demi mendukung karier suaminya Arga Prasetyo, Ariana rela menikah selama delapan tahun secara diam-diam. Ariana menemani Arga berjuang di perusahaan nya tapi balasan yang didapatnya adalah perselingkuhan, bahkan pelakor itu terang-terangan menantang nya.
setelah menyiapkan perceraian dan pergi dengan tenang ternyata Arga menolak untuk melepaskan nya. hingga seorang laki-laki lain datang membuka babak baru untuk nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
"ada apa ?".
Seorang pria paruh baya menatap istrinya dengan wajah tegang, melihat kedatangan sang suami, Veronica berlari masuk ke pelukan pria paruh baya itu.
"Putri kita pa, putri kita masuk penjara". Veronica menangis sejadi-jadinya, mengingat bagaimana putri di seret paksa oleh pihak berwajib.
Rahang pria paruh baya itu mengeras, dia adalah Abraham Darmawan. beliau tidak ikut dalam proses pengumuman pertunangan putrinya karena sedang berada diluar kota untuk urusan bisnis.
"bagaimana bisa Vero ? Kamu sangat tidak becus". Ungkap Abraham dengan mendorong pelan tubuh Veronica. "baru beberapa hari aku keluar kota, putri kita sudah masuk penjara ?". Pria paruh baya itu mengusap wajah nya kasar menatap marah pada istrinya.
"papa menyalahkan aku ? Putri mu saja yang b*doh. bertindak gegabah dan tidak memperhitungkan semuanya". Veronica tak terima jika harus disalahkan, apalagi dirinya tidak terlibat bahkan tidak tahu tentang rencana putri.
Plakkkk
"papa...". Reno terkejut karena Abraham menampar sang mama.
Veronica memegang pipinya yang terasa panas karena ditampar oleh Abraham, kepala wanita paruh baya itu menatap sang suami dengan mata memerah dan tajam.
"kamu...jangan pernah berbicara sembarangan tentang putri jika wajah s*alan mu itu tidak ingin aku tampar lagi". Tunjuk Abraham tepat didepan wajah Veronica.
Reno menghela nafas berat, semenjak Abraham sering keluar kota dengan alasan memperluas bisnis, pria paruh baya itu selalu berbuat kasar pada sang ibu. padahal menurut Reno perusahaan nya di sini sangat berpengaruh dan berkuasa, bahkan sudah memiliki cabang di beberapa kota, tapi yang Abraham sering keluar bukan salah satu anak perusahaan mereka.
"papa datang hanya untuk membuat keributan ? Kalau iya, silahkan kembali ke kota di mana yang katanya papa memperluas bisnis". Reno mengulurkan tangannya mengarah ke pintu.
"kamu mengusir papa ?".
"aku tidak mengusir papa, tapi kalau papa ingin membuat keributan silahkan pergi saja. Tujuan mama memanggil papa ke sini karena supaya papa tau jika putri kesayangan papa masuk penjara karena ulah nya sendiri". tatapan Reno pada Abraham yang sedikit mengendur kan ekspresi nya.
Abraham mengusap wajah nya kasar, beberapa kali pria paruh baya itu menghembuskan nafas kasar.
"kita ke kantor polisi sekarang". Abraham langsung berjalan duluan meninggalkan sang istri dan putra nya.
"mama mau ikut ?". Tanya Reno memegang pundak sang mama. Dengan cepat Veronica mengangguk.
"maaf tidak bisa membela mama tadi". Sekali lagi Veronica hanya mengangguk.
Ketiga nya kini sudah berada didalam mobil, dengan diantar oleh seorang supir pribadi Abraham yang selalu ikut kemanapun, bahkan untuk keluar kita sekali pun.
Abraham duduk didepan, sedangkan Veronica dan Reno duduk dibelakang. mereka terpaksa satu mobil karena Abraham yang memaksa.
hampir lima puluh menit lama nya, akhirnya mobil Abraham melipir di parkiran kepolisian.
ketiganya segera keluar dari dalam mobil, berjalan langsung masuk ke dalam kantor polisi.
"ada yang bisa di bantu pak ?". Salah satu polisi menghampiri Abraham, Veronica dan Reno.
"dimana putri saya ?".
"siapa nama putri bapak ?"
"Putri Darmawan, cepat tunjukkan dimana putri saya. Kalau tidak, saya akan ratakan tempat ini". Ancam Abraham menunjuk polisi itu dengan wajah marah.
"kalau bapak hanya datang untuk mengamuk disini, silahkan keluar atau tidak saya akan menyeret anda dengan paksa".
Bukannya takut, polisi itu malah mengancam balik. Hal itu membuat Abraham semakin murka.
"kamu..."
"pa sudah, kita datang untuk membebaskan putri. Kenapa papa harus marah-marah disini". Akhirnya Reno angkat bicara juga, sedangkan Veronica hanya diam saja karena malas berbicara.
Hembusan nafas kasar keluar begitu saja dari mulut Abraham. "cepat antarkan kami".
Polisi itu tidak menjawab, hanya berjalan meninggalkan ketiga nya, .mereka mengikuti polisi itu hingga berhenti di sebuah pintu besi.
"kalian membawa putri saya disini ?".
"ini ruang interogasi untuk para pelaku kejahatan". Jawab polisi itu datar kemudian meninggalkan ketiga nya.
"s*alan!!!!".
Abraham menatap pintu besi itu, dengan amarah yang masih saja memburu. Pria Paruh baya itu menendang pintunya, walau keras tapi cukup kuat untuk membuat pintu besi itu.
Brakkkk
Putri yang berdiri dengan tangan terborgol terkejut, begitu dengan Bu Martha.
"KALIAN!!!!". Tunjuk Darmawan pada para penyidik itu. "KENAPA KALIAN MEMPERLAKUKAN PUTRI KU SEPERTI TAHANAN HAAAA!!!!". teriak Abraham dengan mata nyalang menghampiri putri.
Putri menangis sejadi-jadinya melihat kedatangan sang papa.
"papa...".
"memang putri anda tahanan". penyidik perempuan itu menatap Abraham datar.
"s*alan!!! Kamu mau dipecat dari pekerjaan mu ? cepat lepaskan anak saya jika kalian masih sayang pekerjaan kalian". Abraham menatap dua penyidik itu secara bergantian, nadanya memburu dengan mata memerah.
"tidak bisa, putri anda sudah melakukan kejahatan".
"kalian!!! Kalian berani sama saya ?". suara gigi Abraham terdengar saling beradu didalam sana.
"kamu tahu, anda tuan Abraham Darmawan. Tapi kami tetap tidak bisa membebaskan putri anda. Ini adalah perintah dari tuan Adrian Atmajaya".
Deg
Abraham terdiam mendengar nama itu, nama seorang pria yang bahkan status nya sangat tinggi di dunia bisnis, bukan hanya itu Adrian juga adalah seorang mafia kejam, menyiksa musuhnya dengan sangat sadis.
Glek
Dengan susah payah, Abraham menelan Ari ludahnya sendiri. Seakan tenggorokannya tercekat didalam sana.
Dua penyidik itu saling pandang, sebuah senyum kecil terlihat pada keduanya.
"pa..papa harus bebaskan aku. Aku tidak mau masuk penjara pa". Tangis putri membuat Abraham tersadar.
Tangan Abraham mengangguk pundak putri nya. "tenanglah sayang...papa pasti akan membebaskan mu".
"tapi aku tidak mau bermalam di sini pa".
pria paruh baya itu mengusap wajahnya kasar, tatapan nya beralih pada reno dan Veronica yang hanya diam saja.
"lakukan sesuatu Reno, kamu rela melihat adik mu dipenjara ?".
"kita pikirkan saja besok pa, ini sudah larut malam". Usul Reno.
"aku tidak mau disini kak, disini tidak enak, aku takut". Putri kembali menangis karena tidak mau bermalam dipenjara.
"malam ini saja dek, papa dan aku pasti akan membebaskan mu. Tahan dulu sebentar yah". Bujuk Reno menatap manik mata wajah adik nya yang sangat sedih.
Dengan terpaksa putri menganggukkan kepalanya.
"enak saja mau dibebaskan. Saya harus terseret juga karena ulah bodoh putri mu ini".
Abraham melirik Bu Martha, hampir saja Abraham melupakan keberadaan Bu Martha di dekatnya.
"gara-gara kamu, putra mu. Anak saya jadi masuk penjara". tunjuk Abraham melihat tajam Bu Martha.
Bu Martha tertawa. "tanyakan saja putri mu yang gatal itu. Dia sendiri sengaja mendekati putra saya dengan dalih ingin belajar bisnis. Cihhh!!! Padahal Reno bisa juga mengajar kan nya, kenapa harus putra saya, jika dia tidak hadir mungkin saja saya tidak akan msuk penjara. dasar pembawa s*al!!!.
Plakkkk
Bersambung...