Aisyah, seorang gadis solehah dan mandiri, mengira pernikahannya dengan Dimas, pria tampan dari keluarga terpandang yang berkata sangat mencintainya akan berjalan manis. Namun, kehidupan pasca nikah Aisyah berubah menjadi ujian kesabaran yang pada kenyataannya Dimas adalah seorang anak mami sejati.
Hampir seluruh hidup Dimas dikendalikan oleh Tante Rosma, ibunya yang dominan. Mulai dari urusan rumah tangga, keuangan, hingga keputusan pribadi, kalimat "Kata Mami..." selalu jadi hukum mutlak bagi Dimas. Aisyah pun terjepit di antara kewajiban menghormati suami dan tekanan mertua yang terlalu campur tangan.
Tak ingin rumah tangganya hancur, Aisyah memutuskan tidak menyerah. Berbekal kesabaran, kelembutan, dan prinsip agama yang teguh, ia memulai misi, melunakkan hati mertuanya sekaligus membentuk Dimas agar berani menjadi pemimpin keluarga yang mandiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: Suamiku Anak Mami
BAM!!
Suara dentuman pintu yang ditutup kasar oleh Bu Rosma menyisakan keheningan yang amat pekat di dalam kamar tidur lantai dua. Udara pagi yang semula terasa hangat mendadak membeku seketika.
Aisyah masih meringkuk di balik punggung Dimas, sambil meremas ujung selimut tebal yang menutupi dada dan tubuhnya. Wajahnya terbenam di balik kain sutra, dan memerah padam bagaikan kepiting rebus.
Jantungnya berdebar begitu kencang hingga terasa menyakitkan di dada. Rasa malu yang luar biasa mencengkram jiwanya, bagaimana mungkin ibu mertuanya sendiri menyaksikan keintiman mereka yang sedemikian rupa secara mendadak?
"Astagfirullahaladzim..." bisik Aisyah terengah-engah, air mata karena malu hampir saja menetes di sudut matanya. "Mas... Mami... Bu Rosma tadi..."
Dimas mengusap wajahnya dengan kasar. Rambut hitamnya yang berantakan makin tak beraturan. Napasnya memburu kencang, memancarkan amarah dan kejengkelan yang luar biasa.
Privasi kamar pribadinya diterobos tanpa ketukan, dan yang lebih parah, hal itu membuat istrinya merasa amat sangat terpojok dan malu.
"Mami benar-benar keterlaluan!" dengus Dimas dengan suara rendah namun tajam. Ia memutar tubuhnya, lalu menatap Aisyah yang gemetar di bawah gulungan selimut.
Melihat raut ketakutan dan rasa malu yang mendalam di wajah Aisyah, kemarahan Dimas perlahan melunak menjadi rasa iba dan kasih sayang yang mendalam. Dimas lalu merengkuh bahu Aisyah yang tertutup kain selimut, dan menarik istrinya ke dalam dekapan hangatnya.
"Syah... Jangan takut. Kamu gak salah apa-apa," tutur Dimas seraya menyapukan jemarinya di pipi Aisyah yang merona merah. "Aku suami kamu, dan kamu istri aku. Kita gak bikin dosa di dalam kamar ini. Mami yang salah karena masuk tanpa mengetuk pintu."
Aisyah mendongak dengan pelan dan menatap mata suaminya dengan yang lembut. "Tapi, Mas... Bu Rosma pasti makin marah sama Aisyah. Aisyah kan harusnya sudah ada di dapur dari Subuh..."
Dimas mengusap rambut Aisyah dengan penuh kehangatan. "Biar aku yang bicara sama Mami nanti. Sekarang, kamu mandi dulu ya? Kita turun sama-sama."
Dengan perlahan dan sangat berhati-hati, Aisyah bangkit dari kasur setelah Dimas memberikannya ruang dan privasi. Di dalam kamar mandi marmer yang dingin, Aisyah kembali menyucikan diri.
Saat air membasahi tubuhnya, Aisyah berdoa di dalam hati, memohon kekuatan dan ketabahan dari Allah SWT untuk menghadapi ujian yang pastinya menanti di lantai bawah.
Setengah jam kemudian, Aisyah keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang rapi dan anggun. Ia mengenakan gamis berwarna krem lembut dipadu dengan jilbab lebar berwarna senada yang menutup dadanya dengan sempurna.
Meski raut wajahnya menyiratkan kecanggungan, keanggunan alami dan ketenangan hatinya memancar dengan jelas.
Sementara ituu, Dimas yang sudah mengenakan kemeja santai berwarna biru muda dan celana panjang, menggenggam erat jemari Aisyah saat mereka berdiri di depan pintu kamar.
"Ingat, Syah. Jangan pernah merasa sendiri. Ada aku di samping kamu," bisik Dimas yang menatap lurus ke dalam mata Aisyah.
"Iya, Mas. Bismillah..."
Mereka berdua berjalan berdampingan meniti anak tangga marmer menuju lantai dasar. Langkah kaki mereka bergema pelan di dalam rumah megah yang terasa amat sunyi itu.
Adapun di ruang makan yang luas, Bu Rosma sudah duduk di kepala meja makan panjang dari kayu jati berukir.
Di hadapannya tersaji cangkir porselen berisi kopi hitam hangat dan piring sarapan yang disiapkan Mbok Nah. Wajah wanita paruh baya itu tampak sangat tegang, bibirnya terkatup rapat, dan matanya memancarkan kilatan emosi yang tertahan.
Sedangkan Mbok Nah dan dua asisten rumah tangga lainnya hanya berdiri kaku di sudut ruangan, dan tak berani bersuara sedikit pun karena merasakan hawa panas yang membakar ruangan tersebut.
Saat mendengar derap langkah Dimas dan Aisyah mendekat, pandangan Rosma seketika menghujam tajam ke arah menantu barunya.
Dimas menarik kursi untuk Aisyah di sebelah kirinya, lalu ia sendiri duduk di sebelah kanan ibunya. Aisyah mendudukkan dirinya dengan sangat sopan, menundukkan kepala tanpa berani menatap langsung ke mata mertuanya.
"Selamat pagi, Bu Rosma..." sapa Aisyah dengan suara yang begitu lembut, merdu, dan penuh penghormatan. "Aisyah mohon maaf karena terlambat bangun dan tidak bisa membantu Mbok Nah menyiapkan sarapan pagi ini."
Plak!
Rosma meletakkan cangkir porselennya ke atas tatakan dengan cukup keras, hingga membuat Mbok Nah yang berada di sudut ruangan terperanjat pelan.
"Bagus ya," sindir Rosma dengan nada dingin yang sarat akan racun.
Matanya menatap Aisyah dari atas sampai bawah dengan pandangan merendahkan. "Baru satu hari jadi menantu di rumah keluarga Wiraguna, kamu sudah menunjukkan karakter aslimu. Bangun jam tujuh pagi, tidak tersentuh pekerjaan dapur sedikit pun, dan malah sibuk... bermalas-malasan di atas kasur!"
Wajah Aisyah seketika memucat, namun ia tetap mempertahankan posisinya yang menunduk sopan tanpa membalas dengan nada tinggi. "Aisyah sungguh minta maaf, Bu... Aisyah salah..."
"Mami!" potong Dimas yang terdengar tegas, karena tak tahan melihat istrinya dipojokkan di depan para pekerja rumah tangga. "Mami jangan sembarangan bicaranya! Aisyah itu istri Dimas secara sah. Apa yang kami lakukan di kamar itu hak kami sebagai suami istri!"
Rosma menoleh cepat ke arah putra tunggalnya dengan mata yang membelalak tak percaya. "Dimas! Kamu berani membentak Mami cuma demi membela perempuan ini?!"
"Dimas gak membentak Mami!" balas Dimas dengan napas memburu, suaranya naik satu oktav. "Tapi Mami yang gak punya sopan santun! Kenapa Mami main masuk aja ke kamar Dimas tanpa ketuk pintu?! Kamar itu area pribadi Dimas dan Aisyah, Mi!"
Suasana meja makan kian memanas. Mbok Nah semakin menunduk dan berdoa dalam hati agar tidak terjadi pertengkaran besar di antara ibu dan anak itu.
Rosma kemudian menunjuk Aisyah dengan jarinya yang berhiaskan cincin berlian mahal. "Lihat, Dimas! Belum ada sepekan dia tinggal di sini, dia sudah berhasil meracuni pikiran kamu! Kamu yang biasanya penurut sama Mami, sekarang berani menaikkan suara di depan Mami sendiri! Ini yang katanya wanita salehah dan terdidik?!"
Aisyah menarik napas panjang. Ia memejamkan matanya sejenak untuk menenangkan gejolak emosi di hatinya. Ia sadar betul, jika ia membiarkan Dimas terus berselisih dengan ibunya demi membela dirinya, hubungan anak dan ibu itu akan makin renggang dan itu adalah dosa besar bagi seorang istri.
Dengan perlahan, Aisyah memegang pergelangan tangan Dimas yang mengepal di atas meja. Sentuhan lembut jari-jemari Aisyah seketika menyalurkan kehangatan yang meredam amarah Dimas.
"Mas... Sudah, jangan menaikkan suara di depan Ibu," bisik Aisyah lembut namun terdengar jelas oleh seluruh orang di meja makan.
Aisyah kemudian mendongak dan menatap Bu Rosma dengan pandangan yang tenang, tulus, dan sama sekali tidak memancarkan rasa dendam atau kejengkelan.
"Ibu Rosma..." tutur Aisyah dengan kesantunan yang amat tinggi. "Aisyah sangat memahami kekecewaan Ibu. Ibu benar, sebagai menantu dan istri, Aisyah seharusnya lebih disiplin bangun pagi untuk melayani kebutuhan rumah ini dan mempersiapkan sarapan untuk Ibu dan Mas Dimas. Aisyah murni bersalah dan tidak akan mencari alasan."
Aisyah merapatkan kedua telapak tangannya dan melanjutkan, "Aisyah berjanji kejadian pagi ini tidak akan terulang lagi. Mohon bimbingan dan tegoran dari Ibu jika Aisyah melakukan kesalahan, agar Aisyah bisa menjadi menantu yang lebih baik untuk keluarga ini."
Mendengar penuturan Aisyah yang begitu damai, lembut, dan penuh kerendahan hati, ucapan pedas yang sudah disiapkan Bu Rosma mendadak terkunci di tenggorokannya.
Rosma terpana dan terpaku. Ia mengharapkan Aisyah akan menangis, membela diri, atau memicu pertengkaran dengan Dimas, namun Aisyah justru meredam semuanya dengan keikhlasan dan tutur kata yang amat matang.
"Ekhm!"
Rosma berdeham keras untuk mencoba menyembunyikan rasa serbasalah dan gengsinya yang terluka. Ia lalu memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Humph! Kamu ngomong manis saja pinter!" cetus Rosma seraya berusaha mempertahankan wibawanya. "Ingat Aisyah, janji kamu itu dipegang! Nanti siang, saya ada tamu penting. Jangan sampai kamu bikin malu saya lagi seperti pagi ini!"
"Baik, Bu Rosma. Insya Allah Aisyah ingat."
"Dan ingat, kamu itu sudah jadi menantu disini. Jadi panggil Mami saja!."
Bersambung...