jasaku lebih banyak lagi. Aku butuh dipijat."
Elara mendelik. "Mimpi."
Dreven tersenyum semakin lebar. "Aku memang sering memimpikanmu."
Elara membeku sejenak sebelum akhirnya melempar bantal ke arah Dreven. Pria itu tertawa pelan, meskipun sedikit meringis karena lukanya.
"Ehem, pengantin baru terlihat sangat romantis."
Suara tenang namun dalam itu membuat Elara langsung menoleh. Dia melihat ke arah pintu dimana terdapat pria yang sepertinya berumur tiga puluh tahunan dengan setelan jas rapi disana.
"Dia Galileo Dastan, kakakku," suara Dreven membuat Elara mengarahkan kembali pandangannya ke arah pria itu.
Lalu Elara kembali menatap ke arah Galileo, pria yang tampan namun entah mengapa Elara merasa tak nyaman. Seperti, pria ini memiliki aura negatif yang terlalu kuat.
"Untuk apa kakak datang ke mansion utama?" Dreven langsung bertanya mengabaikan tatapan kakaknya ke arah istrinya.
Galileo tersenyum tipis, langkahnya perlahan mendekat. "Apa aku tidak boleh datang menjenguk adikku yang hampir kehilangan nyawanya?"
Dreven mendecak. "Aku baik-baik saja."
Galileo duduk di salah satu kursi di ruang tamu, tatapannya masih tertuju pada Elara seolah tertarik pada istri adiknya itu.
Dreven yang merasa tak nyaman langsung menatap ke arah Elara, "Pergi ke kamar, nanti aku akan menyusulmu."
Elara yang mendengar itu langsung mengangguk, dia juga merasa tak nyaman jika terus berada disini.
Begitu Elara pergi, Dreven menatap ke arah kakaknya yang saat ini dengan santainya menghidupkan rokok.
"Istrimu cantik. Tapi sayang..."
Dreven menaikkan alisnya, "apa yang kakak bicarakan?"
"Dia kurang didikan, tak punya etika dasar. Apa dia juga sering melawanmu?" tanyanya dengan santai sambil menghembuskan kepulan asap rokok ke udara.
"Aku akan mengurusnya sendiri, kakak tidak perlu repot-repot untuk memperhatikannya." Kata Dreven yang melindungi Elara, meskipun Elara tidak pernah patuh padanya tapi mendengar orang lain ingin menjelekkannya dia juga tak terima.
Galileo terkekeh pelan, jarinya bergerak untuk merontokan abu rokok ditangannya, "Aku bisa mendidiknya jika kau mau. Agar kau bisa fokus pada proyek yang diberikan ayah padamu."
Dreven yang mendengar itu sedikit tak nyaman, tapi menolak kakaknya juga cukup sulit.
"Apa yang sedang kalian bicarakan?"
Tiba-tiba suara Raviel membuat Dreven sedikit bernafas lega. Dia melirik ke arah ayahnya yang saat ini sedang menatap kakaknya.
Galileo yang melihat ayahnya juga langsung mematikan rokok dan tersenyum, "ayah, ada urusan bisnis yang ingin aku bicarakan."
Raviel menaikkan sebelah alisnya, namun pada akhirnya dia mengangguk untuk setuju.
"Jika begitu pergi ke ruang kerjaku."
Galileo tersenyum tipis dan bangkit dari tempat duduknya. "Tentu, ayah."
Dreven hanya menghela napas dan menyandarkan tubuhnya di kursi roda. Meskipun tak mengucapkan sepatah kata pun, dia merasa percakapannya dengan Galileo barusan belum benar-benar berakhir. Ada sesuatu yang mengganjal, tatapan kakaknya pada Elara, caranya berbicara, dan tawaran "mendidik" yang terdengar lebih seperti rencana terselubung.
Raviel berjalan lebih dulu ke arah ruang kerjanya, sementara Galileo mengikuti di belakang dengan langkah santai. Sebelum benar-benar keluar dari ruang tamu, Galileo melirik sekilas ke arah Dreven dan memberikan senyum penuh arti.
Dreven hanya menatap tajam.
---
"Kenapa keluarga ini sangat aneh semua. Apalagi kakak Dreven yang seperti memiliki sejuta rencana licik. Feelingku tak pernah salah, pria itu bukan pria baik." Gumam Elara sambil melihat ke arah balkon kamarnya.
Tok! Tok!
"Nyonya, ini Emma."
Suara Emma yang berada di luar kamar menghentikan pikiran liar Elara dan berjalan menuju pintu. Emma memang dia suruh datang ke mansion utama karena dia sudah merasa nyaman dilayani oleh pelayan itu.
"Kenapa baru datang?" tanya Elara begitu membuka pintu.
Emma menundukkan kepalanya sedikit, terlihat sedikit canggung. "Maaf, Nyonya. Saya harus menyelesaikan beberapa urusan di mansion lama sebelum berangkat kemari."
Elara hanya menghela napas dan mengangguk. "Baiklah, masuklah."
Emma masuk dan langsung menaruh tas kecilnya di sudut ruangan, kemudian berbalik menghadap Elara. "Nyonya terlihat lelah. Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiran Anda?"
Elara berjalan ke arah balkon, menatap langit malam yang mulai gelap. "Banyak hal," gumamnya lalu meminta Emma untuk memijat kepalanya.
Emma dengan sigap memijat kepala Elara dengan begitu lihai.
"Kau tahu tentang kakak Dreven?"
Emma yang mendengar itu langsung menghentikan gerakan tangannya, "kenapa anda penasaran, nyonya? Apakah anda mempunyai masalah dengan tuan muda pertama?"
Elara menggeleng, "hanya ingin tahu saja," jawabnya santai.
Bersambung....
🤭🤭🤣🤣🤣