Dijadikan keset kaki, diabaikan oleh ayah kandungnya, hingga dikhianati oleh pria yang berjanji akan menikahinya. Hidup Shen Xianle berakhir tragis di dasar tebing dingin setelah tubuhnya dilemparkan tanpa belas kasihan.
Mereka mengira Xianle telah lenyap dan dilupakan. Namun, mereka salah besar. Sebuah kekuatan kuno membangunkannya dari ranjang salju yang berdarah. Kali ini, tidak ada lagi putri teratai yang lemah lembut. Yang ada hanyalah Shen Xianle yang terlahir kembali dengan hati sedingin es dan tekad membalas dendam yang membara.
Bagaimanakah cara Xianle membalas setiap tetes darah yang pernah mereka tumpahkan? Ikuti kisah pembalasan dendam terdahsyat sang putri yang terlupakan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S RIANA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gerbang surga terlarang
Cahaya merah yang keluar dari celah pintu batu semakin terang hingga memenuhi seluruh aula makam. Udara yang semula dingin berubah menjadi berat dan panas, sementara dinding-dinding batu mulai bergetar seolah-olah seluruh makam sedang berusaha menahan sesuatu yang telah tertidur selama ratusan tahun.
Shen Xianle berdiri kaku di hadapan gerbang.
Bayangan perempuan di balik cahaya merah itu semakin jelas. Rambut panjangnya terurai, jubah putihnya bergerak perlahan tanpa disentuh angin, dan wajahnya perlahan muncul dari balik kabut merah.
Wajah itu benar-benar menyerupai Selir Lin. Bahkan tatapan lembutnya sama.
"Xianle..."
Suara perempuan itu terdengar begitu nyata hingga dada Xianle terasa sesak.
"Ibu..."
Ia melangkah maju, Namun tangan Junwei langsung mencengkeram pergelangan tangannya.
"Jangan."
Xianle menoleh tajam.
"Lepaskan aku."
"Xianle, dengarkan aku. Apa pun yang kau lihat di sana, itu bukan ibumu."
"Bagaimana kau bisa tahu?" Xianle membalas dengan suara bergetar. "Kau bahkan tidak mengenal ibuku seperti aku mengenalnya."
"Aku mengenalnya."
Jawaban Junwei membuat Xianle terdiam. Junwei menatap sosok di balik gerbang dengan wajah yang semakin serius.
"Lebih lama daripada yang kau kira."
Xianle menatapnya tidak percaya.
"Apa maksudmu?"
Sebelum Junwei sempat menjawab, bayangan perempuan itu tersenyum.
"Junwei..."
Suaranya lembut.
"Masih saja kau berusaha memisahkan anakku dariku."
Tubuh Junwei menegang.
Xianle melihat perubahan itu. Untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa suara tersebut tidak hanya memengaruhi dirinya.
Junwei mengenalnya.
"Siapa kau?" tanya Junwei.
Bayangan perempuan itu tertawa pelan.
"Setelah bertahun-tahun, kau masih menanyakan hal yang sama."
Cahaya merah berdenyut. Kemudian wajah perempuan itu berubah. Rambutnya menjadi hitam pekat. Matanya berubah menjadi merah menyala. Senyum lembut yang tadi menghiasi wajahnya lenyap, digantikan ekspresi kosong yang membuat hawa dingin menyebar ke seluruh aula.
"Itulah kelemahan manusia."
Suara yang keluar tidak lagi terdengar seperti suara Selir Lin.
Suara itu berat dan berlapis, seolah-olah berasal dari banyak orang sekaligus.
"Kalian selalu membutuhkan nama untuk sesuatu yang tidak kalian mengerti."
Tetua Ghost tiba-tiba berlutut.
"Yang Mulia."
Xianle terkejut.
Junwei langsung mengangkat pedangnya.
"Ghost!"
Pria tua itu menundukkan kepala.
"Sudah waktunya."
"Kau bekerja untuknya?"
Tetua Ghost tersenyum.
"Aku bekerja untuk kebangkitan sesuatu yang seharusnya tidak pernah mati."
Junwei mengangkat tangan. Sebuah gelombang energi biru meledak dari tubuhnya dan menghantam Tetua Ghost.
BOOM!
Tubuh pria itu terpental ke belakang, tetapi sebelum menyentuh dinding, bayangan hitam muncul di belakangnya dan menangkap tubuhnya.
Tetua Ghost berdiri kembali. Di belakangnya kini terdapat tiga sosok berjubah hitam.
Xianle segera memahami bahwa pria itu tidak datang sendirian.
"Pasukan Serigala Hitam?"
Junwei menyipitkan mata. Salah satu sosok berjubah hitam mengangkat tangannya.
"Faksi Naga Perak telah mencari Gerbang Surga Terlarang selama tiga puluh tahun. Malam ini, gerbang itu akhirnya terbuka."
Junwei mencabut pedangnya dari lantai.
"Selama aku masih hidup, kalian tidak akan melewati gerbang ini."
"siapa bilang kau harus mati lebih dulu?"
Tetua Ghost mengangkat tongkatnya.
"Yang harus kalian lakukan hanyalah membiarkan Shen Xianle masuk."
Xianle membeku.
"Aku?"
"Benar."
Ghost menatapnya.
"Inti Magnolia Spiritual di dalam tubuhmu adalah kunci terakhir."
Junwei langsung bergerak dan berdiri di depan Xianle.
"Tidak."
Tetua Ghost tertawa.
"Kau tidak bisa melindunginya selamanya."
Junwei menggenggam pedangnya.
"Aku tidak perlu melindunginya selamanya. Aku hanya perlu memastikan kau tidak menyentuhnya malam ini."
Pedang biru keperakan itu bergetar, ribuan garis cahaya muncul di sepanjang bilahnya. Tekanan spiritual yang sangat kuat memenuhi aula.
Ketiga prajurit Serigala Hitam langsung mengambil posisi bertahan.
Xianle memandang Junwei dari belakang.
Ada sesuatu yang berubah dalam dirinya. Pria yang selama ini selalu tampak tenang kini berdiri seperti seseorang yang bersedia menghancurkan seluruh makam demi memastikan tidak ada seorang pun yang menyentuhnya.
"Junwei."
"Apa?"
"Kalau inti ini benar-benar kunci gerbang, mengapa ibuku menanamkannya kepadaku?"
Junwei terdiam.
"Aku tidak tahu."
"Kau tahu sesuatu."
"Aku hanya tahu bahwa Selir Lin pernah datang ke wilayah barat sebelum kau lahir."
Xianle menatapnya.
"Untuk menemui siapa?"
Junwei tidak menjawab.
Sosok di balik gerbang justru tertawa.
"Untuk menemuiku."
Xianle membeku.
"Apa, maksudnya?"
Bayangan itu mengulurkan tangannya.
"Datanglah, anakku."
"Aku bukan anakmu."
"Kau memiliki jiwaku."
Cahaya putih mendadak meledak dari tubuh Xianle.
"Ah!"
Xianle jatuh berlutut.
Tangannya mencengkeram dada. Rasa panas menyebar melalui seluruh meridian tubuhnya. Cahaya berbentuk bunga mulai muncul di bawah kulitnya, berputar dari dada menuju bahu dan leher.
Junwei segera berbalik.
"Xianle!"
Ia hendak mendekat tapi xianle mencegah nya.
"Jangan!"
Xianle mengangkat tangannya.
"Ada sesuatu di dalam tubuhku."
Junwei berhenti.
Xianle memejamkan mata. ia dapat merasakan inti yang selama ini tersembunyi jauh di dalam tubuhnya.
Bukan sekadar energi spiritual.
Ia merasakan denyut pada inti tersebut Seperti jantung. Denyut itu semakin kuat. Kemudian sebuah gambaran muncul di dalam pikirannya.
Seorang perempuan muda berlari melewati hutan dalam keadaan terluka.
Itu adalah Selir Lin.
Di dalam pelukannya terdapat seorang bayi.
Bayi itu adalah Xianle.
Di belakangnya terdengar suara pasukan mengejar. Selir Lin berlari hingga tiba di sebuah altar batu. Di sana berdiri seorang pria muda.
Wajahnya seperti wajah Junwei.
Namun ia jauh lebih muda.
"Ia tidak boleh ditemukan oleh mereka," kata Selir Lin.
Junwei muda menatap bayi tersebut.
"Kalau kau memberinya Magnolia Spiritual, kau tahu apa akibatnya."
"Aku tahu."
"Inti itu akan membuatnya menjadi kunci."
"Karena itu aku harus menyembunyikannya."
"Kau tidak bisa menyembunyikan kunci dari orang yang menciptakan pintunya."
Selir Lin menatapnya.
"Lalu bantu aku."
Gambaran itu tiba-tiba terputus.
Xianle membuka mata Napasnya tersengal.
Junwei berdiri di depannya.
"apa yang kau lihat..."
"Jangan bohong lagi."
Suara Xianle terdengar pelan, tetapi tegas.
"Kau sudah bertemu ibuku sebelum aku lahir."
Junwei menundukkan wajah.
"Ya."
"Dan kau tahu tentang Gerbang Surga Terlarang."
"Ya."
"Apakah kau juga tahu mengapa aku dijadikan kuncinya?"
Junwei diam cukup lama, pada Akhirnya ia menjawab.
"Karena ibumu percaya bahwa suatu hari nanti gerbang ini akan terbuka."
Xianle menatapnya.
" dia ingin aku yang membukanya?"
"Tidak."
Junwei menggeleng.
"Ibumu ingin kau menjadi orang yang menutupnya."
Tetua Ghost tiba-tiba tertawa keras.
"Sudah cukup!"
Tongkatnya menghantam lantai seluruh aula berguncang. Pintu gerbang terbuka lebih lebar.
Dari balik gerbang itu muncul tangan raksasa berwarna hitam yang mencengkeram sisi pintu.
Junwei langsung mengangkat pedangnya.
"Xianle, mundur!"
Namun kali ini Xianle tidak bergerak. Ia menatap gerbang tersebut dengan tenang. Semua ketakutan yang sebelumnya memenuhi pikirannya perlahan berubah menjadi sesuatu yang lain.
Tekad.
Ia akhirnya memahami mengapa ibunya meninggalkan begitu banyak petunjuk. Bukan untuk membuatnya mengetahui masa lalu.
Melainkan untuk mempersiapkannya menghadapi masalah malam ini.
Xianle menggenggam belatinya.
"Junwei."
"Ya?"
"Kalau aku adalah kunci gerbang ini, maka aku juga pasti memiliki cara untuk menguncinya kembali."
Junwei menatapnya.
"Kita akan menemukannya."
"kalau cara itu membutuhkan inti jiwaku?"
Junwei langsung menggeleng.
"Tidak."
"Junwei—"
"Aku sudah mengatakan tidak."
Suaranya kali ini terdengar sangat tegas.
"Aku tidak akan membiarkanmu mengorbankan hidupmu untuk memperbaiki kesalahan generasi sebelumnya."
Xianle menatapnya beberapa saat. Kemudian tatapannya melunak.
"Kalau begitu jangan mati sebelum kita menemukan caranya."
Junwei mengangguk.
"Aku tidak akan mati."
Tetua Ghost mengangkat tongkatnya sekali lagi.
"Sayang sekali."
Ia tersenyum.
"Kalian berdua masih berpikir memiliki pilihan."
Dari balik gerbang terdengar suara raungan yang mengguncang seluruh makam. Dinding batu mulai runtuh.
Lantai terbelah.
Dan di tengah cahaya merah yang menyilaukan, sebuah mata raksasa perlahan terbuka di balik gerbang.
Xianle mengangkat belatinya.
Junwei berdiri di sampingnya.
mereka tidak saling berhadapan sebagai dua orang yang menyimpan rahasia. Mereka berdiri berdampingan menghadapi musuh yang jauh lebih tua daripada kekaisaran mereka.
Namun sebelum keduanya bergerak, suara dari balik gerbang kembali terdengar.
"Shen Xianle..."
Cahaya di dalam inti jiwa Xianle menyala semakin terang.
"Kau pikir ibumu meninggalkanmu untuk menyelamatkan dunia?"
Xianle mengangkat kepala.
Bayangan itu tersenyum.
"Dia sebenarnya meninggalkanmu untuk menggantikan tempatnya."
Mata Xianle melebar.
Dan tepat setelah kalimat itu terdengar, seluruh Gerbang Surga Terlarang terbuka sepenuhnya.